
Sore itu Roy mengajak Nisa membeli keperluan rumah di kota. Maklum saja, kepergian mereka ke Yogya sangat mendadak, jadi Roy tak sempat membawa banyak perlengkapan pribadi. Tadinya Roy ingin mengajak semua anggota keluarga sekalian keluar makan malam, namun bapak dan yang lain menolak ikut. Jadinya Roy hanya pergi berdua dengan Nisa.
"Nisa, mumpung kita berdua, bagaimana kalau kita ke Kaliurang sebentar".
"Memangnya kau mau apa ke sana??".
"Mengenang masa lalu kita, dulu sekali kita pernah bermalam di sana berdua".
"Benarkah,, aku kurang begitu mengingatnya".
"Kalau begitu kau setuju kan?".
"Kali ini kita sudah menikah, jadi bapak dan ibu tak akan mengkhawatirkan mu lagi".
"Terserah kau saja mas".
Roy memutar arah motornya menuju ke Kaliurang.Keduanya melewati jalan berliku dan naik turun pegunungan. Sudah hampir senja ketika motornya tiba-tiba macet di depan gapura sebuah perkampungan. Nisa membaca nama perkampungan tersebut. Desa kahyangan, tampak asing di telinga ketika membaca namanya.
Dari sejak awal tadi, perasaan Nisa memang sudah tidak enak.Perjalanan kali ini di rasa lebih lama dari biasanya. Rute yang di lewati keduanya tidak seperti jalan pada umumnya.
Sepanjang jalan sepi, tak bertemu dengan kendaraan lain satu pun. Dan akhirnya mereka tersesat di kampung kahyangan.
"Sialan....ini motor pakai mogok lagi".
"Mana nggak ada bengkel sekitar sini".
"Mas, kamu yakin ini jalan menuju ke Kaliurang".
"Aku yang asli sini aja baru melihat sekali ini daerah kahyangan ini".
"Aku juga asal ikuti jalan tadi, mana ku tahu kalau kita ternyata salah arah".
"Ya sudah, biar aku cari orang buat bertanya".
Nisa masuk ke gapura desa Kahyangan. Kabut tebal menutupi pemandangan sekitarnya. Di tambah lagi, hari memang sudah mulai malam. Jarak pandang Nisa terbatas karena minim nya penerangan.
Tiba-tiba dari arah depan muncul kakek tua dengan memakai pakaian hitam dan kepalanya mengenakan iket. Nisa tentu saja terkejut karena tak melihat kedatangan nya tadi. Tiba-tiba saja dia muncul di depan wajahnya.
"Ada perlu apa kemari nduk??".
"Ini pak, sepertinya saya nyasar kesini, dan motor saya macet".
"Apa...di sekitar sini ada bengkel motor pak??".
"Kalau bengkel nggak ada nduk, tapi kalau tukang servis motor ada".
"Ayo,,,ajak suami mu masuk, nanti saya carikan orang yang bisa benerin motor kalian".
"Baik pak, saya panggil suami saya sebentar".
__ADS_1
Nisa menghampiri Roy di tepi jalan. Dia mengajak suaminya masuk ke kampung Kahyangan. Roy menuntun motornya mengikuti langkah laki-laki paruh baya di depan nya.
"Ayo masuk dulu, ini rumah bapak".
"Kalian pasti kelelahan bukan, setelah berjalan jauh".
"Sebenarnya kami ingin ke Kaliurang pak, tapi nggak tahu kenapa nyasar sampai sini".
"Apa tempat ini masih jauh dari Kaliurang??".
"Masih lumayan jauh nak, sebaiknya kalian bermalam di sini saja".
"Besok pagi kalian baru meneruskan perjalanan".
Nisa dan Roy terpaksa menuruti permintaan pak Sigit. Rupanya dia adalah kepala dusun di tempat ini. Lagipula mereka tak akan bisa meneruskan perjalanan kalau motor nya masih macet.
Roy mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Anehnya, di kampung tersebut sama sekali tak ada sinyal. Niatnya ingin menghubungi bapak di rumah, supaya beliau tidak cemas menunggu.
"Maaf pak, di tempat ini tak ada sinyal ponsel sama sekali??".
"Memang tak ada nak, di dusun Kahyangan ini letaknya tinggi, jadi tak terjangkau sinyal ponsel".
"Listrik pun masih jarang yang punya di sini".
"Kebanyakan kami warga di sini memakai lampu lentera".
