
Nisa mendekap erat putrinya Sheina, sementara Dito menggendong Sheila. Semuanya sudah masuk kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Malam ini
Mbah Cokro akan membuat perhitungan dengan arwah Nila dan Mbah Sri.
"Sudah Bu, berhentilah menangis,,semua sudah terjadi, serahkan semua kepada Tuhan".
"Ibu yang salah Nisa,, ibu lalai menjaga Nila".
"Kalau tidak, kau pasti masih bersama saudaramu sekarang".
"Mereka bersama, dan menyalahkan ibu,atas kematian nya".
"Kalau sampai Mbah Sri keluar dari bilik,,,bukan saja anakmu,,semua anak kecil di kampung ini dalam bahaya".
Nisa memegang tangan Dito dan memeluk kedua putrinya. Dia seolah mencari kekuatan pada suaminya tersebut. Suami yang karena kebodohan nya telah ia khianati bersama Roy.
"Dito,,,akankah kau terus seperti ini, kalau kebenaran terungkap nanti"
"Suamiku, maafkan aku yang bodoh ini".
"Aku tak bisa menjaga kepercayaan mu".
"Sudah sepantasnya aku mendapat hukuman
atas semua dosa-dosa ku".
Nisa memandangi wajah Dito. Lelaki yang sudah mendampinginya dalam suka dan duka. Semoga cintanya tetap sama, tidak berubah sedikitpun. Kalau saja Nisa bisa mengulang waktu,, dia tak ingin pergi bersama Roy hari itu".
"Tenanglah sayang....semua pasti baik-baik saja".
"Tapi aku takut mas,,,kenyataan ini...bahkan ibu sendiri pun belum bisa menerima".
"Tenangkan diri mu, anak-anak. masih membutuhkan mu".
"Kalau kau panik, mereka juga akan merasakan hal yang sama".
Nisa berusaha tetap tenang. Setidaknya demi Dito dan anak-anak. Hidupnya sendiri pun sudah tidak dia perdulikan lagi. Mereka masih menunggu, sementara bapak dan Mbah Cokro sedang menuju ke bilik kayu di belakang rumah.
Di dalam bilik, terdengar bunyi geraman marah seorang wanita. Setelah itu kedengaran suara bambu dipukul kencang.
Ketika Mbah Cokro dan bapak mendekat, keluar sinar terang menjebol atap bilik, diiringi suara tertawa nenek tua.
Mbah Cokro memutar kunci bilik dan hendak masuk, namun suara nenek tua menahan langkahnya.
"Berhenti disitu.....kalian sudah mengurung ku di tempat sempit seperti ini".
"Mbah Sri,, pergilah dari sini,, jangan ganggu penghuni rumah ini lagi".
"Kali ini aku tak akan mengampuni mu, kalau kau membuat ulah lagi".
"Anak-anak itu harus ikut denganku".
"Mereka harus dipisahkan, seperti kami".
"Aku yang akan membawa nya untuk menemani ku".
"Jangan kau teruskan Mbah Sri,, cukup sudah
kali ini menyangkut cucu ku".
__ADS_1
"Kau sudah mengambil anak kami,, tidak lagi akan kuijinkan menyentuh anggota keluarga ku".
"Itu....bukan urusanku".
"Aku bertindak sesuai apa yang ku ingin kan".
"Kalian jangan pernah menghalangi".
"Nila....lakukan sekarang!!".
Sesosok wanita berjubah putih terbang dari dalam bilik, keluar rumah. Dia menuju ke arah pintu depan. Tapi, karena pintu sudah diberi pagar, wanita itu terpelanting ke belakang.
Wajahnya memerah marah. Kulit wajahnya mengelupas dan dipenuhi dengan darah. Aroma amis dan anyir tercium sampai ke dalam rumah.
Dengan kekuatan nya, dia menggedor-gedor pintu kamar tempat ibu dan Nisa bersembunyi. Dia juga menerbangkan perabotan yang ada di luar rumah. Kemarahan tampak dari raut wajahnya yang berdarah-darah.
Ibu berdoa di dalam hati sambil terus menangis. Betapa pun, dia adalah putrinya. Darah dagingnya sendiri. Kalaupun dia sudah meninggal, ibu menginginkan supaya arwahnya tenang. Tidak menaruh dendam seperti ini.
"Jangan lakukan ini anak ku".
"Kembalilah ke alam mu,, ibu sudah ikhlas menerima kematian mu".
"Jangan lagi kau turuti kebencian".
"Ibu menyayangi mu nak,, pergilah......berbahagia lah kau di surga".
Ibu semakin menangis kencang, mendengar keributan di luar rumah. Seolah-olah, ibu sudah tak tahan lagi melihat arwah putrinya dimanfaatkan oleh penunggu bilik kayu.
