
Malam merambat naik, menggantikan semburat warna jingga langit senja, beralih menjadi pekatnya malam. Nisa dan Roy baru saja memeriksa anak-anak. Memastikan bahwa mereka baik-baik saja. Bapak masih belum pulang dari rumah Mbah Cokro. Suasana malam yang mencekam, membuat Nisa melangkahkan kaki nya menyusul Roy ke kamar.
"Anak-anak sudah tidur, sayang??".
"Belum,,mereka masih bermain dengan Sofia".
"Ibu ada bersama nya, tak perlu khawatir".
"Aku hanya cemas dengan diri ku sendiri".
"Jangan cemas, mereka tak akan bisa membawa mu".
"Tidur lah.....biar aku tunggu bapak pulang".
"Terimakasih untuk semuanya Roy".
Nisa merebahkan badan nya di atas kasur. Sementara di luar rumah, sayup-sayup terdengar lolongan anjing, membuat suasana
semakin merinding. Nisa mencoba untuk memejamkan mata, namun rasa kantuk tak juga menghampiri dirinya.
Roy berdiri di dekat jendela. Mengawasi keadaan di luar dari kejauhan. Terlihat olehnya langkah kaki bapak memasuki halaman rumah. Buru-buru Roy keluar, hendak membukakan pintu, namun ibu sudah lebih dulu melakukan nya. Akhirnya Roy kembali masuk ke dalam kamar.
"Kok sampai larut malam to pak??".
"Iya Bu,, Mbah Cokro berbicara panjang lebar tadi, khususnya tentang rumah kita".
"Lah,,,, apa masih gawat to pak, kok Mbah Cokro sampai turun tangan".
"Kita lihat saja nanti Bu,, semoga saja tidak seperti yang kita khawatirkan".
"Ya sudah....bapak istirahat dulu,, ini minumnya".
"Seharian tadi bapak pasti capek".
"Tak apa Bu, kalau demi Nisa,,bapak rela melakukan apapun".
"Apalagi cucu kita juga jadi taruhan nya".
"Tak habis-habis nya keluarga ini menerima cobaan".
"Semoga saja, ini yang terakhir kali nya pak".
"Ibu berharap setelah ini, Nisa dan keluarganya bisa hidup tenang".
Ibu masih menemani bapak di ruang tamu. Keduanya masih mengobrol sembari melepas lelah. Tak di sadari oleh penghuni rumah itu, sosok tinggi besar berbulu lebat, sedang mendekati rumah Nisa.
Setelah kedatangan dari sosok gaib di rumah nya, rumah Nisa seperti mengundang hawa mistis bagi para makhluk gaib. Mungkin saja pancaran sinar dari batu Rubi tersebut yang menjadi penyebab nya. Sinar tersebut seolah menjadi pintu gerbang masuk nya para penghuni gaib. Itulah sebabnya, Mbah Cokro perlu membuat pagar untuk menjaga rumah Nisa.
__ADS_1
Sengaja Mbah Cokro tak mengatakan hal ini terus terang kepada Nisa dan Ari. Tapi, aura batu Rubi tersebut, bisa menarik semua makhluk halus di lingkungan rumah Nisa.
Walaupun sekarang, baru itu sudah di bawa oleh Mbah Cokro ke rumah nya, tapi tetap,,tujuan mereka yang pertama adalah Nisa.
Di keheningan malam rumah bapak, terdengar suara panggilan halus dari seorang pria. Dia memanggil nama Nisa dengan lembut. Tentu saja suara panggilan itu berasal dari sosok tinggi besar berbulu yang sedang mondar-mandir di depan pagar pembatas buatan Mbah Cokro. Sosok itu tak bisa lewat, karena tiap kali dirinya melangkah, api berkobar menyala di depan nya.
"Mas,,apa kau mendengar suara orang memanggil ku?".
"Aku tak yakin Nisa, tapi memang sayup-sayup, aku bisa mendengar nya".
"Biar aku lihat, siapa yang coba mengganggu mu".
Roy beranjak ke depan jendela dan membuka tirai nya. Tak ketinggalan, Nisa pun mengekor di belakang nya. Nisa melihat sepasang mata berwarna merah, menyala di dalam kegelapan. Dirinya seperti tak asing, dengan wujud makhluk gaib tersebut.
"Kau lihat itu mas,,makhluk tinggi besar, berbulu lebat".
