
Pagi-pagi sekali Nisa dan Dito sudah bersiap-siap. Mereka akan menghadiri acara pemakaman dari Amira. Sofia dan anak-anak kali ini ikut juga. Nisa sudah janjian dengan Ratri dan Anton. Selain untuk menghormati Roy, Nisa pribadi merasa ada keterikatan dengan sosok Amira ini.
"Sofia,, bawa anak-anak ke mobil, nanti kami
menyusul".
"Baik Bu".
"Mas,, kau sudah siap belum".
"Sebentar lagi sayang, tinggal pakai sepatu".
Setelah semua siap, Keluarga Nisa segera berangkat ke rumah Amira. Mereka tiba setelah Ratri dan Anton. Nisa turun dengan menggendong Sheila, sementara Sheina dipegang oleh Sofia. Roy yang bertugas menyambut tamu, segera menghampiri Nisa dan si kembar.
"Sheila ikut juga rupanya,,, kau sudah sehat cantik??".
"Darimana kau bisa tahu kalau ini Sheila??".
"Entahlah.....aku asal sebut saja".
"Ayo,, kalian masuklah...".
Nisa berjalan ke arah tempat duduk yang disediakan untuk tamu, namun sedari tadi Sheila terus menangis dan melihat ke arah belakang. Nisa bingung karena Sheila tak berhenti menangis. Saat Dito mencoba menggendongnya pun sama saja, malah suara tangisnya semakin kencang.
Roy menghampiri tempat duduk Nisa dan mencoba menggendong Sheila. Dia langsung berhenti menangis dan tertawa kegirangan.
Nisa dan Dito hanya bisa bengong menyaksikan kejadian itu. Saat Nisa memasangkan gendongan ke badan Roy, dia berbisik ke telinga Nisa.
"Anakmu saja ingin aku menjadi ayahnya".
"Kau mengerti kan sekarang??".
Nisa melotot mendengar kata-kata Roy. Dia mencoba mengambil Sheila, tapi lagi-lagi dia menangis dan hanya bisa diam jika digendong Roy. Akhirnya Nisa pasrah membiarkan Sheila digendong oleh Roy.
"Sejak kapan Sheila mengenal Roy???".
"Seingat ku waktu itu kami bertemu di rumah sakit mas, sewaktu kau harus pulang untuk rapat".
"Kau tidak bilang padaku??".
"Aku lupa mas".
Keluarga Amira memanggil Nisa, jadi pembicaraan mereka terpotong. Nisa menemui keluarga Amira.Mereka menanyakan kalau-kalau ada pesan terakhir dari Amira untuk keluarganya.
"Setahuku, Amira tidak berpesan apapun Tante,om, dia hanya mengatakan kalau pelakunya adalah orang dekat kalian".
"Keenam pemuda itu ada yang menyuruh,dan dalang di baliknya yang harus segera ditangkap".
"Kami percaya padamu Nisa, hanya ucapan terima kasih yang bisa kami sampaikan".
"Jadi ini, paranormal yang kalian maksud itu??".
__ADS_1
"Bisa jadi dia yang merekayasa ini semua".
"Zaman sekarang semua orang bisa melakukan apapun demi uang".
"Jangan bicara seperti itu, hormati Nisa,bagaimanapun dia yang menemukan Amira".
"Sudahlah om,, sebaiknya kita lakukan pemakaman Amira dulu".
Roy sangat marah mendengar ucapan dari paman Amira. Bukannya berterimakasih, dia malah menghina Nisa.Kalau saja dia tidak sedang menggendong Sheila, mungkin Roy sudah memukulnya.
Nisa merasa sangat tidak enak. Paman Amira menyebutnya sebagai paranormal, dia takut hal itu akan menyebar di luaran sana. Makanya Nisa buru-buru mengajak keluarganya pulang.
"Berikan Sheila padaku Roy,,aku harus pulang".
"Tunggu, jangan seperti ini Nis,,biar nanti aku tegur paman Amira".
"Tidak usah,, lanjutkan saja acara ini, aku akan pulang duluan".
Nisa bersikeras untuk pulang. Dito bahkan sudah mengambil Sheila dan menggendongnya. Mereka sudah melangkah keluar dari ruang tamu ketika tiba-tiba Nisa berhenti dan menunduk. Dia tiba-tiba menangis dengan suara kencang.
"Ratri, bawa Nisa ke dalam, cepat...!!".
"Sofia, kau pulanglah dulu dengan sopir, sebentar lagi kami menyusul".
