Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Pulang.


__ADS_3

Mobil Satria dan Sekar memasuki halaman rumah besar. Bangunan joglo berukiran jati berjejer sebagai rumah utama. Sementara di depan gapura masuk terdapat aula besar. Semacam ruangan untuk pertemuan atau perhelatan besar. Sementara di depan aula terdapat kolam ikan dan taman bunga yang di atur sedemikian rupa menjadikan pemandangan rumah nampak indah.


Satria memarkirkan mobilnya, kemudian


melenggang masuk melewati samping aula.


Di belakangnya, Nisa mengikuti langkahnya dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa kau justru di belakang, ini rumah mu kan?".


"Kita ke tempat rama dan ibu dulu, baru nanti


ke kamar mu".


"Aku sungguh-sungguh tak mengerti,,aku ikut kau saja Satria".


"Kau ini, benar-benar menyusahkan ku saja".


"Bagaiman mungkin kau lupa dengan rumah mu sendiri??".


"Kau hanya baru sehari tinggal di rumah ku kan?".


"Bisa-bisa rama mu memarahi ku nanti".


Nisa benar-benar tak bisa berpikir. Dia hanya ingat terbangun di kamarnya.Tahu-tahu, paginya sudah di rias dan di nikahkan dengan Satria di aula. Sore harinya, Nisa sudah di antar ke rumah Satria serta menjalani malam pertama di sana.


Tentang rumah orang tuanya ini, Nisa benar-benar tak tahu apa-apa. Kepalanya belum bisa mengingat kejadian yang menimpa dirinya. Dalam sekejap, dia harus bertukar peran menjadi istri pria asing yang belum Nisa ketahui latar belakangnya sama sekali.


Satria menggandeng Nisa memasuki pintu rumah joglo di depan aula. Dia mengucapkan salam, lalu mencium tangan kedua orang tua yang tengah duduk santai di sofa. Nisa mengikuti Satria, melakukan hal yang sama.


"Kalian sudah sampai,, ayo duduk dulu nak".


"Rama dan ibu, orang tua saya menghaturkan salam untuk kalian".


"Terimakasih nak,, sampaikan salam kami kembali, saat kalian pulang nanti".


"Sekar,, kemarilah nak,, ibu dan rama kangen sekali padamu".


"Padahal baru semalam kau meninggalkan kami,, tapi rumah ini rasanya sepi".


"Kau tidak menyusahkan suami mu kan nduk??".


"Tentu saja tidak Bu,, Sekar cepat menyesuaikan diri di keluarga besar kami".


"Syukurlah nak,, ibu senang mendengarnya".


"O, ya bu....saya sekalian mau berpamitan dan minta ijin membawa Sekar ke Jakarta".


"Kalian baru saja menikah, tapi kau sudah tak sabar kembali bekerja".


"Memang harus begitu kan bu, kalau tidak nanti Sekar mau di kasih makan apa??".


"Harta mu yang banyak itu, nggak bakal habis kalau cuma untuk ngasih makan Sekar".

__ADS_1


"Sudah to Bu,, mungkin Satria banyak urusan kerjaan yang tidak bisa ditinggal".


"Sana...bantu putri mu untuk bersiap".


Ibu dan Nisa berjalan menuju ke rumah joglo yang merupakan kamar Nisa. Keduanya masuk kamar dan membereskan barang-barang yang akan di bawa Nisa Pindah ke Jakarta. Dia harus otomatis mengikuti suaminya, di manapun dia pergi.


"Kenapa to nduk,, kok raut wajah mu seperti orang yang sedih gitu?".


"Kamu Ndak seneng, pergi ke Jakarta??".


"Bukan begitu Bu, cuma aku masih bingung".


"Bingung kenapa lagi to nduk??".


"Kamu harusnya senang dapat suami macam nak Satria".


"Orang nya gagah, ganteng, pinter cari duit".


"Wis to,,,Ndak usah aneh-aneh, nurut saja sama suami mu".


"Pokoknya jadi istri yang baik, jangan pernah membantah kalo sama suami mu".


"Baik Bu".


Nisa mencerna kata-kata wanita itu dengan baik. Sangat mirip dengan ibunya, ketika memberi nasehat. Tipe wanita Jawa pada umumnya yang selalu berbakti dan mengabdi pada suami.


Nisa jadi ingat dengan Dito dan kedua putrinya. Terakhir kali, Nisa menyuruh Sofia membawa mereka pulang ke Yogya. Seharusnya saat ini, Nisa satu kota, mengingat sepertinya dia juga tengah berada di Yogya.


"Kamu melamun lagi ya nduk??".


