Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Kesungguhan Hati Dito


__ADS_3

Nisa benar-benar mengajukan cuti setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.Dia


sudah sangat rindu dengan orang tuanya di


kampung.Walaupun kepulangannya mungkin


akan membangkitkan kembali trauma masa


lalunya di hutan larangan.


Trauma yang beberapa hari lalu kembali dialaminya di rumah kontrakan milik Anton.


Sesosok Genderuwo kembali mendatanginya


dan hendak menculiknya lagi.Tapi Nisa bertekad untuk menghadapi segala macam


gangguan yang akan menghadangnya.


Terlebih lagi kali ini kepulangannya bersama


Dito.Orang yang sangat mencintainya.Dan


mengerti tentang Nisa luar dalam. Jadi Nisa


tak perlu khawatir lagi.


Mereka berdua ada di dalam kereta jurusan


Jakarta-Jogja pagi ini.Nisa dan Dito sengaja


berangkat pagi agar tidak kemalaman di jalan


nanti, maklum rumah Nisa di pelosok kampung.


Nisa sengaja tidak memberitahu ibu dan bapak kalau hari ini akan pulang kampung.


Dia sengaja ingin memberi kejutan kepada


keduanya.


"Masih berapa jam lagi rumahmu dari stasiun Nisa?".


"Sekitar 2 jam lagi, kita naik taxi saja".


"Kita sarapan dulu Dit, nanti asam lambung


mu kambuh".


"Terserah kau saja Nis".


Setelah sarapan, Nisa dan Dito kemudian naik


taxi ke pasar desa.Sekitar satu setengah jam perjalanan, mereka harus turun di pasar desa.


Dari pasar desa harus jalan kaki kurang lebih


setengah jam perjalanan.


Sampai di pasar desa, Nisa tak lupa mampir ke toko pak Yahya.Toko tempatnya bekerja dulu.


"Nisa,,,,apa kabar,,, sekarang jadi lebih cantik


sejak kau tinggal di kota".


"Ah...., bapak bisa saja".


"Sudah bawa pacar pula sekarang rupanya".


"Ini teman saya pak, namanya Dito".


Dito bersalaman dan mengenalkan diri. Setelah berbasa-basi sebentar, Nisa kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya.


"Kamu jangan kaget,,,inilah jalan menuju kampung ku, terjal dan berbatu-batu, jangan


mengeluh kalau kamu capek nanti".


"Kau tahu Nisa, capek di badan ku ini langsung hilang begitu melihat senyum di


wajahmu itu".


"Kebiasaan merayu mu itu rupanya belum


hilang juga ya??".


Sepanjang perjalanan Dito dan Nisa terus bercanda.Hingga tak terasa kedua nya sudah


hampir sampai ke rumah.


Dito memandang hutan lebat yang ada di belakang rumah Nisa. Dari cerita Nisa, inilah

__ADS_1


yang disebut hutan larangan.Tempat yang ingin Nisa hindari selama ini.


"Tok......tok......tok.....".


Nisa mengetuk pintu rumahnya. Bapak dan ibu terkejut melihat kedatangan Nisa dan Dito.Ibu menyambut mereka berdua dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Kenapa tidak bilang kalau mau datang, bapak


kan bisa menjemputmu di stasiun".


"Nisa ingin memberi kejutan pak, Nisa sudah


kangen pingin ketemu bapak dan ibu".


"Ayo nak Dito, silahkan duduk....,beginilah rumah bapak di kampung, kecil dan jelek, tidak seperti rumah-rumah di kota".


"Ah ......bapak bisa saja,, saya lihat di kampung ini, rumah bapak yang paling


bagus lo......".


Bapak tersenyum menanggapi perkataan Dito. Mereka basa-basi sejenak sambil


melepas lelah.


Sore hari bapak melapor kepada ketua RT


ada Dito yang ikut menginap di rumah Nisa.


Bapak tidak mau ada timbul prasangka yang


tidak baik dari warga kampung.


"Nis.....jadi, Genderuwo yang kau takuti itu masih ada di hutan larangan???".


"Setahu ku begitu,,, makanya aku yang pindah dari sini".


"Kalau kau pulang, kira-kira dia tahu tidak Nis??".


"Jangan bercanda Dito,, nggak lucu tau...".


Nisa dan Dito asyik bercanda di kebun belakang rumah. Suasana yang sejuk dan


sunyi membuat Dito betah di rumah Nisa.


Malamnya mereka berempat berkumpul di


ruang tamu. Mereka berbincang-bincang sekedar melepas rindu. Dito sekalian mengutarakan maksud dan tujuan nya ikut


"Tujuan saya kesini, selain bersilaturahmi,


saya juga ingin meminta izin kepada bapak


untuk melamar Nisa putri bapak".


