Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Kembali Ke Tempat Asal.


__ADS_3

Nisa kaget melihat reruntuhan tembok di depan nya. Barulah kelihatan, dia ada di mana sekarang. Sebuah hutan belantara yang tak asing di memori nya. Rupanya, iblis menciptakan ilusi hutan larangan. Bangunan yang baru saja roboh, adalah rumah kosong di tengah hutan larangan.


"Tak mungkin,,,,ini benar-benar tak masuk akal".


"Kenapa aku bisa sampai di hutan larangan??".


"Dan itu,,, oh Tuhan,, cobaan apa ini??".


"Sebenarnya apa yang kalian lakukan padaku??".


"Apa kau ingin membuat ku gila Francis??".


Nisa menutup mata dan kedua telinganya. Dia terlihat seperti orang gila. Apalagi makhluk berbulu lebat, tinggi dan hitam di depan nya, masih memandangi wajahnya dengan bernafsu. Nisa tak kuasa lagi berkata. Entah kenapa dia harus mengalami hal buruk seperti ini.


Hanya dalam satu kamar saja, pikiran dan perasaan Nisa sudah di permainkan habis-habisan. Dia mulai lelah menghadapi semua ini. Entah apa maksud Francis kepadanya.


Yang jelas, Nisa sudah tidak tahan lagi sepertinya. Terbersit keinginan nya untuk menyerah. Namun bayangan kedua putrinya, menari-nari di pelupuk matanya.


Nisa harus bangkit dan melawan iblis yang telah mempermainkan nya. Sungguh sangat di sayangkan, keluarga Wibisana bersekutu dengan golongan iblis yang kejam seperti ini.


Nisa saja kewalahan menghadapinya sendirian. Baik raganya, jiwanya, dan emosinya diserang habis-habisan. Iblis itu ingin Nisa menyerah dan bersekutu dengan nya.


Nisa hanya bisa menangis. Bayangan orang-orang tercintanya, selalu menguatkan dirinya.


Berbagai peristiwa ditampilkan bergantian semacam klise film. Kali ini pun, memorinya ditarik ke masa lalu, ke hutan larangan. Dimana trauma Nisa berawal dari tempat itu. Dan bahkan sekarangpun belum bisa menghilang dari pikiran nya.


Genderuwo hutan larangan itu berjalan menghampiri Nisa. Langkahnya lebar dan mampu membuat tanah bergetar. Nisa masih duduk di lantai rumah kosong, saat Genderuwo itu hendak menyentuhnya. Geraman nya terdengar di telinga Nisa.


Nisa mendongak dan kemudian berdiri. Dia mundur ke belakang menghindari tangan besar berbulu milik si Genderuwo.


"Mau apa kau,,,jangan sentuh aku".


"Pergi dari sini sekarang juga..!!!".


"Aku tidak memanggil mu,,,pergi....!!!".


Genderuwo itu tertawa senang melihat wajah Nisa yang ketakutan. Dia kembali maju ke depan menghampirinya. Nisa bergegas berlari jauh menembus hutan larangan, menghindari Genderuwo yang mengejarnya.


Nafasnya sudah hampir habis karena terlalu cepat berlari. Namun, Genderuwo itu malah semakin mendekat. Nisa hanya terus berlari, sampai tak sadar kakinya tersandung batu. Dia jatuh ke tanah dengan tangan dan dagu nya berlumuran darah. Nisa tak kuasa lagi untuk berlari. Dia hanya bisa pasrah, saat Genderuwo itu membopong tubuhnya.


"Lepaskan aku,,kau mau bawa aku kemana??".


"Ku mohon,,jangan ganggu aku".


Tak berapa lama, keduanya tiba di depan rumah yang sangat indah. Genderuwo itu meletakkan tubuh Nisa di atas kasur. Dia kemudian pergi keluar dan menghilang. Nisa masih menahan perih akibat luka di tubuhnya saat terjatuh tadi.


Tak berapa lama, sosok laki-laki tampan muncul dari balik pintu. Dia membawa kotak obat untuk Nisa. Wajahnya tak asing di ingatan Nisa. Dia tersenyum sangat manis, ketika membersihkan luka di kakinya.

__ADS_1


"Dion,, kau benar Dion kan??".


"Jadi, ini adalah rumah mu??".


"Tapi, bagaimana mungkin Genderuwo itu membawaku kemari??".


"Kau, manusia kan??".


"Aku teman mu Nisa,,,teman masa kecilmu".


"Kita pernah menghabiskan waktu bersama dulu".


"Kali ini, aku yang akan menolong mu".


"Kau aman di tempat ku sekarang".


