
Bapak dan Roy, tiba di rumah Mbah Cokro saat pagi. Keduanya sudah di sambut Mbah Cokro di ruang tamu.
"Ini mbah, perkenalkan namanya Roy,, dia yang akan menikah dengan Nisa".
"Kau sudah menyiapkan segalanya bukan??".
"Sesuai perkataan Mbah Cokro, semuanya sudah di siapkan".
"Bagus,, kalian berdua bawa Nisa masuk ke hutan larangan,, mandikan dia di sungai dengan kembang setaman ini, lalu bawa dia ke kamarnya".
"Sebelum ijab Kabul nanti malam, Nisa tak boleh kuar dari kamarnya".
"Aku akan segera menyusul ke rumah mu nanti".
"Dan Roy,, kau juga harus mandi di sungai itu bersama Nisa".
"Setelah pulang nanti, dia baru akan sadar kembali dan ingat siapa dirinya".
"Nanti jam 8 malam tepat, akad nikah sudah harus di mulai".
"Itu waktu yang tepat untuk Nisa,,, supaya tengah malam ini, dia sudah menjadi istri orang".
"Bukan lagi istri dari makhluk gaib".
Roy membopong Nisa sampai ke hutan larangan. Di temani bapak, mereka berdua mandi di sungai tersebut. Setelah selesai, Roy membawanya ke kamar. Para juru rias melaksanakan tugasnya merias Nisa sebagai pengantin. Di kamar sebelah, Roy juga mengenakan baju pengantin adat Jawa.
Ibu-ibu tetangga sibuk membantu hajatan keluarga pak Ari. Mereka menyiapkan hidangan dan juga sesajen untuk diletakkan di tempat-tempat yang di anggap sakral di wilayah desa dan hutan larangan.
Jam tujuh malam, Mbah Cokro dan para tamu undangan sudah hadir.Mereka akan menjadi saksi ijab Kabul Nisa dan Roy. Kali ini, Mbah Cokro membawa kotak kecil berwarna emas.
Di dalamnya ada dua buah cincin dengan batu berlian kecil. Orang tua itu duduk di tempat saksi.
Saat penghulu datang, Nisa dan Roy kemudian di sandingkan di pelaminan. Dengan lantang dan satu tarikan nafas, Roy mengucap kan ijab Kabul malam itu. Nisa sah menjadi istrinya. Mbah Cokro maju dan meletakkan kedua jari manis pengantin, di atas cincin berlian tersebut. Mbah Cokro menggores jari mereka, sehingga darah nya menetes di atas cincin. Batu berlian yang di tetesi darah, seakan menyerap dan masuk ke dalam nya. Seketika awan hitam keluar dari bagian atas kepala Nisa.
Tubuh Nisa bergetar seperti terkena aliran listrik. Bersamaan dengan di pakaikan cincin di jarinya, saat itu juga Nisa tersadar. Dia kelihatan bingung dan ingin protes, akan tetapi isyarat tangan bapak membuatnya urung melakukan nya. Nisa mengikuti prosesi pernikahan sampai selesai.
Selama hampir dua jam, dirinya berdiri di pelaminan sambil tersenyum, melayani para tamu undangan yang memberinya ucapan selamat. Mbah Cokro nampak masih berjaga di rumah Nisa. Jam 10 malam, acara resepsi baru baru selesai. Mbah Cokro menghampiri keduanya di pelaminan.
"Besok pagi, sebelum kau ke pantai selatan, pergilah ke rumah ku sebentar".
"Serahkan makhluk gaib ini ke penguasa laut kidul".
"Ibu ratu yang akan mengurusnya".
__ADS_1
"Kau sekarang bukan lagi pasangan nya ataupun majikan nya".
"Kau mengerti kan Nisa".
"Roy suami mu sekarang, lakukan kewajiban kalian sebagai suami istri".
"Bersamaan dengan itu, kekuatan iblis ini akan otomatis hilang dan tak lagi mampu memasuki jiwa mu Nisa".
"Baik Mbah,, saya mengerti".
Pasangan pengantin itu turun dari pelaminan dan menuju kamar Nisa.Di belakangnya, bapak ikut masuk ke dalam kamar. Dia akan memberikan nasehat kepada Nisa, supaya dirinya tidak bingung.
