Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Pulang Kampung Ke Medan.


__ADS_3

Hari berganti hari, kesehatan Nisa sudah semakin membaik. Walaupun masih sering mual dan muntah tapi dia masih bisa beraktivitas. Setelah kejadian Nisa hilang, Bayu sudah tidak pernah kelihatan di kompleks perumahan Nisa. Mungkin benar kata Anton, Ratri dan Dito, kalau Bayu itu sebenarnya Genderuwo yang mendiami pohon besar di depan rumah.


Sesuai janji Dito, diusia kandungan nya yang hampir menginjak 4 bulan, mereka akan berlibur ke Medan. Sekalian juga untuk memulihkan kondisi psikis Nisa akibat banyak peristiwa yang telah dialaminya.


"Kau sudah packing semua barang mu sayang??".


"Sudah mas,, tinggal berangkat saja".


"Sini....biar mas angkat kopernya keluar, mas sudah pesan taxi untuk berangkat ke


bandara".


Sebelum keluar, Nisa memastikan rumahnya aman selama ditinggalkan. Maklum, mereka akan pergi cukup lama. Ini pertama kalinya Nisa ke rumah mertuanya di Medan.


Perjalanan ke bandara tidak memakan waktu lama. Setelahnya mereka segera memasuki pesawat untuk terbang ke Medan.Kurang lebih 2,5 jam perjalanan melalui udara,


Nisa dan Dito akhirnya mendarat di bandar udara Kuala Namu.


Dari bandar udara masih harus menempuh perjalanan selama 1 jam untuk tiba di rumah Dito. Mereka memang sengaja tidak memberitahu orang tua Dito karena ingin memberi kejutan untuknya.


Mereka naik taxi dari Bandara, melewati area hutan sawit yang luas. Nisa memandang pohon sawit yang sudah siap panen. Tiba-tiba


pandangannya melihat sosok nenek-nenek mirip nenek lampir berada di tengah pepohonan. Dia tersenyum dan melambaikan


tangan kepada Nisa.


"Berhenti sebentar pak".


"Jangan Bu,, kita tak boleh berhenti disini".


"Tapi kenapa pak, saya mau menyapa nenek itu sebentar".


"Gawat,,, tutup jendelanya Bu, jangan menoleh ke arah nenek itu".


Sopir taxi itu ketakutan mendengar perkataan Nisa. Dia mempercepat laju mobilnya sambil


mulutnya mengucapkan permintaan maaf.


"Maaf Mbah,,, cucu mu ini numpang lewat,, mohon di maafkan bila tak sopan".


"Jangan ganggu Mbah,,, kami benar-benar minta maaf.


Setelah memasuki jalan raya, sopir itu lalu


memperlambat laju kendaraannya dan bertanya kepada Nisa.


"Maaf Bu,, memangnya ibu tadi melihat nenek seperti apa??".


"Dia sudah tua, memakai baju hitam dan rambutnya panjang terurai".


"Dia membungkuk dan tersenyum pak, saya pikir itu penduduk lokal".


"Kamu salah sayang,,, dia bukan manusia".

__ADS_1


"Bapak betul Bu,,, kalo orang sini menyebut


nya Nini kerangen. Dia memang penjaga hutan dan sering menyesatkan orang yang lewat, bila mereka berbuat tidak baik".


"Maaf pak, istri saya ini orang Jawa, dia baru pertama kali datang ke Medan".


"Pantesan Bu,,, berarti ibu orang baik, karena biasanya Nini kerangen itu nggak pernah tersenyum ke orang, apalagi melambaikan tangan".


"Lebih seringnya dia tertawa atau menyeringai dengan wajah yang menakutkan".


"Itulah, mengapa tadi saya langsung ngebut, takut Nini itu menyesatkan kita di hutan".


"Maaf kan saya pak, Bu...".


"Nggak papa pak,,, saya yang nggak ngerti, Untung bapak tanggap".


"Kebetulan saya juga orang Jawa Bu, sudah lama saya tinggal di sini, jadi saya sudah hafal mana orang baik dan bukan".


"Pak didepan berhenti ya,,, rumah bercat hijau".


"Baik pak".


"Ayo Nisa,, kita sudah sampai".


Mobil yang ditumpangi Nisa dan Dito berhenti di depan rumah besar bercat hijau. Dito dibantu sopir, menurunkan koper mereka.


Nisa turun dari mobil dan berdiri di pinggir jalan.


"Ini rumahmu mas??".


