Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Perlawanan.


__ADS_3

"Aku yakin, mereka pasti masih ada di rumah ini".


"Alan dan wanita itu tak mungkin bisa keluar, sebelum aku menghendaki nya".


"Dia sudah berani masuk ke kediaman keluarga Wibisana".


"Jadi dia harus merasakan fasilitas yang ada di dalam rumah ini, tanpa terkecuali".


"Cari mereka sampai ketemu....!!!!!".


Francis hendak keluar dari kamar Alan, ketika sekilas dia melihat sesuatu yang aneh.


Francis mengambil selimut yang tergeletak di atas kasur. Permukaan nya tampak basah,,, dan seperti habis di pakai.


Francis memegangi selimut tersebut sambil melihat sekeliling kamar. Ruangan tampak rapi, tak ada yang terlihat aneh. Tapi Francis yakin, ada seseorang yang baru saja dari kamar Alan ini. Dan tentu saja Francis sudah bisa menebak siapa orang nya. Dia kemudian berbicara sendirian di kamar Alan.


"Adik ku,,,,aku tahu kau suka main petak umpet dengan ku waktu kecil".


"Dan,,,aku selalu berhasil menemukan persembunyian mu".


"Kalau pun sekarang, kau ingin mengulang masa kecil kita dulu".


"Aku sama sekali tak keberatan,,, silahkan kau bersembunyi di manapun di rumah ini".


"Tapi ingat,,,, di manapun kau berada,,, Fransisca mu ini, dengan mudah bisa mendapatkan diri mu".


"Jangan sampai kau menangis nanti, kalau giliran mu jaga, jauh lebih panjang waktunya".


"Dan kau akan tetap sendirian,,,tak akan bisa menemukan teman mu sama sekali".


"Waktu akan terus berlalu adik ku,,sementara


kau masih terjebak dengan permainan petak umpet mu itu".


Alan dan Nisa saling berpandangan. Fransisca seperti tahu kalau keduanya bersembunyi di kamar Alan. Wanita itu, betul-betul jelmaan iblis berbentuk manusia.


Setelah sempat mengacaukan hidup Nisa, dia menantang Alan untuk bertaruh dengan nya.


Selamanya Alan akan dijadikan penjaga, dan di tinggal oleh penghuni lainnya. Itu berarti, Alan selamanya akan berada di dalam rumah ini, dan tidak bisa lagi keluar atau bebas.


Keduanya mendengarkan dengan seksama.


Ancaman Francis terdengar tidak main-main.


Perempuan itu memang sudah benar-benar gila. Nisa bahkan sampai menutup mulutnya, agar diri nya tidak bersuara. Nisa yakin, gerakan sekecil apapun, iblis wanita itu pasti mendengarnya.


Sesaat terdengar langkah Francis menjauh dari kamar Alan. Mereka bernafas lega, dan mundur ke belakang menjauhi lubang kunci tempatnya mengintip. Alan dan Nisa berbicara dengan bahas isyarat agar tidak ada yang curiga.


Namun, tiba-tiba dari ruangan pojok, tempat


keduanya bersembunyi, terdengar suara seorang wanita menyapa keduanya. Sontak saja Nisa dan Alan menoleh bersamaan. Rupanya,,,Francis sudah duduk di belakang mereka. Alan dan Nisa bahkan tak tahu sama sekali, darimana wanita itu masuk. Yang jelas,


Fransisca tersenyum penuh misteri.


"Darimana kau masuk Francis,, bukankah tadi kau sudah keluar dari kamar??".


"Apa kataku,,,adik ku....aku pasti bisa menemukan mu".


"Jangan mengajak ku bermain petak umpet, karena kau pasti akan kalah".


"Tunggu Francis,,,,ini benar diri mu kan??".

__ADS_1


"Jangan membuat ku takut!!".


"Apa kau bisa menghilang sekarang???".


"Oh,,,,kau benar-benar.....!!!".


"Aku tak habis pikir kalau ternyata kau...".


"Hentikan berpikir,,,buka pintu nya sekarang dan ikuti aku".


"Kalian berdua harus menerima hukuman nya".


"Kalian ingin bermain bukan,,,ayo .....aku akan turuti kemauan mu".


Fransisca berdiri dan menyentuh dinding kayu yang di jadikan pintu rahasia. Otomatis pintunya terbuka, hanya dengan sentuhan jari nya saja. Francis melenggang keluar, di ikuti oleh Nisa dan Alan di belakang nya.


Di dalam kamar, dua orang pengawal, membawa Alan dan Nisa ke ruang tamu. Mereka berdua di lemparkan ke bawah lutut Fransisca. Dia menyilang kan kakinya kemudian memandangi wajah Nisa.


"Kau bisa lolos dari lorong misteri".


