
"Katakan siapa kau sebenarnya??".
"Ini rumahku,,, aku pemiliknya,, siapapun tak ada yang boleh masuk ke wilayah ku".
"Kau sudah berbeda alam, ini rumah Rudi dan Yeni, pergilah dari sini dan jangan ganggu mereka".
"Aku tidak mau".
Rupanya Rudi dirasuki nenek tua penjaga rumah. Dia tertawa mendengar perintah kyai Ahmad. Beliau lalu memejamkan mata dan
khusyuk membaca doa.
Dalam sekejap Rudi kegerahan dan tidak tahan.Kyai Ahmad semakin kencang membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Dalam hitungan menit Rudi sudah pingsan. Nenek tua itu kemudian menghadapi kyai Ahmad dengan beragam serangan. Beliau tetap tenang membaca dan sesekali mengibaskan surban nya.
Nenek tua itu merasa kepayahan menghadapi
kyai Ahmad. Segala macam serangan sudah dilakukan , tapi beliau tetap khusyuk membaca dan tak terpengaruh sama sekali.
Terakhir dia melemparkan tasbih nya dan langsung masuk ke tubuh si nenek tua.
Dia merasa seperti terbakar dan tak bisa bergerak. Dia memohon ampun pada kyai Ahmad untuk melepaskannya. Kyai Ahmad masih terus membaca, dan tiba-tiba sosok
nenek itu lenyap bersamaan dengan keluarnya asap dari dalam tasbih yang terjatuh.
Kyai Ahmad memungut tasbih nya dan mengalungkan nya kembali di tangan nya.
Rudi yang sudah sadar begitu terkejut melihat
aksi kyai Ahmad. Dia selama ini tidak sadar kalau rumahnya berpenghuni.
Ratri dan Anton kemudian menunjukkan ruangan di halaman belakang. Kyai Ahmad memandangi sekilas, beliau menggelengkan kepalanya melihat penampakan di dalam ruangan.
"Tolong siapkan 7 ember air dan taruh daun Bidara ini masing-masing 7 helai di setiap ember nya".
Anton dan Rudi lalu menyiapkan air yang diinginkan oleh kyai Ahmad.
"Sekarang, buka pintu ruangan itu, biarkan siluman itu keluar dan menghadapi ku".
Anton membuka pintu ruangan.Siluman kera itu menggeram keras kepada kyai Ahmad.
Dalam perutnya, beliau bisa melihat arwah para gadis berteriak minta tolong untuk dibebaskan.
Kyai Ahmad maju menghadapi siluman kera itu.Tasbihnya dia keluarkan sambil membaca
doa. Siluman itu marah karena merasa terusik. Dia kemudian menyerang kyai Ahmad dengan bola api yang beterbangan.
Ayat-ayat suci yang dilantunkan nya mampu membuatnya kebal, sama sekali tidak tersentuh serangan bola api tersebut. Bahkan
satu-persatu arwah para gadis itu menghilang
__ADS_1
tidak lagi menderita di dalam perut si kera.
Kera siluman itu semakin marah, korban yang sudah dikumpulkannya akhirnya hilang semua. Dari dalam tangannya keluar potongan pisau tajam untuk menyerang sang kyai. Beliau tetap kukuh tidak bisa disakiti.
Lama kelamaan kera itu merasakan panas di sekujur tubuhnya. Kyai Ahmad lalu mengalungkan sorbannya ke arah wajah si kera. Seketika itu juga wajahnya langsung terbakar. Yang tinggal hanya tubuhnya menggapai ke udara untuk meminta pertolongan.
Ki Santoso dan Anton tidak tinggal diam, trisula milik Ki Santoso segera diarahkan ke perut kera tersebut. Sedangkan Anton mengeluarkan keris andalannya. Terkena dua benda sakti dan bacaan ayat-ayat suci, seketika tubuhnya menghilang, berubah menjadi serpihan debu.
Mereka semua bernafas lega. Siluman kera yang mendiami rumah Yeni sudah musnah.
Selanjutnya kyai Ahmad membuka aura rumah yang tertutup oleh kabut hitam.Tanh kuburan di depan rumahnya diambil dan disimpan olehnya.
Sekarang suasana rumah Rudi jadi kelihatan lebih terang dan nyaman. Segala ilmu hitam yang digunakan Kuntilanak itu untuk tipuan mata telah hilang sama sekali.
"Sekarang kalian sudah aman".
