Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Melarikan Diri.


__ADS_3

Nisa dan Roy masih bingung memikirkan perkataan Luis. Di tengah banyak nya pengawal, mereka harus membawa lari tuan muda itu. Bukan kah kehidupan di sini sudah sangat menyenangkan. Lalu kenapa dia merasa tidak betah.


"Percayalah padaku,, aku tidak cocok berada di sini".


"Kita bertemu di bandara nanti malam".


"Setelah sampai di Indonesia, aku akan menginap di rumah Roy dulu".


"Baru setelah itu, aku akan cari tempat sendiri".


"Baiklah Luis, kami bersedia menolong mu".


"Sudah kuduga kalian pasti orang baik, terima kasih banyak".


"Kita berangkat nanti malam dengan penerbangan terakhir".


"Iya,, kami sudah mengerti".


"Baiklah kalau begitu,,, hanya itu yang ingin ku sampaikan".


"Kita ketemu lagi nanti di bandara".


Nisa dan Roy keluar dari ruangan dan langsung menuju hotel. Rencananya untuk tinggal sehari lagi, urung di lakukan karena mereka mempunyai misi membawa kabur Luis dari Inggris.


Keduanya lalu membereskan barang-barang mereka dan masukkan nya ke koper. Keberangkatan kali ini mungkin akan beresiko bagi keselamatan Nisa dan Roy. Tapi nyatanya, rasa kemanusiaan mereka lebih besar. Entah apa masalahnya, yang jelas mereka akan menolong Luis terlebih dahulu.


"Jadi dia benar Alan yang kita kenal??".


"Tapi kenapa bisa jadi seperti ini".


"Aku masih belum tahu Roy,, aku juga belum lama mengenalnya".


"Nanti setelah di Jakarta saja baru kita cari tahu apa yang terjadi sebenarnya".


"Untuk saat ini, yang terpenting membawa Alan pergi dari sini dulu".


"Iya,, kau benar Nisa,, aku setuju dengan pendapat mu".


Luis sudah menyelesaikan laporan nya hari itu, dia lalu segera meninggalkan kantor. Asisten dan para pengawal mengikuti di belakangnya.


"Aku bisa pulang sendiri, lagipula aku harus segera berkemas, Francis memintaku menyusul ke Indonesia".


"Tapi tuan muda, nona bilang anda harus tetap berada di rumah".


"Apa kau berani melawan Francis,, aku bisa saja melaporkan mu padanya".


"Kau bisa jadi santapan singa nanti kalau kakak ku sampai marah".


"Kau tahu kan, acara kali ini sangat penting".


"Francis sudah menunggu ku malam ini".

__ADS_1


"Kau siapkan saja mobil untuk mengantar ku ke bandara".


"Aku harus cepat-cepat, sebelum acara di sana di mulai".


"Baik tuan muda".


"Apa perlu saya bertanya pada nona dulu??".


"Silahkan kalau kau mau cari mati".


Pengawal itu terdiam seketika. Dia hanya konsentrasi menyetir saja. Mendengar ancaman dari Luis, nyalinya seketika menciut. Teringat bagaimana akhir hidup para pemuda yang kerap kali di bawanya sebagai persembahan. Tubuh mereka berakhir di kandang singa atau buaya peliharaan keluarga Luis.


Asisten itulah orang yang kerap kali membereskan para korban setelah dihisap jiwanya. Tentu saja dia tak ingin bernasib sama dengan mereka. Jadi lebih baik dia menuruti perkataan Luis. Atau dia sendiri yang nantinya malah menjadi korban.


"Aku mandi dulu, setelah itu antar aku ke bandara".


"Sejak tadi Francis sudah menelpon ku untuk segera datang".


"Kau suruh orang untuk membereskan pakaian ku".


"Baik tuan muda".


Asisten tersebut menuruti perkataan Luis. Dia


menyuruh asisten rumah tangga menyiapkan


baju tuan mudanya. Setelah itu memasukkan nya ke dalam mobil. Asisten tersebut menyiapkan dokumen keberangkatan Luis beserta tiket pesawatnya. Setelah memastikan semua persiapan selesai sempurna, baru dia menunggu Luis di teras depan.


"Baik tuan muda,, silahkan".


Sepanjang perjalanan Luis terus mengawasi asisten nya. Dia berdoa supaya Francis tidak menelpon nya sebelum dirinya naik ke pesawat. Kalau sampai hal itu terjadi, Luis tentu saja gagal melarikan diri ke Indonesia.


