
Keadaan di rumah Nisa di lihat dari mata batin, sungguh sangat memprihatinkan. Berbagai makhluk gaib berkumpul di sana, seolah Nisa mengundang mereka untuk masuk ke rumahnya. Tak heran kalau bapak marah ketika mengetahuinya. Di tambah kondisi Nisa yang sekarang sudah tidak peka dan sama sekali tidak bisa melihat, otomatis mereka betah berlama-lama di sana.
Mungkin memang dulu leluhur Nisa juga pemuja pesugihan, jadi sangat mudah bagi iblis untuk membujuk Nisa, di saat kondisi jiwanya sedang labil. Untung lah bapak mengetahui hal ini di waktu yang tepat, sehingga dia bisa memutuskan untuk melakukan langkah selanjutnya terhadap Nisa.
Sofia dan ibu juga kedua putri kembar Nisa sudah siap untuk berangkat. Mereka menunggu Roy yang sedang mengambil pakaian nya. Saat duduk di sofa ruang tamu, terlihat Sheina tertawa riang seorang diri. Rupanya, ada makhluk tak kasat mata yang mengajaknya bermain bersama.
Bapak dan Sofia mengawasi dari kejauhan. Mereka akan bertindak kalau kiranya, makhluk tersebut mengganggu Sheina. Dari dalam kamar, Nisa menyeret tas nya. Sikapnya tiba-tiba berubah menjadi tidak ramah. Dia keberatan kalau harus pergi dari rumahnya.
"Kenapa sih pak, kita harus kembali ke Yogya lagi??".
"Aku bisa mengurus kedua anak ku, kalau bapak dan ibu mau pulang, ya tinggal pulang sendiri saja to".
"Nisa,,,,,nduk...omongan apa itu, kamu Ndak sopan bilang begitu sama ibu dan bapak".
"Lah.....bapak juga yang salah to Bu!!".
"Sudah Bu, jangan memperpanjang masalah".
"Itu Roy sudah datang, ayo cepat....kita segera berangkat".
Semua orang sudah keluar dan naik ke dalam mobil, tetapi Nisa masih tetap terdiam di dalam rumah. Saat hendak berdiri tadi, dia seperti mendengar suara bisikan halus di telinganya.
"Nisa.........jangan pergi.........".
"Tetaplah di rumah ini Nisa...........jangan pernah melangkah keluar............jangan pergi!!".
Bapak menghampiri Nisa dan segera menyeret tangan nya memasuki mobil.
"Jangan hiraukan apapun nduk,, hanya turuti kata-kata bapak".
"Rumah mu bukan di sini,, tapi di Yogya bersama ibu dan bapak".
"Ayo,,, kita segera pulang Nisa".
Bisikan itu terus terdengar di telinga Nisa. Suara nya halus membujuk hati Nisa agar tidak pergi. Nisa sempatkan menoleh ke belakang. Tampak sosok Satria berdiri di depan pintu rumah nya dengan raut wajah sedih. Dia seperti memohon kepada Nisa untuk tidak pergi.
"Kamu lihat apa to nduk??".
"Sudah to,, jangan mikir apa-apa lagi".
"Itu memang bukan rumah mu, kita pulang ke Yogya dulu".
__ADS_1
Nisa tak menjawab omongan bapak. Dia tampak menunduk dengan raut wajah sedih.
Mobil mereka meluncur cepat menuju ke bandara. Nisa masih tetap diam, tak bersuara sedikit pun. Seolah Nisa bukan dirinya. Dia seperti orang lain.
Tak berapa lama, rombongan itu akhirnya tiba di bandara. Mereka naik pesawat penerbangan malam hari. Penerbangan yang singkat, 1jam kemudian Nisa dan keluarganya sudah tiba kembali di Yogya.
"Ini sudah terlalu malam pak,, bagaimana kalau kita menginap di hotel saja".
"Besok pagi baru kita meneruskan perjalanan".
"Lagipula, si kembar juga sudah tertidur,
kasihan sekali mereka kalau harus jalan jauh lagi".
"Ya sudah,, bapak ikut saja".
"Besok pagi baru kita pulang".
Akhirnya malam itu rombongan Nisa menginap di hotel. Roy menggendong Sheina di pundaknya, sementara Sheila di dorong oleh Sofia. Nisa masih tetap tanpa ekspresi, seperti orang bingung. Ibu harus menggandeng tangan nya supaya Nisa bisa ikut ke kamar.
