
Nisa masih berdiri di depan rumah. Pekat nya malam serta udara dingin masih menyelimuti tubuhnya. Entah kenapa, rasanya enggan beranjak dari situ. Sampai tangan dingin Satria, tiba-tiba memeluknya dari belakang.
Nisa berbalik,. hendak menanyakan tentang lingkungan rumah yang tiba-tiba berubah. Namun dekapan Satria menghentikan ucapan nya.Sejenak Nisa baru tersadar, semuanya sudah kembali seperti semula. Jalanan dan rumah penduduk, serta lampu penerangan ada lagi dalam sekejap mata.
"Satria, aku sungguh tak mengerti kenapa bisa seperti ini??".
"Tadi rumah kita tiba-tiba berada di tengah persawahan, kiri kanan gelap gulita".
"Kau mungkin salah lihat, buktinya di depan kita jalan raya, di sana ada pemukiman penduduk".
"Sudah,,masuk dan tidur, kau harus istirahat supaya pikiran mu tidak ngaco".
"Masuk......Sekar......!!!!!!".
Nisa terkejut mendengar bentakan dari Satria.
Kali ini suara kerasnya di ikuti dengan tatapan menyeramkan. Buru-buru Nisa masuk ke dalam kamarnya. Dia tak mau sampai Satria mengamuk.
Dari dalam kamar, Nisa masih mendengar suara pintu yang di banting dengan keras oleh Satria. Nisa buru-buru berbaring dan menutupi wajahnya dengan selimut.
Menjelang pagi, mata Nisa terbuka, sayup-sayup terdengar suara pria dan wanita sedang bercakap-cakap. Nisa menoleh,, rupanya Satria sudah tidak ada di tempat tidur. Nisa segera bangun dan menempelkan telinga nya di pintu.
"Sebentar lagi,, kita akan dapatkan jiwanya".
"Sukma nya sudah masuk dalam jebakan kita".
"Nisa akan mengikuti semua perintah dari ku".
"Aku telah mengikatnya dengan perjanjian keramat".
"Saat bangun nanti pun,, jiwanya pasti sudah jadi milikku seutuhnya".
"Namun paduka,, hamba takut kalau ternyata
teman-teman Nisa di luar sana masih berusaha mencari wanita ini".
"Tunggu sampai bulan purnama nanti Fransisca, dia akan meminum darah persembahan".
"Dan saat itu, jiwanya sudah benar-benar menyatu dengan ku".
"Hanya kejahatan yang akan di lakukan wanita ini saat sadar nanti".
"Dia akan menjadi titisan ku di dunia".
Nisa tidak begitu jelas mendengar pembicaraan mereka. Tapi, mendengar nama Fransisca, ingatan nya melayang pada sosok wanita iblis yang tengah mengincar dirinya.
Apa benar wanita iblis itu ada di tempat ini.
Rasa sakit itu datang lagi. Serangan nyeri di kepala tiap kali mencoba mengingat sesuatu.
__ADS_1
Rasa sakitnya membuat Nisa berhenti berpikir. Apa ini memang tujuan dari iblis itu, melumpuhkan memori Nisa agar dia tak ingat apa-apa lagi.
Sementara di alam arwah, Sukma Nisa menjalani peran sebagai istri dari Satria, iblis yang akan menjadikan nya sebagai titisan nya. Di dunia yang sebenarnya, Ki Santoso tengah mencoba untuk mencari keberadaan arwah Nisa.
Dia bersemedi di kamar Nisa. Mencoba terhubung dengan barang-barang pribadi milik Nisa. Dia berusaha memanggil arwah Nisa, agar bisa berkomunikasi dengan nya.
Usahanya dari tadi, sepertinya menemui jalan buntu. Tak nampak sekalipun kehadiran arwah Nisa. Ki Santoso sudah memanggilnya berulang kali, tapi sepertinya Nisa sudah tidak bisa lagi terhubung.
Alan dan Roy masih setia berada di samping Ki Santoso dalam upayanya mencari keberadaan Nisa. Sesaat kemudian, laki-laki tua itu membuka matanya.
"Sepertinya ada yang menahan arwah Nisa di suatu tempat".
"Dia ingin menghapus ingatan masa lalunya dan menciptakan sosok baru".
"Aku yakin Ki, ini pasti ulah Fransisca".
"Sejak awal, dia yang mengincar dan mencoba mencelakai nya".
"Kalau begitu, satu-satunya cara adalah menemukan tubuh Nisa secepatnya".
