
Sejenak Nisa memandang ular besar berwarna putih yang ada di atas nya. Sekali patuk saja, mungkin Nisa sudah berhasil di telan mentah-mentah oleh nya. Pikiran buruknya terus saja berkelebat dalam bayangan. Nisa begitu takut berhadapan dengan sosok mistis yang tiba-tiba saja muncul begitu saja.
"Aku sudah menduga nya,,ini pasti akan terjadi".
Sontak Nisa terkejut tatkala ular itu mengeluarkan suara sambil mendesis, tepat di depan wajahnya. Ingin sekali dia berteriak, namun tangan nya berhasil menutup kedua mulutnya agar tetap terdiam. Tak berapa lama, ular itu memutari tubuh Nisa, seakan hendak membelit nya, namun rupanya dia hanya mengendus tubuhnya lalu kembali ke tempat semula.
"Cokro,,,mustahil suaminya kembali lagi padanya. Iblis itu tahu persis kelemahan perempuan ini", ujar sang ular setelah terdiam beberapa lama.
"Bukan hak ku untuk mencampuri urusan nya saat ini. Lagipula, rumah itu tidak termasuk dalam wilayah ku", sambung nya kemudian.
"Tolong lah kami Nyi, lakukan sesuatu agar suami Nisa meninggalkan iblis wanita tersebut", bujuk mbah Cokro dengan suara memohon.
"Aku bisa saja menolong, tapi akan ada nyawa yang melayang. Dan bukan hanya satu orang, tapi satu keluarga akan musnah bersama ilmu hitanm yang di miliki nya", jawab ular tersebut. Dia kemudian berkeliling sekali lagi memutari tubuh Nisa, lalu kembali berbicara pada mbah Cokro.
"Beritahu semuanya pada perempuan ini, setelah itu tinggalkan dia di sini bersama ku. Aku akan melihat seberapa besar cintanya kepada suaminya", ujar sang ular sambil keluar ruangan dan menghilang dalam sekejap.
Nisa kaget bukan kepalang.Rupanya dia itu ular jelmaan. Pantas saja kalau dirinya bisa berbicara bahasa manusia. Lalu, untuk apa bapak dan mbah Cokro membawa Nisa kepada nya, itulah yang ingin segera dicari tahu oleh Nisa sekarang.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa ini pak,, Nisa masih belum paham dengan ucapan mbah Cokro tadi", tegas Nisa. "Dengar lah dulu nduk,,hanya ini satu-satu nya cara kau bisa kembali bersama Roy seperti dulu lagi", jawab bapak kemudian. Tangan nya meraih tubuh Nisa agar mendekat ke tempat duduk mbah Cokro. Saat ini juga, lelaki tua itu akan menceritakan kejadian sebenarnya yang di alami oleh Nisa dan Roy.
"Nisa....nduk cah ayu, dengar baik-baik apa yang akan mbah ceritakan ini. Jangan menyela ataupun bertanya sebelum mbah selesai bercerita, kau paham kan cah ayu??", tegas mbah Cokro kepada Nisa dengan raut wajah yang sedikit menakutkan. Nisa hanya mengangguk patuh. Saat ini dirinya tak punya pilihan lain, selain mematuhi perintah dari bapak dan mbah Cokro. Bukan nya memang dia di bawa dengan paksaan, saat pagi tadi terbangun dari tidurnya. Maka kali ini Nisa harus menuntaskan semua nya, demi mengetahui peristiwa apa yang sebenarnya sedang di alami nya.
Mbah Cokro menarik nafas panjang. Sungguh berat kenyataan yang harus di sampaikan nya kepada Nisa. Apalagi kalau menyangkut urusan nyawa, yang jumlah nya tidak sedikit. Demi menyelamatkan seseorang, yang lain harus menjadi tumbal. Lebih tepatnya, tumbal atas keserakahan nya sendiri. Walaupun memang orang itu sudah sangat kejam menyusun rencana jahat demi memuaskan keinginan nya mendapatkan harta benda yang berlimpah.
