
Nisa mencoba mengingat-ingat jalan menuju kolam, tempat ditemukannya jenasah Amira waktu itu. Langkahnya terhenti karena ada seekor ular besar menghadang Nisa. Ular itu memakai mahkota dari batu permata berwarna ungu. Kepalanya menjulur ke depan, seukuran tubuh Nisa.
"Hei manusia,,,jangan sembarangan memasuki kerajaan ku".
Nisa kaget, rupa nya dia bisa bicara. Berarti mungkin cuma ular jadi-jadian. Nisa memasang sikap waspada.
"Raja ular,,aku mencari seseorang di sini, tolong ijinkan aku lewat".
"Tak ada satupun manusia yang bisa kembali lagi, kalau sudah memasuki kerajaan ku".
"Kenapa begitu??".
"Karena kau akan menjadi selir ku dan harus melayani kebutuhan ku".
"Berarti Amira adalah selir mu??".
"Dia hanya dayang di sini".
"Aku ingin kau menjadi ratu ku, aku akan mengabulkan semua keinginan mu kalau kau setuju".
"Maaf, aku tidak tertarik menjadi dayang, selir ataupun ratu".
"Baiklah,,,nikmati apa saja yang nanti ada di depan mu".
Ular itu menghilang seketika, meninggalkan Nisa yang keras kepala. Dia kemudian melanjutkan perjalanan nya. Masuk ke dalam hutan yang lebih lebat, Nisa tak merasa takut sedikitpun. Tujuan nya hanya mencari tahu siapa dalang dibalik tindakan berani Amira.
Nisa sudah hampir sampai di gapura, tempat kolam pemandian yang digunakan membuang jenazah Amira waktu itu. Tapi kali ini, gapura itu diselimuti kabut. Sayup-sayup terdengar suara wayang. Seperti tengah ada pagelaran wayang di sekitar hutan ini.
"Siapa yang tengah punya hajat di dalam hutan lebat seperti ini".
Belum selesai Nisa bergumam, perlahan kabut yang menutupi gapura menghilang. Tempat itu jadi sebuah kerajaan. Mereka sedang menggelar acara wayang kulit. Tempat itu penuh sesak dengan orang yang ingin menonton.
Di luar gapura, para pedagang ramai sekali menggelar lapak nya. Orang-orang hilir mudik ke sana kemari menikmati pesta rakyat. Nisa memandang wajah orang-orang di sana. Tak satupun yang dikenalnya. Dia mencoba berkomunikasi dengan warga tersebut.
"Maaf pak,, ini kampung apa ya,, sepertinya saya tersesat disini".
Mereka tetap melanjutkan kegiatan nya seolah-olah tidak melihat Nisa. Saat sedang kebingungan, seorang pemuda sangat tampan menghampiri Nisa.
"Ada yang bisa saya bantu ??".
"Syukurlah,, setidaknya ada satu orang yang perduli disini".
"Saya tersesat ke kampung ini, bisa tunjukkan jalan keluar dari sini??".
"Bisa,,, setelah kau mengikuti aturan dari kami".
__ADS_1
"Kalau tidak,, selamanya kau akan tersesat dan tak pernah kembali lagi".
"Baiklah,,, apa yang harus kulakukan".
"Kau harus menjadi sinden di pagelaran wayang kali ini".
"Saat wayang sudah usai, kau baru boleh meninggalkan kampung ini".
Menjadi sinden,,,bernyanyi lagi Jawa, Nisa belum pernah melakukan nya. Walaupun berasal dari keluarga kejawen, tapi Nisa tidak bisa nembang lagu Jawa.
"Aku belum pernah sekalipun menjadi sinden".
"Tapi baiklah....demi keluar dari sini, aku akan mencobanya".
"Kesempatan mu hanya tiga kali sorakan penonton, dan kau musnah selamanya".
"Tapi, kalau warga kampung ini menyukai mu,,,kau akan ku tunjuk kan jalan keluar".
Tak lama kemudian, Nisa dibawa oleh dua orang perempuan. Mereka mendandani Nisa dengan busana Jawa layaknya seorang sinden. Kemudian Nisa dibawa ke panggung untuk menjadi sinden.
Nisa mengingat-ingat bapak ketika dulu waktu kecil, sering nembang bersama dirinya.
Nisa kemudian mulai bersuara diiringi tabuhan gamelan. Rupanya suara Nisa sangat merdu. Mampu menyihir warga kampung yang disinggahi nya tersebut. Nisa juga tak segan untuk berdiri dan menari disela-sela acara wayang.
