
Setelah kejadian semalam, Nisa jadi takut kalau di rumah sendirian. Pohon besar di depan rumahnya merupakan rumah Genderuwo. Makanya pagi ini Nisa akan ikut Dito ke kantor.
Dito masih belum bangun tidur, sementara Nisa mendengar ketukan di pintu.
"Itu pasti Bayu".ucapnya dalam hati.
Sudah menjadi kebiasaan kalau setiap pagi pasti Bayu membawakan sarapan untuk Nisa dan Dito.Nisa segera ke depan untuk membuka pintu.
"Mbak Nisa, pagi ini aku mau mengajak mbak Nisa jalan-jalan".
"Mau kemana sepagi ini,, lagipula mas Dito belum bangun".
"Sebentar saja mbak, saya mau tunjukkan sesuatu kepada mbak Nisa".
Tanpa berpikir panjang, Bayu menarik tangan
Nisa keluar dari pintu rumahnya. Bahkan pintu rumah Nisa masih terbuka lebar, belum sempat ditutup.
Bayu membawa Nisa ke arah pinggir kota.
Pada perasaannya, Nisa sepeti diajak terbang oleh Bayu. Mereka berhenti di sebuah taman.
Sebuah karpet merah terbentang sampai jalan masuk. Macam acara hajatan saja tampaknya.
"Bayu,,, ini ke kondangan siapa???"
"Nggak sopan Lo....penampilan ku seperti ini".
Bayu seperti tak menghiraukan kata-kata Nisa. Dia menggandeng tangan Nisa memasuki ruangan tersebut.
Ruangan yang sangat megah, Nisa merasa memasuki sebuah lorong dengan warna keemasan. Di kiri kanan jalan terdapat cahaya terang yang menyilaukan mata.
Bangunan utama terbuat dari emas, Kilauan nya sangat indah. Ada pilar-pilar besar di setiap sudut bangunan. Di ruangan tersebut
banyak sekali orang yang hadir. Semuanya memakai baju berwarna putih.
Mereka tampak antri hendak masuk sebuah pintu yang sangat besar. Pintu itu tinggi dan kokoh serta banyak ukiran indah, dan lagi-lagi terbuat dari emas. Ada 8 pintu yang masing-masing banyak orang yang berebutan ingin memasuki nya. Mereka menunggu pintu dibuka dan berjejer di depan nya.
Bayu menarik Nisa mendekati pintu yang masih tertutup rapat. Anehnya, orang-orang tidak saling bertegur sapa. Mereka diam seribu basa.
"Bayu,, tempat apa ini,, kita mau kemana??".
"Ayo kita kembali,,mas Dito pasti sudah mencari ku".
"Kita sudah terlalu lama di sini".
Bayu masih menggandeng tangan Nisa diantara kerumunan orang. Mereka tetap berjalan lurus ke depan, tanpa memperdulikan yang lain.
Sementara di rumah Nisa, pagi-pagi Dito sudah heboh karena Nisa menghilang.
Dia sudah bertanya ke satpam komplek, tapi tak ada seorangpun yang melihat Nisa lewat.
__ADS_1
Dito akhirnya menelpon Ratri dan Anton untuk
membantu mencari Nisa.Anton langsung bergegas datang ke rumah Dito untuk memeriksa hilangnya Nisa.
Begitu Anton datang, Dito langsung menceritakan kejadian nya. Dito sangat khawatir mengingat Nisa sedang hamil sekarang.
"Aku masih tertidur, begitu bangun, pintu depan sudah terbuka dan Nisa sudah menghilang".
"Tak ada yang melihatnya keluar dari pintu ini".
"Kalau begitu, mungkin Nisa dibawa Genderuwo, atau lebih tepatnya diculik".
"Kau jangan menakuti ku Ton, Nisa itu sedang hamil".
"Aku tahu,,,justru kalau diculik manusia, sudah pasti orang di jalan ini melihat".
"Lalu kita harus bagaimana??".
"Memanggil Genderuwo itu untuk ditanyai, di mana dia membawa Nisa".
"Baiklah,,,aku ikut katamu saja, yang penting Nisa selamat".
Anton dan Dito kemudian mencari perlengkapan untuk dipakai ritual memanggil Genderuwo.
Mereka memanggang sate gagak seperti tadi malam. Setengah jam menunggu, makhluk itu tak kunjung datang.Anton bahkan sudah merapal kan mantra, tapi tetap saja penampakannya tidak muncul.
"Tadi malam dia datang dari pohon ini kan??".
"Tapi kenapa tak ada yang muncul sama sekali??"
