
"Dito, kau tahu berapa tanggal lahir Alan?".
"Entah,, ini...kau lihat saja sendiri kartu identitasnya".
Dito menyodorkan dompet Alan yang ada padanya. Di dalam nya ada semua surat-surat lengkap serta beberapa kartu kredit no limit dan sebuah kartu memori.
Nisa penasaran dengan isi memori tersebut.
Dia mencoba memasukkan tanggal lahir Alan, tapi laptop nya masih terkunci. Nisa memasukkan memori ke hp nya,tapi rupanya format handphone Nisa tidak mendukung.
"Aku kesal sekali,, mana tidak mengenal Alan sama sekali".
"Benar-benar tak ada petunjuk".
"Kenapa kau susah-susah, bawa saja ke tukang servis untuk membuka kuncinya".
"Sudahlah....urusan Alan tidak begitu mendesak,, tapi rindu ku padamu harus segera dipenuhi".
"Sebentar mas,, aku ingin berkeliling di rumah ini".
"Mumpung kita hanya berdua saja di sini".
"Mas,, kau pernah ngobrol dengan asisten mu itu??".
"Hanya sesekali,, lagipula bukan hal yang penting".
"Aneh sekali, rumah sebesar ini tidak ada foto dan cermin".
"Tapi banyak sekali lukisan dinding tokoh-tokoh ternama".
"Nisa,, kau ke sini sebagai istri ku kan,, bukan malah jadi detektif".
"Diam dulu mas,, ada makna di balik semua lukisan ini".
"Kau perhatikan lah satu persatu, ini semacam teka-teki".
"Ah.....aku kesal sekali".
"Sampai pagi pun kau pasti akan terus seperti ini".
Dito menunggu Nisa di sofa. Dia membiarkan istrinya bergerak ke sana kemari. Ketika tak juga menemukan jawaban, Nisa akhirnya duduk di samping Dito. Tak sengaja tangan nya menyenggol guci yang dipajang diatas meja. Bukan nya jatuh, guci tersebut bergeser dan mengeluarkan tombol digit macam remote control.
Ada tombol angka 1-10 serta tulisan open dan close. Nisa ragu-ragu untuk memencet tombol tersebut. Namun akhirnya dia mencoba memencet angka 1 dan open.
Tiba-tiba, lukisan prabu Siliwangi dengan harimau putihnya terbuka. Ada sebuah pintu di sana. Nisa dan Dito saling berpandangan menyaksikan pintu rahasia di balik lukisan tersebut.
"Ruangan apa itu mas??".
"Mana ku tahu,, aku kan bukan Alan".
"Ayo kita lihat ke sana".
"Jangan Nisa,, kita sama sekali belum tahu seluk beluk rumah ini".
"Makanya ayo kita coba".
__ADS_1
"Biar aku yang masuk, kau tunggu di sini saja".
"Kau yakin berani masuk ke sana sendirian??".
"Kalau terjadi sesuatu padaku, aku akan berteriak mas".
"Sudah,,,lupakan ide konyol mu itu".
"Aku tak mau sampai terjadi sesuatu padamu".
"Tolonglah mas,,,,sekali ini saja,,,aku janji setelah ini aku berhenti".
"Ok, masuklah...biar aku yang berjaga di sini".
"Handphone mu harus tetap aktif".
Pelan-pelan Nisa membuka pintu no 1 dan masuk ke dalamnya. Nisa takjub sekali, di dalam ruangan itu terdapat hutan buatan dengan tanaman asli. Di dalam hutan buatan itu, Nisa di sambut dengan diorama kicau burung bersahutan. Semakin ke dalam, Nisa terkejut melihat harimau putih mengaum.
Hampir saja dia berlari kalau tak segera menyadari kalau harimau itu sudah di awetkan. Sungguh karya seni yang bercita rasa tinggi. Pantas saja kalau rumah Alan sangat besar. Satu ruangan ini saja, bisa menjadi kebun binatang buatan yang sungguh indah. Nisa terbawa masuk semakin dalam ke dalam hutan. Semua hewan lengkap, asli dan di awetkan.
Sampai suatu ketika, Nisa melihat dua bola mata dibalik rimbun nya dedaunan. Dia penasaran dan mengejar nya, tapi sosoknya menghilang begitu cepat. Nisa kehilangan jejaknya.
"Siapa dia,,jelas-jelas dia manusia".
"Tapi kenapa dia di sini.
