
Dito juga menelpon kedua orang tuanya.Mereka juga kelihatan sangat bahagia.
Keduanya langsung berangkat ke Jakarta mengunjungi anak dan menantunya.
Di tengah perjalanan pulang dari rumah sakit, sayup-sayup Nisa mendengar suara gamelan.
Makin lama suara nya semakin kencang. Nisa
kemudian meminta Dito menghentikan mobilnya.
"Mas,, berhenti dulu,,,bukannya itu jalan menuju rumah mbak Yeni??".
"Memangnya kenapa sayang,,, jangan bilang
kalau kau mau berkunjung,, aku tak akan mengijinkan mu".
"Tidak mas,,, tapi aku mendengar suara gamelan, entah siapa yang sedang hajatan".
"Kau jangan aneh-aneh, kita pulang sekarang".
Dito segera menyalakan mobilnya kembali.Dari persimpangan jalan, Nisa melihat sosok nenek tua sedang memandang dirinya. Dia seperti memberi isyarat kepada Nisa dengan bunyi gamelan tersebut.
"Dengar Nisa,,, mulai sekarang kau jangan terlibat dengan apapun yang bisa membahayakan dirimu".
"Aku tak mau terjadi sesuatu padamu dan anak kita".
Nisa mengabaikan penglihatan dan pendengaran nya supaya tidak bertengkar dengan Dito. Namun jiwanya yang selalu penasaran jadi ingin mencari tahu. Jelas
suara gamelan tadi begitu kencang di telinganya.
Mereka sudah di rumah ketika orang tua Dito menelpon.Mereka sudah sampai di Bandara.
Nisa dan Dito tak menyangka kalau orang tuanya juga antusias sama seperti mereka.
"Kamu ikut ke bandara kan".
Iya mas,,,ayo..aku tak sabar bertemu mama".
Keduanya segera berangkat ke Bandara. Orang tua Dito khusus terbang dari Medan dengan pesawat pertama.
"Itu mereka mas......!!".
Nisa langsung setengah berlari menyambut
mertua nya. Dito yang khawatir langsung menarik tangan Nisa agar tidak terlalu bersemangat.
"Apa kau lupa kalau sedang hamil,,,pelan kan jalanmu".
"Iya,,,aku lupa saking senangnya menyambut
mama".
"Sayangku,,,terima kasih kau beri kami cucu".
"Mama nggak kangen sama Nisa nih".
Nisa merajuk karena mertuanya langsung mencium perut Nisa begitu mereka bertemu.
"Aku kangen sekali sayang, tapi mama sangat bahagia dengan kedatangan cucu mama ini".
"Tampaknya kita akan terlupakan kalau anak kita ini lahir nanti mas".
"Tentu saja, kalau perlu mama mau mengasuhnya, tapi harus di Medan".
__ADS_1
"Sudah ma,pa, kita pulang dulu".
Dalam perjalanan pulang, lagi-lagi Nisa mendengar suara perempuan memanggil dirinya.Suaranya halus mirip seperti ibu ratu.
Nisa mengabaikan gangguan disekitarnya, dia tak ingin harinya bersama mertuanya jadi kacau gara-gara Nisa.
Mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, sementara Ki Santoso, Anton dan Ratri
tengah berdiskusi mengenai masalah yang sedang dihadapi oleh Yeni.
"Semula kita bisa melakukannya bersama Nisa, tapi rasanya sekarang tidak mungkin Ki".
"Memangnya kenapa??".
"Nisa hamil,,, terlalu beresiko bagi kandungan
nya jika dia ikut kali ini".
"Apa katamu,,,,Nisa hamil???, gawat....!!".
"Gawat apanya Ki??".
"Di saat seperti ini, kalau Nisa hamil, justru mereka akan merebut anak tersebut".
"Nisa harus ekstra hati-hati,, mungkin saat ini sudah ada yang tahu tentang kehamilan nya".
"Lalu,, untuk apa mereka merebut anak Nisa??".
"Sebagai tumbal untuk kebangkitan iblis atau apapun yang mereka sembunyikan itu".
"Yang pasti, kita harus memperingatkan Nisa
agar dia berhati-hati".
"Nisa sudah sering diserang,bahkan kemarin pagi ,dia juga diancam di kantor".
jika tahu".
"Jadi usahakan untuk tidak gembira berlebihan dan beraktivitas seperti biasa".
"Supaya mereka tidak mengincar bayi Nisa".
"Baik Ki, nanti aku akan beritahu Nisa".
