
Roy segera memutar ke samping rumah, dan menuju jendela kamarnya. Kebetulan pintu jendela terbuka, jadi Roy bisa memanjat masuk dari sana. Di dalam rumah, Roy melihat Nisa naik ke atas kursi dengan leher sudah terikat dengan tali. Satu tendangan saja, dan leher Nisa sudah pasti terjerat di atas tali dan tergantung di atas.
Di lihatnya dari dalam kamar, Siska sedang duduk meminum kopi hitam, sambil memegangi tali yang menjerat leher Nisa. Sesekali nampak, gadis itu tertawa dan berbicara sendiri. Roy yakin kalau dia memang bukan Siska sepenuhnya.
Roy masih tertahan di dalam kamar, menunggu Siska lengah. Bapak yang tidak sabar, segera mengikuti langkah Roy masuk ke dalam rumah lewat jendela. Keduanya menunggu sampai Siska lengah.
Dia masih saja terus mengoceh tak karuan.
Sumpah serapah nya di tujukan kepada Nisa.
Sepertinya dia menginginkan kematian Nisa. Roy menunggu kesempatan, saat Siska menjatuhkan gelasnya, dia segera berlari menangkap wanita tersebut, dan merebut tali yang di genggam nya.
Bapak tidak tinggal diam, dia segera menurunkan Nisa dari kursi dan melepaskan ikatan di lehernya. Saat itu, Siska hanya tertawa melengking. Dari kedua jemarinya, kukunya tumbuh panjang dan menusuk badan Roy. Laki-laki itu meringis kesakitan.
Bapak segera membantu dengan mengeluarkan kesaktian nya, supaya Roy bisa terlepas.
"Kalian belum tahu siapa aku??".
"Aku adalah titisan dari putri Betari".
"Aku mencari putra ku Satria,, sampai dia di temukan, aku akan terus membuat kekacauan di tempat ini".
"Sebaiknya kau pergi, Satria sudah tidak lagi berada di sini".
"Lepaskan wanita itu, keluar dari tubuhnya, dia tidak bersalah pada mu".
Saat bapak hendak mengeluarkan keris dari saku bajunya, Siska terbang ke atas atap disertai dengan suara tawa yang melengking tinggi. Bapak mengikuti sosok nya sampai keluar rumah, memastikan dia benar-benar sudah pergi.
"Kau tidak terluka kan Nisa?".
"Apa dia sudah menyakiti diri mu??".
"Belum Roy, untung kalian datang tepat pada waktunya".
"Omong-omong, dari mana kalian tahu kalau aku dalam bahaya?".
"Mbah Cokro yang memperingatkan kami".
"Aku takut sekali tadi, kukira aku benar-benar akan mati".
Bapak kembali masuk ke dalam. Dia menyuruh Roy tetap di rumah menjaga Nisa.
Sementara dirinya kembali ke rumah pak kadus, menemui Mbah Cokro.
__ADS_1
Sesepuh kampung itu harus di beritahu kalau ada yang mencoba mengusik ketenangan di kampung mereka. Sampai gadis itu berhasil di temukan, mungkin kampung akan tetap diteror oleh makhluk halus tersebut. Jadi, tugas Mbah Cokro untuk mengusir gangguan dari kampungnya tersebut.
Sampai di rumah pak kadus, warga sudah berkerumun di depan rumah. Bapak melihat mayat seseorang di tutupi dengan memakai kain jarik. Karena penasaran, bapak mendekat dan memastikan mayat siapa yang di temukan oleh warga.
"Ada apa ini, kenapa kalian semua berkerumun di sini?".
"Lihat pak Ari, kami menemukan anak kota tersebut sudah tidak bernyawa, hanyut di sungai yang ada di dalam hutan".
"Tubuhnya sudah membiru, kasihan sekali, anak muda itu pasti shock kalau tahu kakaknya sudah meninggal".
Bapak menyingkap kain penutup dari mayat jenazah yang di letakkan di balai-balai. Rupanya, memang benar kalau itu mayat Siska. Wajah gadis itu sudah membiru, kelamaan di dalam air. Berarti yang di rumah menyerang Nisa tadi adalah hantu Siska yang sudah bersatu dengan arwah jahat.
Orang-orang kasak-kusuk membicarakan tentang kejadian yang ada di kampung mereka. Sementara bapak masuk ke dalam dan menemui Mbah Cokro. Orang tua itu pasti tahu tentang kejadian ini dan dia bisa di pastikan sudah mempunyai penjelasan atas peristiwa di depan.
