
Sore hari ketika Nisa dan Dito tiba di rumah,
mereka mendapati kalau si putih sudah
tergeletak tak bernyawa di halaman rumah.
Dito yang melihatnya langsung merasa bersedih.
"Putih kan cuma kucing mas, untuk apa kau bersedih, lagipula itu hukuman buat dia kalau
berani menyakitiku".
"Nisa,,,,kau benar-benar kelewatan, si putih ini kan sudah seperti keluarga kita".
"Aku mau masuk mas,,terserah kau mau apakan si putih itu, aku nggak perduli padanya".
Dito memandang Nisa dengan tatapan heran.
Biasanya dia akan menangis, atau bersedih,
tapi ada apa dengannya. Seperti tidak memiliki rasa empati sama sekali.
Benar kata Ratri,,, ada yang aneh terjadi pada
istrinya. Dia seperti melihat orang asing di mata Dito. Namun Dito belum berani memastikan, siapa tahu kalau memang bukan
Nisa pelakunya.
Ratri masuk ke mobilnya untuk pulang. Kali
ini dia menangkap bayangan hitam berkelebat
di sekitar mobilnya. Dalam hati Nisa seperti ada yang berbisik padanya.
"Hati-hati Ratri......ada yang ingin mencelakai mu.....".
Suara itu terus berulang-ulang. Ratri turun dari mobilnya. Dia fokuskan pikirannya dan
menajamkan mata batinnya. Sosok Nisa
berdiri di depan mobil. Rambutnya acak-acakan, matanya menyala merah dan nampak sekali kemarahan di wajahnya. Lebih mirip sosok Genderuwo.
Ratri kemudian masuk kembali ke mobil.
Ternyata sosok yang menyerupai Nisa itu juga ikut duduk disampingnya. Ratri mengerahkan segenap kemampuannya
agar sosok itu tidak mencelakainya.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba sosok tersebut
menyerang Ratri dan menutup kedua matanya. Ratri asal menyetir karena tidak melihat jalan.
"Hari ini kau mati Ratri ........ini hukuman bagimu karena mendekati Dito".
Sosok Nisa tertawa terbahak-bahak dengan tetap berupaya menutup mata Ratri. Mobil
yang dikendarai Ratri oleng ke kiri dan kanan, sampai akhirnya suara benturan keras terdengar. Mobil Ratri menabrak pembatas jalan.
Kepala Ratri terluka akibat terbentur dashboard.Dia hampir pingsan menahan nyeri di kakinya. Sayup-sayup dia masih mendengar sosok Nisa berbicara.
"Aku sudah menyingkirkan penghalang mu"
"Nisa,,,,satu per satu yang memusuhi mu akan ku lenyap kan".
"Terimakasih tuanku".
Saat ditemukan polisi, Ratri masih pingsan.
Dia segera dibawa ke IGD. Polisi menghubungi Ki Santoso lewat ponsel Ratri.
"Maaf apa ini keluarga ibu Ratri, beliau mengalami kecelakaan dan dirawat di RS Pertamina".
"Baik pak,,saya akan segera ke sana".
Sementara di rumah Nisa, dia sudah berpenampilan seksi dan cantik seperti biasa.
__ADS_1
Dia menggoda Dito agar mau bercinta dengannya. Entah kenapa sekarang tiap malam, Nisa selalu bergairah dan ingin melakukan hubungan suami istri.
Dito sebenarnya masih kesal dengan Nisa karena kejadian sore tadi. Namun Nisa yang terus merayunya membuat Dito akhirnya luluh juga. Malam ini mereka melakukannya lagi.
"Sayang,,,,akhir-akhir ini kau jadi agresif sekali".
"Aku ingin kita segera punya anak mas, ibu dan bapak di kampung sudah kepingin cucu".
"Tapi kau hebat sekali sayang,,,,mas sampai
kewalahan mengimbangi permainan mu".
"Nikmati saja mas,,,biar aku yang menyenangkan mu".
Sambil berbicara seperti itu, tangan Nisa menyentuh bagian sensitif Dito, Dia juga mencium bibirnya.Sedetik kemudian Nisa dan
Dito sudah larut dalam kenikmatan.
Paginya telepon berdering, ketika Dito dan Nisa masih di tempat tidur. Seperti biasa, setiap kali habis berhubungan dengan Nisa, paginya pasti badan Dito jadi remuk redam.
"Sayang,,,,angkat teleponnya".
Nisa masih tak bergeming.Dia masih terlelap membelakangi Dito.
"Halo........!!!".
"Dito, Ratri kecelakaan, dia di rumah sakit Pertamina".
"Apa.....!!!!! baik,,, aku segera ke sana".
