Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Mulai terbuka


__ADS_3

Nisa dan Roy masih sibuk memasukkan kunci pagar ke dalam gemboknya, ketika tetangga sebelah menepuk pundak Roy.Dia mengira kalau mereka hendak bertamu ke rumah tersebut.


"Sebaiknya jangan coba-coba masuk kalau mas masih ingin selamat".


Roy menoleh seketika, di ikuti dengan tatapan Nisa yang penuh tanda tanya. Saat melihat wajah Nisa, lelaki tersebut kaget bukan main. Raut mukanya berubah menjadi ketakutan.Tanpa sadar, lelaki itu berlari dan berteriak histeris.


"Aneh sekali,,,memang nya muka ku kenapa mas?".


"Apa aku berubah menjadi kuntilanak sekarang?".


"Huss....jangan ngawur Nis!!!".


"Habis nya....orang itu berteriak histeris setelah melihat wajah ku".


"Ini tak berhasil juga, kita terpaksa harus memanggil tukang kunci".


"Aku setuju mas, mungkin karena sudah lama tidak di buka, jadinya kunci ini macet".


Roy mengeluarkan ponselnya dan menelpon tukang kunci terdekat. Sementara itu, sepasang mata hitam terus mengawasi keduanya dari balik jendela. Nisa yang asli sudah kembali. Dia tentu tak akan tinggal diam, apalagi membiarkan nya masuk ke dalam rumah lagi.


Roy mematikan ponselnya dengan rasa kesal. Sudah lima orang tukang kunci yang menolak datang setelah Roy menyebutkan alamat rumah nya. Dia bahkan di buat bingung dengan kejanggalan perilaku kelima tukang kunci tersebut.


"Sebaiknya kita menginap di hotel dulu Nis, tak ada yang bersedia membantu kita kali ini".


"Aneh sekali,, kenapa dengan rumah kita ini mas?".


"Aku juga tak tahu, mungkin kita bisa menemukan jawaban nya di kantor polisi".


"Terakhir kali kita pergi, ada seorang penjaga yang bertugas di sini bukan?".


"Sebaiknya kita kesana sekarang, mereka harus menjelaskan perkembangan kasus kita ini".


"Iya......kita kesana saja sekarang".


Nisa dan Roy bergegas masuk ke dalam mobil. Mereka menuju kantor polisi yang berada tidak jauh dari rumahnya. Keduanya di terima oleh komandan polisi sendiri di ruang tamu, setibanya Nisa dan Roy di kantor polisi.


Sikap komandan kali ini terasa sangat aneh. Dia tidak mau bersalaman dengan Nisa dan terkesan menjaga jarak. Raut wajahnya pun kelihatan seperti orang yang ketakutan.


"Pak Roy,, senang sekali anda kesini setelah beberapa lama tidak kelihatan".


"Iya pak, saya dan istri lama tinggal di kampung".


"Oh...begitu, tapi....beberapa kali bu Nisa datang kemari sendirian bukan?".


"Beliau juga sudah mencabut laporan dan menyuruh kami menghentikan penyelidikan, setelah salah seorang anggota kami tewas di rumah kalian".

__ADS_1


Roy memandang wajah Nisa yang kelihatan sama terkejutnya dengan penuturan komandan tersebut. Dia tak pernah melakukan hal yang di sebutkan oleh nya sama sekali.


"Tunggu pak,, setahu saya....Nisa tidak pernah pergi kemanapun selama sebulan ini".


"Kebetulan mertua kami tidak mengijinkan keluar rumah, jadi mana mungkin Nisa bisa kemari".


"Saya punya semua bukti nya pak Roy, bahkan rekaman cctv di kantor kami juga masih tersimpan".


"Pak,,,boleh saya melihatnya, mustahil kalau sebulan ini saya beberapa kali datang kemari".


"Tentu saja bu Nisa, mari saya tunjukkan, tapi tolong jaga jarak anda".


Nisa mengikuti komandan ke ruang cctv. Langkahnya jauh di belakang keduanya. Entah kenapa komandan itu tak nyaman dengan kehadiran Nisa. Jadi, Nisa terpaksa jalan di belakang sendiri.