Kalau di alam lain Nisa sedang berjuang menjadi sinden, maka di dunia nyata, keluarganya terutama Dito sibuk mencarinya.
Nisa seolah lenyap ditelan bumi. Tak ada yang tahu keberadaan nya.
Sudah seminggu Nisa menghilang tanpa berita. Segala upaya pencarian sudah dilakukan. Terakhir, tukang ojek mengenali wajahnya. Dia mendatangi rumah Nisa untuk menyampaikan informasi kepada Dito.
"Waktu itu Bu Nisa minta berhenti di persimpangan jalan dekat hutan pak".
"Hutan yang mana, tolong kau tunjukkan tempatnya".
"Hutan tempat ditemukan mayat gadis yang di mutilasi waktu itu".
"Ya,,,saya paham sekarang,, terima kasih atas informasinya".
Dito segera bergerak. Dia mengajak Anton untuk ikut serta melakukan pencarian. Roy yang mendengar titik terang keberadaan Nisa, langsung mengerahkan bantuan untuk membantu upaya pencarian.
"Anton, tajam kan penglihatan mu, kau juga peka sama seperti Nisa kan??".
"Mungkin saat ini dia sudah menyatu dengan penghuni hutan ini".
"Sudah seminggu dia ada di sini, tanpa makan dan minum".
__ADS_1
"Semoga dia benar punya 9 nyawa, jadi kita bisa menemukannya dalam keadaan selamat".
Anton diam tak bergeming. Teriakan dari Roy mengagetkan nya. Dia ingin bergabung dengan tim pencarian.
"Aku peringatkan kalian,, ini hutan lebat".
"Jaga perilaku dan kesopanan kita saat kita sudah masuk nanti".
"Apa pun yang kita temui di dalam, selam itu bukan Nisa, abaikan saja".
"Ingat wajah teman kalian, dan selalu berkomunikasi dengan partner kalian itu".
"Kalian paham kan??".
Tim pencarian dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian dipimpin oleh Anton. Satu bagian lagi dipimpin oleh Ki Santoso.Roy bergabung bersama Ki Santoso, sementara Dito bersama Anton. Mereka mulai menyisir wilayah hutan dari arah barat dan timur.
Di perkampungan gaib, sudah menjelang dini hari. Dalang dan para penabuh gamelan serta sinden seperti tidak merasakan lelah sama sekali. Dalang memerintahkan Nisa untuk naik ke atas panggung menghibur para penonton.
Para warga meneriakkan nama Nisa. Dia lalu berdiri dan menuju panggung. Diiringi musik gamelan, Nisa sukses menyanyi tembang Jawa disertai dengan lenggak-lenggok tubuhnya mengikuti irama penabuh gamelan.
Tak terasa tubuh Nisa seperti melayang. Dia tak berhenti menari dan bernyanyi. Para penonton juga bersorak kegirangan. Nama Nisa terdengar menggema di kampung tersebut. Nisa tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri saking lelahnya.
Tim pencari Nisa sudah menjelajah separuh hutan. Namun mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Nisa. Jangan kan Nisa, satu jejak manusia pun tak ditemuinya.
"Anton,, kalau Nisa mencari arwah Amira, maka kita harus temukan kolam pemandian ditengah hutan".
"Di kolam itu tubuh Amira ditemukan".
"Tapi kau hafal jalan nya kan??".
"Iya, aku yakin sebentar lagi akan ada gapura, kolam itu ada di dalamnya.
Ki Santoso menyisir hutan bagian barat. Dia bisa melihat berbagai rupa makhluk halus di dalam hutan. Karena ilmunya tinggi, maka dari tadi tidak ada gangguan yang dirasakannya. Kebanyakan mereka hanya mengamati dan kemudian menghilang lagi.
Ki Santoso hampir sampai di lokasi pasar Bubrah. Konon perkampungan itu paling banyak meminta tumbal nyawa manusia.
Siapa yang sudah masuk ke dalam kampung, mustahil bisa pulang hidup-hidup.
Ki Santoso berhenti di sebuah pohon kembar. Di tengahnya seperti jalan masuk, tapi tertutup kabut. Orang biasa tidak mungkin bisa mengetahuinya. Jalan itu adalah pintu gerbang pembatas antara dunia gaib dan dunia nyata di hutan ini.
Mungkinkah Nisa bisa keluar lewat pintu tersebut. Ataukah selamanya Nisa akan terjebak menjadi sinden bagi penghuni kampung gaib. Apa langkah Ki Santoso selanjutnya????
Next episode ya.................!!
...****************...
__ADS_1