
Para warga kampung mengarahkan obornya ke sungai, sementara Mbah Cokro sedang mengawasi kuntilanak berbaju merah. Dia tertawa jahil, melihat para warga mencari jenazah pemuda yang hilang tadi.
"Sepertinya tidak ada apapun di sungai ini".
"Coba kita cari di rumah kosong Mbah, barang kali anak itu di sana".
"Aku yakin dia ada di sekitar sini, penglihatan Nisa tak mungkin salah".
"Kalian susuri saja tepian sungai, pasti nanti ketemu".
Warga kampung segera menyusuri tepian sungai dengan obor mereka. Benar saja, ada sesosok tubuh tersangkut di akar pohon beringin. Sepertinya pemuda itu sudah meninggal. Warga kampung masuk ke sungai untuk mengangkat jenazah pemuda tersebut.
Tubuh pemuda itu di baringkan di atas rumput dekat sungai. Wajah dan tubuhnya sudah membiru. Sepertinya dia terlalu banyak menelan air.
"Pemuda ini sudah meninggal Mbah".
"Kasihan sekali nasibnya, tenggelam di sungai tanpa ada yang menolong".
"Ya sudah,, segera bawa jenazah itu ke rumahnya, kasihan keluarganya sudah menunggu beritanya".
Saat warga membawa jenazah pemuda tersebut pulang, Mbah Cokro masih di sana untuk memberi pelajaran pada kuntilanak berbaju merah itu.
"Sebaiknya kau hentikan perbuatan mu mengganggu warga kampung ini".
"Pergilah ke tempat asal mu, atau aku sendiri yang akan mengirim mu".
"Aku tak akan berhenti sampai bisa menumpas seluruh warga di kampung ini".
"Aku ingin jiwa Nisa kembali".
"Berikan dia pada ku, baru aku akan pergi".
"Percuma kau meminta, aku tak akan memberikan keinginan mu".
"Kalau kau masih di sini, maka kau akan berhadapan dengan ku".
Mbah Cokro membaca doa untuk mengusir kuntilanak tersebut. Tapi dia malah tertawa cekikikan. Rupanya, ilmu yang di milikinya, sanggup membuat penghuni gaib hutan larangan bertekuk lutut di hadapan nya.
Dari tangan nya keluar api yang membakar pepohonan di samping kiri dan kanan tempat Mbah Cokro berdiri. Orang tua itu menghindar
namun kuntilanak itu terbang mengejarnya. Sesaat kemudian, Mbah Cokro di ikat di pohon sawo, sedang sekelilingnya di penuhi oleh api. Kuntilanak itu menyaksikan nya dari puncak dahan pohon beringin sambil tertawa.
"Rasakan orang tua, hari ini ajal mu sudah dekat".
"Kau akan terpanggang dalam kobaran api".
"Hi.....hi ......hi......hi....hi!!".
__ADS_1
Setelah kuntilanak itu menghilang, Mbah Cokro bersemedi dan meminta pertolongan penghuni gaib di hutan larangan. Sesosok genderuwo mendengar panggilan nya. Dalam sekejap, dia meniup api tersebut hingga padam. Mbah Cokro selamat dari ulah jahat kuntilanak tersebut. Setelah selesai menolong Mbah Cokro, Genderuwo itu lantas menghilang di dalam kegelapan hutan.
Iring-iringan warga kampung tiba di rumah pemuda yang jasadnya baru saja di temukan meninggal. Mereka berteriak histeris, melihat putranya terbujur kaku tak bernyawa. Pak kadus langsung memerintahkan warganya untuk segera mengurus jenazah tersebut.
Isak tangis mewarnai pemakaman jenazah dari anak muda kampung Larangan. Dalam satu hari, kampung itu sudah memakan kan dua jenazah. Mereka menyesalkan kejadian yang menimpa salah satu warga kampung tersebut. Tidak ada seorang pun yang tahu kronologi meninggalnya si anak muda.
Adapun Mbah Cokro, tentu paham betul dengan penyebab meninggalnya si anak muda. Dia tentu adalah korban dari kuntilanak berbaju merah. Perempuan setan itu masih berkeliaran di sekitar hutan larangan. Tadi pun dia sudah memberi ancaman pada Mbah Cokro. Sebelum Nisa di serahkan, dia masih akan menebar teror di kampung Larangan.
Seusai pemakaman, suasana di kampung Larangan jadi mencekam. Teror hantu wanita berbaju merah, kerap kali mengganggu warga di malam hari.Warga yang sedang meronda pun ikut terkena sasaran nya. Dia sering kali menyamar menjadi wanita cantik dan meminta warga untuk mengantar nya pulang.
Di tempat sepi, wajah dan tubuh gadis itu berubah menyeramkan. Banyak yang pingsan di tempat, melihat separuh wajah gadis itu rusak, dipenuhi dengan darah dan belatung.