"Berarti, mungkin dia sudah membawa Nisa pergi jauh dari sini".
"Aku coba gunakan kekuatanku untuk melacaknya, siapa tahu berhasil".
Anton kemudian bersemedi. Dia meninggalkan raganya untuk mencari Nisa.
Nihil....semua tempat angker di setiap komplek sudah disambangi nya, namun Nisa tak ditemukan dimana pun.
"Maaf Dito,, Nisa tak ada di sekitar sini".
"Entah...kemana Genderuwo itu membawanya".
Dito terlihat menunduk lemas. Dia sangat mencemaskan Nisa. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, entah apa yang akan dilakukan nya.
Mereka sudah hampir putus asa, ketika tiba-tiba kyai Ahmad datang bersama Ratri. Dia
khusus terbang dari Surabaya dan langsung menjemput pak kyai.
"Nisa masih ada di wilayah sini,,,sebentar aku akan mencoba mencarinya".
Kyai Ahmad duduk bersila dan mengeluarkan tasbih nya. Dia memejamkan mata dan membaca doa-doa. Dalam gambaran nya dia melihat Nisa sedang tersesat. Dia hendak bersiap memasuki pintu ke alam lain.
__ADS_1
Kyai Ahmad kemudian mencoba menerawang keberadaan tubuh Nisa. Dia diletakkan di tengah pohon besar dengan suara.air mengalir serta kicauan burung.
Kyai Ahmad kemudian membuka matanya dan memberitahu gambaran keberadaan Nisa.
"Kalian pernah melihat tempat yang ku sebut kan tadi,atau yang hampir mendekati".
"Aku kurang tahu daerah ini, barangkali kau tahu Dito".
"Ada tempat seperti itu, Aku dan Nisa pernah mengunjunginya".
"Letaknya di pinggiran kota, dari sini sekitar 2 jam".
"Lebih baik kita segera berangkat sebelum terlambat".
"Nisa sudah hampir masuk pintu gerbang dimensi lain".
Anton bergegas membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mereka menuju tempat yang disebutkan Dito tadi. Sesampainya disana mereka bergegas mencari tubuh Nisa.
"Benar saja, tubuh Nisa diatas pohon dengan kondisi pingsan. Tangan dan kakinya sudah dingin. Dito memanggil Nisa berusaha menyadarkannya.
Sementara Nisa sudah terpisah dari Bayu. Dia berusaha mencari keberadaannya. Tak lama kemudian, pintu emas itu terbuka lebar. Dari dalam, Bayu mengulurkan tangannya ke arah Nisa.
Nisa hendak berjalan menghampiri Bayu ketika dirinya mendengar suara panggilan
dari Dito. Nisa menoleh mencari asal suara, sementara pintu sudah hampir tertutup.
Saat Nisa hendak melangkah masuk, suara itu semakin kencang terdengar memanggil namanya. Nisa melepaskan pegangan tangan Bayu dan lari ke belakang mencari sumber suara.
Nisa berhenti dan menoleh ke arah pintu yang tertutup. Dia kemudian kembali berlari menyusuri lorong yang berkarpet merah itu.
Tiba-tiba sinar putih membawanya terbang dari tempat tersebut. Jiwa Nisa pun kembali ke tubuhnya.
Dito terus memanggil nama Nisa dan menggosok telapak tangannya. Dia bahkan sampai menangis dan air matanya mengenai kelopak mata Nisa.
Sesaat kemudian jari nisa bergerak, disusul dengan terbukanya kedua matanya.
"Mas Dito........".
"Syukurlah Nisa,, akhirnya kau sadar juga".
Dito memeluk Nisa dengan erat masih sambil berlinang air mata.
"Cepat Dito,,kita bawa Nisa ke rumah sakit dulu, takut terjadi sesuatu terhadap calon bayinya".
"Seharian ini Nisa bahkan tidak makan sama sekali".
Dito segera tersadar dan mengangkat Nisa ke dalam mobil.Dia dan Anton bergegas menuju rumah sakit terdekat.
Nisa segera ditangani dokter dan perawat. Bayinya baik-baik saja, cuma Nisa dehidrasi akut dan harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari.
Mereka semua lega mengetahui kondisi Nisa dan bayinya. Setelah memastikan keadaan Nisa, Anton mengantar kyai Ahmad pulang, sementara Ratri menemani Dito di rumah sakit. Sekali lagi nyawa Nisa masih terselamatkan. Terlambat sedikit saja mungkin mereka hanya akan menemukan jasadnya saja.
__ADS_1