
Perjalanan menuju kampung Nisa di tempuh dalam waktu hampir dua jam. Kebetulan Roy sendiri yang mengendarai mobilnya. Mereka
hampir sampai di persimpangan jalan menuju hutan larangan. Mulanya mobil Avanza tersebut melaju biasa saja, namun di tengah persimpangan, tiba-tiba mobil macet.
Roy dan bapak turun untuk memeriksa. Semua kondisi mesin tidak ada yang bermasalah. Hanya saja, ketika bapak berbalik, di lihatnya sosok Genderuwo hutan larangan, tengah memegangi dan mengangkat bagian belakang mobil mereka.
"Bawa pergi gadis itu dari sini,, ini wilayah kekuasaan ku".
"Pergi........jangan pernah membawanya masuk kemari".
"Pergi.........atau kami disini tak akan tinggal diam".
Bapak sungguh terkejut melihat kehadiran nya. Genderuwo itu sangat marah dengan Nisa. Makhluk yang di bawanya sudah mengusik kenyamanan penghuni hutan larangan. Mereka sama sekali tidak mau menerima kehadiran Nisa serta peliharaan nya.
Bapak segera membawa Nisa keluar dari mobil. Jelas saja Genderuwo itu bertambah marah. Seketika angin besar bertiup kencang menerpa tubuh Nisa. Gadis itu hanya terkekeh dengan nada mengejek. Dua kekuatan gaib sedang bertarung saat ini.
Kesempatan tersebut di gunakan bapak untuk
menyuruh Roy membawa pulang seluruh keluarganya. Sementara dirinya dan Nisa akan langsung ke rumah Mbah Cokro.
Bapak sudah menduga kalau hal ini memang akan terjadi. Tapi dia tidak menyangka kalau dua kekuatan ini sungguh dahsyat. Bahkan, kebun tebu di buat porak-poranda oleh ulah kedua makhluk gaib tersebut.
"Sudah cukup,,hentikan.....biar aku yang mengurusnya".
"Kembalilah kau ke tempat asal mu".
"Pendatang ini jadi tamu ku mulai sekarang".
Kehadiran Mbah Cokro secara tiba-tiba di tempat tersebut membuat bapak menjadi tenang. Genderuwo itu juga mulai bisa di kendalikan. Terlebih lagi ketika Mbah Cokro mengunci lengan Nisa di tangan nya. Makhluk yang di bawanya sudah tak mungkin berkutik lagi.
Bersamaan dengan hilangnya Genderuwo hutan larangan, Mbah Cokro lantas membawa Nisa pergi bersamanya. Bapak mengikuti dari
belakang. Mereka bertiga menuju kediaman Mbah Cokro saat itu juga.
"Seharusnya kau bilang padaku dulu kalau sudah sampai di sini".
"Untung saja aku segera datang, kalau tidak, nyawa Nisa dalam bahaya".
"Sebenarnya dari mana dia mendapatkan makhluk seganas ini??".
"Kekuatan nya sudah melebihi pesugihan leluhurmu terdahulu Ari".
"Memang tepat kalau dia memilih Nisa".
"Dia mungkin tahu, kalau Nisa memang sang pewaris".
__ADS_1
"Lalu bagaimana Mbah, kita bisa mengusirnya dari tubuh Nisa bukan??".
"Tunggu sampai kita tiba di rumah dulu Ari".
Mbah Cokro mempercepat langkahnya. Sedangkan di sebelahnya, Nisa tampak seperti orang gila. Kadang tertawa senang, kadang berteriak marah. Itu karena Mbah Cokro sudah mengunci makhluk halus yang ada di tubuh Nisa, jadi dia tak mungkin bisa macam-macam lagi.
Sampai di rumah, Mbah Cokro memasukkan Nisa ke dalam sebuah kurungan yang terbuat dari bambu kuning. Makhluk yang merasuki nya tak akan mungkin bisa menggunakan kekuatan nya.
"Biarkan dia di situ untuk sementara".
"Dalam waktu semalam, dia akan menampak kan wujud aslinya nanti".
"Rupanya, anak mu Nisa dan iblis ini sudah mengikat perjanjian keramat".
"Keduanya sudah melakukan perkawinan, dan meminum darah masing-masing yang sudah bercampur menjadi satu".
"Itulah sebabnya, sulit sekali Nisa melepaskan diri darinya".
"Lalu kita harus bagaimana Ki??".
"Kau pulanglah dulu Ari,,persiapkan pernikahan untuk putri mu Nisa".
"Setelah iblis itu keluar dari raganya, kita harus segera menikahkan nya dengan manusia".
