
Makin hari kondisi ibu makin membaik,
sebaliknya kondisi bude Wati kian memprihatinkan.
Nisa sering melamun memikirkan nasib bude nya.Di kantor pun dia sering tidak konsentrasi. Bagaimana pun bude Wati adalah saudara kandung ibunya. Dia tidak
akan tega melihat penderitaan bude Wati.
Dito yang mengetahui cerita keluarga Nisa
yang sebenarnya, berusaha menghibur Nisa.
Kedekatan diantara keduanya semakin intens.
Nisa beruntung memiliki teman baik seperti
Dito.
Pagi ini Dito mengajak Nisa keluar.Dia tak mau sahabatnya itu stress karena memikirkan keadaan budenya.
"Memangnya kita mau kemana dit,??".
"Cari udara segar,,kulihat belakangan ini
wajahmu makin kusut saja".
"Sudah,,,,jangan pikirkan lagi, yang penting hari ini kau bisa senang-senang".
"Hmmm.......terima kasih ya,,kau memang teman yang baik".
Dito membawa Nisa ke pantai Ancol.Suasana
pantai yang indah diharapkan Dito mampu
membuat Nisa rileks.Akhir-akhir ini, Nisa
menanggung beban pikiran yang berat.
Sejak bertemu dengan Nisa, Dito memang menaruh rasa kepadanya.Tapi sampai saat ini
Dito belum berani mengungkapkan kepadanya.
Yang terpenting, Nisa merasa bahagia, itu sudah cukup membuat hati Dito senang.
"Dit,, kau bilang aku pernah mengucapkan Gelung rambut saat kesurupan?".
"Iya Nis,,,tapi aku tidak tahu artinya, kau berbahasa Jawa waktu itu".
"Sudahlah lupakan sejenak masalah itu,pokoknya hari ini kita senang-senang".
Nisa menuruti kata-kata Dito.Dia tak ingin Dito
merasa kecewa.Lagipula selama ini hanya Dito yang menemaninya dalam segala situasi.
Nisa berlarian di bibir pantai.Udara pantai yang sejuk ditambah dengan suara deburan ombak membuat Nisa benar-benar melupakan masalahnya.
Saat tengah beristirahat di tepi pantai, tiba-tiba Nisa melihat sosok wanita cantik berpakaian serba hijau.Sosok itu muncul dari dalam lautan, selendang hijaunya melambai-
lambai seolah-olah memanggil Nisa untuk
mendekat.
Tanpa sadar Nisa berjalan menghampiri sosok wanita cantik itu.Dito yang berada di
sampingnya keheranan melihat Nisa yang berjalan ke arah lautan.
Dito memegang tangan Nisa dan menyeretnya menuju ke tepian.Nisa seolah
tidak perduli terus melangkah ke arah laut
mengikuti panggilan namanya.
Nisa terus berjalan ke tengah lautan,anehnya
Nisa tidak tenggelam dan air yang dipijaknya
seakan berubah menjadi batu.
Saat sampai di depan sosok Ibu ratu Nyi Roro
kidul, Nisa duduk bersimpuh di hadapannya.
__ADS_1
Tangannya disatukan di depan hidung, persis
seperti orang yang sedang sungkem.
Tak seberapa lama,tiba-tiba Nisa berteriak minta tolong dari tengah lautan.Sosok ibu
ratu sudah menghilang dari pandangannya.
Dito dengan sigap berenang ke tengah lautan
dan menggapai badan Nisa.Dia lalu membawanya berenang ke tepian pantai.
Tentunya hal ini sudah tidak membuat heran Dito lagi.Kalau berdekatan dengan Nisa, sudah pasti akan ada kejadian mistis yang
dialaminya.
Dito membaringkan Nisa di pasir pantai.
bajunya basah kuyup karena hampir tenggelam di laut tadi.
"Siapa sosok yang menemuimu di tengah lautan tadi?".
"Kau terlihat memberi hormat padanya".
"Itu ibu ratu Dit, dia sengaja menemuiku
untuk menyelesaikan masalah Buto ijo itu.
"Kata ibu ratu, aku harus mencari Cemeti Gelung rambut.Cemeti itu yang bisa mengendalikan Buto ijo".
"Setelah ketemu, aku harus mencambuknya dua kali tepat di bahu kanan dan kirinya".
"Buto ijo itu akan terperangkap di dalam gelungan rambut yang mirip seperti labirin.
