
Menjelang sore hari, anak-anak bermain sepeda di pelataran rumah. Bu Sri menjaga mereka, sementara Paijo mengawasi dari pos satpam. Tidak lupa Bu Sri sekalian menyuapi makanan untuk kedua bocah tersebut.
Semenjak ada Bu Sri, anak-anak jauh lebih anteng. Dia menganggap kedua putri Nisa seperti cucunya sendiri. Sofia juga jadi lebih tenang ketika harus berangkat ke kampus. Nisa pun tak khawatir meninggalkan kedua putri nya kepada Bu Sri. Seperti hari ini, keduanya harus ke bandara untuk menjemput Alan. Dia akan membantu Roy bekerja di Yogya.
Kedua gadis kecil itu belum nampak lelah sama sekali. Mereka masih berputar-putar dengan sepedanya sambil tertawa-tawa.
"Ayo anak-anak,, mandi dulu,, ini sudah sore".
"Nanti kalau mama Nisa pulang dan kalian belum mandi, pasti nggak dapat oleh-oleh".
Sheila dan Sheina mengarahkan sepedanya mendekati Bu Sri. Keduanya turun dan langsung mendekati tempat duduk Bu Sri.
"Memangnya mama Nisa sudah mau pulang Bu Sri?".
"Iya,,,ayo cepat....kita mandi dulu".
"Bu,,,kasihan ya..nenek itu pasti nggak punya teman?".
"Dia selalu mengintip kita saat sedang bermain Lo Bu".
"Nenek yang mana Sheila,,, di sekitar sini tak ada nenek-nenek".
"Ada Bu Sri,, kita sering lihat kok!!".
"Ya sudah,,, besok Bu Sri di kasih lihat ya, kita panggil nenek itu kesini".
"Siapa tahu di dalam ada makanan yang bisa di bagi".
"Iya Bu Sri".
Bu Sri membawa si kembar masuk dan memandikan mereka berdua. Setelahnya, Bu Sri menyuruh keduanya menonton tv sebentar. Tak lama kemudian, suara mobil Roy terdengar memasuki halaman rumah. Kedua anak tersebut langsung berlari menyambut kedatangan orang tua nya.
"Mama......kami sudah mandi Lo,,,jadi....mana oleh-olehnya??".
"Oleh-oleh,,,,aduh..sepertinya mama lupa bawa".
"Ya,,,,,kata Bu Sri, kalau kita mandi nanti kebagian oleh-oleh dari mama".
Nisa tersenyum, ketika di lihatnya Roy membawa dua buah boneka beruang besar untuk putrinya. Keduanya tertawa riang dan langsung mencium Roy dan Nisa bergantian, lalu lari ke dalam rumah. Pasti mereka mencari Bu Sri untuk memamerkan mainan baru nya.
Dari dalam mobil, Alan menyaksikan semuanya dengan perasaan sedih. Bagaimana tidak, itu adalah kedua putrinya. Yang justru merasa asing dengan dirinya. Bahkan, Nisa pun sama sekali tak mengenalinya lagi. Semua milik nya sudah menjadi milik Roy sekarang.
"Alan,,,apa kau tak ingin turun??".
"Eh....iya pak Roy".
"Kamar mu di belakang,, biar Pak Jo yang mengantar mu".
"Istirahat lah dulu, nanti aku panggil lagi".
"Baik pak Roy".
Nisa sudah lebih dulu masuk ke dalam. Dia seperti mengenal Alan, tapi ingatan nya hanya sepintas lalu. Hanya seperti tak asing dengan wajah nya. Selebihnya dia tak ingat lagi.
Alan sudah di antar ke kamarnya. Kamar kecil, di lengkapi toilet sendiri. Rapi dan mewah untuk orang seperti Alan. Tak di ragukan lagi soal kekayaan Roy selama ini. Itu pula yang dulu dia gunakan untuk mendekati Nisa. Nyatanya, sekarang Roy berhasil menjadikan Nisa dan si kembar menjadi miliknya.
__ADS_1
Alan memandangi foto usang yang ada di dompet Dito. Hanya benda itu kenangan dan pengingat dirinya akan Nisa dan putrinya.
"Andai saja kau ingat Nisa,, aku masih selalu menunggu mu".
"Aku merindukan mu dan si kembar".
"Mereka tumbuh dengan cepat, dan terlihat cantik seperti diri mu".
"Waktu berlalu begitu cepat,,ingin rasanya memeluk kedua putri ku dengan erat".