"Aku jadi semakin tertarik untuk memiliki mu".


"Kali ini, kita akan lihat, sejauh mana kau bisa bertahan".


"Aku yakin, para penjaga mu pasti masih bersedia melindungi mu bukan??".


"Sudah cukup Francis,, bertobatlah sekarang".


"Akhiri semua ini,,,aku yakin kau masih punya hati nurani".


"Tinggalkan iblis yang menyesatkan mu".


"Dia hanya akan memberi mu petaka".


"Mungkin, aku bisa membantu mu melawan iblis itu".


"Ssttt.....kau sudah terlalu banyak bicara".


"Kau pikir, kau bisa mengatur semua orang??".


"Kau salah Nisa,,,,benar-benar salah besar".


"Tahu apa kau tentang hidup ku, hah...!!!".


"Kau hanya terlalu banyak bicara".


"Aku tahu semuanya Francis!!".


"Meskipun kau menyangkalnya,,,aku bukan orang bodoh".


"Yang terjadi padaku, pada mu dan pada Alan


adalah kekuatan yang tak kasat mata".


"Dan semua itu di bawah kendali iblis".


"Jiwa dan raga mu sudah di kuasai sepenuhnya oleh iblis itu bukan??".


"Kau bahkan tak punya apapun sekarang".


"Aku kasihan padamu,,sungguh sangat kasihan".

__ADS_1


Fransisca berdiri dengan mata merah menyala. Dia memegang dagu Nisa. Sesaat kemudian, Francis menampar pipi Nisa dengan sangat keras.


"Diam kau, wanita sialan...!!!".


"Kau tak punya hak sama sekali untuk bicara di sini".


"Waktu kalian sudah habis, karena ocehan mu tadi".


"Sekarang,,masukkan keduanya ke ruang penyiksaan".


"Kita lihat,,apa wanita yang sok suci ini, masih punya nyali untuk membuka mulutnya".


Penjaga menghampiri Nisa dan Alan. Mereka hendak menyeret keduanya. Namun, dengan gesit, Nisa menggigit tangan penjaga tersebut, dan menendang perutnya. Dia kemudian memukul Francis dengan balok kayu. Sementara Alan masih melawan tiga orang penjaga lain nya.


Rupanya Fransisca memang wanita iblis.


Pukulan di kepalanya, sama sekali tak menimbulkan luka. Dia malah balik melawan Nisa dengan penuh kemarahan.


Nisa melawan sekuat tenaga, sambil menunggu Alan selesai menghajar satu orang penjaga yang tersisa. Setelah berhasil di robohkan,,,Nisa dan Alan saling berpegangan tangan dan kemudian berlari keluar dari rumah tersebut.


Fransisca yang tersungkur ke bawah akibat tendangan Nisa, tak bisa lagi menghalangi keduanya. Dia hanya memandang dari kejauhan dengan senyum sinis.


"Berlari lah sekencang-kencang nya".


"Jangan sampai kalian tertangkap oleh ku".


"Karena,,saat itu terjadi,,aku bukan lagi Fransisca yang sama".


"Jangan harap pengampunan lagi, saat hari itu tiba".


"Ayo,,,pergilah yang jauh".


"Selamatkan diri mu dari penguasa keluarga Wibisana".


Alan dan Nisa terus berlari meninggalkan kediaman keluarga Wibisana. Sesekali mereka menoleh, memastikan kalau tak ada penjaga yang mengejarnya. Setelah di rasa cukup jauh berlari, akhirnya keduanya berhenti sejenak untuk mengambil nafas.


"Apa kau yakin, orang-orang Fransisca tak mengejar kita??".


"Nampaknya, dia tidak mengirim manusia".


"Tapi, kita harus lebih waspada kalau yang di kirim, makhluk tak kasat mata".


"Bagaimana pun,,Fransisca itu sudah bukan manusia".


"Dia adalah jelmaan iblis itu sendiri".


"Semua yang ada di rumah itu hanyalah ilusi".


"Tunggu, sampai aku memulihkan tenaga dalam ku".


"Kita hanya harus mencari, di mana ruangan iblis itu selama ini".


"Kalau aku bisa menemukan nya, maka aku bisa menghancurkan nya".


"Kasihan Fransisca dan keluarganya selama ini".


"Mereka harus hidup di bawah kuasa iblis".


"Aku setuju dengan mu Nisa, kita pulihkan dulu fisik dan mental kita".


"Setelah itu, baru kita pikirkan langkah selanjutnya.

__ADS_1


Alan dan Nisa berdiri dari tempat nya beristirahat. Mereka kemudian meneruskan perjalanan. Pengawal Fransisca jelas tidak mengejar. Namun, baik Nisa ataupun Alan harus waspada dengan kekutan gaib yang mencoba menghabisinya.


...****************...


__ADS_2