"Aku sarankan segera hancurkan bangunan itu dan jadikan mushola supaya tidak dipakai sarang makhluk halus lagi".
"Baik ustad".
"Dan untuk almarhumah putri mu Nina, kirimkan doa padanya, undang anak yatim supaya pengorbanan nya tidak sia-sia".
"Dan satu lagi, perbanyaklah kalian melakukan ibadah, itulah perlindungan terbaik
dari gangguan jin, setan maupun iblis di sekitar kita"
"Aku harus pergi dulu, tugas ku sudah selesai disini".
"Sama-sama".
Anton mengantar kyai Ahmad kembali ke pondok pesantren. Di jalan, Anton menerima banyak nasehat dari kyai Ahmad. Beliau menyuruhnya mendalami agama Islam lagi, agar tidak terjebak oleh nafsu setan.
Anton mendengarkan dengan seksama semua nasehat dari kyai Ahmad. Dia juga
berjanji untuk memperbaiki dirinya supaya lebih baik lagi.
Sementara di kamar tidur Nisa, dia terbangun karena berisik mendengar suara kera yang sedang bermain. Nisa membuka matanya dan mendapati kamarnya telah diacak-acak oleh
puluhan kera.
Nisa menjerit dari dalam kamar. Dia takut kera-kera tersebut akan menyerangnya.
Dito dan bapak lari masuk ke dalam kamar.
Raut wajah Nisa pucat pasi, sementara di dalam kamar tidak ada apapun.
Bapak segera mengerti yang tengah terjadi
pada Nisa.
__ADS_1
"Dito,,,bawa istrimu pergi dari kamar ini"
Dito menuruti perintah bapak.Dia membopong Nisa menuju ruang tamu.
Bapak menutup pintu kamar.Dia kemudian bersemedi sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tangannya.
Sebuah tongkat kecil berwarna hijau, seukuran telapak tangannya, dia gunakan untuk memanggil seluruh kera gaib yang sedang bermain di kamar Nisa. Entah siapa
yang mengirimkannya ke rumah Nisa.
Mereka kemudian berbaris rapi di depan tongkat yang dibawa bapak. Bapak lalu mengeluarkan sebuah cangkang emas.
Ajaibnya, kera-kera tersebut terhisap masuk ke dalam cangkang satu per satu.
Setelah bersih semua, bapak membungkus kembali cangkang dan tongkat tersebut dengan kain dan memasukkannya ke dalam sakunya. Dia lalu keluar dari kamar Nisa.
"Ada apa lagi pak sekarang??".
"Tidak ada,,, hanya kedatangan tamu yang tak diundang,,, tenang saja , bapak sudah mengembalikan kepada pemiliknya".
"Apa kau sudah dapat kabar dari kyai Ahmad??".
Nisa mengecek handphone nya, benar saja, Ratri memberi pesan tentang keberhasilan kyai Ahmad di rumah Yeni. Dia juga bilang kalau kyai Ahmad sudah pulang diantar oleh Anton.
"Semua yang terjadi di rumah Rudi sudah selesai pak".
"Pantas saja kera-kera itu kemari,,, mereka ingin ikut denganmu Nisa".
"Mereka berharap kau mau jadi majikan nya".
"Nisa nggak mau pak".
"Iya ,,,, bapak tahu, makanya bapak sudah mengamankan mereka semua".
"Kau tenang saja, semoga setelah ini sudah tidak ada lagi yang mengganggumu".
Suara-suara kera itu masih terdengar di kejauhan. Kera tersebut adalah perwujudan dari siluman kera yang telah dikalahkan eh kyai Ahmad.
Tentu saja mereka langsung menghampiri Nisa, karena aroma bayi dikandungan nya sangat wangi dan itu mengundang makhluk
halus untuk mendekat. Sama seperti bau darah Nisa.
"Sudah tepat kau memakai liontin naga itu Nisa,, walaupun mereka mendekat, tapi tidak akan bisa menyakitimu".
"Mungkin selama hamil, kau akan sering ditemui oleh makhluk halus,, tapi bapak yakin kau bisa mengatasi semuanya.
"Nisa mengerti pak".
Mertua Nisa merasa kasihan sekali dengan menantunya itu. Dalam kondisi hamil pun dia harus merasa tidak tenang. Mereka senang
__ADS_1
menantunya itu mempunyai mental yang kuat, jadi dia bisa melawan semua gangguan yang
menghampiri nya.