Nisa masih termenung memikirkan sosok yang tengah mengawasinya tersebut. Sampai terdengar bunyi siulan tiga kali. Dalam sekejap, hutan itu berubah hidup. Semua hewan mengejar Nisa hendak memangsanya.
Nisa berlari sekuat tenaga mecapai pintu. Dirinya hampir di tangkap oleh dua ekor harimau. Nisa berteriak minta tolong. Dito yang mendengar dari luar, langsung memanggil Nisa.
"Tolong Dito,,aku di kejar harimau".
"Cepat buka pintunya,,aku segera datang".
Dito bersiap di posisinya. Ketika melihat Nisa lari dan menutup pintu, Dito segera menekan tombol close. Seketika lukisan itu menutup kembali.Nisa terduduk di lantai dengan nafas tak beraturan. Baru saja dia uji nyali di kejar binatang buas. Nisa berbaring di lantai sambil mengatur nafasnya.
"Rumah ini sungguh mengerikan".
"Semua binatang itu tiba-tiba saja hidup".
"Dan kau tahu,,ada orang di dalam sana sedang mengawasi kita".
"Sungguh,,Alan dan keluarganya bukan lah orang biasa seperti yang kita kira".
"Sudah,,,hentikan petualangan ini".
"Baru satu pintu, dan kau hampir jadi santapan harimau kelaparan".
"Lalu bagaimana dengan pintu yang lain".
"Itu yang harus kita cari tahu mas".
"Di dalam lukisan itu, seperti ada ilmu gaib yang bisa mengendalikan penghuninya".
"Dan kemampuan nya tidak main-main".
__ADS_1
"Semuanya hidup dan nyata".
"Mereka semua kelaparan".
"Mungkin harusnya Alan yang mengurus ini semua".
"Aku rasa bukan, Nisa..!!".
"Kedua asisten itu tentu sudah menjelaskan nya".
"Aku yakin mereka tahu semua ini, lebih dari Alan".
"Iya mas,,kau benar...dua orang itu kuncinya".
"Kapan-kapan kau harus menanyai mereka".
"Ayo kita ke rumah kaca saja".
"Hanya di sana tempat ternyaman bagiku".
"Lagipula kau pasti sudah capek kan??".
"Iya,,nampaknya kau harus menggendongku mas".
Dito membopong Nisa menaiki lift ke rumah kaca di lantai atas. Tanpa mereka sadari, sedari tadi sepasang mata mengawasi mereka dari balik lukisan. Dia segera menghilang begitu Nisa dan Dito pergi.
Dito melemparkan tubuh Nisa di atas kasur. Dia lalu ikut berbaring di atasnya. Entah kenapa hanya di tempat inilah Nisa merasa damai dan nyaman.
Dito berbalik menindih tubuh Nisa. Dia mencium lembut bibir Nisa erat. Berlanjut Dito menyusuri leher jenjang Nisa.
"Mas......ah.......hentikan.....".
"Nisa.......aku mencintai mu sayang!!".
Dito mengeksplore seluruh tubuh Nisa, sampai dia mendesah nikmat. Rasa yang di berikan Dito sungguh berbeda. Entah karena tubuh Alan atau memang Dito sangat merindukan Nisa, yang jelas keduanya sangat menikmati permainan mereka.
"Tolong mas,,jangan siksa aku seperti ini".
"Ayo,,,,lakukan....jangan berhenti".
"Oh.....ini sungguh nikmat,,,ku mohon,,miliki aku sekarang mas".
"Ayo sayang, sebut namaku...oh,,,ini enak sekali".
"Mas Dito,,,aku mencintai mu mas".
Dito menuntaskan permainan nya. Nisa masih mengeluarkan air mata. Kenikmatan yang di dapatkan nya kali ini sungguh luar biasa. Jiwanya serasa muda kembali.
Mereka berpelukan berdua.Nafas mereka masih menderu,disertai ******* penuh kenikmatan dari mulut Nisa. Dito tak tahan untuk tak mengecupnya. Bibir seksi istrinya terasa begitu memabukkan.
"Apa kau bahagia Nisa??".
"Sangat,,,,terimakasih sayang,,ini nikmat sekali".
Nisa dan Dito berbaring di ranjang. Mereka tertidur setelah kelelahan bercinta. Keduanya berpelukan, seolah tidak ada beban. Mulai hari ini hanya ada kebahagiaan diantara mereka berdua.
__ADS_1
...****************...