Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Yeni Kembali Ke Rumahnya.


__ADS_3

Yeni tiba di rumahnya bersama dengan Deni.


Dia mengetuk pintu rumah Rudi. Lama mereka menunggu di luar sampai akhirnya


Rudi membukakan pintu.


"Memangnya,,, kau tidak bawa kunci ma???".


"Deni,,,,kau kemana saja,,,akhirnya mama mu


berhasil membawamu pulang juga".


"Ucapan Rudi belum dijawab, ketika tiba-tiba


Yeni memeluk suaminya dengan erat.


"Mama kangen sekali sama papa".


"Papa sehat kan??".


"Mama ini kenapa,,bukankah kita tadi barusan ketemu,,,aneh sekali mama ini".


Yeni tak menghiraukan gerutuan dari Rudi. Dia hanya bersyukur bisa berkumpul lagi dengan suaminya,,,walaupun mereka harus kehilangan Nina. Tak terasa air mata Yeni menetes di pundak Rudi.


"Sudah ma,,ayo kita masuk, daripada nanti


mama tambah baper".


Yeni tersenyum dan bergegas menggandeng


suami dan anaknya masuk ke rumah. Yeni


tentu saja tidak tahu kalau di pojokan ruang tamu, kuntilanak itu mengawasi ketiganya dengan tatapan garang.


Yeni mengamati sekeliling rumahnya. Dia tidak melihat keanehan sama sekali. Deni


kemudian masuk ke kamarnya. Yeni berpikir,


mungkin kuntilanak itu sudah pergi selamanya dari rumah nya itu.


"Pa,,,, bagaimana kalau kita jual saja rumah kita ini,,aku ingin menghapus kenangan Nina,


terlalu sedih kalau melihat rumah ini terus".


"Nanti saja kita pikirkan kalau sudah 40 harian Nina".


"Lalu,,dimana kau menemukan Deni?".


"Ceritanya panjang pa, nanti aku jelaskan


padamu".


Yeni kemudian masuk ke kamarnya,,tak banyak yang berubah.Rupanya kuntilanak itu


hanya menumpang tidur di rumahnya. Kemudian dia teringat pesan Ratri untuk segera melihat ke halaman belakang rumah.


"Deni,,,ayo temani mama,,kita buka ruangan di halaman belakang rumah itu".


"Tapi ma,,,Deni takut,,,,kenapa mama tidak mengajak om Anton dan Tante Ratri saja".


"Mama ingin pastikan dulu,,ayo cepat,,kau boleh tunggu di luar nanti".


"Ya ma...".


Keduanya segera melangkah ke halaman belakang rumah mereka. Di pintu masuk,


terdapat banyak sekali sesajen. ada juga gantungan kepala kerbau putih di tengah pintu.Daripada gudang, ruangan itu sudah mirip tempat pemujaan setan.


"Dimana biasanya papa mu menaruh kuncinya Den??".


"Sebaiknya mama tanyakan saja langsung ke papa".


Yeni kembali ke dalam untuk bertanya kepada Rudi suaminya. Namun tiba-tiba Rudi kelihatan aneh. Dia terduduk di kursi tanpa reaksi. Pandangan matanya kosong, seperti orang yang kesurupan.

__ADS_1


"Mas,,,aku ingin membuka ruangan di halaman belakang,,,apa kau tahu di mana kuncinya???".


"Jauhi ruangan itu,,,jangan coba-coba kau usik, atau kau akan merasakan akibat nya".


"Mas,,,sadar mas, istighfar,,,,,".


"Kau diam saja Yeni,,,aku bukan Rudi suamimu, aku Mbah Rah,,penjaga kerajaan di sini".


"Mau apa lagi kau,,,bukankah temanmu kuntilanak itu sudah kalah,,,pergi dari tubuh suamiku".


Benar saja, Rudi kemasukan roh nenek tua, penjaga ruangan di halaman belakang itu.


Dia menggeram dan menatap tajam ke arah Yeni.Tiba-tiba, pintu kamar bergerak, membuka dan menutup sendiri.


Bersamaan dengan itu, nenek tua itu berteriak melengking memekakkan telinga. Suaranya lengkingannya mampu membuat hidung Yeni berdarah. Dia kemudian terjatuh ke lantai.


"Kalau kau masih ingin hidup, patuhi perintahku,dan aku tak akan menyakitimu"


"Baiklah....tolong hentikan,,,aku tidak kuat mendengar suara ini".


Suara pekikan itu berhenti seketika.Yeni kemudian menyeka darah di hidungnya. Rudi seperti tengah bangun dari tidur, keheranan melihat keadaan istrinya.


"Mama kenapa,,,sini ma, duduk dulu".


Rudi dengan sigap mengambil kotak P3k untuk mengobati mimisan Yeni.Sedangkan Deni yang baru saja dari halaman belakang rumah, juga kaget melihat keadaan mamanya.