"Sebelum rencana mereka terwujud".
"Iblis biasanya menanti bulan purnama untuk
menambah kesaktian nya".
"Jadi, usahakan sebelum besok malam, kalian sudah bisa membawa tubuh Nisa pulang".
Alan dan Dito mengendarai mobilnya menuju rumah Wibisana. Bagi Alan mungkin memang mudah untuk melewati penjaga. Tapi dia yakin Fransisca ada di dalam rumah saat ini. Dan wanita itu sungguh sangat berbahaya.
Mereka memutar dan masuk lewat pintu belakang. Roy sudah lebih dulu menelpon Anton untuk bersiaga bersama polisi di depan. Setelah Nisa ditemukan, polisi akan langsung menangkapnya.
"Roy,, ingat..jangan lengah dan jangan melamun".
"Serta hati-hati saat memasuki ruangan".
"Semua yang ada di rumah ini adalah ilusi dan jebakan".
"Salah-salah malah kita yang tersesat di rumah ini".
"Aku tahu Alan, kau tenang saja!!".
Alan dan Roy masuk ke ruang tamu. Tak nampak kehadiran Fransisca di rumah itu. Mereka menuju ke ruang tamu. Alan melihat lukisan yang dipajang di dinding. Dia sudah belajar bahwa kalau ingin melihat ruangan apa, maka bisa mengenali lewat lukisan. Sebab, di situlah pintu masuk bagi masing-masing ruangan yang tersembunyi.
Alan masih berdiri memandangi semua lukisan di dinding, tak ada yang berubah, kecuali lukisan seorang wanita cantik dililit seekor ular. Alan tertarik untuk masuk ke sana.
"Aku rasa Fransisca menyembunyikan Nisa di ruangan itu".
"Kenapa kau begitu yakin dengan tebakan mu itu??".
__ADS_1
"Saat terakhir aku dan Nisa kemari, lukisan itu
belum ada".
"Ayo kita masuk ke sana".
Roy dan Alan mendekati lukisan gadis ular tersebut. Dia menekan tombol merah di belakang lukisan. Seketika lukisan itu bergeser dan tampaklah ruangan di dalam
nya. Dengan hati-hati Alan dan Roy memasuki ruangan yang terbuat dari kaca tersebut.
Benar saja, di tengah-tengah ruangan, nampak tubuh Nisa terbujur kaku. Masih ada infus dan peralatan medis yang terpasang.
Kedua pria itu langsung mendekat ke arah tubuh Nisa.
"Kau lihat kan,, Untung saja Fransisca masih berbaik hati merawat Nisa".
"Dia sepertinya masih belum sadar, lalu bagaimana kita membawanya??".
"Nisa tidak terluka parah, terakhir trombosit dan kadar Hb nya turun drastis".
"Kita bisa menggendongnya bergantian,, setelah sampai rumah, baru kita panggil dokter".
"Baik,, aku setuju".
Kedua pria itu lantas melepas infus dan selang oksigen dari tangan Nisa dan menggendongnya. Alan bertugas mencari jalan keluar di depan. Saat hendak keluar dari pintu, nampak Fransisca hendak naik ke atas tangga.
"Tunggu sebentar Roy, ada Fransisca di depan".
Mereka urung membuka pintu dan kembali masuk ke dalam. Setelah menunggu beberapa lama, barulah Alan dan Roy keluar membawa Nisa pergi.
Di dalam kamarnya, Fransisca melihat kedua pria tersebut dari cctv. Dia terlihat tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Kalian bisa membawanya, tapi jiwanya telah terkunci di sini".
"Lihat saja,, sebentar lagi justru Nisa yang meminta kembali ke tempat ini".
"Dia akan merasa kesakitan kalau tidak mendapat suntikan dari ku".
"Dasar,, orang-orang bodoh....!!!".
Fransisca tertawa menyeramkan, saat penjaga melapor ada penyusup memasuki rumahnya.
"Biarkan mereka pergi, tidak usah di halangi".
"Buat mereka senang dengan membawa Nisa kembali".
"Mereka akan segera mendapat kejutan yang menyenangkan".
"Aku tak sabar menantikan hal ini".
__ADS_1
Para penjaga bingung mendengar ucapan Fransisca. Namun mereka hanya terdiam dan menuruti keinginan majikan nya tersebut. Atau kalau tidak, nasib buruk akan menimpa para pengawal tersebut.
...****************...