"Jangan banyak melamun to, nanti ke sambet setan, baru tahu rasa kamu".


"Eh....nggak kok Bu, ini Sekar udah selesai beres-beresnya".


"Ya udah,, biar di bawa mbok Darmi, sana kamu layani makan buat suami mu".


"Iya Bu".


Nisa beranjak menuju ke dapur. Jarak kamar nya dengan dapur lumayan jauh. Dari kejauhan, terlihat seorang wanita tua sedang mengangkat sayur yang sudah matang. Mungkin saja itu yang di maksud mbok Darmi oleh ibu.


"Den ayu,,,ada perlu apa kok pakai ke dapur segala??".


"Itu mbok, ibu menyuruh saya untuk menyiapkan makan buat mas Satria".


"Nggak papa mbok, biar sekalian saya bantu".


Mbok Darmi tidak menjawab. Dia justru menatap lekat wajah Nisa. Tak lama kemudian, seperti orang yang kesurupan, mbok Darmi memegangi lengan Nisa, dengan tatapan mata yang menakutkan.


"Jangan terlena Nisa,, jiwa-jiwa yang berkelana, pasti akan ketemu ujung pangkalnya".


"Kalau kau tersesat dalam badai, tetap jalan cah ayu, jangan lantas berhenti dan tinggal atau malah merasa nyaman".


"Jiwa yang moksa, akan segera menjelma".

__ADS_1


"Gunakan hati nurani, supaya dapat menjabarkan kandungan makna yang sejatinya sedang di cari jawab nya".


Nisa mendengarkan ucapan mbok Darmi dengan seksama. Walaupun jelas, tapi Nisa masih belum memahami perkataan nya. Ketika hendak bertanya, mbok Darmi tiba-tiba tersadar. Dia segera meminta maaf kepada Nisa.


"Maaf den ayu,, mbok nggak sengaja".


"Sebentar, biar mbok ambil piring dulu".


"Mbok Darmi baik-baik saja kan??".


"Iya, den ayu, Ndak usah khawatir sama simbok".


"Den ayu yang harus berhati-hati,, tidak semua yang ada di sekitar den ayu, adalah orang benar".


"Maksud mbok Darmi??".


"Gunakan nurani den ayu untuk memahami sekeliling".


"Den ayu pasti temukan jawaban nya".


Orang tua ini sebenarnya tahu banyak. Tapi penjelasan nya tidak disampaikan secara terbuka. Semacam ada ketakutan akan sesuatu. Nisa sama sekali tidak paham dengan peringatan mbok Darmi.


Selesai membantu menyiapkan makan siang, Nisa menuju kamar nya. Pikirnya dia bisa beristirahat sebentar, karena Satria masih bersama bapak. Namun, ketika Nisa masuk ke kamar, rupanya Satria sudah berbaring di atas tempat tidur. Senyumnya mengembang melihat kedatangan Nisa. Padahal sejak tadi, Nisa terus menjadi sasaran kejengkelan nya.


"Kemari Nisa,, kau dari mana saja??".


"Mas sudah selesai ngobrol dengan Rama??".


"Sudah dik,, mas kangen sama kamu".


"Mas,, ini kan masih siang, Ndak pantes Lo liat berduaan begini".


"Malu, kalau ibu tiba-tiba datang nanti".


"Kenapa harus malu, kita ini pengantin baru kan??".


"Ibu pasti paham dengan apa yang kita lakukan".


"Kamu itu harus nurut sama suami,, nggak boleh nolak Lo Nis".


"Semestinya kau sudah paham dengan wejangan ibu tadi kan?".


Nisa merasa aneh, ruangan sebersih ini tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat. Padahal di kamarnya masih tersimpan bunga


mawar, melati dan kantil, bekas riasan nya kemarin.


Satria melangkah mendekati Nisa. Dia seolah mengerti isi hati istrinya, karena tiba-tiba Satria memakan bunga yang tertinggal di meja riasnya. Hal itu sedikit menyamarkan bau busuk yang tadi di hidupnya.


Belum habis keheranan nya dengan perilaku suaminya itu, tubuh Nisa sudah diangkat dan di baring kan di atas ranjang. Dengan nafsu membara, lagi-lagi Satria menyetubuhi istrinya. Seolah-olah tubuh Nisa adalah candu baginya. Nisa sendiri heran dengan kepribadian dari Satria yang mudah berubah-ubah.


Saat bercinta, Satria menjadi budak yang melayani Nisa dengan sangat baik. Sementara ketika di luar kamar, Satria menjelma menjadi pribadi yang cuek dan angkuh.Seolah Satria mempunyai kepribadian ganda.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2