
Malam ini Nisa memilih tidur di kamar tamu. Kalau Dito saja enggan melihat wajahnya, maka sementara biar Nisa yang menyingkir.
Di dalam kamar, Dito gelisah tidak bisa tidur.
Tidak dapat dipungkiri, pengakuan Nisa membuat dirinya sangat terluka. Dia kecewa dengan ulah keduanya. Mereka terang-terangan membohongi dirinya.
Dito akhirnya keluar dari rumah. Dia kembali akan menuju bar untuk minum-minum. Sekarang hanya itu yang bisa dilakukan nya untuk menghilangkan luka di hatinya akibat penghianatan istrinya.
Nisa yang melihat Dito keluar dari dalam kamar sudah rapi, segera menghampiri dirinya.
"Kau mau kemana mas???".
"Ini sudah malam, sebaiknya kau tidak pergi".
"Urus saja urusan mu sendiri".
"Atau kau bisa menelpon kekasihmu, katakan kalau rumah kosong".
"Kalian bisa bebas bermesraan di sini".
"Plak............!!!!!".
Nisa menampar Dito karena perkataan nya yang sudah sangat kelewatan. Nisa menangis masuk ke kamar, sementara Dito keluar dari rumah dan langsung menuju bar.
Sepanjang perjalanan Dito masih menahan amarah. Entah kenapa kejadian tersebut masih terbayang-bayang di ingatan nya. Malam terkutuk itu, dan Dito malah mengijinkan mereka untuk tidak pulang. Sampai akhirnya kejadian tersebut ada.
Sampai di dalam bar, Dito memesan minuman. Di pojok bar dia melihat seorang wanita cantik sedang memandangi nya. Dia belum begitu mabuk benar, jadi dia tahu kalau wanita itu berniat menggodanya.
Dito sudah menghabiskan hampir 2 botol minuman. Omongan nya pun sudah mulai ngaco. Perempuan yang sejak tadi memperhatikannya pun dikira Nisa istrinya. Dia menghampiri perempuan itu dengan tubuh sempoyongan.
"Sayang,,,,kau juga minum disini??".
"Ayo sayang....tak baik untuk mu minum-minuman keras".
"Kita pulang sekarang!!".
Para pelayan bar kebingungan melihat Dito berbicara dengan sofa kosong. Mungkin saking mabuknya, dirinya jadi berhalusinasi. Pelayan itu menghampiri Dito dan menawarinya untuk mengantarkan pulang.
"Bapak terlalu mabuk,, mari saya antar pulang".
"Atau barangkali ada no telpon keluarga bapak yang bisa dihubungi".
"Santai saja mas,,saya sudah bersama istri saya".
Pelayan itu urung membantu Dito. Mereka membiarkan dirinya pergi dari bar sambil bicara sendiri. Dito menjauh meninggalkan bar dan menuju parkiran.
__ADS_1
Dito membukakan mobil untuk wanita yang dikira istrinya tersebut. Setelahnya mereka berdua mengendarai mobilnya. Tentu saja wanita itu yang menyetir, karena Dito sudah terlalu mabuk.
Mobil Dito berhenti dihalaman rumah besar dan mewah. Rupanya wanita tersebut adalah orang kaya. Tak sulit bagi nya menuntun Dito yang mabuk tersebut menuju ke kamarnya.
"Kemarilah sayang,,, aku sangat merindukan mu".
"Aku tak rela kalau kau bersama dengan Roy".
"Bicaralah Nisa,,, kenapa dari tadi kau diam saja?".
"Ayo,,,katakan kalau kau masih mencintaiku".
Wanita itu hanya tersenyum di samping Dito tanpa bicara sepatah kata pun. Dia duduk di dekat tempat tidurnya. Wanita itu di mendengarkan segala curhatan dari Dito.
Semakin lama, Dito semakin berani menyentuh wanita yang dianggap sebagai Nisa. Dia mencium telapak tangan nya dengan lembut. Setelah itu mengusap wajah dan bibirnya. Pengaruh alkohol membuat Dito semakin hilang akal.
Wanita itu ditarik ke dalam pelukan nya. Setelahnya dia mencium lembut bibirnya. Dito masih mengucapkan kata-kata rayuan dan memanggil perempuan itu Nisa. Wanita itu terhanyut oleh buaian Dito. Dia bahkan terlihat lebih agresif membalas ciuman nya.
Tidak berapa lama keduanya sudah tanpa busana, melakukan percintaan di atas kasur.
Dito tergeletak kelelahan di atas ranjang. Sungguh sangat puas bercinta dengan wanita itu. Terlebih dia juga sangat menikmati setiap sentuhan Dito di tubuhnya. Wanita itu bangkit dan meninggalkan Dito sendirian di atas kasur.