"Nak Dito,,,kalau soal itu, jawabannya kami serahkan ke Nisa sepenuhnya".


"Bapak sebagai orang tua hanya bisa memberikan restu atas pilihan putri bapak".


"Bagaimana Nisa,,,,kau setuju dengan lamaran nak Dito.


Nisa tertunduk dan tersipu malu mendengar


pertanyaan dari bapak.Nisa yang juga memang mencintai Dito, sangat bahagia


mengetahui kesungguhan hati Dito kepadanya.Karena nya Nisa tak perlu ragu


lagi tentang perasaan Dito itu.


"Nisa setuju pak", jawab Nisa kemudian.


"Baguslah Nisa,,,bapak ikut senang kalau ternyata nak Dito adalah pilihan hatimu".


"Bapak dan ibu hanya bisa mendoakan


kalian berdua".


"Nisa,,,tolong pakailah cincin ini, anggaplah


ini sebagai hari pertunangan kita".


"Nanti biar bapak menetapkan tanggal pernikahan aku dan Nisa".


"Aku akan membawa orang tuaku ke sini".


"Begini saja nak, besok bapak akan mengundang bapak-bapak di sini untuk


menyaksikan lamaran mu".


"Pakai kan cincinmu nanti saja di hadapan

__ADS_1


mereka".


"Sekalian biar tetua desa yang menentukan hari dan tanggal pernikahan kalian".


"Baik pak,,, Dito ikut saja".


"Kalau bisa jangan lama-lama pak".


"Memangnya kenapa??".


"Saya tidak percaya sama anak bapak,,,penggemarnya banyak, takut direbut orang".


Bapak dan ibu tertawa mendengar celetukan Dito. Mereka bahagia karena akhirnya Nisa


akan segera menikah.Sekarang sudah ada yang menjaganya, jadi mereka tak perlu


khawatir lagi.


Pagi- pagi sekali rumah Nisa sudah ramai dengan celotehan ibu-ibu yang membantu


memasak di dapur.Nanti malam rencananya


mereka akan menyaksikan acara lamaran Nisa dan Dito.


Bapak juga sudah mengundang pak Kadus dan pak RT, supaya tidak timbul gunjingan di


kampung karena Nisa pulang di temani oleh


seorang laki-laki.


Dito juga ikut turun ke dapur sekedar membantu sebisanya.


"Wah......wah .....Nisa sungguh beruntung mendapatkan mas Dito, sudah tampan, gagah, rajin, nggak malu juga buat terjun


ke dapur".


"Biasa saja Bu, saya kan juga tinggal sendiri,jadi udah terbiasa masak sendiri".


"Kalau ibu masih muda ma, mau banget jadi


istri mas Dito".


Nisa mendengarkan dari luar pembicaraan Dito dan ibu-ibu.Dalam hati Nisa bangga punya pasangan seperti Dito.Mengerti Nisa


luar dalam.


Dari belakang rumah, Nisa memandang hutan larangan.Seperti ada yang memperhatikannya


dari kejauhan. Nisa menajamkan telinga nya


karena tiba-tiba mendengar Gending Jawa, musik iringan pengantin.


"Dito,, coba kau dengarkan suara musik itu, indah bukan,,apa kau juga mendengarnya?".


"Dari tadi aku tidak mendengar apapun, suara


musik apa maksud mu?".


"Mungkin kampung tetangga sedang mengadakan hajatan, jadi musiknya terdengar


sampai kemari".


"Masuklah Nisa, tak baik kau diluar sini, aku takut terjadi sesuatu padamu nanti".


"Aku masih mau disini, mendengarkan alunan


Gending Jawa itu".


Dito melihat Nisa bertingkah aneh.Apa mungkin karena Nisa kembali lagi kesini dan


makhluk gaib dari hutan larangan itu kembali


mengganggunya.


Dito melihat jari Nisa.Cincin mustika itu,,Nisa


tidak memakai nya.Dimana dia menyimpannya.


"Dimana cincinmu Nis?".


"Ada di kamar, aku tak ingin memakainya saat lamaran kita nanti".


"Aku hanya ingin memakai cincin lamaran darimu, hanya cincinmu saja".


"Jangan konyol Nisa,,ayo pakai kembali".


Dito benar-benar cemas.Saat cincin itu tidak


dipakai, maka Nisa pasti bertingkah aneh.

__ADS_1


Makhluk halus dengan leluasa bisa masuk tubuh Nisa kapan saja Itulah mengapa dia


mendengar suara Gending Jawa dari arah hutan larangan.


__ADS_2