
"Suster Sofia,,cepat kemari!!!".
Mendengar panggilan dari Dito,Sofia langsung berlari menuju kamar Nisa.
"Bapak memanggil saya".
"Tolong periksa istri saya, jarinya bergerak tadi".
Suster Sofi lalu memeriksa kondisi organ vital Nisa. Dia lalu tersenyum melihat tanda-tanda kalau Nisa akan segera sadar.
"Kabar baik pak, kondisi organ vital Bu Nisa sudah mulai berfungsi".
"Saya akan segera melaporkan perkembangan ini kepada dokter".
Arwah Nisa tersenyum, akhir-akhir ini memang dia merasa tubuhnya kadang lemah,
Nisa pikir itu karena perbuatan Genderuwo kemarin itu.Dia tak menyangka itu karena kondisi Nisa segera membaik.
Dito dan suster Sofia akhirnya bisa bernafas lega. Aura di rumah ini mungkin memancing memori Nisa. Hanya harus bersabar dan melanjutkan pengobatan, agar Nisa segera sadar, begitu yang dikatakan dokter tadi.
"Suster Sofi, kamarmu disebelah kamar si kembar, agar jika dia menangis, kau bisa mendengar nya".
"Istirahatlah kalau si kembar sudah tidur".
Sofia menuruti perkataan dari Dito. Dia segera masuk ke kamar dan membereskan barang-barangnya. Setelah selesai, dia pun segera beristirahat.
Nisa memandang wajah suaminya yang terlelap di samping nya. Dia berkeliling ke sekitar rumah. Setelah berhari-hari, dia rindu akan suasana nyaman di rumahnya.
Dari arah si kembar, Nisa bisa mendengar tawa mereka. Rupanya mereka terbangun. Nisa menghampiri si kembar. Sampai dikamar mereka, Nisa bisa mendengar suara wanita yang bermain dengan kedua anaknya.
Nisa langsung masuk dan melihat ke arah wanita tersebut.
"Siapa kau??? ".
"Pergi......!!!!!!! jangan dekati anak-anak ku".
"Mereka akan jadi milikku".
"Aku akan membawanya pergi dari sini".
"Jangan,,,,letakkan mereka di tempatnya".
"Kau lihat,, mereka senang sekali bermain denganku".
"Tidak boleh,,, bawa kemari....dan pergi dari sini".
Nisa merebut bayinya dari tangan wanita itu.
Kelihatan nya wanita itu sangat menyukai si kembar. Dia tak mau melepaskan si kembar dari tangannya.
"Sofia.....!!!!".
"Cepat bangun!!!!!, Sofia.......!!!".
Sofia yang masih terlelap tidur, sama sekali tidak mendengar teriakan Nisa.Lagi pula si kembar sama sekali tidak menangis.
"Kembalikan anakku,, cepat....!!!!!".
Kuntilanak itu terus menggendong si kembar sambil tertawa cekikikan. Rupanya si kembar sangat senang bermain dengan nya. Nisa semakin khawatir dibuatnya. Tak kehilangan akal, Nisa mencoba menyentuh kaleng biskuit di meja, agar penghuni rumah ini bangun.
Nisa berkali-kali menyentuhnya, Namun tidak bisa juga.
__ADS_1
"Ayo konsentrasi Nisa, kamu pasti bisa".
Nisa berusaha keras berkonsentrasi, dan akhirnya kaleng itu berhasil dibantingnya.
Bunyinya yang berisik membuat si kembar kaget dan menangis.
Saat itulah, Sofia dan Dito bangun bersamaan. Mereka langsung menghampiri
kamar si kembar.
"Ada apa ini suster, suara apa yang membuat si kembar kaget??".
"Kaleng ini mungkin pak, sebentar saya cek si kembar dulu".
Sofia masuk kamar si kembar dikuti oleh Nisa. Mereka tengah menangis di atas kasurnya. Anehnya, kuntilanak itu sudah tidak ada lagi di kamar.Sofia kembali menidurkan si kembar.
Nisa mencari ke sekeliling ruangan. Dia juga keluar rumah untuk memastikan bahwa kuntilanak itu sudah pergi.
"Bapak boleh tidur kembali,, anak-anak sudah tenang sekarang".
"Baik suster, terima kasih".
Dito masuk kembali ke kamar nya. Hanya ada Sofia dan Nisa di sana sekarang.
"Sofia,, jangan kembali ke kamarmu, tidurlah di kamar si kembar malam ini".
"Memangnya kenapa??".
"Ada yang ingin menculik si kembar tadi".