Roy bersama Ratri membawa Nisa masuk ke dalam kamar tengah. Sementara Dito masih mengantar Sofia ke mobilnya. Roy mengajak Nisa duduk di sofa. Dari menangis, dia kemudian tertawa, tawa Amira,, ya....orang tuanya mengenali suara tawa Nisa tersebut.
"Amira,,,apa itu kau".
Nisa menyampaikan maksudnya sambil menatap tajam wajah paman dan bibinya. Mereka berkeringat dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Keduanya segera mengalihkan pembicaraan. Roy kemudian mencoba berkomunikasi dengan arwah Amira.
"Apa yang ingin kau sampaikan Amira??".
"Ini konyol,,, hentikan ulah paranormal itu".
"Dia memanfaatkan situasi, semuanya ini tidak masuk akal".
"Kita sedang bersedih, jangan percaya dengan rekayasa wanita ini".
Mendengar kata-kata paman nya, arwah Amira bangkit. Dia mendekati pamannya dan memegang pundaknya.Paman Amira semakin ketakutan dengan ulah Nisa yang melotot padanya. Nisa lalu berbicara lirih di telinga paman nya.
"Ini masih belum berakhir,,, tunggu saja giliran mu merasakan apa yang aku rasakan".
"Tubuhmu akan tercabik-cabik menjadi beberapa potongan seperti ku".
"Tunggu kedatangan ku,,, balas dendam ku baru saja dimulai".
Kuku Nisa menusuk pipi paman nya. Darah yang keluar dari bekas tusukan kuku nya mengenai jari Nisa. Nisa kemudian menjilati habis darah tersebut sambil tertawa mengerikan.
Paman dan Bibi yang ketakutan cepat-cepat pergi dari rumah Amira.
"Wanita ini sudah gila,,aku akan melaporkan nya ke polisi".
__ADS_1
"Tunggu saja,, sebentar lagi mereka akan memasukkan mu ke penjara".
Nisa kemudian tersadar. Arwah Amira sudah keluar dari badan Nisa. Entah apa yang dibicarakan dengan paman nya tadi, tak ada seorangpun yang mendengarnya.
Nisa yang masih bengong langsung meminum teh yang diambilkan oleh Roy. Nisa melihat arwah Amira di depan matanya.
"Tolong urus pemakaman jasadku kak, jangan tinggalkan aku dulu".
Amira menangis memohon kepada Nisa. Nisa mengangguk, tapi pipinya sudah basah oleh air mata. Kesedihan yang mendalam tergambar di raut wajah Amira. Gadis belasan tahun, selama 3 hari diperkosa 6 orang bergiliran sampai meninggal. Sesudah itu jasadnya dimutilasi dan dibuang jauh ke dalam hutan. Sungguh Nisa tak bisa membayangkan betapa menderitanya gadis itu.
Dito menghampiri Nisa. Dia menyeka air mata istrinya yang masih terus menetes.
"Kita pulang sekarang, sayang??".
"Tunggu sebentar mas".
"Om, Tante, sebaiknya sekarang saja kita segera mulai proses pemakaman nya".
"Baiklah,,,sesuai keinginanmu".
Upacara pemakaman segera dimulai. Dipimpin seorang ustad, acara pamit jenazah dan lain-lain berjalan lancar. Kemudian, mobil jenazah diikuti oleh keluarga menuju lokasi pemakaman.
Sampai di depan liang lahat, peti jenazah diturunkan. Mengingat jenazah Amira yang sudah tidak utuh, maka jasad Amira tidak dikeluarkan dari dalam peti.Peti jenazah sudah masuk ke liang lahat, sebelum dikubur, keluarga menabur bunga dan tanah kedalamnya. Setelahnya, petugas pemakaman mengubur jenazah Amira.
Selesai doa bersama, para pelayat meninggalkan lokasi pemakaman. Hanya tinggal keluarga yang masih ada di sana.
"Semuanya sudah selesai sekarang, Amira sudah tersenyum lega di atas sana".
"Lalu bagaimana dengan pelakunya Nis??".
"Polisi yang akan mengungkap semuanya".
"Bukankah tadi kau bilang akan menyampaikan kebenaran??".
"Apa seperti itu??".
"Iya, paman dan bibi Amira sampai ketakutan
dengan ulah mu".
"Berarti Amira sendiri yang akan melakukan nya".
"Sejauh ini, aku belum melihat apa yang bisa diperbuat oleh arwah yang terluka".
"Kita tunggu saja,biarkan polisi yang bekerja".
Nisa dan yang lain segera pergi meninggalkan lokasi pemakaman. Mereka memasuki mobil masing-masing. Nisa sedikit takut kalau perkataan Amira jadi kenyataan.
Dia sendiri yang akan menghukum para pelaku pembunuhan dirinya.
...****************...
__ADS_1