
Di teras depan, bapak menarik Sheila dan Sheina agar duduk di pangkuan nya. Bapak tak tampak melihat keanehan pada kedua cucunya tersebut. Pun dengan sosok gaib yang di ceritakan oleh Roy. Tidak ada satu pun yang berada di sekitar kedua bocah itu.
Dengan hati-hati, bapak menyuruh Sheina dan Sheila untuk bercerita perihal boneka nya yang rusak. Kedua gadis kecil itu dengan lancar menceritakan semuanya, persis seperti yang di katakan oleh Roy. Bapak masih mendengarkan dengan seksama, sampai kedua gadis itu selesai bercerita.
"Sheina, kakek mau tanya, di mana sekarang anak nakal itu?".
"Mbah kung ingin sekali bertemu dengan teman mama mu itu".
"Aku tahu,, di mana dia bersembunyi Mbah".
"Tapi, kami tak boleh memberi tahu pada siapa-siapa Mbah kung".
"Baiklah,,,ini rahasia kita, kau bisa berbisik di telinga Mbah kung saja, supaya yang lain tidak dengar".
Sheina dan Sheila saling menatap satu sama lain. Sedetik kemudian, gadis kecil itu menempelkan bibirnya ke telinga Mbah kung nya. Dia membisik kan tempat persembunyian sosok gaib tersebut kepada kakek nya. Bapak mengangguk dan tersenyum kepada dua cucu pintar nya itu.
"Baik lah,,, Mbah kung tahu sekarang".
"Anak kecil itu tak akan lagi mengganggu cucu cantik Mbah ini".
"Nanti,,,biar Mbah yang bicara dengan anak itu".
"Sekarang,,kita masuk ke dalam dulu ya".
"Sudah sore,,kalian harus mandi bukan?".
"Ayo ....Mbah kung antar ke tempat mbak Sofi".
Kedua gadis cilik itu tertawa riang karena di gendong oleh kakeknya. Mereka masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Nisa. Sheina masih tampak sedikit takut kepada ibunya. Dia menyangka kalau Nisa pasti akan memarahi nya lagi.
Bapak menurunkan cucu-cucunya di atas sofa. Dia segera manggil Sofi agar memandikan cucu nya tersebut.
"Tunggu pak, Sofi sedang mengerjakan ujian nya".
"Biar Nisa saja yang memandikan anak-anak".
"Kalian mau kan, mandi sama mama??".
Sheina menatap wajah Nisa dan mengangguk ragu. Sementara Sheila sudah bersorak kegirangan.
"Sheina,,,mama minta maaf...sudah memarahi Sheina tadi".
"Mama yang salah sudah menuduh Sheina".
"Sheina mau kan memaafkan mama??".
"Mama janji tak akan mengulangi lagi seperti tadi".
__ADS_1
Sheina mengangguk dan tersenyum kepada Nisa. Gadis kecil itu memeluknya erat sesuai permintaan nya. Sheila sendiri juga tak mau kalah. Dia merangsek tubuh mama nya dan mencium pipi nya lembut. Ketiganya segera menuju kamar mandi karena hari memang sudah sore.
Selesai memandikan putri nya, bapak memanggil Nisa dan Roy ke ruang tamu. Bapak ingin bicara serius dengan kedua nya.
"Ada apa lagi pak??".
"Semua sudah selesai kan,, anak-anak juga sudah ceria lagi sekarang".
"Masih belum selesai Nisa".
"Kau membawa masalah besar ke rumah ini".
"Apa maksud bapak??".
"Kau pasti mengalami sesuatu yang tidak wajar, saat kalian pergi kemarin".
"Bagaimana bapak bisa tahu??".
"Ada yang sengaja ingin mencelakai mu dan anak-anak".
"Sebaiknya kau buka koper mu dan carilah benda itu secepatnya".
"Kau membawa pulang arwah gadis kecil yang sangat berbahaya".
"Tapi pak,,Roy tahu betul kalau Nisa tak membawa apapun".
"Tapi, semuanya sudah selesai".
"Belum selesai Roy,,cepat....kalian cari di koper".
"Kalau menemukan sesuatu yang aneh, segera bawa kemari".
"Anak mu bilang, sosok gaib itu tinggal di dalam batu cincin".
"Dia juga membuat dirinya tak terlihat oleh kita".
