
Setelah acara pengajian selesai, Nisa langsung masuk ke kamar nya. Dia tak menunggu Dito seperti biasanya. Rasanya kali ini mereka berdua sudah keterlaluan.
Mereka menunjukkan kemesraan dihadapan Nisa dan para tamu yang datang. Nisa sangat jengkel pada suaminya itu.
Sudah larut malam dan Dito belum kembali ke kamar. Nisa berusaha menghubungi ponselnya, tapi tak ada jawaban. Mama datang ke kamar dan berbicara kepada Nisa.
"Inilah yang mama takutkan Nisa, wanita itu datang lagi kemari".
"Memangnya dia siapa ma,, bukannya Ayu saudara papa??".
"Wanita itulah yang menjadi alasan Dito pergi ke Jakarta waktu itu".
"Nisa nggak paham ma??".
"Ceritanya panjang sayang".
Mama lalu menceritakan tentang kelakuan Ayu yang mengincar harta Dito. Dia bahkan tega melukai Ayah Dito dengan ilmu hitam. Bahkan Dito pun terkena ilmu pelet darinya, sehingga susah sekali disembuhkan.
Itulah sebabnya kali ini tidak butuh waktu lama untuk kembali mendapatkan Dito. Hanya dengan Ditatap dan disentuh ini jari kakinya, Dito sudah lupa segalanya. Termasuk lupa kalau dia pulang membawa istrinya. Itulah mengapa dulu mama menyuruh Dito mencari kerja di Jakarta, agar jauh dari wanita ini.
"Hari ini dia baru tahu kalau Dito pulang, makanya langsung kemari".
"Mama takut kalau Dito seperti dulu lagi,,, apalagi sekarang sudah ada kau Nisa".
"Sudah malam begini, mereka masih saja
ngobrol di luar".
"Sebentar ma,, biar Nisa yang panggil mas Dito".
Nisa melangkah ke ruang tamu. Dia menemui Dito dan Ayu yang masih ngobrol berdua.
"Ini sudah malam mas,, sebaiknya kita tidur sekarang".
"Tapi kamu kan janji mau antar aku pulang kan Dito???".
"Maaf mbak Ayu, mas Dito ini sudah punya istri, jadi sungguh tidak etis kalau anda meminta antar pulang kepadanya".
"Tapi sayang,, aku kasihan padanya, ini sudah malam, kalau terjadi sesuatu bagaimana??".
"Itu bukan urusan kita mas, lagian dia tidak diundang ke sini".
"Ayo mas, kita masuk sekarang atau kau mau tidur di luar".
"Dito,, kau tega menyuruhku pulang sendiri??".
"Wanita baik-baik, nggak akan mungkin pulang larut malam mbak".
"Itu bukan urusanmu,, sebaiknya kau diam saja".
__ADS_1
"Ayo Dito,,, antar aku pulang dulu".
"Dito nggak akan kemana-mana Ayu,, kalau kau ingin pulang, biar Solihin yang mengantar".
"Dito,, kau masuklah ke kamar sekarang, biar mama yang urus wanita ini".
Dito mengikuti Nisa masuk kamar, tapi pandangannya selalu menoleh ke arah Ayu. Dia terlihat sangat khawatir pada wanita itu.
"Sayang,,, kau tak kasihan pada Ayu, aku cuma mau mengantarnya pulang".
"Silahkan kau antar pulang mas, tapi saat kau kembali, aku sudah terbang ke Jakarta".
"Kenapa kau jadi marah seperti ini,, kami kan cuma berteman".
"Karena aku sudah tahu kisah kalian, dan aku nggak mau jadi orang bodoh yang menyaksikan cinta lama bersemi kembali".
"Kau terlalu berlebihan sayang".
"Sudahlah mas,, aku tak mau berdebat, lagipula ini sudah larut malam".
Nisa merebahkan tubuhnya membelakangi Dito. Dia menarik selimut untuk menutupi wajahnya. Nisa tak ingin terlihat menangis di depan Dito. Di hanya ingin memejamkan mata
dan berharap mimpi buruknya segera berakhir.
Pagi-pagi sekali, suara ponsel sudah membangunkan tidur Nisa. Wajahnya masih sembab akibat menangis semalam. Sejak menikah, baru kali ini dia bertengkar dengan Dito. Nisa meraih ponsel suaminya, ada banyak panggilan tak terjawab dari Ayu.
