Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Menguak Misteri


__ADS_3

Petugas polisi turun dari mobil nya dan berdiri di depan pagar rumah Roy. Dia menekan bel berkali-kali agar di bukakan pintu. Nampaknya, pesta terlalu meriah, hingga tak seorang pun mendengar suara bel yang berbunyi. Alhasil, petugas polisi tersebut tetap berdiri di depan pagar.


Dia menatap ke dalam rumah. Lampu yang terang benderang, serta suara orang ramai berbicara, jelas sekali kalau memang keluarga Roy sudah kembali menempati rumah mereka. Saat akan melangkah pergi, petugas polisi melihat sosok wajah Nisa di balik jendela rumahnya. Dia menatap petugas tersebut sambil tersenyum.


Polisi itu pun membalas tersenyum dan urung melangkah kan kakinya. Dia melambaikan tangan memanggil Nisa. Bukan nya membuka pintu, Nisa masih tetap berdiri di balik jendela. Namun, alangkah terkejutnya polisi tersebut saat melihat pagar bergerak maju dengan kepala paijo di ujung nya. Wajahnya tersenyum, menancap di atas pagar. Polisi tersebut tentu saja sangat ketakutan. Alih-alih melarikan diri, dia bahkan langsung pingsan di tempat.


Pengendara motor yang menemukan dirinya pingsan di depan pagar rumah Roy, langsung membawanya ke rumah sakit. Setelah sadar dari pingsan nya, dia masih belum bisa bercerita tentang kejadian yang di alaminya.


Pagi hari di rumah sakit, polisi tersebut bersiap hendak pulang, ketika telinganya menangkap suara langkah kaki dari luar kamar. Rupanya Nisa datang untuk menjenguk dirinya.


"Bu Nisa,, untung saja anda tidak kenapa-napa?".


"Sebaiknya, sementara anda tinggal di hotel saja dulu".


"Rumah itu masih berhantu bu, arwah Sri dan Paijo mengganggu saya tadi malam".


"Jangan pernah datang lagi ke rumah pak, jika ingin nyawa anda selamat".


"Lain kali anda malah bisa menjadi teman dari Paijo ataupun Sri di rumah saya".


Polisi tersebut ketakutan mendengar perkataan Nisa kepadanya. Dia bahkan langsung pergi tanpa menoleh sedikit pun. Polisi tersebut jadi was-was dengan keselamatan dirinya sendiri.


Dalam hati dia berjanji untuk sebisa mungkin menghindari rumah Nisa tersebut.


Kisah Nisa dan keluarganya yang kerap kali bertingkah aneh lambat laun semakin banyak di bicarakan oleh warga. Rumah bertingkat tersebut semakin kelihatan angker saja. Mereka yang melintas, kerap kali di ganggu oleh penampakan atau hal-hal aneh. Tak ada seorang pun berani datang ke rumah Nisa lagi.Takut hal yang sama menimpa pada diri mereka. Semua orang masih sayang dengan nyawa nya sendiri.


Sudah hampir satu bulan, sejak bapak menyita ponsel Nisa dan Roy. Keduanya bahkan tak memgetahui kalau ada Nisa dan Roy yang lain di luar sana, sedang menebar teror dan mencari korban. Hanya mbah Cokro yang tahu apa yang terjadi di luar kampung nya. Namun, dia tak kuasa


ikut campur dengan urusan iblis jahat tersebut.


"Ini ponsel kalian, bapak kembalikan....!!!".


"Tapi ingat,,,bapak belum ijinkan kalian kembali ke kota".


"Ini sudah sebulan pak, tentu di kota sudahtidak segawat saat kami tinggalkan dulu".


"Apapun itu Nis, jangan dulu kembali ke sana".


Roy menghidupkan ponselnya. Tak di perduli kan nya bapak dan Nisa yang sedang berdebat di depan nya. Banyak sekali pesan dan telepon masuk, salah satunya dari ibunya. Orang yang menjadi kunci dari pembunuhan Sri dan Paijo.

__ADS_1


"Kenapa mas, apa ada yang penting?".


"Wajah mu terlihat sedikit tegang".


"Sebentar Nisa, aku menelpon ibu ku dulu".


