Bertetangga Dengan Genderuwo.

Bertetangga Dengan Genderuwo.
Pertunjukkan Wayang.


__ADS_3

"Ada apa Ki,, kau tampak murung,,apa Nisa sudah ditemukan??".


"Katakan Ki, dimana dia, kenapa tidak kau ajak kemari tadi".


"Dito,,,kau harus menyiapkan hatimu, mungkin Nisa tak akan kembali lagi".


"Jangan bercanda Ki,,, ini sama sekali tidak lucu".


"Penguasa tempat ini sudah berhasil menangkap Nisa".


"Dan dia menginginkan Nisa untuk menjadi pendampingnya".


"Aku sudah meminta Nisa secara baik-baik, tapi dia tidak mau memberikan nya".


"Pasti ada cara lain Ki, kumohon tolong Nisa Ki".


"Untuk saat ini, belum ada cara lain Dito".


"Lagi pula, hutan ini punya batas waktu, satu Minggu untuk korban incaran nya".


"Saya kurang paham Ki".


"Kalau dalam seminggu tubuh Nisa tidak ditemukan, berarti hutan ini selamanya menginginkan dirinya".


"Tidak mungkin.......!!!!!".


"Lakukan sesuatu,kumohon.......!!!!".


"Keluarkan Nisa dari hutan ini".


Roy mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Ki Santoso. Dia kemudian paham tentang sesuatu.


"Kalau begitu,,,kita harus temukan tubuh Nisa dulu bukan??".


"Kalau kita temukan tubuhnya, bukan mustahil, kita bisa menyelamatkan dirinya".


"Mungkin benar seperti itu Roy,,,tapi kita hanya punya waktu 2 jam dari sekarang".


"Ok,,,dua jam bukan waktu yang singkat, Ki Santoso punya petunjuk??".


"Arwah Nisa baru mengatakan pohon,,,setelah itu,ular itu membelitnya dan membawanya pergi".


"Pohon,,,,hutan ini banyak pohon,,,kita hanya harus tahu, satu yang unik dari sekian banyak pohon".


"Roy benar,,,kita cari tahu pohon yang khusus di sekitar sini".


Nisa kembali dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan oleh raja ular. Tadinya dia berharap Ki Santoso bisa menyelamatkan nya, tapi sekarang rasanya mustahil. Sudah tidak ada lagi jalan keluar dari tempat ini".


"Sebentar lagi, kau akan disini selamanya, cah ayu".


"Mereka, mustahil bisa menemukan mu".


"Kau jangan bermimpi,,,aku yakin, suamiku pasti menjemputmu".


"Dia tak akan membiarkan aku berakhir bersamamu di tempat terkutuk ini".

__ADS_1


"Kau sendiri yang mendatangi tempat ini bukan???".


"Jadi,,,kau sudah siap kalau harus menjadi penghuni disini seperti Amira".


Raja ular meninggalkan Nisa dengan tertawa kencang. Keinginan nya sebentar lagi akan terwujud. Dia sudah memperalat Amira untuk


mewujudkan harapan nya bersanding dengan Nisa. Tinggal selangkah lagi,,,dia bisa menjadi pendamping dari ratu penguasa lautan.


Nisa berpikir keras untuk bisa keluar dari tempat ini. Dia memikirkan satu cara. Telepati, mungkin salah satu orang yang mencarinya, bisa terhubung dengan dirinya.


Nisa duduk bersila. Dia meletakkan cincinnya di telapak tangan nya.Fokus pikiran nya memanggil nama Dito, suaminya.


"Kali ini, peruntungan nasibku,ada pada dirimu bunda ratu".


"Bebaskan aku dari sini".


"Tuntun lah cincin ini menemukan pasangan sejatinya".


Nisa terus berdoa di dalam hati. Dia memanggil nama Dito dengan hatinya. Nisa benar- benar berharap ada keajaiban, Dito mendengar seruan nya.


Begitu khusuknya Nisa, sampai tidak menyadari kalau cincin itu mengeluarkan cahaya merah seperti bintang. Cahaya itu terbang meninggalkan Nisa melewati pintu gerbang pohon kembar. Cahaya tersebut berkilauan di tengah-tengah pohon.


Sementara, tim pencari masih berputar-putar di dalam hutan.Mereka tetap belum bisa menemukan jejak tubuh Nisa sama sekali.


Ki Santoso mendengar panggilan dari telepati Nisa, tapi tak bisa berkomunikasi dengan nya.


Dalam keputusasaan yang mendalam, Roy melihat terpaan cahaya berkilauan di tengah-tengah pohon.Dia berhenti untuk memeriksanya.


"Tunggu,,,adakah kalian lihat,, ada cahaya di pohon itu".


Semuanya menoleh ke tempat yang ditunjuk oleh Roy. Tapi tak satu pun dari mereka yang bisa melihatnya. Hanya Roy saja yang mampu menangkap telepati Nisa.