"Kau jangan berlebihan, mereka berdua masih ada di sini".
"Bukan manusia, tapi kuntilanak".
"Aku khawatir dia akan kembali lagi nanti".
"Ayolah,,, malam ini temani si kembar, demi aku".
"Ya....ya...baiklah....kau senang kan sekarang??".
"Terima kasih Sofia,, kau yang terbaik".
Sofia menuruti kata-kata Nisa.Malam ini dia menemani si kembar tidur di kamarnya. Tentu saja Nisa juga disampingnya, berjaga-jaga kalau kuntilanak itu datang lagi.
Pagi harinya, Dito terbangun lebih awal, dia ke kamar si kembar untuk melihat mereka. Dito terdiam dan memandangi wajah Sofia yang tengah memeluk si kembar. Tiba-tiba Dito jadi teringat Nisa. Seandainya saja Nisa tidak koma, maka si kembar pasti sudah diurusnya.
Sofia menggeliat, dia membuka matanya, dan seketika itu juga dia jadi salah tingkah karena melihat Dito memperhatikan nya.
"Maaf pak,, saya tidak tahu kalau bapak disini".
"Tidak apa suster,,, hari ini aku mulai bekerja, tolong jaga si kembar dan juga Nisa".
"Kalau ada sesuatu, kau bisa langsung menelpon ke nomerku".
"Baik pak".
Dito kembali ke kamarnya, dia memandikan Nisa dan mengganti bajunya.
"Nah.......istriku sudah kelihatan cantik sekarang".
"Sayang,,, hari ini aku mulai kerja, kau dirumah baik-baik, oke...!".
__ADS_1
"Aku akan mandi dulu,,, atau kau mau mandi bersamaku??".
"Ah....aku merindukan mu Nisa".
Dito mencium bibir Nisa dan memeluknya.
Di saat-saat seperti ini, dia merindukan kehadiran Nisa, namun kenyataan berkata lain.
Dito kemudian melangkah ke kamar si kembar. Dia ingin berpamitan pada kedua anaknya itu.
"Sayang,, papa berangkat dulu ya,, kalian baik-baik di rumah".
"Pak,, maaf saya harus menyela, tadi pihak rumah sakit meminta saya menanyakan nama si kembar, mereka ingin mengurus akte".
"Iya suster, aku sampai lupa,, dulu Nisa yang sudah menyiapkan nama untuk mereka".
"Nanti aku telpon dari kantor saja"
"Baik pak".
Satu lagi pekerjaan Dito, memberi nama untuk si kembar, dan itu belum terpikirkan sama sekali, dulu Nisa yang semangat Ingin memberi nama untuk anaknya, sekarang, mau tak mau Dito yang harus memikirkan nama untuk mereka.
Dito sampai di kantor lebih cepat, dia segera menuju ruangan nya.Sesaat kemudian Anton dan Ratri datang menyusul. Mereka menemui Dito di ruangan nya.
"Dito,,, apa Nisa dan si kembar sudah bisa ditinggal??".
"Mereka aman Ratri, ada suster yang menjaganya".
"Syukurlah kalau begitu, nanti sore kami mampir ke sana".
"Aku sudah kangen sekali dengan si kembar".
"Kau kelihatan lelah,, jagalah kondisi mu, Nisa dan anak-anak masih membutuhkanmu Dito".
"Terima kasih Anton, aku baik-baik saja".
"Aku hanya belum terbiasa tanpa Nisa".
"Iya,,, kami juga merindukan ya Dito".
"Apakah sudah ada perkembangan dengan kondisinya??".
"Kemarin dia sempat menggerakkan jarinya, aku berharap dia segera sadar kembali".
"Dito, untuk acara pemberian nama si kembar,
bagaimana kalau aku yang menyiapkan nya,
apa kau tidak keberatan??".
"Aku ingin mengundang kyai Ahmad, agar mendoakan kesembuhan bagi Nisa".
"Ratri,, aku tak tahu lagi harus berkata apa, kalian sudah banyak membantu ku dan Nisa".
"Aku sudah menganggap Nisa sebagai adik ku sendiri, jadi tidak masalah buatku".
"Ya Dito, lagipula kan kita satu keluarga, jadi kau tak perlu sungkan".
"Terserah kalian saja kalau begitu".
Ratri dan Anton segera menyiapkan semua yang diperlukan untuk acara pemberian nama
__ADS_1
si kembar. Mereka segera menghubungi kyai Ahmad untuk datang ke rumah Nisa. Dito menyerahkan semuanya pada Anton dan Ratri. Kebaikan mereka sangat berarti bagi Dito.
...****************...