Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Sisi Lain Roy.


__ADS_3

"Bagaimana Mbah, apa benar ada sesuatu di sana, seperti yang di ceritakan anak-anak?".


"Kau benar sekali Roy, dan nenek ini tinggal di sini".


"Kekuatan nya sangat besar, tetapi bisa di kendalikan oleh seseorang".


"Kalau tidak, dia mungkin sudah mencelakai kalian".


"Mengingat ini adalah wilayah kekuasaan nya".


"Maksud Mbah, kekuatan siapa yang mengendalikan nya?".


"Aku belum tahu, tapi itu bukan berasal dari Nisa ataupun putri mu".


"Lalu siapa Mbah, apa mungkin pemilik rumah ini sebelumnya?".


"Entah lah.....yang jelas,,,sosok ini hanya mau


menurut padanya saja".


"Dia bahkan tak mau pergi saat tadi Mbah mengusirnya".


"Nampaknya, dia sudah nyaman berada di dekat rumah ini Roy".


"Tapi anak-anak terganggu dengan ulah nya Mbah".


"Aku tak suka setiap kali Sheila cerita kalau nenek-nenek itu hendak mengajak mereka pergi".


"Mbah tahu,,, akan aku usahakan untuk memindahkan nya".


"Semoga saja dia bersedia".


"Kita masuk dulu Mbah, Nisa sudah bikinkan minum untuk mbah Cokro dan bapak".


Mbah Cokro dan bapak masuk ke dalam rumah. Kebetulan memang rumah masih sepi, Roy sengaja melakukan nya supaya orang rumah tidak panik. Memanfaatkan waktu Bu Sri ke pasar dan anak-anak sekolah.


"Ayo....silahkan Mbah,, gimana kabar bapak dan ibu?".


"Kami sehat Nis, ku lihat kau juga demikian".


"Iya pak, hanya mas Roy cemas setiap kali anak-anak bilang ada nenek-nenek yang selalu mengawasi mereka".


"Heran nya, Nisa justru tak pernah melihatnya pak".


"Tapi, Alan yang baru datang justru bisa melihat keberadaan nya".


"Alan siapa maksud mu??".


"Alan yang dulu, kakaknya meninggal di kampung kita Mbah".


"Oh.....bisa jadi dia yang membawanya".


"Tidak mungkin Mbah, Alan baru datang pagi ini, dan anak-anak sudah ribut sejak lama".


"Lalu siapa yang mengendalikan makhluk ini?".


Mbah Cokro mencoba berfikir keras. Nenek ini tadinya sangat jahat. Dia bahkan bisa dengan mudah menghabisi manusia. Mbah Cokro sudah sering menemui yang sejenis ini. Tapi, disini dia sama sekali tak mau menyentuh putri Nisa. Bahkan selalu terus mengawasi mereka. Semacam sosok pelindung bagi kedua putri Nisa ini.

__ADS_1


Inilah yang membuat Mbah Cokro penasaran. Kekuatan sebesar apa yang mampu mengendalikan makhluk halus ini. Bahkan bukan hanya si nenek ini saja. Di sekitar tempat ini, banyak sekali sosok berkeliaran. Namun, semuanya seolah tak bisa menembus pagar pelindung yang sengaja di pasang di rumah ini.


Itulah mengapa di rumah ini selalu tenteram.


Sheila yang semula di ikuti gadis kecil, dia hanya bisa memandang dari kejauhan. Semua seolah tak bisa menembus pagar pelindung di rumah ini.


Benarkah hanya sekedar keberuntungan. Atau kah justru ada yang sengaja memanfaatkan hal ini untuk kepentingan pribadinya semata.


Mbah Cokro berulang kali memikirkan segala kemungkinan. Dia tak kunjung memperoleh jawaban nya.


"Siapa lagi yang tinggal di sini selain kalian?".


"Ada Bu Sri dan Paijo, mereka sudah tinggal lama di sini Mbah".


"Aku menyuruh mereka berdua menunggu rumah ini".


"Orang itu sangat setia pada keluarga kami sejak dulu".


"Itulah makanya aku juga percaya pada mereka".


"Aku mengerti Roy".


"Tak ada yang perlu kau khawatirkan, semua baik-baik saja di rumah ini".


"Jangan cemas, putri ku tidak akan kenapa-napa".