Roy menyewa dua kamar dengan double bed.
"Bapak dan Roy dalam satu kamar, sementara yang lain nya di kamar yang satunya. Sebelum berangkat tidur, bapak berpesan pada Sofia untuk menjaga Nisa, supaya tidak keluar dan kabur. Roy mengambil alih menjaga Sheina yang sudah tertidur.
"Ini berarti sekali Roy".
"Tak perlu sungkan pak,, aku hanya membantu sebisaku saja".
"Banyak sekali kejadian buruk yang menimpanya sejak Dito pergi".
"Kau benar Roy,, dan aku harus menuntaskan semuanya".
"Untuk sementara, biar Nisa tinggal di Yogya dulu saja".
"Sampai jiwa dan mentalnya pulih seperti sedia kala".
"Ya pak,, saya juga setuju".
Kedua orang itu akhirnya tertidur di kamarnya. Sementara Nisa sendiri merasa gelisah. Ada perasaan cemas dan tidak suka ketika dirinya tiba di Yogya. Padahal ini adalah kampung halaman nya. Biasanya juga dia selalu rindu untuk pulang. Namun kali ini , semacam ada bisikan yang menyuruhnya pergi dari kota tersebut.
"Bu, tidurlah dulu, besok pagi baru kita pulang".
__ADS_1
"Sofia,,aku tidak ingin pulang".
"Aku tidak suka di sini".
"Tidurlah Bu,, kita bicara lagi besok pagi.
Sofia mengunci pintu kamar supaya Nisa tidak bisa kabur. Dia merasakan memang ada sesuatu yang aneh dengan majikan nya ini. Dia seperti telah di kendalikan oleh kekuatan yang lain. Nisa tak bisa menguasai jiwanya sendiri. Dan Sofia tahu pasti kalau sosok itu sangat kejam dan mengerikan.
Pagi hari, semuanya bangun dan bersiap untuk sarapan. Sofia melihat Nisa semalaman bahkan tidak memejamkan mata sama sekali. Namun, untunglah dia tidak keluar dari kamar hotel. Hanya mondar-mandir di sekitar kamar.
Keanehan lain nya, Nisa jadi membenci bapak. Dia tak mau bicara dengan nya sama sekali.Seolah-olah bapak adalah musuhnya.
Nisa hanya mau berinteraksi dengan Sofia dan Roy.
Ketika keluar dari kamar hotel, Nisa segera menghampiri Roy yang tengah bermain dengan Sheina. Anak itu sudah terlanjur lengket dengan Roy. Nisa mendekatinya dan berbisik di telinga nya.
"Roy,, bisakah kau membawa ku pergi dari sini??".
"Orang tua itu berniat jahat padaku".
"Aku tak suka dengan nya".
"Tenang saja Nisa,, bukankah kau bersama ku".
"Kita antar mereka pulang dulu, baru setelah itu kita pergi dari sini".
"Kau serius Roy, kita hanya mengantar mereka saja kan??".
"Tentu saja,,sekalian kita liburan,, sudah lama sekali aku tidak ke Yogya".
"Aku kangen dengan suasana pantai nya".
"Jangan Roy,,, aku tak mau kita ke sana".
"Aku sangat takut Roy,, pokoknya jangan bawa aku ke sana".
"Ibu ratu di sana,, dia pasti murka aku sudah mencelakai Nisa".
Bapak mengamati tingkah laku Nisa yang tak biasa. Benar saja, saat ini putrinya sudah di kuasai oleh kekuatan jahat. Dia tahu betul kalau ratu laut kidul adalah pelindung Nisa. Makanya dia begitu ketakutan ketika hendak di bawa ke pantai selatan.
Bapak tak sabar ingin segera membawa Nisa ke tempat Mbah Cokro. Hanya orang tua itu yang bisa mengembalikan jiwa Nisa kembali ke raganya. Sekaligus memutus ikatan antara dirinya dan iblis yang bersemayam di tubuh nya.
__ADS_1
Setelah sarapan, Roy menyewa mobil hotel untuk melanjutkan perjalanan ke kampung Nisa. Terbayang di benaknya, hal mistis yang akan sering di jumpai nya nanti, saat sudah menginjakkan kaki di sekitar hutan larangan.
...****************...