
"Nisa......cepat kemari,,,!!!".
"Ada apa mas,, kenapa kau berteriak seperti itu".
"Lihat lah sendiri,, makhluk gaib itu sedang berada di tubuh Sheila sekarang".
"Dia bahkan sangat beringas,, aku tak sanggup memegang tubuhnya".
"Biar aku yang melakukan nya, dia tak boleh melakukan hal itu".
Nisa maju dan merebut bangkai ayam yang masih di nikmati dengan rakus oleh Sheila.
Gadis kecil itu menatap Nisa dengan penuh amarah. Tapi, ketika dirinya hendak menyerang Nisa, entah kekuatan apa yang melindungi wanita itu. Tatapan matanya, tak mampu mempengaruhi pikiran Nisa.
"Ku sarankan padamu untuk keluar dari tubuh putri ku".
"Kau belum melihat kemarahan seorang ibu bukan??".
"Jangan sampai aku melewati batas ku gadis kecil ".
"Atau kau akan merasakan akibatnya".
"Tubuh kedua putri mu adalah milik ku".
"Termasuk diri mu Nisa, sebentar lagi kalian akan ku dapatkan kembali".
"Apa maksud mu, siapa kau sebenarnya??".
"Jangan sampai kau mengganggu ketenangan keluarga ku".
"Aku tidak pernah berbuat jahat pada mu bukan??".
Sheila merentangkan tangan nya di hadapan Nisa. Seketika, angin bertiup sangat kencang. Semua benda yang ada di halaman berterbangan mengarah ke tubuh Nisa. Untung saja bapak dan Mbah Cokro tiba tepat waktu. Mbah Cokro segera mengeluarkan kekuatan nya untuk melawan sosok gaib yang ada di tubuh Sheila.
Keduanya cukup lama beradu ilmu, sampai tiba-tiba Sheila pingsan di tempatnya berdiri.
Roy sigap mengangkatnya ke dalam rumah, di ikuti oleh bapak dan Nisa. Sementara Mbah Cokro tampak memutari rumah, menaburkan pagar pelindung untuk menjaga rumah bapak agar tidak di masuki sosok gaib tadi.
Roy meletakkan tubuh Sheila di sofa. Nisa segera berusaha menyadarkan putri nya, dengan menempelkan minyak ke hidung nya. Tak berapa lama, Sheila membuka matanya. Dia melihat kedua orang tua nya ada di sampingnya.
"Sheila kenapa mama,,,perut Sheila mual sekali".
"Tak apa sayang, kau pingsan tadi".
"Sekarang kau sudah lebih baik bukan??".
Bukan nya menjawab pertanyaan Nisa, Sheila malah berlari ke kamar mandi. Dia memuntahkan semua isi perutnya. Gadis kecil itu sangat terkejut melihat apa yang baru saja di makan oleh nya.
"Mama .....Sheila kenapa??".
"Sayang,, jangan cemas,, semuanya baik-baik saja".
"Mbah kung sudah pulang sekarang, dia akan mengobati mu".
"Kamu sudah jadi monster Sheila,, tadi kau makan ayam hidup".
"Baju mu saja masih banyak darah nya".
__ADS_1
"Sheina,, jangan bicara seperti itu pada saudara mu".
"Dia bisa ketakutan nanti,, sudah...kau masuk lah ke kamar mbak Sofi".
"Sheila sayang,, ayo...
biar mama yang mengganti baju mu".
Nisa menggendong putri nya masuk ke kamar. Dia membuang baju penuh noda darah ayam yang di pakai oleh Sheila.
"Apa benar Sheila sudah jadi monster ma??".
"Tidak,, Sheina hanya bercanda, sayang".
"Mana mungkin putri mama yang cantik ini berubah jadi monster".
"Coba ceritakan pada mama, siapa yang menemui mu tadi??".
"Gadis itu mama,,dia mendekati Sheila...setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi".
"Gadis yang sama, yang merusak boneka mu??".
"Iya mama,,gadis itu....teman mama bukan??".
Nisa sudah menduga kalau ini memang ulah nya. Sebenarnya, siapa dia....untuk apa dia mengganggu kedua putri nya. Kali ini Sheila bahkan sampai seperti ini.