Nisa terlihat bingung. Sepertinya dia tidak mempunyai benda seperti yang di maksud kan oleh bapak. Dirinya memang beberapa kali mengalami peristiwa gaib, saat pulang dari Jakarta. Namun, hanya sebatas bantuan kecil bagi yang membutuhkan sepertibak Tanti.
Bersama Roy, Nisa membongkar koper di kamar mereka. Tak nampak ada benda yang aneh di dalam nya. Kecuali.....sebuah boneka yang tiba-tiba ada di bagian bawah koper nya.
Boneka kain kecil berwarna putih. Roy mengambilnya dan sebuah batu Rubi berwarna biru terjatuh dari bagian perut boneka tersebut. Bersamaan dengan jatuhnya batu Rubi itu, sesosok gadis kecil tampak berdiri di depan lemari baju milik Nisa.
Gadis kecil dengan gaun berwarna putih yang sudah kusam dan terkena noda darah. Wajahnya pucat, dengan rambut di kepang dua. Dia berdiri sambil memandangi Nisa yang sangat terkejut dengan kemunculan nya yang tiba-tiba.
"Siapa kau,,,kenapa bisa ada di sini??".
"Rupanya,,diri mu yang beberapa hari ini mengganggu kedua putri ku".
__ADS_1
Gadis itu masih tertunduk lesu. Sedetik kemudian, terdengar suara isakan tangis dari bibir nya. Nisa tak tega mendengar suara nya yang menyayat hati. Bagaimana pun, dia juga seorang ibu. Hati wanita manayang tega kalau di depan nya berdiri seorang gadis yang tampak lemah dan menderita. Nisa maju ke depan hendak menenangkan gadis malang tersebut. Namun, Roy berhasil mencegah nya.
"Tahan Nisa,,,apa yang mau kau lakukan??!!".
"Roy,, kasihan...anak itu menangis".
"Biarkan saja,, kau ingat kan apa kata bapak".
"Sebaiknya kita keluar sekarang!!!".
Roy menarik tangan istrinya agar segera keluar dari kamar. Tapi, tanpa di duga, tubuh Roy kaku, sulit untuk di gerakkan. Nisa menahan nya agar tidak jatuh, sambil berteriak memanggil bapak. Di tengah kepanikan karena keadaan Roy, arwah gadis itu malah tertawa cekikikan.
Nisa baru sadar kalau arwah itu yang mungkin membuat Roy jadi seperti ini. Nisa sibuk memapah tubuh Roy dan berusaha membawanya keluar kamar. Namun, pintu tiba-tiba menutup sendiri. Gadis itu menjerit melengking. Dari kedua bola mata dan telinga nya keluar darah segar. Wajahnya sekarang berubah sangat menyeramkan. Dan parah nya lagi, telinga Nisa sangat sakit mendengar suara jeritan nya.
"Pergi dari sini,,,jangan ganggu keluarga ku".
"Bapak,,,tolong buka pintunya!!!".
"Bertahan lah Roy,, kita pasti selamat".
Jemari Roy masih menggenggam batu Rubi yang di dapatnya tadi. Sementara, arwah gadis itu semakin mendekat ke arah mereka.
Tangan nya terulur hendak mencekik Nisa dan Roy.
Untung saja dari luar kamar terdengar suara bapak memanggil Nisa. Arwah gadis tersebut menoleh ke pintu dan kemudian menghilang.
Buru-buru Nisa membuka pintu dan bapak langsung masuk ke dalam.
"Kalian kenapa,,apa yang terjadi dengan Roy??".
Nisa menunjukkan batu Rubi yang di genggam Roy. Bapak kemudian langsung mengobati menantu nya tersebut. Di tempelkan nya keris miliknya ke kaki Roy. Dalam sekejap, Roy kembali seperti semula.
"Aku sudah melihat nya pak".
"Bapak benar,,gadis kecil itu sungguh berbahaya".
"Dia hampir menghabisi kami berdua".
"Roy sampai seperti ini karena ulah nya".
"Baru ini mungkin yang bapak maksud".Kami temukan di koper bawah, bersama boneka ini".
"Ini pak,,coba bapak lihat sendiri".
Dari warna dan bentuk batu tersebut, bapak sudah tahu siapa yang mendiami nya. Hanya bapak yang tahu benar, makhluk seperti apa yang sekarang bertamu ke rumah nya. Sebuah ancaman besar sedang mengintai keluarga bapak. Dia sampai terdiam untuk beberapa saat.
...****************...
__ADS_1