
Nisa dan Roy akhirnya tiba juga di laut selatan. Mereka memilih menuju parang Kusumo, pantai yang lebih sepi pengunjung.
Sebelum membuang bungkusan tersebut, keduanya harus meminta ijin terlebih dahulu dengan penguasa pantai Selatan.
Nisa di bantu juru kunci, menjalani semua ritual labuhan sesuai perintah Mbah Cokro.
Di awali dengan mandi kembang, lanjut duduk bersemedi memohon kehadiran ratu pantai selatan, kemudian baru bungkusan tersebut di hanyutkan keduanya ke laut lepas.
Saat bungkusan tersebut sampai di tengah lautan, tiba-tiba dari dasar laut muncul seorang wanita cantik jelita dengan mengenakan selendang berwarna hijau. Dia seakan menerima bungkusan tersebut dan melempar senyum kepada Nisa. Setelah itu, wanita tersebut kembali ke dasar laut, dengan membawa bungkusan yang di buang oleh Nisa. Keduanya pun segera menuju ke tepi pantai untuk berganti pakaian.
Nisa dan Roy masih duduk di tepi pantai. Mereka menghabiskan waktu sebentar untuk bersantai, setelah berbagai masalah yang silih berganti menghampiri hidup Nisa.
"Bagaimana perasaan mu sekarang Nisa,, apa jauh lebih baik??".
"Sepertinya memang begitu Roy".
"Kadang kala justru kita harus kembali pulang untuk bisa keluar dari semua kesulitan".
"Orang tua tak akan pernah meninggalkan kita, sekalipun banyak masalah yang terjadi".
"Dan sekarang, aku juga tak akan pernah meninggalkan mu, walau apapun yang terjadi".
"Terima kasih untuk semuanya Roy".
"Aku bahkan punya keinginan untuk menetap saja di sini".
"Kita bisa buka usaha baru, entah itu fashion atau kuliner, yang jelas kita tak akan kembali ke Jakarta".
"Anak-anak juga sudah nyaman di sini Nisa".
"Bapak dan Ibu juga membutuhkan kita sebagai anak-anaknya".
"Bagaimana, apa kau setuju?".
"Terserah kau saja Roy, aku istri mu sekarang, aku ikut kemanapun kau pergi".
"Kalaupun kau memilih hidup di Yogya, aku justru senang sekali Roy".
"Baiklah,, sudah di putuskan, kita akan menetap di Yogya".
"Aku akan menjual aset ku di Jakarta".
Nisa tersenyum menyambut usulan baik dari suaminya. Dia merasa beruntung, Roy sangat memahami dirinya. Mungkin karena memang sudah lama Roy mencintai Nisa. Jadi, demi kebaikan dan kesehatan Nisa, Roy bahkan rela melakukan apapun. Termasuk hidup bersama keluarga Nisa di Yogya.
Matahari sudah di atas kepala, ketika motor Roy melaju meninggalkan pantai selatan. Mereka tak sabar ingin segera sampai di rumah dan mengutarakan maksudnya kepada bapak dan ibu. Keduanya pasti senang jika
mendengar hal ini.
Bapak dan ibu tampak duduk di teras bersama si kembar, ketika motor Roy memasuki halaman rumah. Keduanya turun dan langsung mencium tangan ibu dan bapak.
"Syukurlah kalian sudah kembali".
"Bapak senang kau sekarang sudah pulih seperti sedia kala Nisa".
__ADS_1
"Ini berkat bapak dan ibu juga, Nisa bisa seperti ini".
"O..ya...pak, mas Roy ingin menyampaikan sesuatu kepada bapak dan ibu".
"Katakan Roy, ada perlu apa, kami siap mendengarkan".
"Begini pak, kami minta ijin untuk bisa tinggal dan menetap di Yogya".
"Saya akan memindahkan semua aset saya dari Jakarta ke Yogya pak".
"Saya ingin Nisa menjalani hidup tenang bersama bapak dan ibu, tanpa ada gangguan sedikit pun".
"Apa kalian serius mau tinggal di sini??".
"Iya pak, di Jakarta Nisa banyak kena masalah".
"Lebih baik hidup tenang di kampung, dekat dengan ibu dan bapak".
"Kalau itu keputusan mu Roy, bapak dan ibu senang sekali".
"Kami tak perlu khawatir lagi dengan keadaan Nisa".
"Lalu, bagaimana dengan keluarga mu??".