"Matanya menyala seperti bola api".
"Bagaimana dia bisa tahu nama ku??".
"Dia yang sedari tadi memanggil-manggil bukan?".
"Sudah,, abaikan saja Nisa, dia tak mungkin bisa masuk ke rumah ini".
"Kita kembali tidur saja, jangan kau hiraukan makhluk itu".
Genderuwo' itu berputar-putar mengelilingi rumah bapak. Berulang-ulang, dia memanggil nama Nisa, mempengaruhi pikiran nya agar mengikutinya keluar rumah.
Batu Rubi yang di peroleh nya dari rumah sang iblis, yang ternyata masih berusaha untuk mendapatkan jiwa dan raga Nisa.
Di rumah joglo yang tak sengaja di kunjungi oleh nya dan Roy. Yang di khawatirkan oleh Mbah Cokro, ingatan Nisa belum pulih benar, jadi akan sangat mudah bagi nya kembali masuk ke dunia gaib.
Beranjak malam, suasana rumah semakin sepi.Sesekali masih ada gangguan suara-suara aneh dari arah luar. Beruntung Bisa sama sekali tak terpengaruh. Meski begitu, Roy tetap berjaga di samping nya.
Tengah malam, Nisa terbangun. Di lihatnya suaminya masih terjaga di sampingnya. Sedikit banyak, Roy juga berpengalaman dalam urusan makhluk halus.
"Kau masih belum tidur dari tadi mas??".
"Aku menjaga mu dan si kembar".
"Kau tidur lah kembali, sebentar lagi pagi".
"Semoga Mbah Cokro sudah menemukan cara untuk mengusir gadis kecil itu".
"Tapi kau juga harus tidur mas, kalau tidak kau bisa sakit".
"Biar aku yang gantian berjaga".
__ADS_1
"Pak....Bu Nisa.....cepat keluar,,,Sheila tak ada di kamar nya".
Suara teriakan Sofia membangunkan seisi rumah. Roy berlari kencang ke kamar si kembar. Benar saja,, hanya ada Sheina yang masih tertidur lelap. Sementara, Sheila entah menghilang ke mana".
Bapak dan ibu segera keluar kamar saat mendengar keributan dari luar.
"Ada apa ini, kenapa kau menangis Sofia??".
"Sheila menghilang pak, tapi pintu dan jendela masih terkunci semua".
"Apa,,,,kenapa bisa jadi begini??".
"Sofia,,apa kau tak mendengar anak itu keluar?".
"Saya merasa masih memeluk mereka pak, tapi saat membuka mata, hanya ada Sheina".
"Bagaimana ini pak,, kemana kita harus mencari Sheila??".
"Tenang Nisa,, jangan panik".
"Biar bapak dan Roy yang mencari Sheila, kalian di rumah saja".
"Dan Nisa....ingat,, jangan keluar garis yang di buat Mbah Cokro!!".
"Nisa ikut pak, percuma di rumah pun Nisa pasti kepikiran".
"Sebaiknya untuk saat ini, kau jangan kemana-mana Nisa".
"Percaya padaku, aku akan membawa Sheila pulang kembali".
"Sofi,,,kau awasi Nisa, kalau terjadi sesuatu, hubungi aku secepatnya".
"Baik pak Roy".
Dengan berbekal lampu genset, bapak dan Roy keluar rumah. Menyusuri jalan setapak, sampai ke rumah pak RT. Terlebih dahulu, bapak meminta bantuan warga untuk ikut mencari cucu nya yang hilang.
Suara kentongan bersahutan di pos ronda. Tanda bunyi kentongan tersebut menandakan kalau ada salah satu warga yang hilang. Bapak-bapak lantas berkumpul di rumah pak RT, untuk membantu pencarian cucu pak Ari.
"Sebaiknya kita berpencar saja pak RT".
"Akan lebih mudah untuk mencari Sheila".
"Siapa yang menemukan nya nanti, langsung membunyikan kentongan saja".
"Baiklah pak, begitu lebih baik".
"Ayo....kita segera berangkat!!".
__ADS_1
Rombongan warga di bagi dalam beberapa kelompok. Mereka menyusuri setiap sudut kampung Larangan. Berharap, kalau gadis kecil itu segera ditemukan. Mengingat banyak peristiwa serupa terjadi, dan berakhir dengan mengenaskan.
...****************...