
Luis sudah bertekad, di jamuan makan malam nanti, dia harus bisa mengirim pesan kepada Nisa. Wanita itu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Kalau perlu, bagaimana pun caranya, Luis harus keluar dari jeratan keluarga iblis tersebut. Namun Luis masih bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan Nisa. Mengingat semua tempat dan gerak-geriknya selalu di awasi.
Bersama Fransisca, Luis memasuki hotel tempat diselenggarakan acara. Beruntung kali ini dia tidak satu meja dengan orang tua nya.
Jadi dia sedikit lebih leluasa menjalan kan rencananya. Semua tamu undangan, masing-masing duduk di meja yang sudah di sediakan.
Meja Luis tepat di depan meja Nisa dan Roy.
Mereka sudah duduk, ketika Luis masuk bersama Fransisca. Luis memandang Nisa, sementara Nisa hanya mengangguk sopan. Tak berapa lama, para pelayan datang ke meja untuk menghidangkan makanan. Luis memanggil salah satu pelayan dan berbisik padanya. Dia menyerahkan secarik kertas untuk di berikan kepada Nisa.
Pelayan itu mendatangi meja Nisa dan menerima secarik kertas yang langsung digenggam nya.Penasaran membaca isinya,
Nisa lali meminta izin untuk pergi ke toilet.
Buru-buru dia masuk ke dalam toilet wanita, lalu membuka secarik kertas yang diberikan oleh pelayan tadi.Kertas itu bertuliskan kata
"Help". Berarti seseorang yang mirip Alan itu sedang dalam bahaya. Namun Nisa masih kebingungan dengan maksud dari tulisan tersebut.
Nisa membuka pintu kamar mandi dan hendak keluar, ketika sosok lelaki mendorongnya kembali ke dalam dan mengunci pintu toilet kembali.
"Lepaskan, atau aku akan berteriak".
"Jangan Nisa,,ini aku Dito".
"Bukan nya kau,,Luis.....".
"Dengar,,temui aku besok malam di dekat jembatan, sendirian,,,ada banyak hal yang ingin ku sampaikan pada mu".
Belum sempat hilang keterkejutan Nisa, Laki-laki itu membuka pintu dan keluar dari toilet.
Buru-buru dia kembali ke tempat jamuan, khawatir Francis mengetahuinya.
Nisa menunggu beberapa saat, merapikan dandanan nya kembali lalu baru bergabung ke meja makan. Dia kelihatan sangat gelisah. Kejadian di kamar mandi tadi membuatnya terlihat ketakutan.
"Kau baik-baik saja, kenapa wajah mu tegang begitu??".
"Tidak,, aku hanya merasa tidak nyaman".
"Apa kita perlu kembali ke kamar hotel??".
"Jangan,, tidak enak dengan tamu undangan yang lain".
"Ini sudah acara terakhir, besok pagi kita sudah kembali ke Jakarta".
"Apa,, besok pagi,,, kukira kita masih sehari lagi di sini".
"Itu kalau kau ingin tambahan berlibur".
"Roy,, bagaimana kalau kita di sini sehari lagi".
"Memangnya kau mau kemana??".
"Mumpung di sini, aku mau sekalian jalan-jalan".
"Baiklah,, terserah mau mu saja".
"Terima kasih Roy".
Nisa menatap wajah Luis dari meja tempatnya duduk. Raut mukanya menyiratkan kesedihan. Seakan dia dalam masalah besar. Nisa penasaran menunggu besok malam. Dia ingin tahu yang sebenarnya terjadi.
Luis dan Fransisca meninggalkan ruangan tempat jamuan makan malam. Orang tua nya
__ADS_1
mengikuti di belakangnya, disertai pengawalan yang ketat dari para bodyguard.
Semua peserta jamuan makan malam segera meninggalkan hotel. Tinggal Nisa dan Roy yang masih tinggal di sana. Nisa menghampiri salah satu penjaga yang masih tinggal di sana.
"Maaf pak, saya ada perlu dengan tuan Luis".
"Bisakah saya meminta nomor ponsel beliau?".
"Maaf nona, saya tidak bisa memberikan kontak beliau kepada sembarang orang".
"Saya bisa di hukum nona".
"Lalu, bagaimana saya bisa menghubungi nya??".
"Anda bisa membuat janji di kantor nya".
"Atau kalau tidak, anda bisa datang ke rumahnya".
"Tapi nona,, keluarga tuan Wibisana tidak akan membiarkan sembarangan orang masuk ke kediaman beliau".
"Beliau tegas dalam hal ini".
"Baik pak, terima kasih atas informasinya".
Nisa lalu mengajak Roy kembali ke kamar hotel. Mereka masuk ke kamar masing-masing. Sampai di dalam, Nisa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sofia di Jakarta.
