
Alan mendekati tubuh Nisa yang terbaring di sofa. Sejenak di usapnya pipi dan bibirnya. Detik berikutnya, Alan sudah mendaratkan ciuman lembut di kening wanita malang itu. Hampir dua jam Nisa tak henti berteriak, menangis dan memaki, hingga akhirnya dia lelah dan tertidur sendiri. Bekas buliran bening di pelupuk mata Nisa di usapnya, sebelum akhirnya Alan menggotong tubuhnya dan memindahkan ke ranjang kamar hotel.
Alan bisa saja menggunakan kesempatan selagi Nisa tertidur. Sudah lama sekali dia merindukan bisa menyentuh tubuh istri kesayangan nya tersebut.Kerap kali dirinya hanya bisa memandang Nisa dari jauh. Dan sekarang, Nisa bahkan sudah ada di hadapan nya. Namun,hal itu urung Alan lakukan. Dia masih menghormati ibu dari kedua putrinya tersebut.
Alan keluar dari kamar Nisa. Tubuhnya di sandarkan di sofa ruang tamu. Tak mungkin baginya meninggalkan Nisa seorang diri dalam situasi seperti ini. Kondisi mental Nisa sedang tidak stabil akibat tekanan dari wanita yang merebut Roy. Dia bisa melakukan hal-hal yang nekat. Makanya Alan berusaha untuk tetap terjaga menunggu Nisa.
"Seharusnya kau tak mengalami hal ini, Nisa", batin Alan di dalam hatinya. "Tunggu sampai kau benar-benar mengingat diri ku. Aku tak akan membiarkan hati mu tersakiti lagi. Tinggal menunggu waktu, dan kita akan kembali berbahagia sebagai satu keluarga yang utuh. Kau akan melupakan Roy, segera....dan akan ku pastikan kalau kalian akan kembali jadi milik ku", lanjut Alan dengan bergumam lirih. Bagaimanapun dia berusaha menahan rasa kantuk nya, nyatanya Alan akhirnya menyusul Nisa ke alam mimpi. Membayangkan hal indah yang sebentar lagi akan terwujud.
Keesokan pagi nya, Nisa terbangun lebih dulu. Dia keluar kamar dan mendapati Alan sedang tertidur nyenyak di atas sofa. Semalam Nisa ingat betul kalau perlakuan dan sikap Alan persis sama dengan Dito suaminya dulu. Nisa mengamati wajah Alan dari dekat selagi dia masih tertidur.
Di tatapnya intens wajah tampan itu dengan jarak dekat, hingga saat Alan menggerakkan tangan nya, tubuh Nisa terjatuh menimpa Alan. Alan kaget dan membuka matanya seketika. Nafas Nisa begitu hangat menerpa wajahnya. Sementara tangan Alan merangkul leher Nisa supaya tidak terjatuh. Untuk sesaat keduanya salah tingkah, detik berikutnya Alan berusaha bangkit dan melepaskan tangan nya dari tubuh Nisa.
"Maafkan saya bu Nisa, saya tak tahu kalau itu anda", ucap Alan sambil berusaha menguasai diri. Dia sudah duduk di samping Nisa yang masih kelihatan sedikit kaget. "Itu Alan....tadi ada nyamuk di pipi mu, jadi......maksudku aku ingin...", jawab Nisa dengan terbata-bata. Mukanya merah merona menahan malu karena hampir berciuman dengan Alan. "Ingin membunuh nyamuk itu kan bu,, iya...memang nyamuknya banyak sekali, semalam pun saya kurang nyenyak tidur. Terima kasih bu Nisa,, e...saya ke kamar mandi dulu", sambung Alan sambil berdiri dan langsung melangkah ke kamar mandi.
Nisa menghela nafas panjang. Sungguh peristiwa yang memalukan, pagi-pagi dirinya hampir berciuman dengan karyawan Roy. Itulah akibat nya kalau Nisa penasaran.Malah ujungnya berakhir dengan menahan malu. Nisa pun masuk kembali ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah terlihat rapi, Nisa baru keluar kamar. Alan pun rupanya juga sudah mandi dan berganti pakaian.Melihat Nisa, Alan langsung memanggilnya agar mendekat.