"Mereka pasti setuju pak, jangan khawatir".
"Dan kau sendiri Sofia,,,aku tak berhak menahan mu, kalau kau ingin kembali ke Jakarta".
"Walaupun aku berharap kau tetap disini bersama kami".
"Saya juga terlanjur nyaman di sini Bu, sudah sayang sama si kembar".
"Kalau boleh saya mau tetep ikut sama Bu Nisa".
"Tentu saja boleh Sofia, terimakasih malah, kalau kau memang ingin tinggal".
Semua anggota keluarga bergembira mendengar keputusan Roy dan Nisa. Bagi Roy yang seorang pengusaha, tidak sulit untuk mencari penghasilan di mana saja.
Hartanya pun sudah lumayan cukup untuk
menghidupi dirinya dan anak istrinya nanti.
Nisa dan Roy melanjutkan istirahatnya di dalam kamar, sementara bapak, ibu dan Sofia bermain di ruang depan. Dari kejauhan terlihat sosok tinggi besar mengintai dari balik pepohonan. Dia sudah mengenali Nisa kembali. Sosok gaib yang di bawa Nisa saat datang kemarin, sudah tak lagi terlihat.
Roy berbaring di kamarnya, sementara Nisa duduk di sebelahnya. Di pandangnya wajah Roy yang ada di depan nya.
"Kenapa kau memandang ku seperti itu??".
"Tidak,,,hanya masih tidak menyangka kalau sekarang kita sudah menikah".
"Aku masih belum tahu banyak tentang mu".
"Latar belakang keluargamu dan semuanya tentang mu".
__ADS_1
"Kalau menurutmu itu penting,,aku akan meminta keluargaku datang kemari".
"Kau sudah jadi istri ku, jadi kau juga harus mengenal mereka bukan??".
"Aku akan atur pertemuan keluarga kita nanti, biar mereka sekalian liburan di Yogya".
"Aku juga akan menggelar acara resepsi pernikahan kita nanti".
"Kemarin aku belum mempersiapkan apa-apa untuk mu Nisa".
"Mereka harus tahu kalau kau sekarang adalah istri ku".
"Aku tidak perlu hal itu Roy, yang terpenting kita sudah sah sebagai suami istri sekarang".
Roy meraih tangan Nisa dan mencium nya erat. Impian nya selama ini agar bisa bersanding dengan Nisa akhirnya terwujud juga. Terbayang masa lalu saat mereka pernah melakukan hubungan terlarang di Yogya. Kali ini Tuhan justru memberikan skenario yang indah untuk hidup Roy dan Nisa.
"Jangan sekarang mas,, aku malu, di depan ada ibu dan bapak".
"Kita kan sudah menikah Nisa, kenapa mesti malu?".
"Jangan sekarang mas,, nanti malam saja".
"Kalau begitu, aku akan beli rumah di kota".
"Agar setiap akhir pekan kita bebas bermesraan di sana".
"Kau setuju bukan ??".
"Terserah kau saja mas".
Kemesraan pengantin baru tersebut terhenti karena dering telepon yang masuk dari Anton.
Dia terkejut ketika melihat foto profil milik Roy. Dia dan Nisa memakai baju pengantin adat Jawa.
"Ada masalah apa Anton??".
"Maaf pak Roy kalau saya lancang, tapi anda dan Nisa??".
"Aku dan Nisa baru saja melangsungkan pernikahan".
"Undangan resepsinya sebentar lagi menyusul".
"Kalian siap-siap untuk berlibur di Yogya".
"Wah......selamat pak Roy, saya ikut senang mendengarnya".
"Akhirnya Nisa menerima anda menjadi suaminya".
"Baik pak, kami tunggu undangan nya".
Anton menutup telpon nya dan berjalan ke ruangan saat tak sengaja Alan mendengar semua pembicaraan Anton di telepon. Kopi yang di bawanya sampai terjatuh dan pecah cangkirnya. Badan nya seakan tak kuat menopang tubuhnya sendiri.
Apa Nisa memang belum sadar ingatan nya sehingga memutuskan untuk menikah dengan Roy. Mestinya dia ingat kalau Alan adalah Dito suaminya. Sepatutnya mereka berdua menikah sekarang, dan bukan dengan Roy.Atau memang Roy yang sengaja memanfaatkan situasi dan kondisi Nisa yang sedang tidak baik. Alan malah semakin pusing memikirkan nya.
__ADS_1
...****************...