Lamunan Alan di kejutkan dengan kehadiran Bu Sri. Buru-buru dia masukkan foto keluarganya dan langsung menghampiri wanita tersebut.
"Iya Bu, ada yang bisa di bantu?".
"Mas Alan di suruh pak Roy ikut makan malam sekarang, sudah di tunggu di ruang makan".
"Ya Bu, saya ke sana sekarang, terima kasih Bu Sri".
"Iya Mas Alan".
Alan masuk ke ruang makan, seperti yang di tunjukkan oleh Bu Sri. Melihat kedatangan nya, Sofia terkejut. Dia tak menyangka Alan berada di rumah Roy.
"Mas Alan ada di sini?".
"Iya Sofi, aku baru datang sore tadi".
"Rupanya kau juga mengenalnya Sofi?".
"Iya Bu, mas Alan kan adiknya....".
"Sofi, sudah cukup, ini waktunya makan, kita bahas itu lain kali saja".
"Baik pak Roy".
Sofi terdiam melihat tatapan mata Roy. Hampir saja dia keceplosan. Tidak sadar kalau ingatan Nisa masih belum kembali. Untung saja Roy segera mengontrol situasi. Jadi, Nisa tak terlalu banyak berpikir.
Acara makan malam lebih banyak diam. Suasana kelihatan lebih tegang, tidak seperti biasanya. Sofia sadar kalau dirinya sudah salah bicara.
Setelah selesai acara makan malam, Alan langsung pamit kembali ke kamar nya. Sementara, Nisa membawa anak-anak ke kamar. Roy menggunakan kesempatan itu untuk bicara dengan Sofi.
"Sofi, kau tahu kan Nisa seperti ini karena siapa?".
"Ku harap kau jaga ucapan mu kalau di hadapan nya".
"Biar aku yang jelaskan semuanya nanti".
"Cukup katakan kalau kalian teman kuliah dulu".
"Itu untuk kebaikan Nisa juga".
"Maaf pak Roy, saya sungguh tidak sengaja".
"Saya tak akan mengulanginya pak".
"Saya sudah senang Bu Nisa seperti yang sekarang".
__ADS_1
"Ya sudah,,teruskan belajar mu".
"Jangan katakan apapun pada Nisa, mengerti!!".
"Iya pak Roy".
Sofia masuk ke kamar nya, sementara Roy menyusul ke kamar si kembar.
"Lama sekali mas, dari mana...?".
"Anak-anak sampai tertidur menunggu mu".
"Anton menelpon sayang, dia menanyakan Alan".
"Oh,,, aku kangen sekali pada Ratri".
"Undang mereka kemari mas, biar liburan disini".
"Sudah,,, katanya tunggu waktu yang tepat".
Nisa dan Roy mematikan lampu kamar si kembar. Mereka melangkah menuju kamar nya sendiri. Tangan Nisa memegangi lengan Roy.
"Omong-omong, di mana Sofia mengenal Alan?".
"Kelihatan nya mereka sudah akrab mas".
"Dulu mereka satu kampus di Jakarta, sebelum Sofi ikut dengan mu".
"Pantas saja, sepertinya Sofi menaruh hati dengan pemuda itu".
"Bagus kalau begitu, kita bisa menikahkan mereka berdua nanti".
"Iya,,,aku sudah janji dengan gadis itu, akan menanggung dirinya sampai dia menikah".
"Tenang saja, aku yang akan melakukan nya".
"Kau jangan terlalu banyak berpikir".
Malam itu berakhir dengan damai. Nisa dan Roy serta Sofia beristirahat di kamar mereka masing-masing. Tapi, lain hal nya dengan Alan. Pemuda itu justru jalan keluar menemani Paijo berkeliling.
"Kalau mas capek, tidur saja dulu".
"Besok kan mas harus kerja".
"Saya masih belum bisa tidur pak".
"Kita ngadem di sini sebentar sambil ngobrol-ngobrol".
"Bapak ma, ayok aja mas!!".
"Saya minta kopi dulu sama Sri".
Alan memandang sekeliling. Lingkungan yang asri dan nyaman. Sungguh tempat yang layak untuk di tinggali. Mungkin kalau masih bersamanya, Nisa belum tentu bisa sebahagia ini.
Entah kenapa hati Alan sakit setiap kali mengingat Nisa dan kedua putrinya. Ketidakberdayaan dirinya sebagai laki-laki.
__ADS_1
Tak bisa mempertahankan miliknya yang paling di cintai. Justru harus hancur melihatnya bersama orang lain.
...****************...