"Sayang,,,,bangun.....Ratri kecelakaan, kita harus segera ke rumah sakit".
"Kau saja yang ke sana mas,, nanti aku menyusul".
Mata Nisa terbuka lebar. Senyum merekah dari bibirnya.
"Aku berangkat dulu sayang,,,Ki Santoso sudah di sana".
"Kau segeralah mandi dan menyusul ke rumah sakit".
Di ruang IGD, Ratri sudah mulai sadar. Kepalanya dijahit karena robek akibat benturan. Kakinya kirinya juga patah.
"Aku pusing.......",
"Jangan bangun dulu Ratri, aku akan memanggil dokter".
Dokter masuk keruangan Ratri. Dia memberi
obat pereda nyeri untuk mengurangi rasa sakitnya. Dito masuk ke IGD tempat Ratri di
rawat.
"Bagaimana keadaanmu sekarang??".
"Aku sudah lebih baik Dito".
"Syukurlah,,, kami sangat khawatir".
"Dimana Nisa,,,dia tidak ikut bersamamu???".
"Sebentar lagi dia akan menyusul kemari".
Ki Santoso menjelaskan keanehan kecelakaan yang dialami Ratri kepada Dito.
"Awasi istrimu Dito,,, aku yakin ada arwah jahat yang bersemayam di tubuhnya. Tapi
untuk sementara, kita rahasiakan ini dari istrimu dulu".
"Aku tahu Ki,, kelakuan anehnya yang membuatku yakin kalau dia memang bukan
Nisa".
"Kita akan cari cara untuk mengeluarkannya setelah Ratri sembuh nanti,,,sebelum itu,,,kita ikuti permainannya dulu".
"Baik....Ki".
__ADS_1
Ketika Dito sedang berbicara dengan Ki Santoso, Nisa tiba-tiba masuk ke ruangan
Ratri. Melihat Ratri masih terlelap, Nisa mencoba melepas selang oksigen di hidung Ratri.Ratri terbangun karena sesak nafas.
"Aku akan mengantarmu ke Neraka, lebih cepat dari dugaan mu"
Ratri menekan Bella perawat dengan kondisi
sesak nafas. Perawat langsung masuk ke kamar Ratri. Nisa pura-pura membetulkan
selang oksigen yang hampir terlepas.
"Silahkan anda menunggu di luar Bu, pasien
butuh istirahat".
"Baik suster,,".
Nisa yang gagal menjalankan rencananya menghabisi Ratri, terlihat sangat gugup. Ratri
sudah menyadari dirinya yang sebenarnya. Di
tengah kegugupannya, iblis itu kembali berbisik pada Nisa.
"Habisi dia......wanita itu berbahaya".
"Ayo Nisa..........kau pasti bisa melakukan nya".
"Ratri harus mati ditangan mu, Nisa".
Semakin Nisa mendapat bisikan, sisi jahatnya semakin kuat. Nampaknya iblis itu benar-benar telah mengambil nurani Nisa.
"Sayang.....kau sudah sampai,,,Ratri ada di dalam".
"Iya,,,aku sudah masuk tadi,, perawat sedang memeriksanya sekarang".
O, iya ....Ki Santoso akan menjaga Ratri disini
sampai dia sembuh".
"Apa kabar Nisa???".
Ki Santoso mengulurkan tangan kepada Nisa.
Nisa kemudian balas menjabat tangannya.
Dia menunduk, tak berani membalas tatapan tajam dari Ki Santoso.
"Kau akan segera menghadapi kami, cepat atau lambat segera tinggalkan dia kalau kau
tak ingin kami yang memaksamu".
"Maksudnya apa Ki??".
"Bangunlah Nisa,,, jangan menjadi lemah".
"Orang yang lemah kerap kali dikuasai iblis".
Nisa terdiam tak mampu menjawab.Iblis yang di dalam tubuhnya yang seakan menantang Ki Santoso.
"Aku sudah memilik raganya".
"Tinggal selangkah lagi, dan semua keinginanku akan segera terwujud".
Diam lah kalian atau aku akan menyakiti tubuh ini, sehingga kalian tidak akan lagi
bisa mengenalinya".
"Jangan kau coba-coba melakukannya".
"Dia tak selemah yang kau kira,, Nisa sendiri yang akan menghancurkan mu".
"Kau tunggulah hari itu, dasar iblis,,, kami pasti akan membinasakan mu".
Ki Santoso benar-benar menghadapinya.Dia
__ADS_1
tahu pasti kalau iblis itu lah yang bersemayam di tubuh Nisa. Dia harus mencari cara untuk membebaskan jiwa Nisa dari cengkeraman iblis