"Nisa,,maafkan bapak dan ibu mu nak, ini cara
satu-satunya, supaya kau selamat dari pengaruh iblis tersebut".
"Kalau tidak begini, selamanya kau akan memelihara pesugihan tersebut turun-temurun ke ahli waris mu".
"Percayalah Nisa,,ini jalan terbaik yang bisa bapak lakukan untuk mu nak".
"Mulai sekarang, kau harus menerima Roy sepenuhnya menjadi suami mu".
"Kau mengerti kan Nisa??".
"Iya pak, tidak usah khawatir, Nisa sudah paham semuanya".
Roy memandang wajah Nisa. Dia merasa sungkan padanya. Sebaliknya, Nisa terlihat sudah bisa menerima semuanya. Menurutnya, apa yang di putuskan oleh bapak adalah jalan terbaik. Jadi Nisa hanya harus menurutinya saja.
"Nisa,,,,aku.....aku minta maaf kalau.....".
"Justru aku yang berterimakasih Roy, kau sudah menyelamatkan hidup ku".
"Dan kau menerima pernikahan kita ini??".
"Pernikahan kita sah Roy, jadi aku tak boleh menolaknya".
"Mulai sekarang kau sudah menjadi suami ku".
"Jadi, aku harus menghormati mu".
"Entah apa yang sudah terjadi pada ku kemarin,, aku akan mencoba melupakan nya".
"Yang jelas, sekarang kita akan memulai hidup baru sebagai suami istri".
__ADS_1
"Aku ingin benar-benar menjadi istri yang baik, dan memulai semuanya dari awal lagi".
"Walaupun tentunya aku ini seorang janda beranak dua Roy".
"Tidak masalah bagi ku Nisa,, aku menerima mu dan anak-anak apa adanya".
"Yang terpenting,, tolong belajar lah untuk mencintai ku".
"Meskipun mungkin kau masih mengingat Dito suami mu".
"Aku akan berusaha membuat mu selalu bahagia".
"Aku janji, kau dan anak-anak akan selalu menjadi prioritas ku".
Nisa tersenyum sekaligus meneteskan air mata. Segalanya mungkin telah berakhir. Kini hanya harus menyongsong masa depan baru bersama Roy. Semoga tidak ada lagi gangguan dan rintangan bagi perjalanan mereka.
Malam yang panjang,, sesuai ucapan Mbah Cokro, Nisa menyerahkan diri nya kepada Roy sepenuhnya. Menunaikan tugasnya sebagai seorang istri di malam pertama. Kali ini dia mencoba melakukan nya dengan rasa tulus ikhlas. Belajar mencintai Roy dan menerima laki-laki tersebut menjadi suaminya.
Pagi hari Nisa dan Roy terbangun bersama. Mereka segera mandi dan keramas. Masih ada tugas yang menantinya. Mbah Cokro sudah menunggu di depan rumah. Nisa dan Roy harus ke pantai selatan untuk melarung
sosok pesugihan yang sudah di keluarkan dari tubuh Nisa. Dengan ritual dan sesajen khusus, di harapkan sosok itu bisa menjadi pengikut dari ratu laut selatan.
"Kalian bawalah bungkusan ini dan hanyutkan di laut selatan".
"Jangan buka tutupnya, hanyutkan seperti itu saja".
"Biar aku jawab dari rumah nanti".
"Baik mbah".
"Satu lagi Nisa,, kalian harus tinggal di Yogya minimal 40 hari, dan maksimal 1000 hari".
"Itu di maksudkan untuk menangkal pengaruh iblis lain yang mungkin masih merasuk di dalam tubuh orang-orang di sekeliling mu".
"Kalau bisa Roy, usahakan kalian pindah rumah, jangan kembali ke lingkungan itu lagi".
"Suasana baru akan membawa keberuntungan baru pula".
"Semoga setelah ini, tidak akan ada lagi yang mengganggu Nisa".
"Kalian berdua berangkat lah sekarang,, jangan sampai kesiangan".
"Baik Mbah".
__ADS_1
Nisa dan Roy mengendarai sepeda motor menuju pantai selatan. Mereka sudah tahu harus bagaimana di tempat itu nanti. Yang jelas, Mbah Cokro ikut mengawasi perjalanan mereka dari rumah. Langkah terakhir yang harus di lakukan untuk membuang pesugihan yang mengikuti Nisa selama ini.
...****************...