Mereka berempat menuju pohon yang ditunjuk oleh Roy. Pohon kembar, pintu gerbang yang menghubungkan hutan itu dengan kerajaan gaib di dalamnya.


Roy menghampiri cahaya bintang berwarna merah tersebut. Benar saja,,dia melihat tubuh Nisa terkulai lemas tak sadarkan diri. Dia pingsan di tengah pohon tersebut. Anehnya, hanya Roy yang bisa melihatnya, sedang yang


lainnya tak melihat apapun.


Roy sudah senang melihat tubuh Nisa. Dia berlari hendak menjemputnya. Tapi dirinya tiba-tiba terdorong oleh sengatan listrik. Tubuhnya terpental ke belakang.


Seorang kakek muncul dari samping tubuh Nisa dan menghampiri Roy.


"Waktunya hampir habis anak muda".


"Sebentar lagi, nyawanya akan melayang".


"Aku sudah berulang kali memperingatkan nya untuk pergi dari sini".


"Namun, wanita ini sendiri yang sukarela menyerahkan dirinya menjadi penghuni di kerajaan ini".'


"Tolong kakek, kembalikan dia padaku,,, aku masih membutuhkan kehadiran nya".


"Ini akan sangat berat,,, sudah hampir terlambat untuk membawanya kembali".


"Aku akan menukarnya dengan apapun juga".

__ADS_1


"Asal kau bersedia mengembalikan dia padaku".


"Ada satu cara,,, mungkin dia nanti bisa kembali lagi pada kalian".


"Tapi itu tergantung dari usaha wanita ini, untuk mencari jalan pulang".


"Katakan kakek,, aku akan berusaha memenuhinya".


"Adakan pertunjukan wayang disini".


"Para penghuni kerajaan gaib, akan sibuk melihat pertunjukkan tersebut".


"Saat itu, wanita ini punya kesempatan untuk pergi dari sini".


"Hanya itu cara satu-satunya yang mungkin bisa dilakukan".


"Dan harus secepatnya,,, sebelum tubuhnya menjadi dingin seluruhnya".


"Baik kakek, akan kulakukan".


Roy bergerak sangat cepat. Dia memerintahkan semua pengawalnya untuk menyediakan semua syarat yang dibutuhkan nya. Dalam waktu kurang dari 1 jam, semuanya sudah berhasil dibawa ke tengah hutan tersebut.


Pertunjukkan wayang untuk menghibur penghuni kerajaan gaib sebentar lagi dimulai.


Ki Santoso berpesan untuk masing-masing supaya fokus dan tidak terbawa ke alam lain.


Setelah musik gamelan ditabuh, keempat orang itu seperti memasuki alam lain. Sebuah kerajaan megah dengan Seekor ular besar menjadi rajanya. Dia tengah duduk di kursi dan Nisa ada di sampingnya.


Ekor ular besar itu membelit kaki Nisa, sehingga dirinya tertahan di kursi mendampingi ular besar bermahkota itu.


Bunyi gamelan yang ditabuh, membuat Nisa terhanyut dan menyanyikan lagu-lagu Jawa.


Nisa berdiri, bernyanyi dan menggerakkan tubuhnya seperti seorang sinden.


Nisa melihat keempat orang yang mencarinya. Dia terus saja melihat ke arah mereka, yang berada ditengah-tengah penonton gaib.


"Ayo,,cepat cari tubuh Nisa dan pergi dari sini".


"Roy,, bawa Nisa diam-diam dari pertunjukkan ini, ingat....dia harus terus bernyanyi sampai ke pohon kembar tersebut".


Roy mencengkram tangan Nisa sambil bernyanyi dan menari, seolah mereka sedang duet.Tak susah bagi Roy yang berasal dari Jawa, menyanyikan tembang-tembang dalam pertunjukkan wayang.


Saking asyiknya menikmati pertunjukkan, mereka tak menyadari kalau salah satu sinden nya, yaitu Nisa sudah menjauhi panggung pertunjukkan. Nisa dan Roy melewati gerbang gaib. Di tengah jalan, Roy membopong tubuh Nisa yang sudah lemas


dan berlari keluar.


Dalam sekejap mata,,suasana sudah berubah menjadi hutan belantara lagi. Hanya saja dalang masih memainkan wayang. Roy yang datang dengan membopong tubuh Nisa yang sudah sekarat.


Mereka kemudian mencoba menyadarkan Nisa kembali.Wajah yang semula pucat pasi, kini berangsur-angsur memerah setelah Dito menggosokkan minyak ke seluruh badannya.


"Sebaiknya kita segera pergi dari sini".


"Akhiri pertunjukkan wayang nanti, setelah Nisa keluar dari hutan ini".


"Baik Ki".

__ADS_1


Dito membopong Nisa yang masih setengah sadar. Mereka berempat keluar dari hutan tersebut. Perintah Ki Santoso langsung dilaksanakan oleh anak buah Roy. Di depan jalan masuk hutan, seorang kakek mengawasi kepergian Nisa dengan senyum mengembang".


...****************...


__ADS_2