
Setelah semua kejadian gaib di kamarnya, mami dan Susi akhirnya menyerahkan diri ke kantor polisi. Mawar membawa uang, perhiasan dan giok itu kembali ke rumah Nisa.
Dia sendiri masih ada di dalam rumahnya bersama kedua putrinya. Dia belum ingin kembali ke kompleks, karena nyawa Dito juga terancam bahaya. Dia hanya fokus pada suami dan anaknya dulu. Nisa yakin, Mawar bisa mengatasi segalanya di sana.
"Sofia, selama aku pergi apa ada yang datang atau menelpon kemari??".
"Hanya orang kantor saja Bu, dan pak Anton mengabarkan kelahiran putranya".
"Ya sudah kalau begitu".
"Terima kasih Sofi, sudah mau menjaga anak-anak".
"Iya Bu, mereka sudah seperti putri ku sendiri sekarang".
"Aku akan mandi dan segera kembali ke rumah sakit".
"Baik Bu,, semangat!!".
"Nisa tersenyum walau sedikit di paksakan. Dalam kondisi seperti ini, memang hanya orang terdekat yang bisa menghibur dan memberi kan semangat. Sementara yang lain nya, berusaha menjatuhkan dan bahkan menghilangkan nyawa.
Nisa sudah selesai mandi, bahkan dia sudah bersiap hendak berangkat, namun tiba-tiba di belakangnya berdiri sosok yang tak asing. Dia
adalah hantu Mawar yang sudah separo perjalanan menyelesaikan balas dendam nya.
"Kebiasaan mu itu bisa di rubah tidak Mawar??".
"Kau selalu saja mengagetkan aku".
"Hi.....hi .....hi..hi....maaf Nisa,,aku tak sengaja".
"Lalu kenapa kau malah kemari??".
"Karena kita berhasil,, mami dan Susi sudah ke kantor polisi menyerahkan diri".
"Sementara ke 8 orang yang tersisa, itu akan ku urus nanti".
"Sesuai janji ku pada mu, aku akan mengembalikan arwah Dito dengan giok ini".
"Bukan saja arwahnya, luka di tubuhnya pun bisa segera sembuh".
"Ayo,,,kita ke rumah sakit sekarang".
"Kau yakin bisa melakukan nya??".
"Kalau begitu....ayo kita berangkat sekarang saja".
Nisa mengambil tas nya dan segera berangkat ke rumah sakit.Pikiran nya sudah di penuhi kebahagiaan karena sebentar lagi Dito pasti akan segera sadar. Dan lagi, orang yang berusaha mencelakainya pasti juga akan ikut terungkap.
Sesampainya di rumah sakit, Nisa segera masuk ke ruang perawatan di ikuti Mawar yang melayang di belakang nya. Kondisi Dito masih sama, hanya arwahnya tidak ada lagi di ruang ICU.
"Mawar, di mana Dito kira-kira,,dia tak mungkin....".
"Kau tenang dulu Nisa, biar aku cari di sekitar sini".
"Cepatlah,,,jangan-jangan memang terjadi sesuatu padanya".
__ADS_1
Nisa memeriksa monitor alat medis di samping tempat tidur Dito. Sepertinya semua nya stabil. Dito tak mungkin menghilang begitu saja. Tapi kenapa arwahnya tak ada di samping nya. Nisa hendak menemui dokter ketika tiba-tiba seorang lelaki masuk ke ruang ICU. Dia langsung memeluk Nisa dari belakang dan mencium puncak kepalanya.
"Kau mencari ku kan,, aku di sini sekarang".
"Siapa kau, jangan kurang ajar,, aku bisa memanggil satpam dan melaporkan mu".
"Sayang,,, aku sangat merindukan mu".
"Ini sudah sangat lama,, akhirnya aku bisa menyentuh mu lagi".
"Kita bisa bersama lagi mulai sekarang".
"Kau ini siapa,,jangan kurang ajar...lepaskan aku!!".
"Nisa,,ini aku Dito, aku suami mu Nis".
Nisa berbalik dan melihat wajah pemuda tampan di depan nya. Masih muda dan gagah, memakai baju pasien dengan senyum yang
sangat manis.
Nisa masih tidak percaya dengan ucapan pemuda tersebut. Nyatanya, tubuh suaminya masih terbaring di ICU, tapi kenapa pemuda ini mengaku sebagai suaminya.
"Kau tak usah heran, aku memang Dito suami mu".
"Aku meminjam raga pemuda ini, dia sudah meninggal, jadi aku masuk ke tubuhnya".
