
*Konten ini mengandung unsur kekerasan, harap bijak dalam membaca*
Malam yang panjang akan segera dimulai. Arwah Amira akan menuntut balas kepada pelaku kejahatan dirinya. Malam ini, semua hutang akan terbayar lunas. Semua janji akan ditunaikan langsung. Karma akan berlaku bagi para penjahat yang kejam.
Arwah Amira sudah bersiap untuk menghitung mundur detik-detik para penjahat
tersebut kehilangan bagian tubuhnya satu persatu.Apa salahnya jika dia hanyalah anak orang kaya.Kenapa mereka sama sekali tak punya rasa iba. Saat Amira memohon pertolongan pada semua lelaki yang pantas disebutnya ayah.
Kenapa mereka tidak tersentuh oleh jerit tangis Amira yang memohon untuk dilepaskan. Mereka malah dengan beringas menjadikan Amira sebagai pelampiasan nafsu bejatnya. Tak cukup sampai disitu, Mereka juga tega memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian.
Lalu dimana salah Amira. Dia masih ingin bersekolah. Bermain dengan teman sebaya nya. Tapi semua harapan nya sudah musnah sekarang. Amira tergolek tak berdaya di tangan orang-orang yang kejam.
"Sayang,, kenapa kau kelihatan sangat gelisah??".
"Aku hanya khawatir mas,, sepertinya akan ada kejadian buruk malam ini".
"Mungkin hanya perasaanmu saja, kau terbawa suasana kejadian siang tadi".
"Ya,, semoga hanya perasaanku saja, semoga semuanya baik-baik saja malam ini".
Setelah mati lampu tadi, kelima napi yang ada di tahanan tak bisa memejamkan mata sama sekali. Bayangan wajah gadis yang mereka bunuh, terus menghantui.
Malam sudah larut, petugas yang berjaga di luar juga sudah tidur. Arwah Amira masuk ke dalam kantor polisi.Dan tiba-tiba dia sudah berada di dalam sel tahanan dengan wajah yang menakutkan.
Di tangan kanan Amira sudah memegang pisau. Entah dari mana dia mendapatkan nya.
Dia kemudian menampakkan diri di hadapan salah satu tersangka.Melihat wajah Amira, dia ketakutan dan berteriak minta tolong.Teman-temannya yang lain keheranan melihat tingkahnya.
Tak berapa lama, lampu di sel penjara padam. Di kegelapan malam terdengar teriakan menyayat hati. Keempat napi yang lain saling berpelukan karena takut.
Ketika lampu menyala lagi, mereka menemukan potongan kepala dan tubuh dari salah satu temannya. Lantai penjara berubah penuh darah. Teman nya yang lain berteriak histeris memanggil penjaga. Sedangkan 1orang lagi pingsan di tempat.
Dia orang yang tersisa segera didekati oleh Amira. Dia menggorok leher keduanya berbarengan. Saat melihat mereka meregang nyawa, Amira tertawa melengking. Penjaga yang mendengar teriakan kesakitan dari dalam sel, bergegas lari untuk memeriksanya.
Sampai di dalam sel, polisi itu malah ketakutan. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Dia memuntahkan seluruh isi perutnya melihat potongan tubuh para napi berserakan di lantai. Dia segera berlari dan meminta bantuan.
"Itulah yang pantas kalian terima".
"Bukan kah begini kalian memotong-motong tubuhku??".
"Rasakan sekarang,,, kalian hanya pantas menjadi makanan anjing!!!".
Arwah Nisa semakin terkekeh. Dendamnya sudah terbayarkan. Dia kemudian menghilang dari sel penjara tersebut.
Petugas polisi yang dipanggil segera berlari menuju sel penjara. Mereka terdiam seperti patung. Empat potongan tubuh narapidana berserakan di lantai penjara. Darah mereka membanjiri ruangan tersebut. Baru kali ini ada pembunuh yang sekaligus menghabisi keempat korban nya. Bahkan dia juga memotong keempat mayat tersebut bersamaan.
Polisi langsung mengevakuasi para jenazah ke dalam kantong mayat. Satu narapidana yang pingsan langsung dibawa ke ruang kesehatan.Ketika sadar, dia langsung menjerit histeris. Dia bahkan tak sanggup memberi keterangan. Dia tampak linglung dan tatapan matanya kosong".
"Pak,, bunuh saja aku, ayo pak, tembakan sekarang juga".
"Ampun Amira,,, maafkan aku, aku menyesal, aku masih ingin hidup".
__ADS_1
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi??".
