
Nisa pikir ketenangan yang dirasakan nya hari ini akan berlangsung selamanya. Nyatanya, Nisa belum bisa bernafas lega karena liontin yang diberikan bapak justru mengundang masalah baru. Walaupun liontin itu bisa melindungi Nisa dari niat jahat makhluk halus, tapi bapak tidak cerita kalau pemilik liontin itu akan kembali diikuti oleh sosok Genderuwo dari hutan larangan.
Bapak tadinya sudah ragu-ragu untuk memberikannya. Namun, karena seringnya gangguan yang dialami Nisa di rumahnya, akhirnya bapak memberikan liontin tersebut untuk perlindungan.
Liontin itu adalah warisan dari nenek buyut Nisa. Nenek buyut memberikan nya di saat menjelang ajalnya. Pemilik liontin itu yang mengadakan perjanjian dengan Genderuwo.
Siapa pun yang memakai liontin naga itu, tidak akan diganggu oleh makhluk halus karena dijaga sepasang naga. Tapi, dia harus
rela juga untuk dikunjungi oleh Genderuwo dari hutan larangan.
Hanya dia satu-satunya makhluk halus yang
akan bersama sepasang naga itu selamanya.
Itu berarti membuka kembali janji yang sudah dikubur dalam -dalam oleh Nisa.
"Sayang,,kita sudah sampai rumah, ayo turun".
"Kepalaku pusing sekali mas,,,kau mau kan
menggendongku ke dalam rumah??".
Dito membopong Nisa ke dalam rumah mereka. Kemesraan mereka berdua diam-diam diamati oleh sosok tak kasat mata
dari pohon besar di depan rumahnya.
Sosok tersebut terus menatap Nisa penuh kerinduan.Sosok Genderuwo dari hutan larangan, kembali bisa menemukan Nisa karena liontin yang dipakainya.
Keduanya berhubungan erat, karena pemiliknya sama. Memakai liontin itu, berarti menerima perjanjian yang melekat diantara keduanya.
"Sayang,,,kau masih lapar??".
"Tidak mas,,,aku hanya ingin seperti ini saja,
dipeluk oleh mu sampai pagi".
"Semenjak hamil, kau jadi manja, jangan-jangan anak kita perempuan?".
"Memangnya kau ingin apa mas, laki-laki atau perempuan?"
"Apa saja sayang,,, yang penting sehat dan sempurna".
"Sebentar, aku bikinkan susu untukmu dulu".
"Kamu disini saja, jangan kemana-mana".
"Terima kasih mas".
"Sama- sama sayang".
Dito segera ke dapur untuk membuat susu hamil bagi Nisa. Di luar kamar tidurnya, sepasang mata merah menyala, masih tetap
mengawasinya dalam kegelapan. Dia masih diam dan mengamati Nisa, belum melakukan
__ADS_1
apa-apa. Genderuwo itu akhirnya menemukan
Nisa kembali walau di tempat yang berbeda.
"Aku seperti mencium bau singkong terbakar mas".
"Mana ada, ini kan di kota Nis,, tidak ada yang sempat membakar singkong".
"Dulu di kampung, kalau bau seperti ini berarti makhluk itu datang".
"Jangan bicara yang bukan-bukan, nanti dia beneran datang lagi".
"Ini susu nya, minum dan tidurlah, kau harus banyak istirahat".
"Tapi aku ingin kau menemaniku malam ini".
"Iya,,, aku disini sayang...".
Mereka bersiap untuk tidur. Nisa memeluk erat suaminya. Seakan malam ini ada yang mengawasi mereka. Entah hanya perasaan Nisa saja yang takut,atau memang benar ada sesuatu.
Di rumah bapak di kampung, beliau sangat gelisah memikirkan Nisa. Rasanya dia membuat kesalahan pada putrinya itu. Tapi
untuk mengambil kembali liontin itu, jelas tak mungkin. Saat ini bisa jadi, Genderuwo itu sudah menghampiri Nisa di sana. Semoga saja Nisa bisa mengatasinya.
"Ada apa pak,,, ini sudah larut malam, tapi kok masih mondar-mandir saja".
"Nggak papa Bu, bapak cuma kepikiran sama Nisa".
"Anak kita baik-baik saja, Dito sangat telaten merawat Nisa".
"Tidurlah Bu,, sebentar lagi bapak menyusul".
Ibu kemudian masuk ke kamarnya. Bapak masih saja gelisah. Besok pagi dia harus menemui Mbah Cokro untuk membicarakan masalah ini, dia belum tenang kalau ternyata Nisa tidak aman di Jakarta.