Nisa dan Roy merasa sangat aneh. Di jaman maju seperti sekarang, rupanya masih ada kampung yang terpencil seperti ini. Keduanya tak bisa membayangkan kalau hal tersebut terjadi pada mereka. Nisa jadi tertarik dengan kehidupan warga di kampung ini.
"Memang nya istri bapak kemana??".
"Di kampung ini baru ada hajatan, jadi istri saya bantu-bantu di sana".
"O, iya....saya sampai lupa, kenalkan pak, saya Nisa, dan ini suami saya Roy".
"Tidak apa-apa nduk, bapak mengerti".
Nisa mengamati sekeliling. Pantas saja kalau
kampung ini di beri nama Kahyangan. Kabut tebal yang menyelimuti seisi kampung, laksana berada di atas awan. Kampung ini juga seperti menyimpan misteri. Nisa jadi merasa penasaran.
Tak berapa lama, dari arah pintu seorang wanita paruh baya masuk ke dalam rumah. Dia tersenyum kepada Nisa dan Roy.
"Ada tamu Lo Bu,, cepat sajikan makanan".
"Kasihan mereka pasti lapar dari tadi".
"Nggak usah repot-repot Bu, kalau motornya sudah jadi, kami langsung pulang kok".
"Motornya nggak akan jadi dalam semalam".
__ADS_1
"Sana Bu, ambilkan makanan dulu".
"Memangnya rusak nya parah, atau gimana pak?".
"Yang jelas, kalian akan tinggal di sini malam ini nak Roy".
"Pesan bapak, setelah jam 8 malam nanti, kalian berdua jangan keluar dari rumah ini".
"Memangnya kenapa pak?".
"Itu pantangan nduk,harus di turuti, nggak boleh di langgar".
Nisa dan Roy saling berpandangan. Mereka tersesat di kampung terpencil, tanpa ponsel dan listrik juga tak boleh keluar rumah. Dan kedua nya harus bertahan semalaman di kampung misterius ini. Nisa tak bisa membayangkan apa dirinya akan betah.
Nisa menuruti saja perkataan pak Sigit tersebut. Mereka berdua tidur di ruangan depan dengan beralaskan tikar. Pak Sigit dan Bu Sigit juga menemani tidur bersama keduanya.
Walaupun badan nya lelah, nyatanya tak membuat Roy dan Nisa langsung tertidur. Mereka berbaring dengan mata terjaga. Di lihatnya kedua orang pemilik rumah sudah terlelap di dalam mimpi.
Dari luar rumah, sayup-sayup terdengar suara Gending gamelan. Mungkin suara itu berasal dari tetangga yang sedang menggelar hajatan. Nisa dan Roy hanya mendengarkan, tak berniat bangun apalagi keluar rumah.
"Tidur lah Nisa, aku akan berjaga di samping mu".
"Aku tak bisa tidur mas".
"Cobalah pejamkan mata, besok pagi kita pergi dari sini".
Keduanya berbicara dengan berbisik, agar tak membangunkan pemilik rumah. Nisa mencoba memejamkan mata seperti yang di katakan Roy. Malam terasa berjalan sangat lambat. Baru saja hendak terpejam, Nisa dan Roy mendengar suara gaduh macam orang di pasar.
Keduanya terbangun, mengira hari sudah pagi. Terdengar bunyi langkah kaki orang yang berlalu lalang di sekitar rumah. Ada yang berteriak menawarkan dagangan. Ada juga yang bercakap-cakap.
"Kau mau kemana Nisa??".
"Kita keluar mas, mungkin ini sudah pagi".
"Kau dengar kan, pasar nya juga sudah buka".
"Tetap di sini, jangan kemana-mana".
"Tunggu mereka berdua bangun, baru kita bisa keluar".
"Tapi mas, kau dengar kan suara di luar sana?".
"Tolong Nisa,,,turuti perkataan ku".
"Kita sedang bertamu di sini, hormati pemilik rumah ini".
"Kalau mereka tak mengijinkan kita keluar, maka kita harus menurutinya".
Kali ini Nisa mundur. Dia kembali berbaring di samping Roy. Nampaknya hanya Roy yang bisa menghentikan sifat ngeyel Nisa. Kalau biasanya, dia pasti penasaran dan langsung mengikuti kemauan hatinya. Di bawah perintah Roy, Nisa lebih penurut dan lebih sabar.
__ADS_1
...****************...