
Nisa dan Satria keluar menuju ruang makan. Di sana semua anggota keluarga dan sanak
saudara masih berkumpul di rumah mertuanya..Malu-malu Nisa duduk di samping Satria di meja makan.
"Ayo Sekar,, layani suami mu makan".
"Kau tentunya sudah belajar kan, bagaimana caranya menghormati suami mu".
"Lain kali, kau harus bangun lebih pagi, urus suami mu dengan baik".
"Bukan malah bermalas-malasan dan bertingkah manja".
Nisa menunduk ketakutan ketika kakak dari ibu mertuanya langsung memarahinya di hari pertamanya sebagai istri Satria. Dengan cepat Nisa mengambil piring dan menyendok kan nasi serta lauk, lalu menyerahkan nya kepada suami nya.
"Bukan bermaksud untuk manja bude, mungkin istri mas Satria kecapekan di malam pertamanya".
"Bukan begitu kakak ipar??".
Nisa menoleh ke arah pintu. Terlihat oleh nya seorang gadis muda dan cantik, memakai baju kebaya modern melangkah masuk ke dalam ruang makan. Gadis itu mengepang rambutnya dengan dandanan lebih modern. Rambut hitamnya tampak indah, serasi dengan penampilan nya.
Nisa memperhatikan wajahnya. Kelihatan tak asing dan familiar di ingatan nya. Seperti pernah bertemu, tapi Nisa hanya samar-samar mengingatnya.
"Kinanti,, kamu kemana saja nduk,, kakak mu marah karena kau tak menghadiri pernikahan nya".
"Benarkah,,, apa dia bisa marah padaku??".
"Bukan kah dia sudah punya mainan baru sekarang".
Satria tetap menunduk menghabiskan sarapan nya. Sementara, gadis cantik yang di sebut Kinanti itu mendekati tempat duduk suaminya. Dia menyodorkan minum kepada Satria, tapi langsung di tolaknya.
"Nisa, ambilkan minum untuk ku".
Nisa tersentak, lalu mengambilkan minum untuk suaminya. Dia menyodorkan gelas dan langsung di minumnya.
Kinanti menimang gelas berisi minuman yang tadi di tolak oleh Satria. Tanpa di duga, Kinanti berdiri dan menjatuhkan gelasnya ke bawah. Suara gelas yang pecah dan air yang tumpah, membuat semua orang tampak kaget. Tapi, tak lama kemudian, para pelayan segera membersihkan bekasnya.
Kinanti melangkah pergi meninggalkan meja makan dan masuk ke kamarnya. Tak dipedulikan nya, tatapan keheranan dari wajah Nisa. Anehnya lagi, Satria sama sekali
tak terpengaruh. Dia tetap melanjutkan makan nya.
"Selesaikan sarapan mu, aku akan mengantar mu pulang".
"Aku sudah selesai,, kita bisa pergi sekarang".
Nisa bergegas mengikuti langkah suaminya masuk ke kamarnya. Hari ini dia harus mengikuti adat di rumah nya sekalian mengambil baju-bajunya.
__ADS_1
Saat tengah bersiap-siap, pintu kamarnya di ketuk. Nisa hendak membuka pintu, namun wajah Kinanti sudah terlihat masuk ke kamarnya. Dia mendekati Satria di ranjang dan duduk di sebelahnya.
Satria sama sekali tak mengacuhkan nya. Pandangan nya menerawang jauh, seolah enggan menatap wajah Kinanti. Di luar dugaan, Kinanti berdiri dan duduk di pangkuan Satria sambil membelai wajahnya.
"Jadi, seperti ini wajah mu kalau sedang marah??".
"Hmm...lumayan juga,, masih terlihat ganteng".
"Turun sekarang juga Kinan, kau benar-benar tak tahu malu".
Satria yang sudah memarahinya, tidak menjadikan Kinanti ketakutan. Sebaliknya, dia malah merangkul mesra leher kakaknya dan merebahkan kepalanya di pundak Satria.
"Kalau aku tidak mau, lantas kau mau apa??".
"Coba saja,,, aku ingin melihat kalau kau benar-benar sudah marah".
Dari tempatnya berdiri, Nisa bisa melihat kedekatan yang tak biasa di antara keduanya.
Keagresifan sifat gadis itu membuatnya mengingat tentang Fransisca. Gadis pemuja iblis itu. Nisa ingat betul dengan semua gerak-geriknya. Walaupun dia mengubah penampilan nya, kali ini Nisa sungguh sudah bisa mengenalinya.