Nisa sangat cemas menantikan kepulangan suaminya. Tak biasanya Dito bermalam tanpa memberi kabar. Sudah berulang kali Nisa menghubungi ponselnya. Tapi tak ada satupun jawaban dari Dito.
"Kamu kemana sih mas,, aku takut terjadi sesuatu padamu".
Sampai jam 2 pagi, Dito masih belum ada kabar. Nisa sampai ketiduran menunggu Dito di sofa. Nampaknya memang Dito tidak pulang ke rumah malam ini.
Keesokan paginya, Dito terbangun di atas lantai yang dingin. Dia masih telanjang tanpa busana. Kepalanya masih sedikit pusing. Dia lalu berusaha mengingat kejadian malam tadi. Dia bersama seorang wanita yang mirip Nisa. Mereka masuki rumah nya yang megah.
Tapi Dito heran karena dirinya berakhir di bangunan kosong lagi sempit dan tidak beralas.
Dito memunguti pakaian nya dan keluar dari bangunan kosong tersebut. Alangkah terkejutnya dirinya saat berada di samping sebuah makam di pinggir jalan. Dilihatnya penjaga makam tengah memeriksa mobilnya dan mencari pemiliknya. Dito lantas berjalan menghampiri penjaga makam tersebut.
"Bapak mencari saya??".
"Jadi, mobil ini milik bapak,,syukurlah...saya kira pemiliknya kecelakaan".
"Sudah sering kejadian pak, pemilik mobil mewah celaka di sekitar makam sini".
"Untung saja bapak selamat".
"Maksud bapak,, saya kurang paham".
"Jadi,wanita yang bersama saya tadi malam, juga sudah sering mengajak pria yang lain?".
__ADS_1
"Jadi, bapak juga bertemu wanita tersebut,,
hmmm.....rupanya bapak juga menjadi korban nya".
Ketika Dito berbicara dengan penjaga makam, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dia segera membukanya. Nomer baru yang belum dikenalnya.
"Sayang,,tadi malam kau sungguh hebat".
"Malam ini aku menunggumu di bar,,,aku tak sabar untuk mengulangi lagi percintaan kita semalam".
Dito memandang penjaga makam. Dia buru-buru pergi sebelum mendapat penjelasan. Dito sudah lebih dulu shock dengan pesan yang masuk ke handphone nya.
"Maaf pak, saya harus segera pergi,,lain waktu kita bicara lagi".
"Tapi pak,,saya belum bilang kalau wanita itu....".
Dito sudah menjalankan mobilnya menuju ke jalanan samping makam. Saat ini dia harus segera pulang. Karena kebodohan nya, dia juga telah tidur dengan wanita lain. Dia juga sama telah mengkhianati Nisa. Dito sudah tidak bisa lagi berpikir. Prinsip yang dipegangnya selama ini harus luntur karena minuman keras.Bahkan Dito begitu mudah melakukan hal tersebut.
Nisa sudah selesai mandi. Satu jam yang lalu, Roy menyuruhnya untuk datang ke kantor. Bagaimanapun, proyek nya harus tetap dikerjakan secara profesional. Tapi sudah hampir jam 8 pagi, Dito masih saja belum pulang. Nisa hendak bersiap mengganti baju, ketika terdengar suara mobil dari halaman rumah.
Dito pulang disambut Nisa, yang langsung membukakan pintu depan.
"Syukurlah, kau baik-baik saja mas".
"Semalaman aku cemas memikirkan mu".
"Mandilah dulu, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu".
Dito tidak menjawab. Dia langsung masuk ke kamar nya. Nisa mengikuti di belakangnya.
"Mas, aku harus ke kantor, sudah lama kita cuti".
"Aku akan menunggumu selesai bersiap".
"Kau pergilah,, aku masih ingin di rumah".
"Baiklah,,, kau istirahatlah, kalau pekerjaan ku sudah selesai, aku akan segera pulang".
"Makanlah dulu mas,, aku sudah siapkan sarapan untukmu".
"Pergilah Nisa,, tinggalkan aku sendiri, berangkatlah ke kantor".
Nisa meninggalkan Dito yang tampaknya masih marah padanya. Bahkan Nisa sudah
mengalah untuk menghindari pertengkaran. Dia tidak menanyakan keberadaan Dito semalam. Tapi tetap saja Dito masih marah padanya.
__ADS_1
Akan halnya Dito, saat ini perasaan nya entah seperti apa. Mati-matian dia menghukum Nisa dengan kelakuan angkuhnya, nyatanya dirinya sendiri melakukan hal yang sama. Kalau saja Nisa sampai tahu kelakuan nya, Dito tak bisa membayangkan akan jadi apa dirinya.
...****************...