Dia harus mastikan keberadaan Alan terlebih dulu di sana.
"Sofia,,,kau sedang tidak sibuk kan???".
"Bu Nisa,,senang sekali mendengar suara ibu".
"Anak-anak baik-baik saja kan??".
"Tidak,,,dengar Sofi,,,aku ingin minta tolong padamu".
"Tinggalkan anak-anak di play grup, dan kau pergilah ke alamat yang ku kirim padamu ini".
"Bilang pada mereka kalau kau tenang Alan".
"Tanyakan di mana Alan saat ini".
"Iya Bu,,, apa harus sekarang??".
"Iya,, aku tunggu kabar mu secepatnya".
"Baik Bu".
Nisa segera mengganti pakaian nya dan merebahkan diri di ranjang. Dia tahu kalau saat ini di Jakarta sudah pagi. Dia akan menunggu kabar dari Sofia terlebih dahulu.
Kertas pemberian Luis, dibaca Nisa berulang-ulang. Apa yang di maksud pria itu. Meminta tolong untuk hal apa, pun Nisa tidak tahu. Sepertinya dia baik-baik saja. Tapi kenapa mengirim pesan pada Nisa.
Luis dan keluarganya sudah tiba di kediaman mereka. Orang tua nya langsung masuk ke kamar mereka. Sementara Francis dan Luis masih berbincang di ruang tamu.
"Francis,,aku boleh keluar dari sini kan??".
"Apa maksud mu keluar,, kau mau kemana?".
"Tentu saja hanya jalan-jalan, dan mencari teman mungkin??".
"Aku harus mengenal kota ini kan??".
__ADS_1
"Bukankah aku akan tinggal di sini nanti".
"Oh...itu,,boleh saja.....".
"Lakukan apa yang mau kau lakukan".
"Tapi sesuaikan dulu dengan jadwal kegiatan mu di kantor".
"Pengawal akan menemani mu,, barangkali kau nanti tersesat di kota ini".
"Hmmmmm....tentu saja".
"Aku harus kembali ke apartemen".
"Aku ada janji dengan seorang teman".
"Tunggu Francis,, aku merasa tidak nyaman tinggal di sini".
"Aku pindah ke apartemen saja seperti diri mu".
"Akan lebih efisien buat ku dalam beraktifitas".
"Baiklah,, aku akan mengatur nya nanti".
"Tidur lah,, kau pasti capek bukan??".
"Besok hari pertama mu ke kantor bukan?".
"Ya,,,,aku mengerti".
Sudah hampir tengah malam. Francis sudah kembali ke apartemen dan Luis masih terjaga di kamarnya. Dia berjalan ke luar rumah untuk mencari udara segar. Saat di pos satpam, dia jadi kepikiran untuk meminjam handphone penjaga untuk menghubungi Nisa.
Dia menjalankan rencananya tersebut. Luis berharap Nisa masih terjaga. Luis menjauh ke taman yang tak terjangkau cctv. Luis menekan no kontak yang sudah di hafal nya di luar kepala.
Nisa masih belum tidur. Dia menunggu kabar dari Sofia di Jakarta. Ketika ponselnya berdering, dia cepat-cepat menjawab panggilan dari handphone nya tersebut.
"Sofia,, bagaimana...kau sudah dapat kabar dari Alan??".
"Nisa,, ini aku Alan....aku menelpon mu dengan ponsel pengawal ku".
"Memangnya kau di mana sekarang".
"Ceritanya panjang,, keluarga Alan telah mengubah ku".
"Jangan lupa temui aku besok,, di tempat yang sudah ku sebutkan".
"Tapi Alan,, ada apa sebenarnya??".
"Turuti kata-kata ku, dan jangan menghubungi ku balik".
"Biar aku saja yang memberi kabar pada mu".
Alan kaget saat menoleh ke belakang. Rupanya asisten ayahnya sudah berdiri di belakangnya. Dia memperhatikan tingkah laku Alan dengan seksama.
"Tuan muda sedang apa di sini?".
"Itu,,, aku sedang mengerjai Francis,, menakut-nakuti dia dengan telepon misterius".
"Aku sudah selesai,, dia mungkin sekarang sedang ketakutan di apartemen nya".
"Silahkan tuan muda kembali ke kamar, dan jangan pernah berkeliaran di tempat ini lagi".
__ADS_1
Alan berusaha tersenyum dan masuk ke dalam rumah di ikuti oleh asisten pribadi ayahnya. Tanpa sepatah kata pun, dia langsung masuk ke kamar dan menutup pintunya dari dalam. Sebenarnya Alan sangat ketakutan. Semoga saja asisten itu tidak melaporkan nya kepada orang tuanya.Atau Alan akan mendapat hukuman yang mengerikan.
...****************...