
Pagi-pagi sekali bapak sudah pergi ke rumah Mbah Cokro. Dia sudah tidak bisa tinggal diam lagi. Kejadian semalam sudah dirasa sangat kelewatan. Makanya pagi ini beliau meminta Mbah Cokro untuk membantu menyelesaikan masalahnya.
"Masuklah Ari, aku sudah menunggumu".
"Saya sudah tidak bisa menahan nya lagi Mbah".
"Saya bingung sekali, bagaimana caranya menjelaskan pada Nisa".
"Aku yang akan mengatasinya".
"Kalian sudah berkorban banyak, tak pantas rasanya kalau dia masih ingin meminta lebih".
"Tengah malam nanti, aku akan ke rumahmu".
"Semoga kali ini dia bisa berkompromi".
"Baik Mbah,,,saya pamit dulu".
"Ari,,,ajak istrimu dan Nisa mengunjungi makam mereka".
"Mungkin dengan begini, dia tak lagi membuat kegaduhan".
"Saya akan laksanakan Mbah".
Pak Ari lega karena Mbah Cokro sudah bersedia mengurus semuanya. Mungkin, jalan terbaiknya memang harus seperti ini.
Tidak harus ada korban lagi yang akan menyakiti semua keluarga.
Nisa sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Sementara Roy menunggu di sofa ruang tamu.
"Mas,,sebaiknya kau ikut saja, kali ini cuma tinggal tanda tangan kontrak, jadi tidak begitu resmi".
"Enggak ah...aku di rumah saja, lagipula aku ada zoom meeting dengan team ku".
"Kau hati-hati,,,jangan malam-malam pulangnya".
"Beres mas,,aku pergi dulu".
"Ya.."..
"Ayo Roy, kita berangkat".
"Ok,,, Dito....aku pergi dulu".
"Ya,,kalian hati-hati".
Roy dan Nisa segera menuju ke mobilnya. Mereka masih ada pekerjaan bersama.
"Nisa,, kita mampir ke hotel sebentar, aku harus mandi dan ganti baju".
"Baiklah,,,tapi aku tunggu di lobby".
"Ok,, terserah kau saja".
"Kalau kau takut, aku mencium mu lagi seperti waktu itu, kau jangan khawatir, aku tak akan mengulanginya".
"Bukan begitu Roy,, aku hanya...".
__ADS_1
"Kau takut tak bisa mengendalikan dirimu".
"Karena sebenarnya kau juga menyukainya bukan??".
"Roy, jangan mulai lagi".
"Nisa, kalau misalkan kau bukan istri Dito,, bagaimana penilaian mu kepadaku".
"Apa aku menarik di mata mu??".
"Apa kau mau menjadi pendampingku".
"Roy,, aku tak mau berandai-andai,, hidupku sekarang hanya milik Dito dan anak-anak ku".
"Kurasa itu sudah cukup sebagai jawaban atas pertanyaan mu".
Keduanya terdiam untuk sesaat.Diakui Nisa, Roy memang cukup sempurna bagi pria seusianya. Tapi dia menepis pikiran itu.Yang mereka lakukan waktu itu adalah sebuah kesalahan. Dan Nisa Taka akan mengulangi nya lagi.
Sesampainya di hotel, Nisa dan Dito turun dari mobil dan memasuki lobby hotel. Rupanya sedang ada seminar dari perusahaan. Nisa ke bagian resepsionis, sementara Roy langsung menuju kamar nya.
"Maaf mbak, teman saya baru saja masuk, apa saya boleh menunggu di lobby sebentar??".
"Maaf Bu, kebetulan lobby hotel dan restoran sudah dibooking, jadi tidak bisa ibu".
"Ok,, kalau begitu,, saya ke kamar aja".
"Iya,, silahkan Bu".
Nisa naik ke lantai 3 tempat Roy menginap. Dia kemudian menghubungi ponsel nya.
"Tidak bisa Roy,, ruangan bawah sudah dibooking tamu aku sedang naik ke kamarmu sekarang".
Roy memutus sambungan telpon nya. Sesampainya di kamar Roy, pintu kamarnya tidak dikunci. Nisa masuk ke dalam dan menunggu di sofa. Terdengar bunyi gemericik
air dari kamar mandi. Nisa menunggu sambil memainkan handphone nya.
"Nisa,, maaf...aku tak tahu kau sudah disini".
"Biar aku bawa pakaianku ke kamar mandi".