"Akhirnya,,,aku bertemu dengan manusia".


"Akhirnya,,ada juga yang menolongku".


"Tolong keluarkan aku dari tempat ini Dion".


"Aku sudah tidak tahan lagi".


"Tempat ini sangat menakutkan".


"Kemarilah,,,,ikuti aku sekarang".


Nisa meraih tangan Dion dan mengikutinya keluar dari rumahnya. Nisa kembali masuk ke dalam hutan. Kali ini, tempatnya gelap dan lebat. Dion membawa Nisa melewati gubuk kecil, tempat seorang penari tengah berendam bersama ratusan ekor ular.


Nisa melepaskan tangan Dion. Dia berhenti seketika. Alam bawah sadarnya terasa ada yang memanggil namanya. Nisa menajamkan telinga nya dan mendengar suara bisikan halus masuk ke telinganya.


"Nisa,,,,fokuskan pikiran mu dan konsentrasi".


"Yang kau alami itu hanyalah ilusi".


"Bangun Nisa,,,jiwamu sudah terlalu jauh dibawa pergi".


"Kembali lah anak ku,,, jangan kau turuti permainan mereka".


"Sadarlah anak ku.......ambil kembali kesadaran mu".


"Jangan terlena,,,itu semua hanya fatamorgana".


Nisa mengenali bisikan halus tersebut. Rupanya bunda ratu sedang memperingatkan nya. Dia kemudian konsentrasi dan menggosok cincin nya pelan. Dia lepaskan semua pikiran dan kegelisahan nya. Nisa fokus kembali ke lorong gelap yang di masuki nya. Hingga akhirnya,,,secara tiba-tiba, Nisa bisa keluar dari lorong tersebut dan berada di depan pintu kamar.


Dia ingat betul dengan pintu itu. Lewat sana lah pertama kali dia mengawali ilusinya. Buru-buru Nisa membuka pintu tersebut dan keluar dari kamar.

__ADS_1


Akhirnya,,,dia kembali ke kediaman keluarga Wibisana. Nisa berdiri di samping tangga.


Dia mendengar Francis berteriak marah pada para pengawal. Dengan mengendap-endap, Nisa naik ke atas menuju kamar Alan.


Nisa mengunci pintu kamar dari dalam. Dia melihat sekeliling, dan tak menemukan Dito di sana. Tubuh Nisa bahkan sudah sangat tak berdaya. Banyak memar dan luka di seluruh badan nya. Nisa duduk di lantai menahan nyeri dan perih. Air matanya tak terasa menetes membasahi pipinya.


Nisa menggigit selimut di atas kasur, agar suara tangisan nya tidak terdengar keluar.


Inilah puncaknya,,,semua rasa sakit yang sudah tidak dapat lagi di tahan nya. Dan dia sendirian saja menangisi nasib nya yang buruk.


Tiba-tiba, dari belakang tempatnya duduk, sebuah tangan terulur membekap mulutnya.


Nisa membelalakkan matanya, takut kalau pengawal Francis menangkapnya. Sejurus kemudian sebuah suara berbisik lirih di telinganya.


"Kau dari mana saja Nisa,,,aku sudah menunggu mu dari tadi".


"Dito,,,,akhirnya aku bisa bersama mu,,,aku takut sekali Dito".


"Apa yang terjadi,,kenapa kau bisa terluka seperti ini??".


"Jangan di sini, sebaiknya kita keluar dulu dari rumah terkutuk ini".


"Kita berada di sarang iblis".


"Aku setuju dengan mu Nisa, tapi kita harus menunggu sampai gelap dulu".


"Setelah itu, baru kita keluar lewat jendela kamar Alan".


"Francis masih ada di bawah dan mencari kita".


"Ayo masuk ke dalam,,,ini ruangan rahasia".


"Mungkin hanya Alan yang mengetahuinya".


Nisa dan Dito membuka tumpukan baju Alan dan membuka pintu rahasia di dalam nya. Keduanya masuk dan bersembunyi di sana.


Hari sudah hampir gelap. Tinggal menunggu penjaga lengah, dan mereka akan kabur.


"Apa di sini tidak ada air,,,aku haus sekali Dito".


"Tunggu di sini sebentar, biar aku ambilkan di kamar Alan".


Dito urung membuka pintu, ketika di lihatnya Francis tengah mencari mereka berdua di kamar Alan. Dito mengintip dari balik lubang kunci. Mereka sedang menggeledah kamar Alan. Dito kembali mengunci pintu dan memberi isyarat kepada Nisa supaya diam.


Jangan sampai Francis dan pengawalnya


mengetahui tempat dirinya bersembunyi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2