Di ruang monitor cctv, terjawab sudah tanda tanya di benak Nisa dan Roy. Perempuan yang berulang kali terlihat di layar memang lah Nisa. Pun yang mengancam petugas polisi di rumah sakit, semuanya adalah Nisa. Aneh sekali, sementara dirinya berada di kampung bersama Roy. Mana mungkin Nisa bisa berubah menjadi dua, dalam waktu yang bersamaan.


"Kalian lihat sendiri kan, bu Nisa yang sudah melakukan semuanya".


"Termasuk menyebabkan petugas kepolisian bunuh diri karena intimidasi dari bu Nisa".


"Tunggu pak,,,itu memang saya.....tapi saya berani bersumpah kalau selamaa sebulan ini saya tidak keluar rumah sama sekali".


"Saya bisa buktikan ucapan saya tersebut".


"Apa anda punya saudara kembar bu Nisa??".


"Tidak pak, saya anak tunggal".


"Kalau ibu dan pak Roy di kampung, lalu siapa yang menempati rumah kalian??".


"Selama ini saya lihat bu Nisa tinggal di sana".


"Bahkan orang tua pak Roy juga ikut serta".


Nisa mulai paham alur cerita dari komandan polisi tersebut. Ada seseorang yang menyerupai diri nya dan melakukan hal-hal buruk pada orang-orang di sekitarnya. Dia bahkan secara tidak sengaja menghilangkan nyawa seorang petugas polisi.


"Sampai saat ini, tidak ada yang berani masuk ke rumah kalian".


"Orang yang berani masuk, bisa di pastikan tidak akan keluar hidup-hidup".


"Itu mungkin sebab nya, kenapa kalian tidak bisa membuka pintu gerbang".


"Saya saran kan bu Nisa kembali saja, kalau tidak..nyawa kalian berdua dalam bahaya".


Nisa dan Roy keluar dari kantor polisi setelah mendengar penjelasan dan melihat bukti-bukti tentang perilaku perempuan yang mirip dengan nya. Bagaimanapun juga, Nisa harus membersihkan namanya yang sudah terlanjur jelek di mata orang-orang.

__ADS_1


"Kita tak bisa tinggal diam mas, aku harus menemukan wanita itu segera".


"Berani sekali dia menggunakan wajah dan tubuhku untuk berbuat jahat".


"Aku sungguh tidak terima dengan hal ini mas!!".


"Tenang Nisa,, lawan kita kali ini bukan orang yang sembarangan".


"Lebih baik kita ke hotel, untuk sementara kita bisa memikirkan langkah selanjutnya".


Keduanya pun masuk ke dalam mobil menuju hotel terdekat. Keduanya terasa lemas mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi selama mereka ada di kampung. Kali ini Roy harus berhati-hati dalam mengambil langkah.


Wanita yang ada di rumah nya, bukan wanita biasa.


Roy teringat dengan telepon dari ibunya. Keluarganya tinggal di rumah nya sekarang. Dan mereka mungkin mengira kalau wanita yang bersama nya adalah Nisa menantunya.


Roy menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dia mengambil ponsel di saku celananya. Sesaat kemudian Roy menekan nomer telepon ibunya.


Dia menunggu beberapa lama hingga ibunya menjawab panggilan nya.


"Halo bu, ini aku Roy...aku ingin bicara penting dengan ibu".


"Sayang,,,apa kau tidak merindukan Nisa mu ini??".


"Sekian lama aku menunggu mu kembali ke rumah ini".


"Segeralah datang Roy,, aku sudah merindukan mu".


"Halo....tunggu..jangan tutup telepon nya".


"Kurang ajar!!".


"Kenapa mas,, ada apa dengan ibu??".


"Bukan ibu Nisa,,wanita itu yang menjawab nya".


"Suara nya persis sekali dengan mu".


"Dia bilang kalau dia merindukan ku".


"Wanita itu sudah tahu kalau kita datang kemari".


Roy kembali melajukan mobil nya menuju hotel. Dia masih penasaran dengan suara di telpon tadi. Suara nya sama persis dengan suara Nisa. Roy jadi mencemaskan keluarganya sekarang. Khawatir kalau Nisa palsu tersebut menyakiti orang tua dan saudaranya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2