"Tidak usah,, biar aku keluar saja Roy".
"Tunggu,,, tetaplah disini".
"Aku tak akan lama".
Tangan Roy memegang pergelangan Nisa. Dari tubuhnya, Nisa bisa mencium aroma wangi maskulin.Tetesan air dari rambut Roy, mengenai telapak tangan dan wajah Nisa.
Roy segera melepaskan pegangan nya, dan kemudian membawa pakaian nya ke kamar mandi.
Nisa menunggu di sofa dengan salah tingkah.
Diakuinya, Roy cukup konsisten dengan ucapan nya. Tetapi kenapa malah Nisa yang jadi merasa tidak enak. Pasalnya, aroma tubuh Roy sukses membuat nya serasa mabuk kepayang.
"Ok,,, aku sudah siap,,, ayo kita berangkat".
"Ok...".
__ADS_1
Nisa berjalan di samping Roy dan keluar dari hotel. Mereka kemudian mengendarai mobilnya ke arah Kaliurang. Kawasan di bawah puncak gunung Merapi. Entah kenapa klien nya kali ini memilih tempat disana.
Mereka tiba di villa yang dituju.Kebetulan rekan kerjasamanya yang telah membooking tempat pertemuan kali ini. Ketika Nisa dan Roy tiba, mereka sudah lebih dulu sampai.
"Maaf menunggu pak Bara, kami berdua terkena macet".
"Santai saja pak Roy, lagipula tinggal tanda tangan kontrak saja bukan??".
"Itung-itung sekalian berlibur".
Mereka melanjutkan makan siang dan penandatanganan kontrak. Udara dingin di puncak gunung Merapi membuat Nisa agak sedikit tidak nyaman. Pasalnya Nisa hanya mengenakan rok pendek dan blouse lengan pendek juga. Dia tak persiapan membawa jaket.
Acara selesai pukul 2 siang. Kebetulan hujan turun dengan derasnya. Pak Bara dan sekretarisnya sudah lebih dulu memesan hotel.Mereka tak mau ambil resiko berkendara dalam hujan lebat.
Dari tadi Nisa menggosok punggung nya dengan kedua tangan untuk mengusir hawa dingin yang menyerangnya. Mereka bahkan sudah memesan minuman hangat sembari menunggu hujan reda. Roy melepaskan jasnya dan kemudian memakai kan ke tubuh Nisa.
"Pakailah,, supaya kau tidak kedinginan".
"Terimakasih Roy,,,aku memang paling tidak tahan dengan udara dingin".
"Kita tunggu sampai hujan reda, baru nanti kita pulang".
Sudah jam 9 malam, namun hujan malah semakin bertambah lebat. Nisa sudah berkali-kali menelpon Dito dan menjelaskan posisi mereka yang terjebak hujan lebat, supaya Dito dan orang tuanya tidak khawatir. Mereka berdua saat ini masihmenunggu di restoran.
"Maaf ibu, kami sudah waktunya tutup".
"Oh....ya mbak,, kami akan segera pergi".
"Apa di sekitar sini ada penginapan yang masih buka".
"Bapak lurus saja ke depan, kira 20 meter, ada hotel di sana"
"Baik mbak".
Nisa dan Roy berlari ke arah mobil. Mereka memang tidak membawa payung. Jadi, sampai di mobil, pakaian keduanya basah kuyup.
"Kau mau pulang, atau kita cari hotel yang terdekat".
"Terserah kau saja Roy,, kalau kiranya beresiko, lebih baik kita menginap saja".
"Baiklah,,, lagipula pakaian kita basah kuyup, kita bisa mengeringkan nya di hotel nanti".
Akhirnya Nisa dan Roy memutuskan untuk bermalam di Kaliurang. Mereka mendatangi hotel yang ditunjukkan oleh karyawan restoran tadi.
"Mbak, kami mau check in 2 kamar ".
"Mohon maaf bapak, kamar yang tersedia hanya tinggal satu,, karena banyak yang menginap akibat hujan deras".
"Bagaimana bapak, mau diambil atau, buat bapak yang sudah antri di belakang".
"Saya ambil mbak,, ini KTP saya".
"Baik bapak, silahkan ...ini kuncinya".
Tanpa pikir panjang, Roy segera membawa Nisa ke kamar hotel. Badan nya sudah menggigil dan bibirnya sudah membiru menahan kedinginan. Roy segera membawanya masuk dan menghidupkan penghangat ruangan.
...****************...
__ADS_1