Nisa masih memandangi aktivitas keduanya.
Seolah mereka tidak perduli kalau Nisa sedang berada di dekatnya. Kinan justru tersenyum, mengejek Nisa dalam rangkulan Satria.
"Kinan,, turun...kau mulai.lagi mengganggu kakak mu".
"Lihat mbak yu mu itu,, kau sama sekali tak menghormati dirinya".
"Ibu,,, aku sedang membujuk kang mas ku yang sedang marah ini".
"Kalau tidak seperti ini,, dia bisa mendiamkan Kinan selamanya".
"Dan,,, mbak Nisa....aku minta maaf karena bersikap kurang ajar di kamar mu".
"Dan mas,,, kau sudah memaafkan ku kan sekarang??".
Satria mengangguk, tapi ekspresi wajahnya masih datar. Sementara itu, ibu mertua membawa Kinanti keluar dari kamar. Nisa masih saja merasa janggal. Kemesraan mereka berdua, bukan seperti kakak dan adik.
Mungkinkah keduanya punya hubungan yang lain.
Nisa semakin bertambah bingung saja. Berbagai kejutan di suguhkan di depan nya, tanpa Nisa ketahui sama sekali. Dirinya terlempar begitu saja di keluarga yang sangat aneh ini. Tak ada orang yang bisa ditanya, atau memberitahunya tentang kejadian yang menimpa dirinya.
"Ayo,,,Nisa ....berpikirlah!!!".
"Ada apa dengan mu sebenarnya??".
__ADS_1
Nisa masih melamun sambil berpikir. Dia seolah di paksa memecahkan misteri yang menyelimuti hidupnya. Begitu sadar, Nisa sudah menjalani peran yang sama sekali asing baginya.
Hanya terkadang,, wajah-wajah yang familiar berada di sekitarnya. Dia masih bisa mengenalinya. Seperti Kinan, yang terlihat mirip sekali dengan Fransisca.
"Kenapa kau masih berdiri di situ,, kau tak ingin pulang ke rumah mu??".
"Iya,,, aku sudah siap dari tadi".
"Bagus,,,,kita berangkat sekarang".
Nisa mengikuti langkah suaminya keluar dari kamar. Mereka menaiki mobil dan berangkat ke rumah orang tua Nisa. Sebatas mata memandang, rupanya Nisa berada di wilayah pedesaan yang masih jarang penduduknya. Di kiri dan kanan jalan masih banyak sawah dan hutan.
Pantas saja kalau keluarga Satria dan Nisa masih di puja-puja seperti seorang pangeran dan putri. Nuansa mistis kental menyelimuti daerah yang di lalui nya. Di tambah lagi, belum banyak penduduk yang tinggal di sekitar daerah tersebut.
"Apa yang kau lihat di luar sana,, tutup jendelanya,,, aku tak mau ada orang yang mengenali kita".
"Lagi pula jalanan ini setiap hari kau lalui kan,, jadi kau pasti sudah hafal".
"Tapi Satria,, aku merasa belum pernah menginjak kan kaki di tempat ini".
"Ini baru pertama kali bagi ku,, jadi aku berusaha untuk mengenali jalan ini".
"Tolong jelaskan padaku, sebenarnya tempat apa ini".
"Kenapa aku bisa ada di sini??".
"Terkadang kau lucu juga".
"Mungkin belajar di kota membuat mu amnesia".
"Kampung halaman sendiri pun kau melupakan nya".
"Jangan-jangan kau juga bilang tidak mengenal ku nanti".
"Memang seperti itu kan,,, aku belum mengenal mu,, tapi tahu-tahu sudah harus menjadi istri mu".
"Sudah.....hentikan,, bercanda mu tidak lucu".
"Jangan sampai, orang tua mu mendengar ini".
"Kau bisa langsung di bunuh oleh mereka".
Nisa ingin meneruskan ucapan nya, tapi kata-kata Satria membuatnya ketakutan. Dia benar-benar tidak mengingat orang tuanya. Semua di sekitarnya masih menjadi misteri.
Pikiran nya terasa kosong. Harapan nya hanya satu, semoga ada orang yang bisa menjelaskan kepadanya. Atau otak nya bisa benar-benar gila, ketika dia tak bisa menemukan jawaban dari semua peristiwa di depan nya.
__ADS_1
Keluarga yang dia punya, hilang ketiak dia jatuh pingsan di rumah sakit. Begitu terbangun, dia sepeti sedang menjalani sandiwara. Sementara Nisa masih belum bisa menerka bagaimana ending nya.
...****************...