"Aku ikut denganmu ke kantor mas,,, aku ingin bertemu dengan Ratri".
"Baiklah,, kau siap-siap duluan".
Nisa masuk ke kamar mandi.Tak seperti biasanya, kali ini seperti ada yang mengikuti di belakangnya. Dia terdiam dan kemudian menoleh ke belakang, kosong, tak ada siapapun di belakangnya.
Genderuwo itu memang mengikuti Nisa di belakangnya. Tapi dia belum mau menampakkan diri. Kali ini di sudah bertambah sakti, tidak mudah dilihat oleh sembarang manusia meskipun dia mempunyai indera keenam.
Dia bisa memilih manusia yang bisa melihat wujudnya. Tak terkecuali Nisa. Dia benar-benar tak menyadari keberadaan Genderuwo itu di sekitarnya. Kali ini dia akan menggunakan cara yang berbeda untuk menarik simpati Nisa. Dia juga tidak akan menakutinya. Di depan rumah Nisa, sudah ada pohon besar untuk tempatnya tinggal.
Jadi Genderuwo itu merasa lebih nyaman.
Nisa dan Dito sudah keluar dari pintu hendak berangkat ke kantor saat pemuda itu menghampirinya.
Pemuda tampan berkulit putih, hidung mancung dengan perawakan tinggi besar. Dia sudah masuk ke dalam pagar rumah Nisa dan menyapa mereka berdua.
"Selamat pagi, mbak Nisa dan mas Dito, kenalkan saya Bayu, tetangga baru di kompleks ini".
"O...ya,,, senang berkenalan dengan anda, tampaknya anda sudah tahu nama kami".
__ADS_1
"Panggil aja Bayu mas,,, tadi pak RT mengantar saya, tapi beliau buru-buru, jadi saya disuruh melanjutkan ketempat mas Dito sendirian".
"Begitu,,, baiklah...tapi maaf saya dan istri saya harus ke kantor sekarang,, lain waktu kita ngobrol santai".
"Silahkan mas, saya juga mau ke kampus".
Nisa masih bengong memperhatikan pemuda itu yang sudah meninggalkan rumahnya. Dia terpesona sampai tak mendengar panggilan Dito.
"Sayang,,, kita jadi berangkat, atau kau mau disitu saja".
"Maaf mas,, siapa namanya tadi,,, Bayu....boleh juga dia".
"Apa maksudmu??".
"Namanya mas,,, cocok dengan wajahnya yang tampan".
"O....jadi dia tampan,,, lebih tampan mana dari suamimu ini??".
"Kau yang paling tampan mas,,, aku cuma bercanda".
"Ayo kita berangkat".
Mereka kemudian masuk mobil dan berangkat menuju ke kantor. Ratri sudah lebih dulu tiba bersama Anton. Melihat mereka berdua, timbul niat jahil pada diri Nisa.
"Aku sepertinya mencium bunga-bunga cinta disini, iya kan mas??".
"Ya,, sepertinya kalian tampak serasi jika bersama".
"Tuh....kan,,, ayo Anton, kita tunggu makan-makan nya".
"Nisa,,, sifat jahil mu kambuh lagi ya,,??".
"Baru sehari,, tapi kau sudah tak membiarkan hidupku tenang".
"Jadi kau sudah hafal sifat Nisa?".
"Ya,,, dia kan memang suka jahil seperti itu".
"Tapi serius Ratri,, kalau kau jadian dengan Anton, kau tak perlu kembali ke Surabaya".
"Anton akan memintamu tinggal lebih lama di Jakarta".
"Sayangnya aku memang harus pulang,,, aku juga punya pekerjaan di sana".
"Lagipula urusanku di Jakarta sudah selesai bukan,,, jadi aku tinggal tanda tangan dokumen terakhir nanti".
"Kau serius akan segera ke Surabaya".
"Tinggallah lebih lama lagi,, aku akan mengajakmu keliling kota Jakarta".
"Bagaimana kalau kau saja yang mengunjungi ku di Surabaya".
"Baiklah,,, bisa diatur nanti".
__ADS_1
Nisa dan Dito senyum-senyum mendengar percakapan mereka. Rupanya kedua sahabatnya ini sudah saling jatuh cinta. Nisa
ikut senang akhirnya Anton membuka diri untuk wanita lain.Mengingat dulu dia terobsesi dengan Nisa, sampai berujung di penjara.