Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Konflik Dengan Mertua.


__ADS_3

Menjelang sore, Nisa dan kedua putrinya baru sampai di rumah. Mereka merengek meminta bermain sebentar di mall, mumpung ibunya yang menjemput di sekolah. Tentu saja Nisa sudah izin Roy terlebih dahulu. Suaminya itu hanya berpesan agar tidak pulang terlalu sore.


Nyatanya sampai di rumah, kejutan besar sudah menunggu Nisa. Mobil Roy sudah terparkir di halaman rumah. Saat Nisa turun, rumah tampak ramai, tidak seperti biasanya.


Nisa langsung masuk lewat pintu depan. Roy sudah duduk di sofa dengan kedua orang tuanya. Kakak perempuan Roy dan suaminya juga turut berbincang di ruang tamu.


"Sayang, ayo masuk lah....mama sudah menunggu mu dari tadi".


"Kenapa kau tidak bilang kalau mama akan datang mas?".


"Tahu gitu kan aku bisa langsung pulang tadi".


"Maaf kan Nisa ma,, tadi kelamaan jemput si kembar".


"Santai saja Nisa, Roy sudah menjamu kami dengan baik, iya kan ma?".


Nisa buru-buru menghampiri mertuanya dan mencium tangan mereka. Raut wajah keduanya menunjukkan wajah yang tidak bersahabat. Pun ketika kedua putri Nisa juga menyalami nenek dan kakeknya. Sepertinya memang mereka belum menerima kehadiran Nisa dan putrinya itu.


Nisa masuk ke dalam kamar, sementara Roy masih berbincang dengan orang tua dan saudaranya. Sudah menjadi kebiasaan Nisa kalau dirinya bersedih atau pun menangis, pasti akan ada kejadian aneh di sekitarnya. Seolah ada yang tidak terima ketika ada yang menyakiti perasaan Nisa.


Benar saja, lampu kristal gantung yang ada di ruang tamu tiba-tiba saja terjatuh. Untung nya tidak ada korban yang terkena insiden tersebut.


"Ibu sudah bilang padamu kan Roy, cari istri itu yang benar".


"Kalau tidak, rumah mu malah akan jadi sarang hantu!!".


"Ku mohon Bu, Nisa bukan wanita yang seperti ibu bilang".


"Tolong hormati istri ku, dia itu orang baik Bu".


"Sri,, cepat kemari ...bersihkan bekas pecahan lampu ini".


"Ada anak kecil disini, seolah ada yang sengaja supaya ibu celaka".


"Baik nyonya".


"Selamatan nya sudah kau buat kan, Sri??".


"Sudah nyonya, tinggal berdoa dan bisa langsung di bagikan".


"Kau urus ini dulu saja".


Roy menyusul Nisa masuk ke dalam kamar. Di lihatnya Nisa sedang mengusap air mata nya. Dia mendengar semua perkataan ibu mertuanya tadi dengan Roy. Tapi, dia tak mau membuat Roy khawatir.


"Maaf kan aku Nisa, mama hanya belum mengenal mu".


"Aku yakin dia pasti berubah pikiran kalau tahu seperti apa kau sebenarnya".


"Jangan khawatir mas, aku cukup tahu diri dengan status ku sebelumnya".


"Kau tahu kan kalau aku mencintai mu, tak perduli kau gadis atau janda".


"Kita sudah menikah Nisa, dan ibu ku harus menerima itu".

__ADS_1


"Iya mas,,,kita lihat saja nanti".


"Semoga aku bisa bersabar dengan ibu dan saudara-saudara mu".


Nisa sebenarnya enggan sekali berdebat dengan suaminya. Makanya dia lebih banyak berada di dalam kamar. Nisa cukup tahu diri kalau dirinya masih belum di terima.


Sore hari, Sofia kembali dari kampus. Seperti biasa dia langsung masuk ke dalam rumah. Sofia tampak kaget melihat banyak tamu di rumah Nisa.


"Siapa dia Roy, apa dia adik ipar mu?".


"Ini Sofia Bu, pengasuh Sheila dan Sheina".


"Baik sekali kau membiayai dan menampung orang-orang asing di rumah ini".


"Bukan nya bekerja malah keluyuran".


Nisa sudah turun tangga menuju ruang tamu saat mertuanya menghina Sofia. Tentu saja dia tak bisa tinggal diam dengan kelakuan mertuanya kali ini.


