
Dari tempatnya duduk, terlihat kamar Nisa dan Roy yang masih menyala. Sejenak Alan memandanginya lekat. Seharusnya dia lah yang berada di posisi itu sekarang. Tapi malah Roy yang sudah menggantikan dirinya.
"Ini kopinya mas, ayo di minum".
"Iya pak Jo, maaf merepotkan".
"Sampeyan tidak capek, terbang dari Jakarta sampai ke sini".
"Tidak pak, rasanya bosan sendirian di dalam kamar".
"Di sini ya seperti ini mas,sepi.....namanya juga di kampung, pasti beda sama di Jakarta".
"Bapak sudah lama ikut dengan pak Roy?".
"Sebenarnya sudah mas, tapi kan pak Roy baru seminggu pindah kemari".
"Dulu mereka tinggal di kampung, tapi si kecil menghilang tiba-tiba".
"Katanya di culik makhluk halus, makanya pak Roy membawa mereka pindah kemari".
"Seperti itu pak, lalu bagaimana keadaan si kecil sekarang?".
"Sudah baik mas, setiap hari istri saya mengajak mereka bermain, sekarang udah ceria lagi".
Keduanya masih melanjutkan obrolan sampai hampir tengah malam. Dari luar rumah, nampak kamar Nisa sudah gelap. Alan segera bergegas kembali ke kamarnya. Sementara pak Jo juga ikut masuk ke dalam rumah.
Pagi-pagi sekali, si kembar sudah berisik di samping kamar Alan. Entah apa yang mereka lihat, sampai antusias seperti itu. Alan bangun dan menghampiri kedua putrinya tersebut. Berharap kalau ini memang kesempatan baginya bisa dekat kembali dengan kedua buah hatinya.
"Anak-anak...sedang apa kalian pagi-pagi begini di tempat seperti itu?".
"Sini mas Alan, Sheila kasih tahu".
Alan mendekat dan melihat ke arah luar benteng yang sedang di amati oleh kedua bocah kembar tersebut.
"Mas Alan lihat kan, nenek itu kasihan sekali".
"Dia sering datang kemari, mengintip kita di sini".
"Tapi,,,takut di marahi oleh Bu Sri".
"Jadinya nggak pernah mau masuk".
Alan berulang kali memandang di kejauhan.
Tak ada siapa pun di sana. Nenek yang mereka ceritakan, Alan juga sama sekali tak melihatnya sedari tadi.
"Sampai mana nenek itu sekarang berjalan??".
"Ih....itu mas Alan, nenek melambai kesini".
"Ya sudah,,,besok kalau nenek itu kemari lagi, bilang mas Alan, biar tak suruh masuk".
"Nah ..gitu dong,,,hanya mas Alan Lo yang lihat nenek itu".
"Bu Sri bilang Sheila hanya salah lihat saja".
__ADS_1
"Sudah....ayo masuk, nanti di cari Bu Sri Lo".
"Iya mas,, kami masuk dulu ya?".
Kedua gadis kecil itu berlari meninggalkan Alan yang masih bengong di tempatnya. Rupanya Sheila dan Sheina mewarisi kemampuan ibunya, bisa melihat makhluk halus. Dan ada yang coba memanfaatkan kedua gadis kecil tersebut rupanya.
Nisa baru selesai membuat kopi untuk Roy ketika anak-anak muncul dari belakang rumah. Mereka terlihat tertawa kegirangan.
"Sheila,, dari mana kalian sepagi ini sudah dari luar?".
"Ma....Sheila benar kan, Sheila tak bohong kok, buktinya mas Alan juga melihat nenek-nenek yang selalu di dekat rumah kita itu Lo ma".
"Nenek siapa yang di dekat rumah kita?".
"Sheila tak tahu ma,, tapi nenek itu sering mengintip waktu kita berdua main".
"Papa juga harus lihat nanti, biar Sheina tidak bilang kalau aku tukang bohong lagi".
"Buktinya, kita tadi lihat bertiga sama mas Alan".
"Dia malah bilang lain kali nenek suruh masuk buat di kasih makan".
"Kalian baru saja habis main sama mas Alan?".
"Iya pa,, mas Alan itu baik ya pa?".
"Iya,,,,seperti sayang sekali sama kita berdua".
"O..ya,, sayang mana kalau sama papa Roy??".