"Setelahnya,aku harus membawa cemeti itu kesini,untuk diserahkan kepada ibu ratu"
"Selanjutnya, ibu ratu yang akan mengurus Buto ijo itu".
"Kau masih mau membantuku kan??".
"Apa masih perlu kau tanyakan lagi?".
mendampingi mu, kau mengerti??".
"Mulai deh gombalan nya,,,,,!!".
"Kau akan mengerti keseriusanku saat aku melamarmu nanti".
Nisa tersipu malu mendengar kata-kata Dito.
Entah kenapa kata-kata Dito itu bisa membuat
Nisa terbuai.Selama ini Dito menerima diri nya walaupun tahu kalau Nisa berbeda dari perempuan lainnya.
Mereka berdua segera beranjak dari pantai.
Tugas besar menanti di depan mata Nisa.
Dia harus bisa menemukan cemeti itu.
Sedangkan bude tidak bisa ditanyai keberadaan benda itu.
"Nis,,, kalau memang cemeti itu ada, berarti budemu menyimpannya di kamarnya.
"Kau harus mencarinya di tempat yang memungkinkan bude mu menyimpan
barang berharga miliknya".
"Kalau hanya mencarinya aku tidak masalah,
tapi aku kan belum tahu wujud benda itu
seperti apa??".
"Benar juga ya Nis....".
Ditengah obrolan Nisa dan Dito, telepon berdering dari rumah bude Wati.
"Mbak Nisa,,saya tak sanggup kerja disini lagi".
"Sekarang juga saya mau berhenti, saya takut mbak!!!".
__ADS_1
"Mbak,,,tunggu saya sebentar,,saya akan segera pulang".
"Ayo cepat Dito,, kita harus segera pulang".
Sampai di rumah, perawat bude sudah menunggu di depan pagar.Wajahnya pucat
dan badannya gemetaran.
"Ada apa mbak??, kenapa menunggu di sini?".
"Itu mbak,,,, Bu Wati tiba-tiba bangun dan menyerang saya".
"Maksudnya????".
"Ketika saya mengganti infusnya, Bu Wati membuka matanya,kemudian memegang leher saya,saya diangkat ke atas dinding dan dicekik mbak".
"Untung saya berhasil meloloskan diri".
"Kalau begitu kita masuk dulu mbak".
"Saya masih takut mbak Nisa, Saya pulang
saja, tidak di gaji juga tak apa".
Perawat itu lari keluar dan menaiki taksi.
Tampaknya dia benar-benar ketakutan.
Nisa dan Dito segera bergerak menuju kamar
bude Wati.Malam ini juga cemeti itu harus ditemukan.Buto ijo itu sudah benar-benar meresahkan sekarang.
Sudah dua jam Nisa dan Dito mengobrak-abrik isi kamar bude,tapi benda itu tidak di
temukan.Nisa hampir putus asa.
Mereka terduduk di lantai. Sejurus kemudian
cincin yang dipakai Nisa mengeluarkan sinar berwarna merah.Sinar itu mengarah ke bawah
tempat tidur bude Wati.
Dito memindahkan bude Wati ke kamar tamu.
Dia menggeser tempat tidur bude Wati.Sinar
di cincin Nisa berhenti di salah satu lantai
keramik.
Dito memeriksa keramik itu.Ternyata satu lantai ini bisa dibuka.Dito membukanya.Di dalam nya ada kotak hitam berisi sebuah
kunci.
Nisa memeriksa kunci itu. Dia mencoba mencari sekeliling kamar, sampai dia menemukan laci meja persembahan ada
lubang kuncinya.
Nisa mencoba memasukkan kunci tersebut.
Tiba-tiba ruang persembahan itu bergeser.
Ada celah seukuran pintu dan sebuah ruangan lagi di dalamnya.
Nisa dan Dito ragu untuk masuk ke ruangan
gelap itu.Sebenarnya ruangan apa ini.
Bude Wati sangat pintar menutupi kedoknya
selama ini.
Dito mengambil senter.Dia kemudian mengajak Nisa untuk masuk ke ruangan itu.
Ruangan yg cukup besar.Dito mencari saklar dan menyalakan lampu.
Di ruangan itu terdapat 3buah peti mati berjajar.di sebelahnya ada meja persembahan
dan ada lemari kecil di sebelah meja.
Nisa masih bengong.Dia tak tahu harus bagaimana.Bude Wati benar- benar sungguh misterius.
__ADS_1