Nisa terdiam, mencerna satu demi satu suara tegas mbah Cokro yang sedang menjelaskan dengan gamblang, siapa sosok yang tengah di hadapinya kali ini. Iblis wanita bernama Mohana, adalah peliharaan gaib turun-temurun milik keluarga Roy. Seharusnya memang sekarang, Roy adalah generasi terakhir yang berhak mewarisi sosok gaib tersebut setelah sebelumnya di miliki oleh ibu Roy.
Sayang nya, Roy menolak sejak lama kehadiran Mohana, karena Roy tak ingin hidup bergelimangan harta, tapi memuja pada sosok gaib yang kejam. Setiap bulan purnama, Mohana menginginkan tumbal, pasangan pengantin baru atau suami istri yang saling mencintai, untuk di korban kan kepadanya. Dan pemiliknya sendiri lah yang harus mengeksekusi korban-korban tersebut untuk di persembahkan kepada iblis yang di puja nya.
"Nisa,, kau adalah pasangan yang sempurna bagi Roy, untuk mewujudkan ambisi ibu mertuamu".
"Kalau kau bisa mewarisi sosok gaib mereka, kekayaan berlimpah serta kehidupan yang kekal abadi akan dengan mudah di miliki oleh ibu mertuamu".
"Itulah....mengapa mbah melarang kalian kembali ke rumah tersebut", ujar mbah Cokro dengan menghela nafas panjang. Dia baru saja menceritakan sesuatu hal yang sangat di luar nalar. Rupanya selama ini keluarga Roy sudah mengincar nya untuk di jadikan majikan bagi sosok iblis bernama Mohana. Dan bisa di pastikan kalau hal itu sampai terwujud, Nisa dan Roy akan menjadi sepasang pembunuh berdarah dingin.
Nisa tersadar kemudian setelah mendengar penjelasan dari mbah Cokro. Dia teringat nasib Roy yang kini beristrikan iblis bernama Mohana tersebut. "Lalu.....apa yang harus saya lakukan mbah, mereka sudah berhasil mengambil Roy sekarang", ujar Nisa setengah putus asa.
__ADS_1
"Itulah Nisa....satu-satu nya cara, kami meminta bantuan dari Dewi ular yang kau lihat tadi", sambung bapak menjawab keresahan di hati Nisa.
"Ini pun ada konsekuensi nya Nisa", sambung mbah Cokro kemudian. "Segala hal yang berhubungan dengan makhluk gaib, pasti menyisakan konsekuensi besar di belakang nya".
"Tergantung bagaimana keputusan mu, ketika nanti kau melakukan perjanjian dengan dewi ular". "Dia tentunya juga akan meminta pengorbanan dari mu, sesuai dengan kata-kata yang di sampaikan nya tadi bukan?". Mbah Cokro menghela nafas kembali. Panjang dan lama. Pertarungan baru saja di mulai. Dan mereka harus bersiap untuk menghadapinya.
"Mari kita pulang, pikirkan baik-baik langkah yang akan kau ambil Nisa".
"Ambil keputusan mu, dan sampaikan di malam jumat kliwon nanti, di tempat ini".
"Kau sendiri yang mengambil sikap kali ini, jangan gegabah", ujar mbah Cokro sambil melangkah keluar dari pendopo. Langkah mbah Cokro sudah semakin menjauh, sementara bapak masih menemani Nisa yang terdiam di depan pendopo. Entah kenapa tubuhnya seakan enggan bergerak.
Mengingat keputusan besar yang akan di ambil oleh nya nanti, menentukan berapa jumlah nyawa yang mungkin melayang saat dirinya mengambil Roy kembali nanti.
"Kita pulang nduk,,kau harus istirahat juga kan", ujar bapak seraya menggamit lengan putri nya. Keduanya berjalan beriringan sambil melamun. Entah apa saja yang ada di benak kedua manusia beda generasi tersebut. Yang jelas, tangan kokoh lelaki tua di sebelah nya, Nisa yakini akan selalu mendukung nya.
...****************...
__ADS_1