"Sudah lah ma,,, kita minta bantuan Tante Ratri saja,,, lihatlah keadaan mama seperti


ini".


"Bantuan untuk apa Deni,, siapa Tante Ratri".


"Oh...bukan apa-apa mas,,, Ratri itu istrinya Anton mas, dia seorang desainer interior".


"Aku akan meminta bantuannya untuk merenovasi rumah kita nanti".


"Lagipula dia juga sedang banyak kerjaan".


"O....begitu".


Yeni masih menahan kesakitan akibat peringatan dari 'mbah Rah' tadi. Dia menghentikan sementara penyelidikannya


di halaman belakang".


Tidak seperti Nisa, Anton dan Ratri, dirinya bukan tandingan makhluk halus tersebut.


Jadi untuk sementara, Yeni memilih menuruti


perkataan makhluk halus tersebut.


Yeni kemudian membersihkan diri dan langsung beristirahat. Hidungnya sudah tidak begitu banyak mengeluarkan darah. Ingin menelpon Ratri, dia tidak enak karena hari sudah larut malam.


Keesokan paginya, Nisa sudah bersiap-siap


untuk berangkat ke kantor bersama Dito. Diam di rumah terlalu lama membuat nya bosan. Pagi ini dia sudah masak nasi goreng


untuknya dan Dito.


"Mas,,,aku sudah siap.....ayo bangun!!".


"Hmmmm......iya sayang,,,, ".


"Kau sudah rapi,, memangnya mau kemana?".


"Aku kan punya kerjaan di kantor mas,, sudah 2 hari aku ijin, nggak enak sama karyawan yang lain".


"Baiklah.....kau boleh berangkat, tapi ingat,, jika kau merasa pusing atau apa, langsung


bilang padaku,,,,Ok....??".


Nisa mengangguk mendengarkan ceramah suaminya. Setiap kali tak bosan-bosan nya Dito selalu memperhatikan kesehatannya.


Kini, keduanya sudah berada di atas motor

__ADS_1


menuju ke kantornya. Keduanya segera masuk ke ruangan mereka begitu sampai di sana.


Di ruangan Nisa, pemandangan tak biasa terjadi. Ruang kerjanya berantakan. Meja,


kursi dan lemari sudah menyentuh lantai.Kertas kerja berhamburan di seluruh ruangan.Sedangkan di kamar mandi, tampak


tulisan besar terbuat dari darah.


"KAMU HARUS MATI".


Nisa segera memanggil Dito. Melihat kondisi


ruangan Nisa, Dito lantas memeriksa cctv


yang ada di kantor satpam.


Disana terekam aktivitas pengrusakan ruangan Nisa, namun tidak ada pelakunya.


Semuanya seperti bergerak sendiri. Di kamar


mandi tampak sebuah jari yang berlumuran darah dan menulis kata-kata ancaman tersebut.


Bersamaan dengan Nisa dan Dito yang tengah memikirkan kekacauan di ruangan nya, Anton dan Ratri datang.


"Ada apa Nisa,,, pagi-pagi kalian sudah sibuk??".


"Lihat cctv ini,,, apa kau menangkap sesuatu??".


"Ya.......nenek tua sedang membuat kekacauan di ruangan mu".


"Benar,,, nenek tua sama yang sudah melukai ku dua kali".


"Sepertinya dia marah padamu Nisa".


"Karena waktu itu, ibu ratu membantuku mengalahkan kuntilanak teman nya".


"Rupanya mereka menaruh dendam padamu,,,


padahal Yeni sudah kembali ke rumahnya".


"Apa dia baik-baik saja sampai saat ini??".


"Dia tak menghubungiku, mungkin dia aman".


"Kita tunggu saja nenek itu kesini dan kita hadapi bertiga".


"Aku setuju dengan ide Anton".


"Dia tak mungkin datang di saat kita sedang bertiga".


"Permusuhan nya hanya denganku,,, entah kenapa aku yang dikejarnya".


"Karena istri Dito ini lebih cantik,,, jadi nenek dan kuntilanak itu iri padamu".


Mereka berempat tertawa mendengar candaan dari Ratri. Kata-katanya mampu


mencairkan suasana yang sedang tegang.


"Kau selalu bercanda di saat penting seperti ini".


"Soalnya kau terbawa suasana sih,,,jadinya kau kena serang terus".


"Mana ada,,, aku sudah konsentrasi tingkat tinggi".


"Palingan juga konsentrasi mikirin Dito,,ya nggak?".


"Ratri .........!!!".


Gaya Ratri yang humoris memang terkadang bisa mencairkan suasana diantara mereka.


Namun di saat dia harus menghadapi sesuatu yang berbahaya, dia akan menjadi


singa betina yang pantang menyerah.

__ADS_1


__ADS_2