"Aku yakin dia melakukan hal yang tak wajar pada Dito".
"Lalu, apa yang harus kulakukan, ini kampung orang, kami di seberang pulau ".
"Kau punya cincin kan Nisa,, gunakan itu untuk mengetahui kekuatan seperti apa yang membantu Ayu".
"Atau gunakan liontin mu, sepasang naga itu akan bereaksi kalau kau marah atau terancam".
"Jaga diri Nisa, jangan sampai stres, ingat kau sedang mengandung".
"Terima kasih Ratri".
Dari kejauhan tampak mobil Ayu berjalan masuk ke rumah Dito. Setelah memarkir mobilnya, dia turun dan menghampiri Nisa.
"Aku ada janji dengan Dito pagi ini,,, tolong panggilkan dia".
"Suamiku tak akan kemana-mana hari ini".
"Hei,,, kau jangan macam-macam,, kau itu hanya pelarian,,lihat saja nanti, dia pasti lebih memilihku daripada kau"
"Kendalikan dirimu nona,,kau belum tahu apa yang sanggup kulakukan untukmu".
Ayu tiba-tiba mundur ke belakang. Sosok mengerikan keluar dari badannya dan maju ke arah Nisa. Dia mendekatinya dan hendak mencekik lehernya.
__ADS_1
Nisa memejamkan mata menerima serangan gaib dari Ayu. Dia memegang liontin nya,dan sejurus kemudian sepasang naga keluar dari dalam liontin. Mereka mengelilingi Ayu dan bersiap melahapnya.Ayu berteriak histeris hingga membangunkan seisi rumah.
"Ada apa ini,, pagi-pagi kau sudah ribut di rumah orang".
"Tante,, wanita ini punya ilmu hitam,, dia ingin membunuhku Tante".
Nisa masuk ke dalam tanpa menghiraukan omongan Ayu. Di tangga, dia berpapasan dengan suaminya.
"Mau kemana mas??".
"Aku ingin melihat keributan di depan".
"Tak perlu,, itu pelanggan mama yang sedang komplain barang".
Dito urung menuruni tangga dan berbalik masuk ke kamarnya lagi.Dia melihat riwayat panggilan di ponselnya.
"Kenapa,, apa ada yang penting hingga kau jadi gelisah sepeti itu??".
"Ayu menelpon, aku ingin tahu apa yang diinginkannya".
Nisa merebut ponsel Dito dan memblokir nomor hp Ayu di dalamnya.
"Kau sudah tahu kan aku seperti apa,,, kalau kau ingin temanmu itu selamat, jauhi dia".
"Atau aku tak mau tahu kalau sepasang naga di liontin ini marah dan memakan nya habis".
"Jangan lakukan hal kejam seperti itu, kau baru hamil kan??".
"Kau ingin tahu makhluk seperti apa yang ada di tubuhnya??".
"Dia baru saja hendak mencekik leherku".
"Wanita itu mengincar anak kita mas".
"Dia jauh lebih berbahaya daripada yang kau kira selama ini".
Belum selesai Nisa berdebat dengan Dito, sesosok makhluk tinggi besar mirip Genderuwo menghampirinya. Dia mendekati nisa dan mencoba menyentuh perutnya
Makhluk itu menyeringai dan menggeram keras pada Nisa. Tangan panjang satunya mencoba mencekik leher Nisa.
Nisa kesulitan bernafas dan memegangi perutnya. Nampaknya dia hendak mencelakai janin yang dikandungnya. Sesaat kemudian, sepasang naga keluar dari liontin. Mereka menyemburkan api ke arah makhluk tinggi besar tersebut.
Rambutnya terbakar, tapi dia sempat memegang ekor salah satu naga. Nisa menyaksikan dengan harap-harap cemas. Nisa yakin pasti Ayu yang telah mengirim makhluk tersebut.
Makhluk tinggi besar itu tetap tak mau menyerah walau sepasang naga telah melilitnya. Dia menggigit badan ular tersebut.
Nisa terkejut dan merasakan sakit di pergelangan tangan nya. Butuh waktu lama sampai akhirnya makhluk itu kembali menghilang dari kamar.
Nisa melihat ke arah liontin nya. Mereka sudah kembali ke tempatnya. Nisa mengatur nafas karena serangan tiba-tiba dari Ayu tadi hampir membuatnya kewalahan.
__ADS_1