__ADS_1
"Bu, sebaiknya kita pulang dulu ke kampung. Sudah saatnya bagi bu Nisa meminta bantuan mbah Cokro dan bapak. Pak Roy sudah terjebak di rumah itu. Mustahil kalau dia dalam keadaan sadar. Sudah pasti iblis itu menghipnotis pak Roy", ujar Roy mengutarakan pendapatnya.
"Kau benar Alan,, salahku juga tidak mendengar kata-kata bapak waktu itu. Kami nekat pergi ke kota, dan kau lihat sekarang, dia berhasil mengambil Roy dari sisi ku", jawab Nisa lirih.
Alan menatap mata bening Nisa yang mulai berkaca-kaca. Kepedihan merayap di batin nya. Tempatnya di hati Nisa sudah tergantikan oleh pria lain. Akan sangat sulit baginya meraih hati Nisa kembali. Alan mengangsurkan sapu tangan miliknya kepada Nisa. "Silahkan bu,,,jangan terlalu bersedih. Saya yakin kalau masalah ini pasti akan segera selesai. Sebaiknya saya antar ibu pulang sekarang", lanjut Alan sambil berdiri, bersiap keluar kamar hotel dengan membawa koper milik Nisa.
Nisa menyeka air matanya, kemudian berdiri menyusul Alan yang sudah bersiap di depan pintu. Hari ini mereka akan kembali ke kampung dulu. Akan lebih baik meminta bantuan bapak dan mbah Cokro untuk bisa membawa pulang Roy.
Sebelum keluar dari hotel, keduanya menyempatkan diri sarapan di lobbi. Nisa tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi iblis yang mengambil Roy. Dia terlalu kuat di lawan oleh Nisa sendirian. Mau tak mau Nisa harus menerima kenyataan pahit kalau kekuatan nya kali ini sungguh tidak berguna sama sekali.
"Alan,, apa kau pernah mengenal Dito sebelum nya?", selidik Nisa masih dengan tatapan investigasi nya. Alan menoleh dan menjawab dengan santai pancingan dari Nisa. "Barangkali bu Nisa lupa kalau saya ini adik angkat dari mas Dito", lanjut Dito dengan ekspresi datar.Dia masih menatap Nisa untuk melihat ekspresi wajahnya.
Nisa menelisik lebih dalam. Di tatap nya lekat wajah Alan sambil berusaha mengurai ingatan nya kembali. Samar-samar banyak bayangan berkelebat di dalam benak nya.
"Maaf Alan,, ingatan ku belum sepenuhnya kembali, jadi banyak hal yang masih samar di dalam otak ku", lanjutnya pasrah.
__ADS_1
Alan mengerti benar situasi yang di hadapi oleh Nisa saat ini. Dia pun tersenyum dan menunjukkan simpatinya. Lagi pula tidak baik kalau memaksa Nisa mengingat peristiwa masa lalu yang belum kembali ke memori sepenuhnya.
"Kita hampir sampai bu Nisa, mau langsung pulang atau ke rumah mbah Cokro", tanya Alan membuyarkan lamunan Nisa.
"Kita pulang dulu saja Alan, aku capek sekali saat ini. Nanti aku akan pergi ke rumah mbah Cokro bersama bapak saja", sambung Nisa kemudian.
"Baik bu Nisa", jawab Alan cepat.
Alan pun mengarahkan mobil memasuki pelataran rumah nya. Keadaan rumah tampak sepi. Mungkin anak-anak masih sekolah. Keduanya segera turun dari dalam mobil. Tak berapa lama, terlihat bapak dan ibu membuka pintu dan keluar menyambut kedatangan Nisa.
Dari raut wajah Nisa, bapak tahu kalau putrinya sedang tidak baik-baik saja.
"Masuk dulu nduk, kalian pasti capek bukan?", tanya bapak sambil merebut koper Nisa untuk di bawakan masuk ke dalam. Tak banyak kata terucap dari mulut putrinya. Ketidakhadiran Roy cukup bagi bapak mengetahui segalanya.
...****************...
__ADS_1