"Sebaiknya aku pamit sekarang,, biar aku pelajari ini dulu di rumah".


"Baik Mbah".


"Nisa, siap kan baju ku, aku mandi dulu".


"Baik mas".


Roy sudah bersiap berangkat. Sementara Nisa menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Hari ini kau jemput anak-anak saja, tak usah ikut ke kantor".


"Biar aku saja yang bekerja, kau di rumah menjaga si kembar".


"Tapi mas, aku bisa bosan nanti kalau hanya berdiam diri di rumah saja".


"Tak apa, sudah cukup kau bekerja, sekarang ada aku, tugas mu hanya melayani kami saja".


"Istirahat lah Nisa, biar suami mu yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan mu".


"Ya sudah mas, kalau itu memang keputusan mu".


Dari arah luar, Sri datang membawa belanjaan dari pasar. Paijo membantunya membawa barang.


"Lo....pak Roy dan Bu Nisa masih belum berangkat to?".


"Iya Bu, sebentar lagi".


"Banyak sekali belanjaan Bu Sri, untuk apa ini semua".


"Ini untuk selamatan to Bu, setiap 35 hari sekali rumah ini membuat selamatan seperti ini".

__ADS_1


"Nasi, dibagi-bagikan ke warga sama sekalian sedekah Bu".


"Saya baru tahu Bu Sri membuat seperti ini".


"Ibunya pak Roy yang selalu mengingatkan untuk melakukan ini Bu".


"Benar begitu mas??".


"Kenapa kau tak bilang, aku kan bisa menambah uang belanja Bu Sri".


"Aku sudah berikan pada Bu Sri langsung Nisa".


"Kalau tidak, mama bisa mengamuk".


"Oh.....begitu,, baiklah.....aku jadi bisa membantu kerjaan Bu Sri".


Nisa mengantar Roy ke depan. Dia langsung ke kantor begitu selesai sarapan. Rupanya banyak yang tidak di ketahui nya dari Roy dan keluarganya. Hanya sekali saja mereka pernah bertemu di Jakarta setelah keduanya menikah. Selebihnya, Nisa tidak pernah tahu ataupun mengenal keluarga Roy tersebut. Mungkin saja mereka tak merestui Roy menikah dengan nya yang hanya seorang janda.


Nisa menuju ke dapur untuk membantu Bu Sri. Kesempatan bagi Nisa untuk bertanya tentang keluarga Roy, terutama ibu mertuanya.


"Ibu sudah lama ikut dengan keluarga Roy?".


"Sudah Bu Nisa, bahkan bisa di bilang saya yang mengasuh pak Roy selama ini".


"Begitu,,, saya malah belum mengenal dekat dengan mereka".


"Bu Sri mungkin mendengar cerita pernikahan kami bagaimana".


"Mungkin mama nya Roy tidak merestui saya jadi menantunya".


"Bukan begitu Bu Nisa, hanya momen nya belum pas bagi kalian untuk bertemu".


"Kalau waktunya tiba nanti, Bu Nisa pasti bisa bertemu dengan nyonya".


"Mereka orang baik, sama seperti mas Roy".


"Tak lama lagi kalian pasti segera bisa bertemu".


Nisa mendengarkan dengan seksama kata-kata dari Bu Sri. Orang tua ini rupanya punya tempat penting di keluarga Roy. Pantas saja Nisa melihat aura yang agak berbeda sejak pertama kali bertemu Bu Sri dan Paijo.


"Sudah waktunya anak-anak pulang Bu Nisa".


"Biar saya suruh suami saya untuk menjemput mereka".


"Jangan Bu Sri, tadi Roy sudah berpesan agar saya sendiri yang menjemput mereka".


"Biar saya berangkat sekarang".


"Baiklah Bu Nisa, hati-hati di jalan".


Nisa langsung meluncur ke sekolah si kembar. Dia berusaha melakukan semua tugasnya seperti yang di katakan Roy pagi tadi. Sampai di sekolah si kembar, anak-anak sudah menunggu di depan gerbang sekolah.


Nisa langsung saja menghampiri kedua putri nya. Mereka berteriak kegirangan karena Nisa sendiri yang menjemput mereka di sekolah.


Sheila bahkan berlari menyongsong mamanya. Nisa menggandeng tangan kedua putrinya masuk ke dalam mobil.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2