Setelah suara ribut reda, tiba-tiba terdengar suara tangis menyayat hati, memanggil nama ibu dan Nisa. Seolah dia meminta pertolongan kepada keduanya. Ibu yang mendengarnya, segera berlari menghampiri pintu, dia ingin keluar melihat putrinya.Untung saja Nisa berhasil mencegahnya.
"Ibu,,,kendalikan diri ibu,,, kau lupa dengan pesan bapak??".
"Tapi Nis,,,dia saudaramu...kau harus lihat
dia sangat menderita".
"Ibu jangan terpancing,,tetap disini Bu!!".
Dari luar terdengar bapak berteriak kesakitan.
Ibu semakin bertambah panik. Tak berapa lama, Mbah Cokro seperti berteriak minta tolong. Ibu sudah tidak bisa tinggal diam lagi.
Dia berlari menuju pintu.
"Ibu,,,,tetap disini, gendong Sheina bersama ibu".
"Biar Nisa yang menolong bapak dan Mbah Cokro".
"Tapi Nis,,,".
"Ingat Bu,,,apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari kamar ini".
Nisa kemudian keluar dari kamar, setelah menitipkan anak-anak pada Dito. Dia menyuruh Sofia kembali mengunci pintunya.
Nisa segera berlari ke belakang rumah, untuk
menolong bapak dan Mbah Cokro.
Belum sampai ke bilik,, ternyata Nisa sudah dihadang oleh saudara kembarnya Nila. Wajahnya sangat mengerikan. Separo luka di wajahnya, terus mengeluarkan darah. Dia juga kelihatan sangat marah. Tak lama dia melayang di depan Nisa dan mencekik lehernya.
__ADS_1
"Kak.....le..pas..kan ...aku...!!"
"Kau harus mati di tangan ku....!!!!"
Sosok mengerikan itu terus berteriak marah dan mencekik leher Nisa. Dia sampai kesulitan bernafas. Untung saja cincin merah di jarinya mengeluarkan sinar merah dan mengenai tangan arwah itu hingga terputus keduanya.
Pergelangan tangan itu terus bergerak merambat ke tembok.Sementara Nisa terlepas dari cekikan saudara kembarnya.
Tidak berapa lama, arwah Nila memandang mata Nisa. Sinar biru masuk ke mata nya.
Setelahnya Nisa seperti hilang kesadaran. Dia melakukan apapun yang diperintahkan oleh arwah Nila. Nisa mengambil pisau yang sangat tajam dari samping tempatnya berdiri.
Nila menggerakkan pisau tersebut ke wajah Nisa. Dia bermaksud mengelupas kulit wajah Nisa, sama persis dengan kulit wajahnya.
Nisa sudah mendekatkan pisau tersebut ke pipinya. Dia siap menyayat mukanya sendiri.
Untung saja bapak berlari dan merampas pisau tersebut dari tangan Nisa. Bapak memukul pundak nya, hingga kesadaran nya kembali.
"Apa yang kau lakukan,, kenapa kau keluar??".
"Nisa dengar bapak teriak minta tolong".
"Nisa pikir, bapak dalam bahaya".
"Hmmm.....dia sudah berhasil menarik mu
keluar......!!!".
"Ayo,,,ikuti bapak".
Nisa berjalan dengan bapak ke tempat Mbah Cokro. Tapi, dari arah belakang, keduanya didorong hingga tersungkur ke tanah. Tak cukup sampai di situ, sebuah bola api terbang ke arah keduanya.
"Bapak........awas......!!!!!.
Nisa menunduk sambil merangkul bapak. Mereka tiarap ke tanah, menghindari bola api yang diarahkan padanya. Nila tertawa cekikikan melihat bapak dan Nisa celaka.
"Mereka bilang kau saudara kembar ku??".
"Bukan,,, kau hanya gadis jahat".
"Aku tak punya saudara macam dirimu, tega menyerang adik dan bapakmu sendiri".
"Pantasnya kau di neraka".
"Rasakan ini........!!!"
Nisa mengarahkan cincin mustika nya ke pada saudaranya itu. Dia terjatuh ke tanah dan berteriak kepanasan. Nisa terus saja berdoa dan masih tetap menggunakan cincin nya. Tak sampai hitungan detik,, arwah itu menghilang dari pandangan bapak dan Nisa.
Sementara di bilik, Mbah Cokro masih berjuang melawan arwah Mbah Sri. Arwah pengganggu yang tak ragu mengambil nyawa dari korban nya. Lalu bagaimana nasib Mbah Cokro selanjutnya??".
...****************...
Hai-hai,, para readers yang Budiman,, terimakasih sudah setia membaca "Bertetangga dengan Genderuwo" kalau berkenan, mampir di karya ku yang lain ya...
*Bukan Butiran Debu*
*Let me Love you*.
Kasih like dan favoritnya ya.....
__ADS_1
Terima kasih!!.