
Sejak siang hari, si kembar terus-menerus menangis. Sofia yang peka terhadap makhluk halus, segera tanggap dengan hal tersebut. Amira, datang ke kamar si kembar dan mengajaknya bermain. Tapi entah siapa yang Amira bawa sehingga mengganggu kenyamanan si kembar.
Sofia akhirnya menelpon Nisa agar segera pulang. Dia tak bisa menangani Amira sendirian, sementara si kembar menangis dari tadi. Walaupun Sofia sudah berusaha mengusirnya, namun Amira tetap berkeliaran di dalam rumah.
"Bu,,,sepertinya Bu Nisa harus pulang sekarang".
"Kenapa Sofia,, ada apa dengan si kembar??".
"Arwah Amira ada disini Bu, dia menakuti si kembar dari tadi".
"Cepat Bu, tolong segera pulang".
"Ok,, aku akan segera ke sana".
"Maaf Roy, aku harus segera pulang, si kembar sedang sakit".
"Ok,, urus dulu anakmu, biar aku yang mengurus di sini".
"Ayo mas, kita segera pulang".
Di jalan, Nisa baru menceritakan kepada Dito
tentang si kembar yang diganggu hantu Amira. Dito jadi khawatir terhadap kedua putrinya. Mengingat arwah Amira bisa berbuat nekat kepada siapapun juga.
Nisa turun dari mobil dan berlari masuk ke rumahnya. Dia langsung menuju kamar si kembar. Dilihatnya Sofia masih sibuk menenangkan kedua putrinya yang menangis kencang. Nisa hendak menggendong Sheila ketika dilihatnya arwah Amira tersenyum padanya. Kali ini dia membawa sosok pocongan yang wajahnya menghitam.
Pantas saja Sofia dan si kembar ketakutan. Rupanya Amira sengaja meneror rumahnya.
"Sofia, bawa si kembar ke kamarku sekarang".
"Baik Bu".
Setelah menenangkan kembar, Sofia langsung membawa mereka ke kamar Nisa.
Nisa sendiri mencoba berkomunikasi dengan Amira.
"Amira,, kurasa urusan mu di dunia sudah selesai,, kenapa kau masih berkeliaran dan mengganggu manusia??".
"Aku kesepian Nisa, lagipula di kolam itu tidak ada teman untuk ku ajak bermain".
"Aku ingin membawa si kembar bersamaku kali ini".
"Jangan membuatku marah Amira,,, kau mungkin tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuk mu".
"Hi......hi.....hi...hi.......!!!!".
"Lakukan saja,, dan si pocong teman ku ini akan melindungi ku dari kemarahan mu".
"Pergi sekarang dari rumah ku, atau..".
"Atau apa,,,,ini.......!!!".
__ADS_1
Amira dan pocong yang bersamanya berusaha menyerang Nisa. Rumah yang tadinya tenang, tiba-tiba bergemuruh dan angin kencang berhembus masuk ke dalam.
Pintu dan jendela membuka dan menutup sendiri dengan suara yang sangat kencang.
Amira melengking hebat membuat hidung Nisa berdarah.Tak cukup sampai disitu, semua lampu di rumahnya pecah bersamaan.
Amira dan pocong yang bersamanya tertawa penuh kemenangan, sementara Nisa memegangi telinganya menahan sakit.
"Nisa kemudian memejamkan mata, berusaha menguasai keadaan. Dia menarik nafas panjang untuk mengatasi rasa sakitnya.Nisa duduk di lantai kamar si kembar sambil mengatupkan kedua tangan nya di depan dada.
Entah di hitungan ke berapa, tiba-tiba arwah Amira dan pocong itu merasakan kepanasan seperti terbakar. Mereka berteriak meminta tolong kepada Nisa. Nisa masih tetap diam dan berdoa di dalam hati. Kali ini dia bertekad membuat Amira jera.
"Nisa, hentikan.....ini panas sekali".
"Aku nggak kuat Nisa, tolonglah.....".
Nisa tetap tidak bergeming. Sudah berulang kali, dia memperingati Amira, nyatanya dia masih bandel juga. Nisa sudah benar-benar marah kalau sudah menyangkut kedua anaknya.
Kedua makhluk tak kasat mata itu masih menggeliat kepanasan. Mereka kini sudah
tumbang di lantai dengan wajah yang pucat seperti terbakar.
Nisa membuka matanya dan menghampiri sosok tersebut.
"Peringatan ku tidak main-main".