Nisa memanggil Sofia dan menyerahkan Sheila padanya. Dia bergegas menemui Mbah Cokro di teras depan. Di sana sudah ada Roy dan bapak. Mereka masih berbincang serius.
"Sebenarnya, siapa gadis kecil itu Mbah".
"Kenapa dia terus mengganggu kedua putri ku".
"Tiba-tiba saja dia kemari dan mengusik keluarga kami".
"Biar aku ingat kan kalau kau lupa Nisa".
"Saat kau tersesat di rumah joglo tua itu,,bukan nya kau menerima bungkusan daun jati dari seorang wanita tua??".
"Coba kau ingat kembali Nisa".
"Iya Mbah,,,tapi...rumah itu....!!".
"Bukan rumah sebenarnya,,, aku sudah tahu Nisa".
"Ini lah bungkusan yang kau terima bukan??".
"Apa kau ingat,,rumah siapa yang kau masuki?!".
"Aku seperti tak asing dengan rumah itu Mbah".
"Aku sepertinya pernah menikah dan tinggal di rumah tersebut".
"Tapi aku sudah lupa Mbah, entah itu kenyataan atau kah mimpi".
"Sudah ku duga....mulai sekarang kau harus berhati-hati Nisa".
"Yang di sana tampaknya akan kembali untuk
__ADS_1
mengambil mu".
"Walaupun kita sudah berusaha memusnahkan nya".
"Rupanya, kekuatan nya sudah bertambah sekarang".
"Untuk saat ini, aku yang akan mengurus gadis itu".
"Kalian tetap berada di lingkaran ini, jangan sampai keluar".
"Apapun yang kau lihat, jangan pernah tergoda".
"Salah-salah,,,kau bisa di bawa ke alam nya".
"Awasi istri mu Roy,,,ini akan menjadi saat yang berat".
"Aku akan mencoba mengatasinya dari rumah".
"Kalian ingat saja pesan ku, dia bisa berubah menjadi siapa saja, tapi tak bisa melewati lingkaran ini".
"Jangan sampai terpancing untuk keluar".
Mbah Cokro menghela nafas panjang. Dia keluar dari rumah Nisa. Iblis itu datang lagi. Dia tentu nya ingin membawa Nisa kembali.
Semoga kali ini semua hal bisa di atasi dengan baik. Supaya tidak ada lagi korban, terutama dari keluarga Nisa.
Nisa menarik nafas panjang. Baru saja mereka bisa hidup tenang, lagi-lagi sudah muncul gangguan dari dunia lain. Rasanya Nisa sudah capek, terus-menerus di ganggu oleh makhluk halus.
"Kapan semua ini akan selesai mas??".
"Sabar Nisa,, aku yakin kita bisa hadapi ini bersama-sama".
"Aku hanya menyusahkan mu terus mas, aku jadi merasa tidak enak".
"Kau tidak boleh bicara seperti itu sayang".
"Kau dan si kembar adalah tanggung jawab ku sekarang".
"Jadi, sudah tugas ku melindungi kalian".
"Kita masih punya Tuhan Nisa, serahkan semua pada Nya".
Roy memeluk Nisa erat. Sekedar memberinya kekuatan. Roy tahu, apa yang di hadapi mereka kali ini tidak mudah. Tapi, Roy bisa pastikan kalau ini pasti akan berlalu.
Roy masuk dan menutup pintu. Hari sudah mulai malam, dan bapak masih mengantar Mbah Cokro pulang. Di luar garis itu nanti, pasti akan banyak hal yang tak kasat mata.
"Tidur lah Nisa, aku akan tunggu sampai bapak pulang".
"Aku takut sendirian mas, kalau mereka memang berniat mengincar ku, pasti malam ini dia akan datang".
"Aku ingin kau menemani ku,, lagi pula Mbah Cokro sudah memasang pagar di sekeliling rumah bukan?".
"Kau benar,, kaita memang harus bersama".
"Agar pikiran mu tidak berada di bawah kendali mereka".
Roy dan Nisa masuk ke kamar. Sementara putrinya tidur di temani oleh Sofia. Malam yang panjang, pasti tidak mudah di lalui keduanya kali ini. Semoga saja sampai pagi tidak ada hal yang terjadi.
__ADS_1
...****************...