
Nisa keluar kamar saat mendengar suara ribut di luar. Dia heran melihat Roy menangis sambil memeluk bapak. Nisa kemudian menghampiri keduanya. Khawatir ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.
"Kamu kenapa mas, anak-anak baik-baik saja bukan?".
"Ada apa pak, katakan yang sebenarnya".
"Tidak apa Nisa, Roy hanya terharu melihat kau sudah sembuh seperti sedia kala".
"Masuk lah, kau sudah boleh pulang kan?".
"Sana ....kemasi barang-barang mu!!".
"Baik pak".
Roy tertunduk malu di hadapan bapak. Dia bahkan tak mengatakan yang sebenarnya pada Nisa. Entah apa yang terjadi kalau Nisa sampai tahu bahwa ibunya lah yang mencelakai dirinya.
"Kenapa bapak menutupi ini dari Nisa??".
"Dia berhak tahu pak, bahwa orang yang mencelakai nya adalah".
"Cukup Roy,,, jangan bahas ini lagi".
"Akan lebih baik kalau Nisa tidak tahu yang sebenarnya".
"Biarkan dia menganggap kalau mertuanya tetap baik di matanya".
"Semoga dengan cara ini, ibu mu nanti akan sadar dan menyayangi Nisa".
"Sana....bantu Nisa berkemas, kita pulang ke rumah bapak dulu untuk sementara".
"Baik pak".
Roy masuk ke kamar tempat Nisa di rawat. Dia mengambil tagihan rumah sakit dan membayarkan nya di kasir. Setelah itu Roy kembali ke kamar dan membantu Nisa berkemas.
"Untuk sementara, kita ke rumah bapak dulu Nis, anak-anak sudah di sana".
"Aku tak mau istirahat mu terganggu dengan ucapan ibu ku".
"Nisa,, kau dengar aku kan??".
"Nisa.......kau kenapa......Nisa,, jawab aku".
"Tinggalkan wanita ini sekarang, atau aku akan menghabisinya".
"He....wanita ini tak pantas menjadi istri mu".
Roy tertegun, jelas kalau yang ada di depan nya ini bukan lah Nisa istrinya. Mungkin ibunya membuat ulah lagi dan mengirim kan arwah jahat ke tubuh Nisa. Roy segera keluar kamar dan memanggil mbah Cokro. Di lihatnya dari hidung Nisa mengalir darah segar.
"Mbah.....lihat lah Nisa,, ada yang tak beres dengan nya".
"Kenapa lagi Roy??".
"Entah lah pak, kalian lihat saja sendiri".
__ADS_1
Ketiga lelaki itu masuk, tepat di saat Nisa mengambil gunting yang ada di atas meja. Perawat lupa menyingkirkan nya tadi. Nisa sudah mengarahkan gunting tersebut ke atas perutnya sendiri. Kelihatan nya dia berada di luar kesadaran melakukan hal tersebut.
Mbah Cokro segera memeriksa keadaan Nisa. Benar saja, ada kekuatan jahat yang merasuki tubuhnya. Dia menggunakan tubuh Nisa untuk menghabisi dirinya sendiri. Sungguh, kekuatan orang ini sudah tergolong tinggi, hingga bisa mengendalikan Nisa yang juga punya indera keenam.
"Lepaskan anak itu, dia bukan tandingan mu".
"Kau bisa melawan ku kalau kau mau".
"Urusan ku hanya melenyapkan nyawa wanita ini,,dan sebentar lagi, dia akan segera mati".
"Keluar kalian .....jangan ikut campur,,atau gunting ini akan merobek ususnya langsung".
"Nisa....kendalikan diri mu, lepaskan gunting itu".
"Enyah kau dari sini,,,aku bukan Nisa!!!".
"Kau....tak akan lagi menemuinya setelah aku membunuhnya".
Roy berlari ke arah Nisa dengan cepat. Dia berhasil merebut gunting yang di pegang nya.Tentu saja arwah di tubuh Nisa mengamuk.
Dengan tawa yang melengking, di terbangkan nya seisi kamar untuk menyerang Roy, bapak dan mbah Cokro.
"Sebaiknya kalian keluar,, dia sangat berbahaya".
"Kekuatan besar dari rumah mu, akhirnya menunjukkan wajah aslinya".
"Ari....bawa Roy keluar dari sini sekarang juga".
