
Jam 11 malam, Satria membangunkan Nisa. Mereka mengendarai mobilnya menuju ke rumah keluarga Wibisana. Malam ini adalah purnama, waktu yang di nantikan oleh Fransisca dan iblis bernama Satria untuk mengukuhkan Nisa menjadi pengikutnya.
Mereka meyakini jika jiwa Nisa telah bersatu dengan iblis, maka akan banyak orang yang menjadi pengikutnya. Kemampuan supranatural yang di miliki oleh Nisa, bisa membuatnya menjadi wanita hebat di atas Fransisca.
Tujuan iblis untuk mengumpulkan sebanyak-banyak nya, jiwa-jiwa manusia yang bersedia menjadi budak, akan segera di wujudkan oleh Nisa. Semakin banyak orang jahat di dunia ini, maka kehancuran dunia akan semakin dekat.
Dan Nisa adalah kunci dari semua itu.
Fransisca telah menyiapkan ritual untuk Nisa, agar dia sendiri yang menyerahkan jiwanya pada iblis dan mengadakan perjanjian.dengan nya. Setelah nanti iblis mendapatkan jiwa Nisa,,maka dia tidak akan terkalahkan lagi.
Di tempat lain, Ki Santoso dan yang lain sudah dalam perjalanan bersama kyai yang akan berusaha menyelamatkan hidup Nisa. Dari bandara, mereka langsung menuju ke rumah Nisa. Sampai di rumah nya, rupanya mereka sudah pergi. Rumah tampak gelap dan sepi.
"Mereka sudah membawa Nisa sepertinya".
"Lalu, selajutnya bagaimana ini Ki??".
"Kita langsung saja ke rumah Wibisana, bulan hampir purnama, jangan sampai kita terlambat".
Tanpa berpikir panjang, rombongan Ki Santoso segera menyusul Nisa ke rumah Wibisana. Mereka memacu mobilnya dengan cepat supaya segera sampai ke sana.
Nisa yang lebih dulu sampai, segera di sambut dengan ritual yang sudah di siapkan oleh Fransisca. Ada air kembang tujuh rupa untuk mandi Nisa. Di dalam ruang ada meja persembahan yang berisi sesajen serta dupa dan kemenyan. Ada darah kambing hitam yang sudah di siapkan ke dalam wadah yang terbuat dari batok kelapa.
"Untuk apa ini mas,, aku sama sekali tak paham".
"Ikuti saja kata-kata teman ku".
"Tapi,, aku tak mau melakukan nya".
"Nisa,,,turuti perintah suami mu, kau mengerti maksud ku kan??".
Nisa tertunduk dan terdiam. Dia lantas menatap mata suaminya lekat. Saat itu, Nisa sudah seperti kerbau yang di cocok hidungnya. Dia menuruti semua keinginan dari Satria, dan segera mandi dengan air kembang yang sudah di siap kan olehnya.
Setelahnya Nisa di bawa ke depan ruang persembahan dan duduk bersila di depan nya. Fransisca membimbingnya mengucap
kan mantra perjanjian dengan sang iblis sembari menunggu bulan purnama sempurna.
Nantinya Nisa harus meminum darah kambing hitam yang sudah di sediakan di depan nya, sebagai bukti kalau jiwa Nisa dan jiwa iblis telah menyatu seutuhnya. Saat itu, Nisa akan menjadi pengikut iblis dengan sifat dan perangai mirip seperti iblis. Dan tentu saja, Nisa akan selamanya menjadi istri dari Satria, iblis kejam yang menjelma menjadi pria tampan.
__ADS_1
"Tunggu di situ dulu Nisa, sebentar lagi bulan purnama segera tiba".
"Kita akan segera melanjutkan ritualnya".
"Tunggu mas, aku takut!!".
"Lihat mata ku sekarang, dan turuti semua permintaan ku".
Lagi-lagi Nisa tak berkutik ketika menatap mata Satria. Mustika dan cincin nya sudah tak ada lagi bersamanya. Mustahil ada sosok gaib yang muncul dan menyelamatkan dirinya. Pikiran Nisa sudah di kuasai seutuhnya oleh suami gaibnya yang bernama Satria.
Tinggal beberapa menit lagi saat purnama tiba. Semua ritual sudah di persiapkan, dan tinggal di jalani oleh Nisa. Fransisca juga sudah menunggu di belakang meja persembahan. Sebentar lagi rencana iblis dan pengikutnya tersebut segera terlaksana.
"Sudah saatnya,, bawa gadis itu kemari".
"Kali ini Nisa juga akan mencicipi darah perawan Persembahan kalian".
