
Anton dan Ratri pergi setelah berjanji akan ke rumah Nisa sore hari. Nisa dan Dito masih makan di kafetaria mall ketika mereka melihat wajah yang tak asing menghampiri keduanya.
"Bayu,,, kau disini juga,,kau kan tadi masih di depan rumah kami".
"Iya mas, saya lagi pingin jalan-jalan, hari ini
ulang tahun adik saya".
"Makanan ini biar saya yang traktir".
"Nggak usah Bayu, kami bayar sendiri saja".
Bayu sudah melangkah ke kasir dan membayar semua makanan yang ada di meja
Nisa dan Dito. Setelah itu, dia pamit hendak jalan- jalan lagi. Kami berdua masih melanjutkan obrolan di meja kafe.
"Anak itu mungkin kurang waras karena adiknya meninggal".
"Dari mana kau tahu mas??".
"Dia sendiri cerita,,adiknya mirip kau Nisa, makanya dia selalu mengikuti mu".
"Begitu,,, kasihan dia tergoncang sepertinya".
Seorang pegawai kasir menghampiri meja tempat kami makan.Dia kelihatan sangat ketakutan.
"Maaf Bu, teman anda yang membayar tadi, uangnya berubah jadi daun".
"Anda bisa lihat sendiri,mana jumlahnya banyak,,saya tak ada uang untuk mengganti nya".
"Coba saya lihat.....mbak yakin ini uang teman saya tadi??".
"Iya Bu,,, belum ada yang membayar lagi setelah mas-mas itu".
"Saya harus gimana Bu,,sewaktu saya terima tadi beneran uang, tapi setelah masuk laci berubah jadi daun".
"Baiklah....biar saya yang ganti,,tolong bill nya, dan daun ini biar saya yang bawa".
"Terima kasih banyak Bu, sebentar saya bawakan lagi tagihan nya".
Nisa membolak-balik kan daun yang ada di tangan nya. Dia masih heran,,kenapa uang nya bisa berubah. Apa benar uang itu milik Bayu??".
"Sudah...buang saja dan kita pulang".
"Aneh sekali kan mas,,,apa ini benar uang milik Bayu".
"Kenapa bisa berubah jadi daun??".
"Mungkin saja pegawai kasir tadi salah sangka, tapi sudahlah daripada bikin heboh, ayo kita pulang".
"Iya mas".
Mereka berdua meninggalkan kafetaria mall.
Banyak keanehan terjadi di mall ini, mulai dari hantu anak kecil, sampai uang yang jadi daun,
semuanya masih belum bisa dipahami oleh Nisa.
"Sayang,,, jangan katakan kejadian di mall tadi kalau kau nanti bertemu Bayu".
__ADS_1
"Mungkin dia sedikit kurang waras".
"Itu dia mas,,, sudah ada di depan rumah kita".
"Hmmm..anak ini memang benar-benar aneh".
Bayu mengangguk melihat mobil Dito lewat di depan nya. Dia kemudian pura-pura berjalan masuk komplek sebelah. Nisa dan Dito turun dari mobil dan langsung masuk rumah. Sepintas dilihatnya, Bayu sudah tak kelihatan.
Hari sudah menjelang sore, Nisa masih tertidur di kamarnya. Setelah pulang dari mall tadi dia merasa pusing dan hanya berbaring di kasur nya. Genderuwo itu mengamati dari balik jendela. Dia menggerakkan selimut yang menutupi tubuh Nisa. Dia kemudian menyentuh dahi dan rambut nya. Nisa merasa nyaman karena mengira Dito yang sedang membelainya.
"I love you sayang....".
Tidak ada sahutan dari suaminya, Nisa pun membuka mata. Kamarnya kosong tak ada siapa pun kecuali dirinya. Lalu siapa yang membelai nya tadi. Bulu kuduknya seketika berdiri. Dia lalu bangun dan mencari Dito.
"Mas,,, kamu di mana??".
"Aku disini sayang...".
Nisa mendekat ke arah dapur, asal suara dari Dito. Dia melihat suaminya sedang menyeduh kopi. Nisa memeluknya dari belakang. Dito mematikan kompor dan berbalik untuk memeluk Nisa.
"Jangan tinggalkan aku sendiri mas, aku takut".
"Mas hanya ke dapur untuk bikin kopi".
Nisa memeluk suaminya. Dia menyembunyikan wajahnya dalam dekapan suaminya. Entah kenapa sejak hamil, dirinya jadi begitu manja.