Tak jarang juga dia menyesatkan warga yang baru pulang kerja atau kemalaman di jalan.
Makanya, setiap malam tak ada yang berani keluar rumah, kecuali dalam keadaan terdesak. Mereka tak mau mengambil resiko bertemu dengan hantu wanita yang jahat itu.
Nisa dan Roy pun sama, setelah diperingatkan Mbah Cokro melalui ucapan bapak, Nisa jadi ikut cemas. Dia takut kalau sewaktu-waktu hantu tersebut berbuat jahat padanya.
"Kalau keadaan seperti ini terus, untuk sementara saya akan membawa Nisa ke kota pak".
"Kita tunggu sampai mbah Cokro berhasil menangkap kuntilanak itu, baru kita semua kembali kemari".
"Percuma Roy, dia terhubung dengan Nisa".
"Jadi, dia akan mengikuti kemanapun Nisa pergi".
"Apa kau menyimpan sesuatu dari Siska ?".
"Entah lah,, apa ini yang bapak maksud?".
Nisa menunjukkan cincin dengan batu hitam.
Benda itu di berikan Nisa sebelum dia pergi bersama Alan waktu itu. Nisa tak mau menerimanya, makanya dia hanya menyimpan, dan tak mau memakainya.
"Benar Nisa,, benda ini sumber kekuatan dari kuntilanak itu".
"Pantas saja kalau dia sangat kuat".
"Sini,,, berikan pada bapak".
"Bapak akan membawanya ke tempat Mbah Cokro".
"Kalian tetap di dalam rumah".
"Semoga semuanya segera teratasi".
Bapak melangkah ke luar menuju ke rumah Mbah Cokro.Dia membawa serta batu hitam yang semula di berikan kepada Nisa. Dalam perjalanan, bapak rupanya di ikuti oleh sosok kuntilanak tersebut. Dia tahu kalau batu hitam itu di bawa oleh bapak Nisa.
__ADS_1
Kuntilanak itu berusaha menyerang nya. Dia menahan langkah bapak dengan selendang merahnya. Tubuh bapak di lilitnya hingga hanya terlihat kedua matanya saja. Bapak tidak menyerah. Dengan batu hitam itu, bapak merobek selendang kuntilanak dan langsung
mencabik-cabik nya.
Bapak bergegas lari menuju ke rumah Mbah Cokro. Dengan wajah marah, kuntilanak itu terbang mengejarnya. Dia harus bisa merebut batu hitam itu dari tangan bapak.
"Mbah,, tolong aku mbah!!".
Mbah Cokro membuka pintu. Tampak olehnya, bapak berlari menghindari kuntilanak
berbaju merah. Begitu bapak masuk, Mbah Cokro langsung menutup pintu rumahnya.
"Ada apa sebenarnya Ari?".
"Kau kelihatan terburu-buru".
"Coba Mbah lihat, ini batu hitam milik kuntilanak itu".
"Nisa yang membawanya, gadis itu memberikan nya sebelum meninggal".
"Pantas saja dia mengejar Nisa, rupanya rumahnya ada di sini".
"Kalau begitu, kita bisa mengurungnya di dalam batu hitam ini".
"Aku tak perlu susah-susah menghabisinya".
"Cepat berikan padaku sekarang".
"Aku akan memanggilnya untuk kembali pulang".
"Dia akan terkurung di dalam batu ini selamanya".
Mbah Cokro meletakkan cincin batu hitam di atas meja sesajen. Dia lalu membakar dupa dan kemenyan. Kembang tujuh rupa serta uba rampe untuk memanggil kuntilanak sudah tersedia. Mbah Cokro duduk bersila dengan mulut komat-kamit.
Dari pintu rumah, tiba-tiba muncul sosok kuntilanak yang di panggil tadi. Tak menunggu waktu lama, Mbah Cokro menggerakkan tangan nya dan memaksa kuntilanak itu untuk masuk.
Angin bertiup kencang menerbangkan semua sesajen dan mejanya. Terbukanya batu hitam tersebut menimbulkan kekacauan di rumah Mbah Cokro. Namun, sosok wanita itu berhasil masuk ke dalam rumahnya. Untuk selanjutnya, batu hitam itu kembali menutup.
"Ini,,kalau kau ingin membawanya pulang".
"Tak usah Mbah, biar di simpan disini saja".
"Aku pulang dulu, takut orang rumah khawatir".
Mbah Cokro mengantar bapak sampai ke pintu, masih dengan memegang cincin yang sudah di isi oleh kuntilanak. Dia lalu meletak kan nya di dalam wadah, bersama koleksi cincin nya yang lain.Satu lagi masalah sudah teratasi. Mbah Cokro bisa bernafas lega.
...****************...
__ADS_1