Roy menekan tanda telepon pada nomer ponsel milik ibunya. Setelah berdering lama, terdengar suara wanita paruh baya di seberang telepon.


"Halo,,ibu di mana sekarang,, aku ingin bicara penting dengan mu".


"Apa kau sakit,, tentu saja ibu di rumah mu, kita baru bertemu tadi pagi".


"Ini nomer lama mu kan,,,kau sudah menemukan ponsel mu kembali?".


"Bukan bu, itu karena....tunggu, bagaimana ibu bisa ada di rumah ku?".


"Bukan nya ibu sedang di cari oleh polisi??".


"Sepertinya kau hilang ingatan,, bukan nya kau sendiri dan Nisa yang membebaskan ibu".


"Ah..sudah Roy,, ibu ada kerjaan,nanti kita bicara lagi kalau kau pulang kerja".


"Nisa, aku harus ke kota....ini penting sekali Nis".


"Jangan Roy, bapak tidak mengijinkan kalian".


"Tapi pak,,Roy harus mencari tahu sesuatu".


"Bapak bilang jangan dulu,, tunggu sampai kalian berdua siap".


"Jangan hiraukan apapun yang ada di ponsel mu".


"Percayalah....ini yang terbaik buat kalian".


Roy mengurungkan niat nya demi mendengar kata-kata bapak. Dia masih menghormati orang tua itu, namun dirinya juga sudah tak sabar untyk segera bertemu dengan ibunya. Beliau sudah pulang ke rumah mereka di kota. Tentunya akan banyak masalah yang di hadapi oleh keluarganya nanti.


"Bersabar lah mas, nanti aku akan mencari cara untuk bicara dengan bapak".


"Lakukan lah secepatnya Nisa, aku sudah penasaran sekali dengan kondisi rumah kita saat ini".

__ADS_1


"Tunggulah di sini sebentar, biar aku membujuk bapak".


Nisa segera beranjak dan menyusul bapak ke kamar nya. Tekad nya sudah bulat untuk segera menyelesaikan kasus pembunuhan di rumah nya.


Dengan hati-hati, Nisa mendekati bapak dan mulai membujuknya.


"Nisa tahu, bapak pasti khawatir.....tapi kalau masalah ini tidak segera di selesaikan, kami juga tidak tenang pak".


"Kami berdua janji akan menjaga diri dengan baik".


"Kau belum tahu apa yang akan kau hadapi di sana nanti".


"Bapak cuma berusaha untuk melindungi kalian berdua".


"Nisa janji pak, begitu ada yang tidak beres di rumah itu, kami berdua akan langsung kembali".


"Baiklah Nisa,, kalian boleh pergi".


"Hubungi bapak segera setelah kau sampai di sana".


"Pasti pak".


Nisa keluar kamar dan langsung memberitahu Roy. Keduanya bersiap kemudian segera berangkat ke kota. Keduanya sama sekali tak menyadari bahaya apa yang akan mereka hadapi.


Di rumah nya di kota, sosok yang menyerupai Nisa sudah berhasil menguasai seisi rumah. Sampai saat ini tak ada seorangpun yang berani masuk ke kediaman Nisa tersebut. Mereka sangat takut kalau nyawa nya akan berakhir kalau sampai nekat mengganggu Nisa dan keluarganya.


Kisah orang-orang yang berakhir tragis karena berurusan dengan rumah Nisa, sudah banyak contoh nya. Akan lebih baik bagi mereka mencari jalan aman dengan tidak mendekati rumah angker tersebut.


Sampai di kota, Roy menghentikan mobil nya di depan pagar rumah. Dia mengeluarkan kunci untuk membuka pagar rumah nya. Sayang sekali, kunci nya sudah tidak cocok lagi.


"Seingat ku ini kunci rumah kita kan Nis?".


"Siapa yang sudah menggantinya??".


"Coba lagi Roy, kau mungkin terlalu tergesa-gesa".


"Kita sudah tidak membukanya selama sebulan, mungkin kuncinya macet".


Keduanya tengah berusaha mencoba membuka kunci pagar rumah, ketika salah seorang pengendara yang melintas, mendekati dan menegur keduanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2