"Jangan kau pikir diam ku selama ini karena lemah".
Nisa berlalu dari kamar si kembar yang sudah berantakan. Namun di belakangnya, sosok naga besar muncul menghampiri Amira dan teman nya. Dia hendak menelan keduanya, kalau saja mereka tidak berteriak meminta ampun.
Begitu naga itu lengah, Amira kemudian menghilang,, kembali ke hutan untuk melapor kepada penguasa hutan yang memerintahkan nya.
Nisa masih galau. Dia memikirkan Amira yang ternyata sanggup berbuat sangat jahat. Kemampuan nya juga ternyata sudah sangat tinggi. Berarti selama ini arwah Amira hanya memanfaatkan Nisa. Atau ada maksud yang tersembunyi, sehingga Amira masih menampakkan diri, bahkan menyerang dirinya, setelah jasad nya dimakamkan.
"Sofia, mulai sekarang awasi si kembar dengan benar".
"Kalau mereka rewel, tunggu saja di kamar, jangan mengerjakan apa pun ".
"Dan telpon saya kalau ada apa-apa".
"Baik Bu Nisa".
"Mas, tampaknya ada yang tidak beres, aku curiga kalau dia bukan arwah Amira".
"Ada makhluk halus yang jahat yang menyerupai Amira dan mencoba mencelakai aku".
"Lalu, sekarang mau bagaimana?".
"Aku akan ke hutan itu untuk mencari tahu".
"Kalau tidak, akan semakin banyak korban yang meninggal di tangan Amira".
__ADS_1
Nisa sudah bertekad untuk menuntaskan masalah Amira sampai selesai. Dia tak mau si kembar yang menjadi incaran Amira. Makanya, sore ini Nisa khusus datang ke lokasi penemuan jenasah Amira dulu.
Kali ini Nisa datang sendiri. Dito sudah lebih dulu pergi ke kantor. Nisa beralasan ingin menemani si kembar, jadi dia mengendarai ojek untuk sampai di hutan.
Nisa berhenti di persimpangan. Dengan yakin, dia masuk ke area hutan lebat tersebut.Kedatangan nya sudah disambut dengan suara gemuruh pohon beringin yang meliuk-liuk seperti hendak tumbang.
Nisa memperhatikan, pohon lain tidak ada yang bergerak, tapi pohon yang habis dilewati Nisa, seperti digoyangkan dengan kencang.
Nisa tetap maju, tidak takut sama sekali. Sejauh ini dia juga belum menjumpai penampakan makhluk halus.
Nisa sudah jauh masuk ke dalam hutan, namun sepertinya dia hanya berputar-putar di tempat yang sama. Semacam ada yang
mengecoh perjalanan nya kali ini.
Dari atas pepohonan yang rimbun, Nisa jelas mendengar suara kuntilanak yang terus menertawakan dirinya. Dia terbang dari satu pohon ke pohon yang lain. Masih dengan gaun putih nya yang melayang-layang
Ketika Nisa berhenti untuk mengatur nafas, seorang kakek tua tiba-tiba duduk di sebelahnya. Kakek tua yang sama, yang kerap Nisa temui ketika masuk hutan ini.
"Kembalilah pulang nak, jangan kau teruskan".
"Mereka lebih hebat dari siapa pun".
"Jangan sampai kau menyesal karena mengorbankan nyawa mu di hutan ini".
"Tapi Mbah.....".
"Segala sesuatu tidak selamanya harus di cari jawaban nya".
"Belum tentu aku bisa memperingatkan mu lagi".
"Pulang,,,,sebelum benar-benar terlambat".
Kakek itu kemudian menghilang dari hadapan Nisa. Dia memikirkan perkataan nya. Tapi, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Nisa tetap nekat melangkah ke tengah hutan.
"Sebenarnya ada rahasia apa di hutan ini".
"Aku harus bisa mengetahuinya".
"Maafkan aku Mbah,,,ini menyangkut keselamatan putri ku".
"Aku harus melawan ketakutan di dalam hatiku".
Penyakit ngeyel Nisa sepertinya kambuh lagi.
Dia tetap melangkah menuju hutan belantara.
Dia bahkan tanpa teman dan tidak membawa bekal. Hanya bermodal nekat saja. Dasar memang Nisa, sekali ngeyel tetap ngeyel.
Hidup ngeyel.........!!!".
Yang penasaran Nisa bakal menjumpai makhluk halus macam apa,,,tetap baca di episode berikutnya ....!!!.
__ADS_1
...****************...