"Apa Nisa sudah aman sekarang?".
"Suaminya ada bersamanya mbah, tidak perlu khawatir, Roy tahu pasti cara melindungi Nisa dengan baik".
"Aku merasa kecolongan,, seharusnya nasib gadis itu tidak tragis seperti ini".
"Andai saja mereka minta ijin dulu padaku, tentu para penghuni gaib hutan larangan tak akan menghukum gadis itu".
"Sayang, keduanya terlalu ceroboh,, mereka membawa arwah jahat kemari".
"Kau saja Ari, yang memberitahu pemuda itu kalau saudaranya tak bisa di selamatkan".
"Baik Mbah".
Bapak masuk ke bilik, tempat Alan di rawat oleh warga kampung. Dengan hati-hati dia menyampaikan perihal kakaknya yang sudah meninggal. Jasad nya di temukan di sungai.
Alan sangat terpukul menerima kabar tersebut. Bagaimana pun juga, selama ini mereka sudah bersama. Terlepas dirinya adalah Dito, jiwa kemanusiaan nya merasa kehilangan Siska.
Alan keluar rumah di bantu oleh bapak, untuk
memastikan kalau jenazah yang di temukan itu adalah benar Siska kakaknya. Setelah membuka kain penutup, yakin lah Alan kalau
memang Siska sudah meninggal.
"Jadi, bagaimana Alan, kau mau membawanya jasadnya ke Jakarta, atau kita makam kan di kampung ini".
"Melihat kondisi jenazahnya, kalau boleh saya meminta izin supaya di makam kan di sini saja pak".
"Lagipula kondisi saya juga belum begitu fit".
__ADS_1
"Sementara pengurusan jenazah tidak boleh di tunda".
"Baiklah,, bapak akan membicarakan nya dengan pak kadus dan para warga".
"Kau masuk saja dulu, jangan sampai kau ikut pingsan di sini".
Alan kembali masuk ke dalam bilik, sementara bapak terlihat sedang berdiskusi dengan bapak-bapak yang lain. Mereka akhirnya mengijinkan mayat Siska di makamkan di kampung. Para warga segera mempersiapkan upacara pemakaman untuk Siska.
Mereka membagi tugas memandikan, mengkafani dan menggali makam. Ibu-ibu pun sudah mulai berdatangan untuk membantu pengurusan jenazah di tempat pak kadus. Sepulang dari pasar, ibu juga langsung memberi tahu Roy dan Nisa.
"Kalian pergi berdua saja ke rumah pak kadus, nanti ibu dan Sofi menyusul".
"Kalau berbarengan, si kembar tidak ada yang menjaga".
"Setelah melayat langsung pulang saja Roy, Nisa, bapak mu tadi sudah berpesan begitu".
"Baik Bu".
Di tengah jalan, Nisa dan Roy masih tidak percaya kalau tiba-tiba Siska meninggal. Beberapa saat yang lalu, dirinya masih mengancam ingin membunuh Nisa. Tentu saja mereka berdua terkejut, mereka berpikir kalau yang mendatangi Nisa mungkin arwah Siska.
"Kita harus lebih berhati-hati Nisa".
"Kelihatan nya, ada hal yang tidak wajar di balik kematian Siska".
"Kau lihat sendiri kan, dia masih berusaha menghabisi mu".
"Makanya aku takut Roy".
"Bagaimana kalau ternyata arwah Siska masih bergentayangan".
"Semoga saja tidak,,bapak pasti akan mencegah hal ini terjadi".
"Tentang Alan, biar aku suruh orang kantor untuk menjemputnya pulang".
"Akan lebih baik kalau dia di tangani di kota".
"Aku setuju dengan mu Roy".
Sesampainya di rumah pak kadus, Roy dan Nisa langsung melihat jenazah Siska. Ketika Nisa membuka kain penutup, terlihat mata Siska terbuka dan wajahnya tersenyum mengejek. Tentu saja Nisa kaget, sampai mundur ke belakang. Tak berapa lama, tangan nya di cengkeram erat oleh jenazah Siska.
"Roy,,tolong aku, tangan ku tak bisa terlepas".
Roy segera menghampiri Nisa dan membantunya melepas tangan Nisa yang di cengkeram oleh Siska. Dengan mudah Roy bisa melepaskan nya. Lagi-lagi Nisa memandang ke arahnya, terdengar Siska tertawa cekikikan di bawah kain penutup yang menyelimutinya.
__ADS_1
...****************...