"Sofia itu tanggungan saya Bu, dan dia tidak sedang keluyuran".


"Aku tak pernah memakai sedikitpun uang Roy untuk membayar Sofia".


"Tolong ibu jangan salah paham".


"Berani sekali kau membela pembantu di bandingkan mertua mu sendiri".


"Sofia bukan pembantu di rumah ini Bu".


"Sudah lah Bu, hentikan perdebatan ini".


"Sofi, istirahat lah dulu, sebentar lagi makan malam".


"Baik pak,, permisi".


"Bagus sekali,, anak ku sudah berhasil kau kuasai".


"Kau juga sudah mencuci otak nya rupanya".


"Bu.....ini sudah keterlaluan,, tolong hormati istri ku".


"Dia tak seperti yang ibu tuduh kan".


Nisa urung turun ke ruang tamu. Dia berbalik masuk kamar sambil menangis. Kata-kata mertuanya sudah sangat kelewatan. Tuduhan untuk Nisa sudah sangat keterlaluan.


"Sri,, jangan sediakan apapun untuk Nisa".


"Biarkan dia kelaparan kalau tak mau turun".


"Dia harus tahu aturan di keluarga kita mulai sekarang".


"Kau diam saja Roy, biar ibu yang mengurus semuanya".


Dengan jengkel Roy meninggalkan meja makan dan menyusul Nisa ke kamar. Itulah mengapa Roy enggan mempertemukan Nisa dan ibunya. Dua latar belakang yang berbeda pastinya akan menimbulkan konflik. Dan memang benar kejadian.

__ADS_1


"Sayang, panggil anak-anak dan Sofia, kita makan di luar malam ini".


"Tapi mas, ibu mu pasti marah nanti".


"Aku sudah biasa dengan kemarahan ibu".


"Tapi aku sungguh tak mau kau dan anak-anak kelaparan".


"Bersiaplah, Alan akan mengantar kita".


"Dia pasti juga belum makan".


Roy sengaja menunggu ibu dan saudaranya masuk ke kamar. Mereka kemudian menyelinap keluar rumah. Dia tak mau Nisa sampai menderita karena ulah ibunya.


"Kita tidur di hotel saja sementara".


"Biar ibu menginap di rumah sampai dia pulang".


"Aku tak mau kau sakit hati tiap kali ibu berbicara".


"Apa itu sopan mas, aku sebagai menantu pasti akan di salah kan nanti".


"Sudah,,,aku yang mengurus semuanya".


"Alan,, dari restoran kita langsung ke hotel, aku sudah pesan kamar juga untuk kalian berdua".


Nisa masih terlihat sedih. Sepanjang jalan Roy memegangi tangan nya. Alan melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiri. Nisa tak pernah sesedih ini saat dulu bersamanya. Kedua orang tuanya bahkan sangat menyayangi Nisa. Sekarang ini dengan Roy, batin nya tersiksa karena tak mendapat restu dari mertuanya.


"Papa,,,kenapa kita harus tidur di hotel?".


"Rumah kita jadi milik nenek sekarang?".


"Bukan begitu sayang, kita sedang cari suasana baru".


"Di rumah kan penuh sesak, makanya kita bermalam di hotel saja".


"Kalian nanti tidur bareng mbak Sofi, jadi sama saja seperti di rumah".


"Kalian suka kan?".


Kedua gadis kembar itu tersenyum mendengar penjelasan dari ayah nya. Hanya Nisa yang tahu rasanya kalau anak sekecil itu tidak diterima di keluarga suaminya. Lagi-lagi butiran bening menetes di pipinya.


Nasib Nisa yang hanya seorang janda. Di pandang negatif dan sebelah mata oleh keluarga Roy. Dia jadi ingat dengan Dito dan keluarganya. Dulu dia tak mendapat perlakuan seperti itu. Nisa di terima dengan sangat baik di sana.


"Hapus air mata mu, aku tak ingin kau bersedih".


"Kita hadapi ini sama-sama".


"Suatu saat nanti, ibu ku pasti menerima mu Nisa, aku yakin itu".


Nisa hanya bisa tersenyum. Dia berusaha menyembunyikan lukanya di hadapan Roy. Biar saja Nisa sendiri yang merasakan kesedihan ini. Roy sudah cukup banyak berkorban bagi dirinya dan kedua putrinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2