"Pisau itu bergerak sendiri pak, pisau tajam itu menebas leher mereka".
"Darah di mana-mana,,,gadis itu ada di sana".
"Gadis itu bangkit dari kubur untuk menuntut balas".
"Mungkin giliran ku sebentar lagi".
"Tolong aku pak polisi,, panggilkan wanita bernama Nisa itu,,kumohon pak".
Polisi kemudian menelpon Nisa, sesuai permintaan salah seorang napi yang masih hidup.
"Maaf Bu,, ini dari kantor polisi, Ibu Nisa di mohon datang kesini sekarang juga".
"Memangnya ada apa pak, ini masih malam kan?".
"Ini penting sekali Bu, silahkan anda kemari".
"Ayo mas, kita diminta ke kantor polisi sekarang".
"Kenapa??".
"Ini penting mas".
"Ayo,, kita segera berangkat".
Nisa segera bergegas ke kantor polisi. Setibanya di sana, Nisa langsung masuk.
"Silahkan duduk Bu Nisa,sebelum saya menjelaskan coba lihat rekaman cctv ini ".
Nisa dan Dito segera melihat rekaman cctv yang diperlihatkan petugas. Ada pisau melayang dan lampu padam. Setelah lampu menyala, ruangan sudah jadi tempat eksekusi. Dan ada wajah Amira disana.
"Tunggu pak,, jangan bilang kalau??".
"Iya Bu, mari ikut saya".
Nisa dan Dito melangkah ke dalam sel penjara yang sudah menjadi lautan darah.
Bau amis tercium di seluruh ruangan.
"Kami sekarang percaya sama ibu".
"Dia seperti bangkit dari kubur nya dan hidup kembali Bu".
"Hanya setengah jam, dan ruangan ini sudah jadi tempat mutilasi".
"Aku sudah menduga ini akan terjadi".
"Yang aku tidak menyangka, mereka akan berakhir seperti ini".
__ADS_1
"Masih ada satu lagi Bu, mari ikut saya ke ruang kesehatan".
Nisa mengikuti petugas penjara menuju ruang kesehatan. Dia menunjukkan salah satu napi yang selamat dari kemarahan Amira. Dia tertunduk lesu di pojok ruangan.
Nisa masuk ke dalam dan menjumpainya.
"Tolong saya Bu,,, habisi saya sekarang".
"Gadis itu sudah mencincang teman-teman saya,pasti sebentar lagi giliran saya".
"Kau tenang saja,, aku akan ke makam Amira besok pagi dan mendoakan nya".
"Semoga semua segera selesai".
"Tapi, ini belum usai Nisa".
"Penjahat itu harus merasakan sama seperti yang kurasakan".
Salah satu napi itu dan Nisa menengok bersamaan. Mereka melihat Amira membawa pisau tajam. Berdiri di pojok ruangan dengan gaun putih.
"Amira,,, hentikan, ini tidak benar, polisi sudah menghukum mereka".
"Aku yang akan menghukum nya dengan pisau ini".
"Kumohon, kembalilah ke alam mu, tempatmu bukan disini".
"Aku akan membawanya bersamaku".
"Jangan.....!!!".
"Berhenti Amira, ingatlah....kau dulu gadis manis yang suka menolong orang bukan?".
"Ini bukan Amira yang ku kenal".
Amira tak mendengar kata-kata Nisa. Dia terus saja melayang ke arah napi tersebut.
Namun, napi yang ketakutan itu berlari ke arah polisi dan mengambil pistolnya. Secepat kilat dia menembakkan peluru ke kepalanya.
Percikan darah mengenai baju Nisa. Napi itu tewas bunuh diri karena tak tahan melihat hantu Amira yang siap memotong dirinya.
Nisa terjatuh dan menangis. Di luar, suara tawa Amira menggema ke seluruh ruangan.
Nisa menjadi saksi kematian seorang napi yang putus asa dan ketakutan. Dia tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Nisa menangisi arwah Amira yang masih terus bergentayangan sampai sekarang.
"Kita pulang sayang,,, semuanya sudah selesai sekarang".
"Ini salahku mas,,, harusnya aku bisa mencegah hal ini".
"Sudah terlambat Nisa,, arwah Amira bertindak sesuai keinginan nya sendiri".
"Semoga dengan kejadian ini, segalanya menjadi tenang sekarang".
__ADS_1
Dito memapah Nisa menuju mobil. Masih dini hari, dan orang-orang masih terlelap di peraduan nya. Hanya tinggal menunggu pagi dan pasti berita ini akan langsung tersebar di media.
...****************...