"Sementara, kondisi tubuhku sendiri semakin menurun sejak kejadian waktu itu".
"Mungkin waktu ku tidak lama lagi".
"Aku tak percaya,,, kau jangan mengada-ada".
"Dito ku baik-baik saja, sebentar lagi dia akan bangun".
"Mawar punya cara untuk membuatnya sadar kembali"
"Itu sudah tak mungkin lagi sekarang, kau lihat monitor di depan sana!!!".
"Sebentar lagi dia akan segera pergi, karena aku sudah bertukar tubuh dengan pemuda ini".
"Tunggu sebentar,, ini tak boleh terjadi,, aku akan mencari Mawar".
"Aku di sini Nisa,,, percuma saja rasanya kita berusaha".
"Semua sudah terjadi,, kau terima saja kalau Dito berubah seperti ini".
"Kau bilang bisa menyelamatkan Dito dengan giok milik mu".
"Itu sebelum kau tahu, tubuhnya membusuk karena alat medisnya di lepas untuk waktu yang lama".
"Percuma saja Dito masuk ke raga nya kalau tubuhnya sudah tidak lagi menopang kehidupan nya".
"Tubuh Dito sekarang milik Alan, dan sebentar lagi dia akan meninggal".
"Ini semakin rumit saja,, siapa Alan..aku tak mengenal nya".
__ADS_1
"Aku Alan,,, sebentar lagi aku akan menjadi suami mu".
"Terimalah kenyataan ini Nisa, relakan tubuh Dito".
"Setidaknya kalian masih bisa bersama, walaupun dalam tubuh yang berbeda".
Nisa masih termangu ketika alarm medis milik Dito berbunyi. Perawat dan dokter jaga segera masuk ruang ICU. Detak jantung Dito sudah berhenti, walaupun semua usaha dokter, tak ada yang bisa menyelamatkan nya.
Nisa menyaksikan semuanya dari ruang tunggu pasien di balik kaca.
Dia ambruk seketika. Menyaksikan tubuh suaminya tak lagi bergerak. Ingin rasanya menangis sekencang-kencangnya. Kenyataan pahit harus dia alami. Kehilangan Dito untuk selamanya.
Nisa tertunduk lesu berjalan masuk ke ruang ICU. Dokter memanggil nya sesaat setelah Dito meninggal.
"Maaf Bu Nisa,,,kami sudah berusaha semaksimal mungkin".
"Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain".
"Kami harap ibu sabar menerima cobaan ini".
Nisa tak bisa menjawab. Dipeluknya tubuh suaminya dengan berlinang air mata. Mawar yang menemani di sampingnya ikut larut dalam kesedihan.
Di luar kamar ICU,,seorang pemuda menatap dalam ke arah Nisa. Tampaknya, istri nya itu terpukul sekali. Dia sadar situasi ini tak semudah yang di katakan nya. Tapi paling tidak, dia ada di sampingnya untuk menemani Nisa, walaupun dalam tubuh orang lain.
Buru-buru dia masuk ke dalam untuk menenangkan Nisa. Setidaknya, mereka hanya berdua, jadi Dito bisa menghibur istrinya tersebut.
"Sayang,,, bukankah aku masih di sini".
"Kita akan mulai semuanya dari awal lagi".
"Aku janji, mulai sekarang tidak akan meninggalkan mu lagi".
"Mulai sekarang, hanya kalian prioritas ku".
"Kau pikir masalah ini hanya semudah ucapan mu??".
"Siapa kau,, walaupun kau mengaku sebagai suami ku, tetap saja tubuh kalian berbeda".
"Tetap saja di mata orang-orang, Nisa adlah seorang janda".
"Apa mereka akan percaya penjelasan mu begitu saja,,....tidak....!!!!!".
"Yang ada mereka akan menertawakan mu dan menghujat kita karena hidup di bawah atap yang sama".
"Kali ini aku tak bisa lagi berpikir Dito,, entah lah..aku tak tahu apa yang harus ku lakukan".
"Pemuda ini juga punya keluarga kan,, atau mungkin pacar malah, atau istri".
"Kita sama sekali tidak mengenalnya".
Nisa benar-benar meluapkan semua kekesalan nya. Rasa yang bertumpuk menjadi satu membuat Nisa kehilangan kontrol diri.
Untung saja di ruangan hanya ada mereka berdua. Jadi Nisa masih bebas mengutarakan isi hati nya.
...****************...
__ADS_1