Para pengawal membawa masuk seorang wanita yang akan di jadikan persembahan di bulan purnama kali ini. Dia sudah dalam kondisi tidak sadar dan di baringkan di tempat pemujaan.
"Nisa,,, ini saatnya kau harus meminum darah di depan mu".
Ragu-ragu tangan Nisa maju ke depan meraih cawan yang berisi darah kambing hitam. Dia mengangkat ke atas dan hendak meminum nya, ketika tiba-tiba terdengar teriakan seorang pria dari belakang".
"Jangan lakukan itu !!!".
Batok berisi darah itu terlepas dari genggaman Nisa saking terkejutnya.Darah nya tumpah membasahi meja persembahan.
Semua orang di ruangan itu menoleh ke belakang. Di sana sudah berdiri rombongan teman-teman Nisa beserta seorang kyai.
Nisa berdiri seperti orang linglung. Dia bingung dengan perkataan yang bertolak belakang dari dua pihak. Tak lama, Satria kembali mempengaruhi Nisa dengan mantranya.
"Jangan hiraukan mereka Nisa".
"Fokus kan pikiran mu dengan hanya dengarkan suara ku saja".
Nisa masih terdiam, ketika di belakangnya pak Kyai sudah membacakan doa-doa untuk menangkal sihir iblis yang sudah menguasai Nisa. Mendadak badan Nisa terasa panas, keringat mengucur deras dari pelipisnya. Reflek tangan nya menutupi telinga karena sakit mendengar bacaan doa dari pak kyai.
Rupanya hal yang sama juga di alami oleh Fransisca. Dia malah menggeliat seperti cacing kepanasan di lantai. Lain lagi dengan sosok Satria, di berubah menjadi menyeramkan sesuai dengan wujud aslinya.
__ADS_1
Semua yang sudah terpengaruh oleh sihir sang iblis, nampak sangat menderita saat lantunan ayat suci mengalun dari mulut pak kyai. Fransisca sendiri sudah mendesis dan melata seperti ular.
Nisa berteriak histeris dan menutup kedua telinganya rapat. Alan dan Roy mendekati dan memegangi badan nya. Mereka berusaha menolong Nisa agar terlepas sepenuhnya dari jerat iblis.
Iblis yang sudah berubah wujud, lantas menunjukkan kekuatan nya. Dia mendekati pak kyai dan berusaha untuk melawan dirinya. Pak kyai tetap tenang berdoa. Dia duduk membawa tasbih dan matanya terpejam, berkonsentrasi melawan iblis yang ada di depan nya.
Masih tidak mau menyerah, iblis tersebut langsung membuat ruangan gelap seketika.
Semua orang terlihat kacau. Namun suara pak kyai membuat mereka tenang.
"Kalian tetap lah berdoa".
"Jangan biarkan pikiran kalian kosong dan lengah".
Pak kyai kemudian melemparkan tasbihnya ke arah lampu ruangan.Seketika lampu kembali menyala. Nampak Fransisca sudah berada di atas kepala Nisa dengan posisi bersiap untuk menggigitnya.
Roy dan Alan langsung menarik kaki Fransisca turun dan langsung memegangi dirinya. Sementara Nisa sendiri sudah tampak lebih normal. Matanya tak lagi berwarna merah. Teriakan nya juga sudah tak terdengar lagi. Lantunan ayat suci dari pak kyai menyadarkan ingatan Nisa.
Walaupun belum sadar sepenuhnya, setidaknya sihir di tubuhnya perlahan -lahan mulai memudar. Fransisca juga lebih tenang. Tapi dia masih berkelakuan seperti ular, serta matanya masih merah menyala.
Ki Santoso mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sosok iblis yang menyeramkan tadi sudah menghilang. Pak kyai mendekati tempat Nisa berdiri.
"Bangun..nduk,, cah ayu...kembalilah kepada keluarga mu".
"Saya ada di mana pak kyai??".
"Kita akan segera pulang setelah ini".
"Tempat ini tak baik bagi manusia".
"Dan kalian tak boleh lengah sedikitpun, iblis itu masih belum musnah".
"Dia hanya menghilang sementara dan bersembunyi".
"Lebih baik kita semua pergi dari sini dulu".
Pak kyai berjalan keluar ruangan di ikuti oleh Nisa dan yang lain nya. Mereka tinggal kan ruangan pemujaan iblis tersebut. Tanpa mereka sadari, darah yang jatuh di meja persembahan, berkumpul membentuk sosok jenglot kecil. Dia lah iblis yang tadi menghilang sementara. Kali ini di sudah mengubah wujudnya menjadi kecil, untuk mengelabui manusia kembali. Terutama merebut Nisa dari tangan pak kyai.
__ADS_1
...****************...