Hari sudah menjelang malam ketika Nisa dan mertuanya sampai di rumah. Lampu rumah sudah menyala dan pagar di depan juga terbuka. Dito bergegas masuk ke dalam untuk
memeriksa.
Ibu dan bapak yang mendengar suara mobil,
langsung keluar menyambut Nisa. Rupanya
mereka juga sudah datang dari Jogja.
"Kalian lama sekali,,,ke mana saja??".
"Bapak, ibu, kapan sampai?? kenapa tidak
menelpon Nisa??".
"Bapak ingin buat kejutan untukmu,,,ayo masuk,,silahkan besan...mari kita masuk".
Nisa memeluk bapak dan ibu, diikuti kedua besan mereka. Mereka lantas masuk kedalam rumah. Sampai di dalam, ibu sudah masak banyak makanan dan rumah juga sudah rapi.
__ADS_1
Mertua Nisa pun tak kalah,, dia membuka koper dan mengeluarkan makanan khas Medan untuk menantunya. Suasana rumah
jadi ramai dengan tawa mereka.
"Wah ...Nisa bisa gendut sebelum waktunya ini, banyak sekali makanan yang kalian bawa".
"Nanti kau akan merasa dikit-dikit lapar kalau hamil,,, iya kan mbak yu?".
"Bener kata mertuamu nak,,,makanya ibu bawa cemilan khusus dari Jogja".
"Ayo besan, sambil di makan,, ini saya masak
sendiri Lo tadi".
Obrolan di rumah dibagi 2 kelompok,,para laki
dan perempuan. Suasana obrolan yang seru dan menyenangkan. Nisa merasa sangat senang karena kedua orang tuanya bisa datang bersamaan.
Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba lampu ruang tengah hidup mati,seperti sengaja di mainkan. Pintu depan juga membuka dan menutup sendiri. Dito berusaha memperbaikinya, namun tiba-tiba angin kencang masuk ke dalam rumah bersamaan
dengan lampu padam.
"Dito langsung memeluk Nisa dengan erat, sedangkan bapak dan papa memeriksa keadaan.
"Diam saja Nis,,,aku sudah bersama mu".
"Dia datang lagi kan mas??".
"Biar bapak yang memeriksa".
Rupanya bapak melihat ada tamu tak diundang ke rumah Nisa. Dia masih mengawasi sosok tersebut. Semula dia masuk, ditengah kegelapan dia mencari Nisa.
Bapak tidak tinggal diam, dia menggunakan
kekuatannya untuk berkomunikasi. Bapak menyuruh sosok itu pergi dari rumah. Dia menolak dan masih mendekati Nisa, sampai cahaya merah keluar dari cincin yang di pakai Nisa.
Sosok nenek itu terpental ke belakang. Jangankan membuat celaka, mendekati Nisa pun sekarang tidak bisa.Beberapa kali dia terjungkal,sampai akhirnya dia mengalah dan pergi. Lampu di rumah kembali menyala setelah sosok nenek tua itu menghilang.
"Kenapa lagi ini??".
"Nggak apa-apa Bu,,,mungkin tadi listriknya ada gangguan".
"Sudah,,,,,ayo dilanjut makannya".
"Sudah Dito, lepaskan Nisa, ada kami juga kau tak tahu malu".
"Nisa kan istriku ma,,, kenapa mesti malu".
"Dasar anak nakal".
Semuanya tertawa mendengar Dito diomeli mama nya. Dito justru senang sekali menggoda mereka. Dia bahkan tak sungkan mencium pipi Nisa di depan mama nya.
Di balik kebahagiaan yang mereka rasakan,terselip rasa khawatir di hati bapak.
Melihat peristiwa tadi,,, tentu hal ini nantinya akan kembali terulang. Dan itu berarti Nisa tidak aman dari gangguan makhluk halus.
"Nisa,, kau masih sering diganggu oleh makhluk halus di sekitarmu??".
"Iya pak,,bahkan belum lama ini Nisa diancam akan dibunuh".
"Tapi bapak tenang saja, Ratri ada di sini, dia dan Ki Santoso akan mengurus semuanya".
"Syukurlah kalau begitu,,bapak bisa tenang".
__ADS_1
Bapak tidak menceritakan peristiwa barusan kepada Nisa. Dia tentu tidak melihat karena Dito memeluknya dengan erat. Bapak juga tidak mau Nisa khawatir, karena akan berpengaruh ke kondisi janin nya.
Setelah makan malam, semuanya beristirahat di kamar masing-masing. Hari pertama kedatangan orang tua dan mertua Nisa sudah disambut dengan keusilan makhluk halus di rumahnya. Untung saja dia tidak melakukan serangan yang membahayakan.