Dito menggandeng Nisa masuk ke dalam rumah. Mama dan papa yang tengah istirahat, terkejut melihat kedatangan Dito dan Nisa.


Mama langsung memeluk menantu kesayangan nya itu, sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.


"Kenapa tidak telpon dan minta dijemput??".


"Kami ingin memberi kejutan ma...".


"Dasar anak nakal,,, menyusahkan istrimu saja".


"Ayo Nisa sayang, kita masuk ke rumah".


"Koper nya biar dibawa mbak ke dalam".


Nisa mencium tangan papa mertuanya. Dia


disambut dengan hangat di rumah Dito.


Rumah besar dengan dua lantai, hanya ditinggali orang tua dan karyawan.Dito anak satu-satunya malah merantau ke Jakarta.


"Kau sudah benar-benar sehat Nisa??".


"Sudah ma,, beberapa hari di rumah sakit

__ADS_1


membuatku lebih segar".


"Syukurlah,,, mama senang mendengar nya".


"Ma,, nanti kami sekalian mengadakan acara 4 bulanan kandungan Nisa disini, kalau kalian tidak keberatan".


"Anak nakal,,, sejak kapan mama dan papa keberatan,, justru kami senang kalian akhirnya pulang ke rumah".


"Kau tenang saja Dito,, biar papa yang urus semuanya".


Nisa senang sekali berada di rumah mertuanya. Semua saudara datang menyalami Nisa karena mereka belum pernah melihat Nisa sama sekali. Dulu waktu di Jogja


hanya keluarga inti yang datang ke acara nikahan mereka.


"Kau mau makan apa sayang,, biar mama masak untukmu".


"Sekarang kau istirahat dulu, mama nggak ingin cucu mama sampai kelelahan".


"Iya ma...".


"Dito,, ajak istrimu ke kamar,, mbak sudah membersihkan kamarmu tadi".


Tanpa menjawab, Dito sudah menggandeng istrinya menuju ke kamar. Dito tahu Nisa lelah , karena perjalanan yang panjang. Tapi dia tidak mengeluh sedikitpun, tetap terlihat bersemangat di depan orang tua nya.


"Berbaringlah sebentar,,, aku tahu kau sangat capek".


"Tidak apa mas,, aku bahagia melihat wajah mama dan papa".


"Aku penasaran mas,, kalau di Medan saja kau punya segalanya,, kenapa masih bertahan di Jakarta??".


"Kalau aku tetap di Medan,, mana mungkin aku bisa menikah denganmu??".


Nisa tersenyum lebar. Dia semakin kagum pada suaminya itu, berhasil tanpa mengandalkan orang tuanya. Dia bahkan


membeli sendiri rumah di Jakarta dari hasil


bekerjanya. Dia juga tidak jadi anak manja, tetap berdiri di atas kakinya sendiri.


Nisa terlelap beberapa saat di kamarnya. Di sampingnya, Dito juga tertidur pulas. Nampak sekali kelelahan di wajahnya. Setelah melewati beberapa kali drama sakitnya Nisa, baru kali ini dia benar-benar bisa beristirahat dengan tenang.


Sore hari mereka baru bangun. Keduanya langsung mandi dan membongkar koper. Untungnya Nisa membawa oleh-oleh lumayan banyak. Dito kemudian membawanya ke depan.Ternyata saudara mama dan papa tengah berkumpul di ruang tamu. Mama membawa Nisa ke tengah ruangan untuk dikenalkan dengan mereka.


"Rupanya cantik sekali menantu kau,, pantesan Dito sampai lupa kampung halaman".


"Sekarang kalian baru percaya kan kalau menantuku ini seperti bidadari".


"Iya,,,kami percaya sekarang".


Nisa jadi malu menerima pujian dari mertuanya. Mereka tak henti-hentinya menggoda Nisa dan Dito. Suasana sore di rumah Mama Dito jadi ramai, tak seperti biasanya.


Malam ini semua keluarga berkumpul. Mereka membentuk panitia untuk acara 4 bulanan kehamilan Nisa, sekaligus upacara penyambutan Nisa di kampung halaman Dito.


Menurut adat-istiadat, acara tersebut harus diadakan bagi pemuda yang mendapat istri berbeda suku. Nantinya juga akan ada ritual adat pemberian nama dan marga.

__ADS_1


Nisa hanya menurut saja. Dia mengikuti tradisi yang berlaku di kampung Dito. Dia


akan menjalani upacara adat yang akan dipimpin langsung oleh para tetua adat.


__ADS_2