
"Nisa, kau sudah benar-benar sadar kan sekarang??".
"Ini sungguh dirimu kan??".
"Iya Roy, ini aku".
"Kurasa sudah cukup yang kita lakukan, tak perlu membinasakan mereka".
"Mereka juga makhluk ciptaan Tuhan, sama seperti kita".
"Iya,, nak Nisa benar, toh sekarang semua sudah terkendali".
"Sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini".
"Yang penting raja ular sudah tidak lagi menghuni disini".
"Jadi, sifat jahatnya tidak akan mencelakakan manusia lagi".
Roy, Nisa dan rombongan mereka segera meninggalkan hutan. Hari sudah menjelang larut malam. Mereka segera bergegas keluar dari dalam hutan.
Di rumah, Dito masih saja gelisah. Sejak tadi pagi, Nisa dan Roy belum juga kembali. Handphone Roy bahkan dimatikan, tidak bisa dihubungi. Dito khawatir terjadi sesuatu pada mereka berdua.
"Nisa, kau akan langsung pulang atau ke rumahku dulu".
"Antar aku pulang Roy, aku sudah rindu anak-anak".
"Ok,, aku akan mengantarmu".
"Roy,, aku punya permintaan, jangan katakan apapun kepada Dito nanti".
"Kejadian ini, cukup kita berdua saja yang tahu,, kau bersedia kan???".
"Baiklah kalau itu yang kau inginkan".
"Terimakasih Roy, aku tak akan pernah melupakan kebaikan mu".
Roy mengendarai mobilnya lebih cepat. Ini sudah larut malam, dia tak mau Dito berpikiran macam-macam kepadanya. Bagaimanapun Dito adalah suami Nisa. Walaupun sebenarnya Roy juga sangat mencintainya, tapi dia harus mementingkan Nisa terlebih dahulu.
Sampai di rumah Dito, Nisa segera turun dan mengetuk pintu. Lampu di ruang tamu masih menyala, itu artinya Dito masih terjaga, menunggu kehadiran nya. Dito membuka pintu dan nisa langsung memeluknya.
"Dari mana saja kalian,, Nisa... apa-apa an ini?".
"Maaf Dito, aku membawa Nisa ke rumah sakit, dia pingsan tadi, dan ponselku mati, jadi aku tak sempat menghubungi mu".
"Sekarang Nisa sudah sadar, dan aku kembalikan padamu".
"Lain kali jangan membuatku cemas seperti ini Roy, aku percaya padamu, jangan sampai kau mengecewakan ku".
"Iya,,aku tahu....lain kali Nisa pergi denganku lagi, dia sudah tahu arah jalan pulang".
"Aku permisi dulu".
Dito mengantar Roy sampai ke mobilnya, sementara Nisa masih memeluknya. Mereka menunggu sampai mobil Roy menghilang di belokan.
"Apalagi ini Nisa,, ayo lepaskan aku, cepat masuk ke dalam".
"Tapi aku merindukan mu mas,, si kembar juga, tapi mereka pasti sudah tidur sekarang".
__ADS_1
"Kau sudah sadar,, kau sudah menjadi Nisa lagi,, kau sudah tidak memanggilku om".
"Iya mas Dito,, ini aku Nisa, istrimu...ibu dari Sheina dan Sheila, aku sudah bersama kalian lagi sekarang".
"Syukurlah,,, aku senang kau pulih dengan cepat".
"Aku merindukanmu Nisa".
"Aku juga mas".
Nisa dan Dito masuk ke dalam rumah. Dito kelihatan sangat bahagia karena Nisa sudah sadar sepenuhnya.
"Katakan Nisa, bagaimana kau bisa pulih begitu cepat, padahal dokter sudah pesimis dengan keadaanmu".
"Mungkin ini keajaiban Tuhan mas, aku bisa sembuh dengan cepat".
"Mas,, aku ingin sekali ke Jogja, aku kangen dengan bapak dan ibu".
"Sudah lama kita tak mengunjunginya".
"Baiklah,, karena kau sudah sembuh, aku kabulkan permintaanmu, besok pagi kita berangkat ke Jogja".
"Sungguh mas,, terima kasih banyak, aku senang sekali kau mengabulkan permintaan ku".
"Kau mandilah dulu, biar aku siapkan makan malam untukmu".
"Sejak kapan kau menyiapkan makan sendiri mas??".
"Sejak kau memanggilku om tempo hari, karena kau berubah menjadi gadis belasan tahun lagi".
"Nisa,,, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?".
"Bawa siluman ular itu ke pantai selatan, lepaskan dia di sana, agar tidak minta tumbal manusia lagi".