Mobil nya tiba di bandara tepat waktu. Luis tetap bersikap tenang supaya asisten kakaknya itu tidak curiga. Dia menunggu di lobby bandara, sementara mereka mengurus dokumen.


Luis melihat kedatangan Nisa dan Roy. Dia memberi isyarat supaya mereka menjauhi dirinya. Roy dan Nisa langsung mengurus dokumen keberangkatan mereka berdua.


"Silahkan tuan muda,, anda bisa naik sekarang".


" Setengah jam lagi pesawat anda berangkat".


"Semoga selamat sampai tujuan".


"Dan sampaikan salam saya untuk nona muda, tuan dan nyonya".


"Baiklah,, terima kasih banyak,, ini sedikit tips untuk mu".


"Hasil kerja mu kali ini sangat bagus".


"Tolong kau urus rumah selagi kami sekeluarga pergi".


"Baik tuan muda,,".

__ADS_1


Luis bergegas menyusul Nisa dan Roy. Setelah di lorong menuju pesawat, Luis bertukar kursi penumpang dengan orang yang telah di bayar nya. Dia sekarang satu kabin dengan Nisa dan Roy dengan menggunakan identitas orang Indonesia tersebut.


"Akhirnya,, sebentar lagi aku terbebas dari rumah neraka itu".


"Begitu kita turun, aku akan langsung pergi dari bandara".


"Nanti ku beritahu di mana kalian harus menjemput ku".


"Baiklah Luis,, terserah kau saja".


"Yang penting kita terbang dulu".


Di Indonesia sendiri, kebetulan keluarga iblis itu baru menyiapkan barang-barang untuk ritual. Bulan purnama hampir tiba, itu artinya sang iblis akan segera mengambil persembahan perawan dari para pengikutnya, yaitu para anggota keluarga Wibisana.


Mereka seharusnya sudah meninggal lama, namun karena bersekutu dengan iblis dan menjadi budaknya, maka mereka mendapatkan keabadian dan awet muda.


Masing-masing anggota keluarga Wibisana tinggal di ruangan yang di tutupi oleh lukisan. Mereka bergiliran keluar dari rumah, sehingga orang tidak curiga. Hanya kedua asisten di rumahnya yang mengetahui hal yang sebenarnya.


Mereka setia dan patuh kepada tuan nya. Pun ketika Alan menolak minum darah keabadian, sehingga harus mendapat hukuman dari iblis,


suami istri itulah yang selalu menunggui nya di rumah sakit.


Mereka saksi hidup, betapa kejamnya para anggota keluarga Wibisana memperlakukan


manusia yang dijadikan tumbal atau persembahan. Setelah peristiwa mengerikan itu, asisten nya lah yang selalu membereskan


kekacauan dari para majikan nya.


"Kalian sudah menyiapkan gadis itu kan??".


"Sebentar lagi aku akan membuka pintunya".


"Bawa dia masuk ke dalam, yang lain sudah menunggu di sana".


"Kali ini di ruangan sebelah mana nona??".


"Lukisan Mawar merah itu,, milik generasi ketiga Wibisana, kita semua akan berkumpul di sana".


"Baik nona,, akan segera saya lakukan".


Dengan di bantu suaminya, Lasmi mengangkat seorang gadis yang masih pingsan. Kali ini dia menculik gadis itu saat dia tengah bermain di pinggir jalan raya.


Lasmi meletakkan tubuhnya di tempat persembahan. Dia lalu keluar dan menutup pintunya. Lasmi dan suaminya menjauh dari tempat pemujaan. Bisa dipastikan apa yang akan mereka lakukan pada gadis belia tersebut. Teriakan ketakutan dan lolongan kesakitan akan memenuhi ruang persembahan.


Lasmi sebenarnya sudah ingin berhenti. Sejak peristiwa yang menimpa Alan, dia tidak kuat terus-menerus melayani pemuja iblis. Namun, bila dia pergi dari rumah tersebut, bisa di pastikan nyawa nya dan suaminya otomatis akan langsung melayang tanpa sebab.


Sering kali mereka mendapat tawaran untuk bergabung menjadi pengikut majikan nya. Tapi Lasmi dan suaminya tetap bersikeras menolak. Di waktu bulan purnama seperti ini, batin nya pasti menangis, tiap kali mencari gadis untuk dijadikan persembahan. Tapi mereka berdua tak punya pilihan lain.


Keduanya secara tidak langsung sudah ikut terlibat kejahatan. Lasmi berharap di usia tuanya, dia dan suaminya bisa terlepas dari belenggu kejahatan di rumah majikan nya. Mereka ingin tobat suatu saat nanti, jika ada kesempatan melarikan diri.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2