Bapak menarik tangan Roy agar mengikutinya keluar ruangan. Mereka berdiri tidak jauh dari tempat mbah Cokro. Arwah di tubuh Nisa sudah mulai menggila. Dia menyerang mbah Cokro tanpa ampun. Kekuatan yang di milikinya sangat lah besar.
"Roy,, kau harus bersiap dengan hal buruk sekalipun".
"Maksud bapak apa,, aku belum begitu paham".
"Kalau ibu mu yang mengirim ini pada Nisa, kau harus bersiap dengan konsekuensinya".
"Entah ibu mu atau Nisa yang akan selamat".
"Dalam hal ini, kita tak punya banyak pilihan".
Perkataan bapak memang benar. Konsekuensi pahit harus Roy hadapi setelah ini. Entah siapa yang akan bertahan bersamanya. Yang jelas, ibunya bersalah dalam hal ini. Dia tak seharusnya mencelakai Nisa seperti ini.
Di rumah Roy sendiri, ibunya masih belum menyerah untuk mencelakai Nisa. Setelah Roy merusak sesajen miliknya, dia kembali memerintahkan Sri untuk menyediakan perlengkapan sesajen yang baru.
Berulang kali Paijo dan Sri sudah membujuk majikan nya untuk menghentikan serangan jahat nya pada Nisa, tapi beliau tetap tidak mau mendengarkan. Akhirnya Sri pasrah dan menuruti
kemauan majikan nya tersebut.
"Kalian lihat,, sebentar lagi wanita itu akan mati".
"Aku akan kembali memiliki putra ku sepenuhnya".
"Wanita itu akan merasakan akibatnya karena sudah berani melawan ku".
__ADS_1
"Kau akan mati.....kali ini aku tak akan melepaskan mu".
"Dasar perempuan licik!!!".
Sri menangis dari kejauhan. Andai saja majikan nya melihat ketulusan hati Nisa, tentu dia tak akan melakukan hal ini padanya. Majikan nya itu tidak menyadari kalau Roy sangat mencintai Nisa.
Bukan Nisa yang menjerat Roy supaya bersedia menikah dengan nya.
Sri diam-diam menelpon Roy untuk memberitahukan kelakuan ibunya. Kali ini Sri sudah tidak takut lagi.Apalagi ini menyangkut nyawa seseorang. Lebih baik mencegah daripada terlambat. Yang penting bisa menyelamatkan nyawa keduanya.
"Sri, ada apa, kenapa kau menangis?".
"Pak Roy....nyonya tua sedang mencoba mencelakai bu Nisa".
"Saya sudah berusaha mencegahnya, namun beliau tak mau mendengarkan".
"Sri,,,,lakukan apapun asal ibu ku berhenti mengirim kekuatan jahat pada Nisa".
"Hancurkan sesajen di depan nya, atau dia bisa dalam bahaya".
"Lakukan sekarang Sri, biar Nisa kami yang mengurus di sini".
Sri ragu-ragu, tapi dia harus melakukan nya. Di lihatnya majikan nya sedang khusyuk bersemedi.
Sri lantas berjalan di depan nya dan mematikan dupa serta mengambil semua sesajen yang ada di hadapan nya.
"Letak kan kembali Sri, aku masih belum selesai".
"Cukup Nyonya, jangan di teruskan lagi".
"Nisa itu menantu nyonya, mas Roy sangat mencintai nya nyonya".
"Pergi dari siti Sri, atau aku tak akan segan padamu".
"Jangan ikut campur urusan ku".
"Maaf nyonya,, saya harus melakukan ini".
Sri membawa lari sesajen yang sedang di gunakan oleh majikan nya. Sri membawanya ke belakang rumah dan membuang nya. Apapun yang terjadi dengan nya nanti, tekadnya sudah bulat. Dia harus menyelamatkan Nisa.
Saat Sri hendak berbalik dan kembali masuk, majikan nya sudah berdiri di belakang nya. Wajahnya bukan lagi yang seperti Sri kenali.
Jelas tampak kalau majikan nya sudah di rasuki oleh setan pesugihan miliknya.
Sementara di rumah sakit, Nisa tiba-tiba tersadar.
Seluruh ruangan sudah kacau sekali. Nisa sendiri kebingungan dengan keadaan di kamar nya ini.
Untung saja Roy langsung berlari memeluk Nisa.
Pria itu menenangkan Nisa yang masih dalam kondisi belum sadar sepenuhnya. Tubuhnya pun acak-acakan dan terdapat bekas luka di beberapa bagian tubuhnya.
...****************...
__ADS_1