Dari halaman depan terdengar suara mobil.
Nisa segera ke halaman untuk membuka pintu dan meninggalkan Dito di dapur.
Nisa membuka pintu. Disana, Dito datang dengan menenteng bungkusan berisi makanan. Nisa heran karena baru saja suaminya ada di dapur. Kenapa tiba-tiba Dito malah dari luar.
Kosong,,, tidak ada satu orang pun. Kopi yang tadi dibuat Dito pun lenyap. Lalu, siapa yang sudah dipeluknya tadi?".
Dito menyusul Nisa ke dapur untuk menyiapkan makanan yang sudah dibeli nya.
"Kau sudah bangun sayang,, maaf aku pergi tidak memberitahu mu dulu, aku tak tega membangunkan mu, tidurmu begitu nyenyak".
"Sejak kapan mas Dito pergi??".
"Cuma setengah jam,,, kebetulan ada warung Padang dekat sini".
"Memangnya kenapa???".
"Ah...tidak,,, lain kali beritahu aku kalau mas mau pergi".
"Iya,,,,maaf, besok-besok mas nggak akan mengulangi nya lagi".
Lagi-lagi Nisa merasa kecolongan. Siapa yang menggantikan Dito. Kenapa Nisa tak bisa melihat wujudnya, jika memang itu makhluk halus??"
Nisa bertambah was-was. Tapi memberitahu
Dito juga bukan jalan yang terbaik. Bagaimana mengetahui makhluk apa yang
berkeliaran di rumah Nisa. Dia bahkan sudah berani menyamar jadi Dito.
"Ayo makan,,, malah bengong,,,kau tidak lapar??".
"Sebentar mas, aku masih kenyang".
__ADS_1
Genderuwo itu memandangi Nisa dari dapur.
Dia menggeram marah karena Dito lebih dulu pulang ke rumah. Padahal di dapur tadi, Nisa sudah memeluknya dengan erat. Dia tadi memang berubah jadi Dito agar bisa mendekati Nisa.
Ratri dan Anton sepulangnya dari kantor langsung menuju ke rumah Dito.
"Sepertinya memang ada aura negatif di sekeliling rumahmu".
"Terutama di pohon besar itu Nis".
"Tapi aku juga heran karena tidak bisa melihat wujudnya".
"Tapi sekarang ini dia berada di rumah ini,,disekitar mu Nisa".,
"Jadi bukan hanya aku,,kau juga tak bisa melihatnya??"
"Iya,, ini aneh sekali".
"Atau ilmunya memang lebih tinggi, tapi kau harus hati-hati, pohon itu sudah menjadi rumahnya".
"Mungkin dia mengincar mu,,, atau calon bayimu, bagaimana menurutmu Anton??".
"Ini menarik,,, biasanya yang kita hadapi, kita bisa melihatnya,, tapi dia mungkin merapal kan mantra untuk menghilang dari pandangan manusia".
"Kalian berdua harus waspada, Nisa....
pakai cincinmu kembali, setidaknya itu bisa melindungi mu ketika ada yang berniat jahat".
"Tapi,,aku sudah memakai liontin ini,,kata bapak ini juga melindungi ku".
Nisa menunjukkan liontin sepasang naga kepada Ratri dan Anton. Naga itu sedang berputar di dalam liontin. Kelihatan sangat indah.
"Kalian tahu,,,naga ini bisa pergi dari liontin
dan berenang di danau, kemudian kembali lagi".
"Setahuku,,ini liontin yang sangat langka,
pemiliknya bukan orang sembarangan,
karena liontin ini berpasangan dengan Genderuwo".
"Mereka mengadakan perjanjian untuk mengikat cinta dengan Genderuwo itu".
"Sepasang naga itu adalah penjaga supaya pemilik liontin itu tidak didatangi makhluk halus yang lain".
"Kau yakin seperti itu ceritanya??".
"Kenapa bapak tidak memberitahu ku??".
"Mungkin aku salah,, tapi dari sekian banyak koleksi benda pusaka ku,, aku paling sulit mendapatkan liontin ini".
"Sampai sekarang pun aku tak bisa menariknya karena kekuatan nya yang sangat besar".
Nisa termenung, tak mengerti maksud bapak
memberikan liontin ini. Harusnya bapak tahu kalau Nisa trauma dengan sosok Genderuwo.
Lalu kenapa liontin ini diberikan kalau ternyata satu paket dengan penunggu nya.
__ADS_1