Roy meraih kedua putrinya dan langsung menciumi pipi keduanya. Mereka sampai terjatuh di atas sofa karena sekarang tubuh keduanya sudah sangat besar. Roy memeluk kedua putrinya dan enggan untuk melepaskan nya.
"Sebentar lagi mereka harus berangkat sekolah".
"Ya .....mama,, nggak seru.....padahal kita baru mulai ya kan Sheila, Sheina??".
"Iya nih.....mama nggak asyik!!".
"Ya sudah ....lanjutkan bermain nya, tapi jangan salahkan mama kalau nanti terlambat sampai ke sekolah".
"Ayo anak-anak,, jangan sampai mama kalian marah,,cepat sana mandi dulu".
Anak-anak bergegas berlari ke dapur mencari Bu Sri. Sementara Roy memanggil Sofia. Gadis itu sedang bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Sofi,, tolong kau panggil Alan kemari".
"Baik pak".
Sofia keluar rumah, dan tak berapa lama, kembali bersama dengan Alan yang sudah mandi dan bersiap.
"Ada yang bisa saya bantu pak?".
"Hari ini kau antar Sofi dan anak-anak, setelah itu langsung berangkat ke kantor".
"Nanti ku jelaskan tugas mu di kantor sekalian".
__ADS_1
"Sepertinya aku akan datang agak siang, kau tunggu saja di ruang tamu kalau aku belum di kantor".
"Baik pak Roy, ada lagi??".
"Pastikan kau antar anak-anak dan Sofi sampai ke tujuan nya".
"Aku tak mau ada kesalahan".
"Siap pak Roy, laksanakan perintah".
"Baiklah,,, kau bisa siapkan mobilnya sekarang".
"Saya permisi pak Roy".
Alan lalu menerima kunci mobil yang di berikan oleh Roy. Dia mengeluarkan mobil dan membersihkan nya. Nisa kemudian membawa kedua putrinya keluar dan mengantarnya ke mobil. Sofi sudah menunggu di depan pintu. Anak-anak terlebih dahulu berpamitan dengan Roy.
"Sofi,, bilang pada Alan nanti, untuk menjemput anak-anak tepat waktu".
"Setelah itu langsung antar pulang, dan pastikan ada Bu Sri di rumah".
"Baik Bu, nanti saya sampaikan".
"Hati-hati Sofi,, jaga anak-anak dengan baik".
"Siap Bu Nisa".
Anak- anak berangkat bersama Sofi dan Alan.
Nisa mengantar sampai depan rumah. Dia lalu bergegas masuk menemui Roy.
"Hari ini kau libur mas?".
"Kenapa masih bersantai, apa kau sakit?".
"Tidak,, aku berangkat agak siang, ada yang harus ku kerjakan dulu di rumah ini".
"Kau tak dengar, dari kemarin anak-anak bilang melihat nenek tua di sekitar rumah kita".
"Aku sudah menyuruh orang untuk menjemput Mbah Cokro".
"Biar beliau sendiri yang memeriksa".
"Walah.....aku malah tidak kepikiran sampai situ".
"Takut anak-anak kurang nyaman Nisa, kalau dia benar makhluk halus, biar Mbah Cokro sekalian mengusirnya".
Nisa kagum dengan jalan pikiran Roy. Rupanya diam-diam dia selalu menyimak keadaan di sekitar rumahnya. Walaupun terkadang seperti tidak memperhatikan, namun ternyata Roy selalu memperhatikan setiap detail permasalahan di dalam rumah.
"Itu mereka sudah datang, kau buatkan kopi, Mbah Cokro datang bersama bapak".
"Baik mas".
"Aku temui mereka dulu, biar Mbah Cokro sekalian membersihkan rumah ini".
Nisa melangkah ke dapur, sementara Roy menyambut kedatangan bapak mertuanya bersama sesepuh kampung Larangan. Mereka bertiga langsung berkeliling di sekitar rumah.
__ADS_1
Cukup lama Mbah Cokro berhenti di tempat anak-anak sering melihat nenek tua. Dia seperti sedang berdialog dengan seseorang di situ. Mbah Cokro bahkan sempat berteriak marah, seperti membentak seseorang dengan keras. Entah, makhluk apa yang di temuinya di tempat tersebut. Yang jelas, membutuhkan waktu agak lama bagi Mbah Cokro berada di sana.
...****************...