"Setelah itu, kita bersihkan tubuhnya di laut selatan".
"Dan Nisa harus juga membuang tetesan darah dari ibu jarinya ke laut kidul".
"Baru setelah itu, dia benar-benar bisa lepas dari iblis tersebut".
"Pulanglah Ari,,penuhi semua syarat dari ku".
"Itu kalau memang kau ingin memutuskan hak waris pesugihan Nisa".
"Baik Mbah".
Bapak segera bergegas pulang. Tugas dari Mbah Cokro kali ini sangat berat. Tak mudah bagi bapak untuk menikahkan Nisa kembali.
Tapi ini harus di lakukan, supaya Nisa tidak menjadi suami dari pesugihan yang mengikutinya. Tak ada pilihan lain, Nisa harus di nikahkan dengan Roy.
Laki-laki itu selama ini terlihat sangat baik pada Nisa. Saat dia kehilangan Dito pun, Roy selalu perduli padanya. Sheina juga sangat menyayanginya. Mungkin pilihan bapak kali ini sudah sangat tepat. Hanya tinggal menanyakan kesediaan Roy untuk menjadi suami Nisa. Bila dia menolak, bapak harus secepatnya mencari ganti.
Sampai di rumah, bapak langsung menemui Roy, yang sedang bermain dengan kedua putri Nisa.
"Roy,, bapak ingin minta bantuan dari mu".
__ADS_1
"Katakan saja pak, kalau saya bisa tentu akan saya bantu".
"Apa kau bersedia menikah dengan Nisa??".
"Apa maksud bapak, saya kurang begitu paham".
"Begini Roy,, Nisa harus di nikahkan, supaya iblis yang mengaku jadi suaminya pergi dari tubuhnya".
"Itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Nisa".
"Bapak lihat selama ini kau menaruh hati padanya bukan??".
"Apa kau bersedia menjadi suaminya??".
"Tapi, apa Nisa setuju dengan hal ini pak?".
"Dia akan setuju, karena ini menyangkut nyawanya".
"Baiklah pak,, kalau begitu saya bersedia".
Bapak lega mendengar pernyataan Roy. Tinggal mempersiapkan pesta pernikahan. Tapi sebelumnya, Nisa harus di mandikan terlebih dahulu dengan air yang berasal dari sungai di tepi hutan larangan. Baru setelah itu dia boleh di nikahkan.
"Kita tunggu sampai pagi Roy,, Nisa masih ada di bawah kurungan bambu kuning".
"Besok pagi, dia akan sadar kembali".
"Sementara itu, biar bapak mengurus segalanya, agar kalian bisa segera menikah".
"Biar saya temani pak,, kasihan bapak kelihatan sangat capek".
Bapak setuju dengan usul dari Roy, untuk bersama-sama mengurus persiapan pernikahan. Mereka pergi ke perangkat desa dan ke KUA setempat.
"Yang penting kalian sah dulu Roy, soal pesta dan resepsinya nanti menyusul setelah Nisa benar-benar sembuh".
"Terserah bapak saja,, yang terpenting Nisa bisa kembali seperti sedia kala".
Sore hari bapak dan Roy baru kembali. Besok pagi rencananya mereka akan melangsungkan akad nikah. Tapi tetap menunggu perintah dari Mbah Cokro. Apakah benar makhluk itu keluar dari tubuh Nisa setelah semalaman berada dalam bambu kuning.
Nisa sendiri terlihat sudah lebih tenang dan bisa menguasai dirinya. Semalaman dia duduk bersila sambil terus mengikuti perintah dari sesepuh kampung larangan tersebut.
Tengah malam, terlihat Nisa berteriak-teriak kesetanan. Dia memberontak ingin keluar dari kurungan. Mbah Cokro terlihat mengeluarkan kembang setaman dan di taburkan di atas kurungan. Dia juga membakar kemenyan dan menyediakan darah ayam cemani untuk memancing iblis tersebut agar mau keluar dari tubuh Nisa.
Tepat jam 1 siang,, iblis itu akhirnya menampakkan dirinya. Mbah Cokro segera mengeluarkan Nisa,, dan tetap mengurung iblis di dalam bambu kuning. Dia masukkan uba rampe sesajen ke dalamnya, supaya dia tidak membuat ulah. Nisa sendiri pingsan tak sadarkan diri. Oleh Mbah Cokro, Nisa di tidurkan di balai-balai. Sampai pagi hari, Mbah Cokro masih menjaga Nisa, agar iblis tersebut tidak kembali ke raganya.
...****************...
__ADS_1