"Perintah ibu ratu akan aku laksanakan".
"Besok pagi aku akan ke Jogja, dan secepatnya siluman ular ini akan aku bawa ke laut kidul".
"Bagus Nisa,,, aku senang kau menuruti perintah ku".
"Hati-hati Nisa, ini bulan Suro, bulan nya makhluk halus, mungkin akan banyak gangguan padamu selama di Jogja nanti".
"Baik ibu ratu, aku akan waspada".
Nisa segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Malam ini secara khusus ibu ratu menjumpainya. Nisa harus melaksanakan amanat darinya.Nisa kemudian makan bersama Dito.Setelahnya mereka pergi tidur.
Keesokan paginya, Nisa dan keluarganya bersiap-siap untuk berangkat ke Jogja. Berhubung mengajak si kembar, rencananya mereka akan pergi dengan pesawat. Nisa mengajak Sofia ikut serta, karena memang si kembar sudah lengket sekali dengan nya.
Mereka sudah bersiap-siap ke Bandara, ketika Roy menelpon Nisa.
"Nisa,, untuk proyek kita, klien meminta kita berangkat ke Jogja, nanti kita akan bertemu mereka di hotel Ambarukmo, bagaimana...kau sudah bisa ikut kan??".
"Kebetulan sekali Roy, aku juga akan ke Jogja untuk mengunjungi orang tua ku, ini kami sudah siap ke Bandara".
"Bagus kalau begitu, nanti kita ketemu di sana saja".
"Ok Roy,, sampai ketemu di Bandara".
__ADS_1
"Ada apa sayang,,?".
"Itu mas, klien ku dan Roy mengajak kami ketemuan di Jogja".
"Mereka sedang liburan di sana".
"Tadinya aku sudah menyuruh Anton, tapi karena tempat meeting diubah, sekalian saja aku mudik, sekalian kerja".
"Jadi Roy juga berangkat hari ini??".
"Iya mas,, ayo kita segera berangkat".
Nisa dan Dito sampai di Bandara bersamaan dengan Roy. Mereka segera check in dan bersiap terbang.Penerbangan Jogja-Jakarta hanya sekitar 1jam.Jadi mereka tiba di Bandara Yogya masih pagi.
"Kalian juga menginap di Ambarukmo hotel kan??".
"Aku ke rumah orang tua ku saja Roy, nanti kalau waktunya kerja, kau bisa menelpon ku".
"Kalau begitu, aku sekalian saja mengantar kalian, aku juga ingin bersilaturahmi dengan orang tua Nisa".
"Baiklah,, ayo kita segera berangkat".
Rombongan tersebut kemudian segera menuju kampung halaman Nisa. Butuh waktu sekitar 2 jam dari bandara Yogya. Bapak dan ibu sangat terkejut melihat kedatangan anak dan cucunya.
"Kenapa kalian tidak bilang kalau mau kemari??".
"Ini dadakan Bu, lagipula Nisa sekalian kerja".
"Ayo-ayo.....silahkan masuk,, sini biar Sheila ibu yang gendong".
"Kalau begitu bapak juga gendong Sheina Bu".
"Ayo Nis,,diajak masuk tamu kita".
"Sofia, Roy,, ayo masuk....inilah kampung Nisa".
"Wah,,, suasana disini masih asri, kamu pasti betah tinggal disini Nis".
"Udaranya masih sejuk Roy, beda dengan di Jakarta".
"Inilah yang selalu aku rindukan dari kampung halaman ku".
"Bu Nisa, kok sepertinya tempatnya serem ya, dekat hutan lagi".
"Iya Sofia, kalau kamu keberatan tinggal disini, kau menginap saja dengan pak Roy di hotel".
"Kau boleh menikmati liburanmu, biar aku dan mas Dito yang urus kembar".
"Iya Bu, Sofi ke hotel saja, takut kalau tidur di sini".
"Ya sudah,, nanti kamu bareng pak Roy saja".
"Iya Bu".
Suasana hutan di belakang rumah Nisa memang terkesan menyeramkan bagi yang baru pertama melihat. Hutan lebat dengan sungai ditengah hutan dan pepohonan yang rimbun. Serta rumah yang jauh dari kota. Ditambah lagi sambutan dari sepasang mata merah menyala yang sejak tadi memperhatikan aktivitas dirumah Nisa tersebut. Genderuwo hutan larangan, yang setiap bulan suro selalu keluar untuk mencari mangsa. Nisa bahkan belum menyadari keberadaan nya yang tengah mengintip dari balik pohon bambu di depan rumah.
...****************...
__ADS_1